
"Aku pergi karena kau telah mengkhianati cinta dan kepercayaanku padamu."
Benar! Itulah yang membuatku terluka. Daffin bukan hanya membohongiku, tapi dia juga telah mengkhianati kepercayaanku padanya. Selama ini, aku tidak pernah bertanya apapun padanya tentang apa yang dia lakukan. Namun, ternyata dia tetap menyembunyikan hal sebesar itu dariku.
Bukankah dia tahu aku berusaha keras melawan Reena dan ibunya untuk memperjuangkan hakku? Apa menurutnya aku salah karena telah menghukum Reena dengan cara mengambil semua yang dia miliki sebelumnya? Ah, tidak! Aku tidak mengambil milik Reena, tapi aku mengambil milikku kembali. Ya, benar seperti itu!
"Lily ..."
Aku mendengar suara seseorang memanggilku dari kejauhan, tapi aku tidak menghiraukannya hingga aku merasakan sebuah sentuhan di bahuku yang membuatku sedikit tersentak.
Mataku mengerjap dan melihat om Rei sudah duduk di hadapanku dengan senyuman di wajahnya. "Om? Bagaimana Om ... tunggu dulu! Aku dimana?"
Pandanganku berkeliling untuk menyapu ruangan tempat dimana aku sedang duduk saat ini.
"Kau di apartement milikku, Lily," jawab om Rei seraya menyeruput minumannya. "Minumlah! Sepertinya kau masih belum mendapatkan kesadaranmu sepenuhnya."
Bola mataku terfokus pada minuman hangat di hadapanku. "Terima kasih, Om."
Satu gelas penuh teh hijau hangat telah berpindah ke dalam perutku, sedikitnya berhasil merubah suasana hatiku yang sempat hancur berantakan.
"Apa yang terjadi?" tanya om Rei tiba-tiba.
Dahiku mengernyit. "Maksud, Om?"
"Kau hanya diam sejak kembali dari rumah sakit. Apa terjadi sesuatu? Aku dengar dari Rania jika Daffin juga ada di sana." Om Rei menghembuskan nafasnya perlahan, tapi tetap terdengar kegelisahan disana.
"Iya, Om, aku bertemu dengannya." Mataku menatap nanar ke depan. "Aku tidak tahu jika dia juga ada disana. Jika aku tahu, aku tidak akan ikut dengan Rania."
"Ayahmu sudah menceritakan semuanya pada Om. Menurut Om, jika kau memang merasakan sesuatu yang mengganjal di hatimu, sebaiknya kau bicarakan hal itu dengan Daffin. Jangan mengulangi hal yang sama seperti ibumu! Karena kau tahu, hanya ada satu Reinhard di dunia ini. Kau mungkin tidak akan menemukannya lagi untukmu." canda om Rei, mengundang tawa ringan di bibirku.
Nasihat om Rei ada benarnya juga! Seharusnya aku bicara pada Daffin, tapi aku begitu kecewa hingga aku tidak bisa membicarakan hal ini dengannya.
"Lily?" panggil om Rei.
Aku menatapnya. "Iya, Om,"
"Ayah dan ibumu memang sudah menceritakan tentang keputusanmu untuk pergi dari rumah Daffin, tapi aku yakin mereka pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kau begitu marah pada Daffin?" tanya om Rei, matanya dipenuhi rasa ingin tahu.
Aku menghela nafasku dalam dan akhirnya menceritakan semuanya pada om Rei tentang Daffin yang mengirimkan uang pada Reena di belakangku.
"Hanya itu?" tanya om Rei begitu aku selesai bercerita.
Aku mengangguk pasti. "Iya, Om,"
"Astaga, Lily! Kau marah untuk hal sekecil itu? Mungkin kau hanya salah paham. Lagipula, uang sebesar itu tidak ada artinya bagi Daffin." Sudut bibir om Rei menarik sebuah senyuman.
__ADS_1
Aku mencebik kesal. "Aku tahu, Om, tapi masalahnya dia membohongiku! Bukankah seharusnya dia mengatakan semua hal padaku? Aku ini istrinya, tapi dia selalu saja menyembunyikan semua hal dariku. Mungkin karena dia pikir aku bodoh!" ocehku, mengeluarkan semua kekesalan dalam hatiku. "Kau tahu, Om, sejak awal aku menikah dengannya, aku tidak pernah membohonginya. Tapi Daffin, dia selalu membohongi untuk segala hal dan aku selalu memaafkannya!"
"Apa maksudmu, Lily? Kebohongan apa yang kau maksud?" tanya om Rei, dia nampak terkejut dengan ucapanku.
Kepalaku tertunduk dan menatap perutku yang membesar. Haruskah aku menceritakan semuanya pada om Rei tentang kelicikan Daffin dan juga Reena?
"Sebenarnya ... aku tidak pernah ingin menikah dengan Daffin, Om, tapi aku terpaksa menjadi istrinya karena Daffin menjebakku untuk menikah dengannya." Satu butir air mata akhirnya lolos dari pelupuk mataku.
"Apa???"
***
Malam itu, aku lupa bagaimana aku tidur. Aku terlalu lelah dengan semua yang terjadi hari ini hingga aku tidak sadar jika aku sudah terlelap dan terbangun saat mendengar keributan di luar kamar.
"Nyonya Stevano!!!"
Tubuhku tersentak ketika mendengar suara yang sangat aku kenali. Seketika aku mendudukkan tubuhku dan mengerutkan dahiku hingga kedua alisku menukik tajam.
"Apa aku hanya bermimpi?" gumamku, karena tak mendengar suara itu lagi.
Aku tersenyum kecut lalu menggelengkan kepalaku, berpikir mungkin kerinduan membuatku menjadi orang bodoh yang mendengar suara Daffin dimana-mana.
"Aku tidak akan pergi sebelum menemui istriku!!!"
PRANG ...
Suara benda yang terjatuh dan hancur memaksaku untuk beringsut turun dari tempat tidur.
Segera aku melangkah keluar dari kamar dan melihat Daffin sudah jatuh tersungkur di lantai dengan darah yang mengalir dari pelipisnya. Sudut bibirnya juga berdarah, sepertinya baru saja terkena pukulan.
"DAFFIN!!!" jeritku seraya menghampiri Daffin. "Ada apa denganmu? Bukankah kau superhero? Kenapa tidak melawan?"
Tangan kecilku berupaya untuk membangunkan tubuh raksasa Daffin, tapi pria itu justru hanya menatapku dan tersenyum.
"Aku rasa lukamu berat hingga kau menjadi tidak waras!" bentakku, kesal dengan kelakuan Daffin.
"Menjauhlah darinya, Lily!" titah om Rei, lalu menarik paksa tanganku.
"Tidak, Om! Apa yang Om lakukan?" Aku memberontak, tapi om Rei terus mencengkram tanganku.
"Lepaskan tangan istriku! Atau kau akan menyesal karena telah menyakitinya!" ancam Daffin, dia sudah berdiri dan mengelap darah di sudut bibirnya.
Om Rei menyeringai. "Istrimu? Itu dulu! Sebelum kami mengetahui semua kebusukanmu, Tuan Stevano!"
Aku menatap bingung pada om Rei. "Om ...."
__ADS_1
"Pernikahan kalian tidaklah benar! Kau menikahi Lily karena paksaan, Daffin! Kau bahkan menikahinya sebagai Ayasya, bukan Lily! Sekarang, yang ada hanya Lily Kafeel, bukan Ayasya! Istri yang kau nikahi karena paksaan dan juga jebakan!" sergah om Rei, tak menghiraukan aku yang memohon padanya.
Daffin tertegun. Dia hanya menatap hampa padaku. Jujur saja, aku sendiri tidak menduga jika keterbukaanku pada om Rei akan mengakibatkan masalah rumah tanggaku semakin melebar.
"Itu dulu, Dokter Reinhard! Sekarang aku sudah sangat mencintai nyonya Stevano. Dia juga sedang mengandung putraku. Aku mohon jangan pisahkan aku dengan istri dan anakku!" pinta Daffin dengan penuh harap.
Om Rei mengangkat tangannya. "Cukup, Daffin! Semuanya sudah terlambat! Aku hanya Omnya Lily. Aku bukan ayahnya. Semua keputusan ini di buat oleh kedua orang tua Lily. Aku harap kau cukup dewasa untuk mengerti semua ini."
"Om, apa maksud semua ini?" tanyaku akhirnya.
"Lily, dulu kau seorang diri saat pria jahat ini menikahimu, tapi sekarang kau memiliki aku, ayah, dan juga ibumu. Kami tidak akan diam saja melihat ketidakadilan terjadi padamu." Om Rei menangkup kedua pipiku.
Jika tahu akan seperti ini jadinya, aku tidak akan pernah memberitahu om Rei tentang awal mula pernikahanku karena sejujurnya aku sudah begitu bergantung pada Daffin. Aku tidak akan sanggup jika harus benar-benar berpisah dengannya.
"Kau beruntung, Daffin! Reyno dan Maya tidak menuntutmu atas lenyapnya kedua cucu kembar mereka. Jadi sebagai balasannya, kau tidak akan pernah bertemu dengan putramu!" ucap om Rei, semakin menambah sesak di dadaku.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi! Aku akan tetap membawa istriku dan putraku kembali." Daffin sudah melangkah untuk mendekatiku.
BUG ...
Satu hantaman mendarat di perut Daffin ketika dia sudah akan menjangkauku. Aku menatap geram om Rei yang memerintahkan pengawalnya untuk melakukan itu.
"Daffin!" jeritku, mencoba untuk membantu Daffin, tapi om Rei menahanku.
"Jangan mendekatinya, Lily! Ingat! Dia pria jahat yang selalu menyakitimu." Om Rei memaksaku untuk menatapnya.
Aku menoleh dan melihat Daffin yang sedang berusaha untuk kembali berdiri. "Tidak, Om! Kau salah! Dulu aku memang membencinya, tapi sekarang aku sangat mencintainya. Dia ayah dari putraku, Om!"
"Nyonya Stevano ...," lirih Daffin, wajahnya mengulas senyum tipis.
"Cintamu buta, Lily!" hardik om Rei, lalu mengibaskan tangannya pada para pengawal. "Bawa dia keluar dari sini!" titahnya.
Tubuh raksasa Daffin di dorong paksa oleh beberapa pengawal, tapi Daffin tidak bergeming. Matanya terus menatapku seolah memohon pengampunan.
"Maafkan aku, Nyonya Stevano," cicitnya, di susul air mata. "Aku mohon beri aku satu kesempatan lagi!"
"Walaupun Lily memberi kesempatan padamu, tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu menyakiti putriku lagi!"
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1