
"Kau! Kau wanita yang mampu menggetarkan hatiku dan juga merubah duniaku, Lily Yovela Stevano."
Kata-kata Daffin terus mengusik telingaku dan menarik senyuman di sudut bibirku. Betapa bahagianya aku menjadi miliknya, pria tampan, bijaksana, dan juga pengertian serta memiliki kesabaran yang sangat besar dalam menghadapiku.
Hembusan hangat yang berasal dari nafas Daffin menimpa wajahku karena tubuh besarnya sudah mengukung tubuhku.
"Terima kasih sudah datang dan kembali ke dalam hidupku, My Starfish." ungkap Daffin, di susul satu kecupan di keningku.
Bola mataku terfokus pada manik mata biru Daffin yang di penuhi gelora asmara. Dia membawaku ke sebuah penginapan yang berada di tepi pantai.
"Terima kasih juga karena kau selalu mendampingiku, Tuan Stevanoku yang tampan." Aku mengecup pipi Daffin dan membuat wajahnya memerah.
Aura panas menguasai kami berdua ketika bibir sensual Daffin mulai menyusuri bahuku yang terbuka. Dia benar-benar mengetahui titik sensitifku sehingga aku tak bisa melakukan perlawanan apapun, selain hanya menikmati setiap sentuhannya.
"Ehemm ...."
Dehaman yang cukup keras, yang mampu mengusik aktivitas kami. Namun, Daffin mengacuhkannya dan tetap melanjutkan aksinya.
"Ehemm ... ehemm ...."
Kali ini dehaman itu lebih keras dan memaksa Daffin untuk menghentikan aksinya. Daffin membuka matanya yang memperlihatkan kekesalan, lalu menatap ke arah suara itu datang.
"Daddy!!!" pekik Daffin, mata birunya menatap tajam daddy David yang tengah memainkan ponselnya.
Raut wajah daddy David tak terbaca, tapi dari sudutku memandang sepertinya daddy David tidak marah. Dia justru terlihat acuh dan terus saja sibuk dengan ponselnya.
"Berisik!!! Jangan berteriak atau Reyno akan mendengar suaramu!" bentak daddy David, seketika membungkam mulut Daffin. "Ingat! Kau sudah membawa putrinya dan bahkan kau hampir menodainya." oceh daddy David.
Daffin mendengus kesal seraya beringsut turun dari tempat tidur. "Nyonya Stevano istriku, Dad! Lagi pula sudah ada cap kepemilikanku di dalam perutnya."
"Bangga sekali kau!" Daddy David mencebik dan menghampiriku dengan tangan terulur. "Ayo, Lily! Ayahmu mencarimu. Hah! Aku jadi harus repot mencarimu karena ulah putraku yang nakal." keluhnya.
Pandangan mataku tertunduk sebab tak berani bertatapan langsung dengan daddy David, sementara aku baru saja tertangkap basah sedang bermesraan dengan Daffin. Aku menyambut uluran tangan daddy David dan beringsut turun lalu merapihkan pakaianku.
"Dimana ayah, Dad?" tanyaku, masih tak berani menatap daddy David.
"Ayahmu di rumahnya." Daddy David tersenyum dan menampakkan deretan giginya.
Dahiku mengernyit. "Maksud, Daddy? Aku pikir ayah berada di sini juga."
"Tidak, Lily! Ayahmu, Reyno, dia sedang di rumahnya. Dia menghubungiku untuk menanyakan keberadaan kalian. Secara kebetulan aku berada di sini karena ada urusan bisnis. Dan tanpa sengaja aku melihat Daffin yang datang bersamamu." Daddy David menatap ke arah yang berlawanan dengan Daffin. "Aku jadi berpikir untuk -"
"Untuk mengganggu kami berdua! Kau memang tidak pengertian, Dad!" sela Daffin, tak memberikan kesempatan pada daddy David untuk menyelesaikan ucapannya.
"Hahahahaha ...."
Tawa daddy David menggema di seluruh ruangan yang semakin membuat Daffin kesal.
"Ayo, pergi, Nyonya Stevano! Penginapan ini tidak bagus karena membiarkan perusuh seperti daddy bisa masuk sembarangan!" omel Daffin, dia bahkan tak menghiraukan daddynya.
"Tunggu, Daff!!!" teriak daddy David yang di tinggalkan di belakang.
Baru saja kami melangkah keluar dari kamar, tiba-tiba ponsel Daffin berdering.
Aku mendengar Daffin berdecak sebelum menjawab panggilannya. "Ada apa? Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bagimu untuk menggangguku saat sedang bersama dengan istriku."
Raut wajah Daffin berubah-ubah dan sempat membuatku khawatir, tapi sedetik kemudian dia langsung memutuskan panggilannya.
"Siapa yang menghubungimu, Daffin?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
Daffin menatapku dengan tatapan sendu. "Dokter Reinhard."
"Apa yang di katakan om Rei padamu? Apa dia mengancammu lagi? Dia ingin kita kembali?" Rentetan pertanyaanku terlontar begitu saja dari bibirku.
Bukan jawaban Daffin yang aku dapatkan, melainkan pelukan yang begitu erat dan juga isak tangis Daffin.
Aku melirik daddy David yang juga terlihat bingung dengan tingkah Daffin. Kami hanya bisa menunggu sampai Daffin bicara.
"Shaka ... dia sudah sadar."
***
Aroma khas rumah sakit langsung menusuk hidungku saat kami memasuki ruang ICU tempat Shaka terbaring selama lebih dari satu bulan ini. Daddy David memutuskan untuk pulang ke rumah dan menyiapkan segala hal sebelum kepulangan Shaka. Dia berpikir untuk menyambut Shaka yang sudah di anggap seperti putranya sendiri.
Walaupun aku kecewa pada Shaka, tapi aku tetap tak bisa menahan perasaanku ketika melihat pria kanebo itu membuka matanya. Tatapannya yang dingin masih terlihat lemah ketika membalas tatapanku.
"Tuan ...," Kata pertama yang di ucapkan Shaka begitu Daffin menghampirinya.
Sungguh, aku sangat takut membayangkan apa yang akan Daffin lakukan terhadap Shaka mengingat betapa marahnya dia saat tahu Shaka telah mengkhianati dirinya.
Tangan besar Daffin merengkuh tubuhku dan mendekapku erat di sampingnya, dia menahanku agar tetap berada di sisinya seolah ada seseorang yang berusaha untuk merebutku darinya.
Aku menoleh dan melihat mata Daffin sudah berkaca-kaca, sementara rahangnya yang kokoh menegang. Sebelah tangannya juga mengepal kuat.
"Kau lihat, Shaka! Nyonya Stevano masih berada di sisiku. Kelicikanmu tidak berhasil memisahkan kami berdua." sinis Daffin.
Meskipun cara bicara Daffin dengan pelan, tapi aku yakin siapapun bisa merasakan kemarahannya.
Shaka yang masih sangat lemah mencoba untuk menarik senyuman di sudut bibirnya. "Saya turut bahagia, Tuan."
Daffin mencebik. "Liar!!! Kau pikir aku percaya padamu?"
"Itu lebih baik daripada kau menjadi seorang pengkhianat!" sergah Daffin seraya mengalihkan pandangannya.
"Daffin ...," Aku menggenggam tangan Daffin erat, berharap dengan melakukan hal itu akan meredakan amarahnya.
Aku mengerti Daffin marah, tapi aku tidak mengerti jika Daffin memang marah lalu kenapa dia menangis? Mungkinkah karena dia sangat menyayangi Shaka?
"Keluarlah, Nyonya Stevano, aku ingin bicara dengan pengkhianat ini." Daffin melepaskan kaitan tangan kami.
Entah mengapa, aku takut untuk meninggalkan mereka berdua saja di ruangan ini. Jika saja Shaka tidak sedang dalam kondisi yang lemah, aku pasti tidak akan berpikir dua kali. Namun, situasinya saat ini berbeda. Shaka masih sangat lemah. Selang infus dan oksigen masih menempel di tubuhnya. Dan untuk menggerakkan tangannya saja dia masih begitu lemah.
Aku menghela nafas dalam. "Bukankah kita akan memulai awal yang baru? Lalu kenapa masih ada yang di sembunyikan?"
Daffin menatapku lekat dan menangkup kedua pipiku sebelum mendaratkan bibirnya di atas bibirku sekilas. "Baiklah, tapi aku mohon jangan menyimpulkan segala sesuatunya hanya dari sudut pandangmu saja!"
Aku mengangguk paham kemudian tersenyum. "Aku janji!"
"Saya bahagia melihat Tuan dan Nyonya baik-baik saja," lontar Shaka, yang langsung membuatku dan Daffin menatapnya.
"Kau pikir apa? Aku dan istriku akan berpisah setelah semua rencana licikmu berjalan?" ketus Daffin.
Shaka kembali tersenyum, tapi dengan tatapan penuh penyesalan. "Tuan, saya tahu anda tidak akan pernah memaafkan saya atas apa yang telah saya lakukan, tapi saya akan tetap meminta maaf dengan tulus pada anda agar Tuhan mau menerima saya di sisiNya."
DEG ...
Apa maksud ucapan Shaka? Dia sudah sadar bukan? Seharusnya dia sudah sembuh, lalu kenapa dia berkata seperti itu?
"Kenapa? Kau ingin segera kembali kepada Tuhan setelah merasa gagal memisahkan aku dengan istriku? Heh!" sungut Daffin, sudut matanya menatap tajam Shaka.
__ADS_1
"Tidak, Tuan, saya ingin kembali kepada Tuhan karena saya merasa telah memberikan apa yang saya janjikan pada anda." Shaka tersenyum penuh arti.
Aku menatap Daffin dan Shaka bergantian. "Tolong jelaskan padaku! Apa yang sedang kalian bicarakan?"
"Dia hanya mencoba mengalihkan perhatian kita, Nyonya Stevano," jawab Daffin acuh.
Kepalaku berputar, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Shaka. Mungkinkah ini efek karena dia terlalu lama tertidur?
"Terima kasih karena selalu berada di sisi tuan, Nyonya, sekarang saya bisa pergi dengan tenang. Tuan sudah bersama seseorang yang tepat." Nafas Shaka mulai tersengal-sengal. "Tolong maafkan atas kelancangan saya yang telah menyimpan anda di dalam hati saya, tapi saya tidak pernah menyesali hal itu." tambahnya.
Susah payah Shaka menghirup oksigen dengan bantuan alat pernafasan. Matanya sudah menerawang jauh entah kemana. Sudut matanya terus menganak sungai, terlebih Daffin masih tidak bergeming.
"Daffin, Shaka ... lihat dia! Daffin!!!" jeritku seraya memukul tangan kekar Daffin berulang-ulang.
Kepanikan langsung tercipta ketika Shaka mulai kesulitan bernafas. Monitor juga terus berbunyi yang menandakan denyut jantung Shaka yang semakin melemah.
Tubuh Daffin mengerjap, dengan segera dia menekan tombol yang ada di sisi bed pasien. "Tenanglah, Shaka! Diam dan tutup mulutmu! Jangan bicara! Simpan saja tenagamu sampai kau pulih dan menerima hukuman dariku!"
Meskipun Daffin berbicara dengan keras dan kasar, tapi aku tahu betul jika di relung hatinya yang terdalam begitu mengkhawatirkan keadaan Shaka.
"Tu- Tuan, ma- maafkan sa- ya ...," ucap Shaka terbata. "Sa- ya ... menyesal telah melakukan semua itu, tapi -"
"Tapi aku tahu, kau hanya di butakan cintamu pada istriku. Nyonyamu!" sela Daffin, matanya menatap tajam Shaka yang tengah berjuang hidup.
"Tidak, Tuan!" hardik Shaka lemah. "Saya ... sudah me- melepaskan cinta saya ...."
"SHAKA!!! BANGUN BODOH!!! BUKA MATAMU!!! KAU PENGECUT!!!" teriak Daffin, tepat ketika Shaka menutup matanya.
Tiiiiitttttt ...
Ya Tuhan, benarkah ini? Tidak!!! Shaka pasti hanya tertidur. Ya, dia pasti terlalu lelah menghadapi Daffin. Monitor itu pasti salah!
"Dokter!!!" pekikku putus asa.
Tak lama kemudian, seorang dokter dan dua orang perawat masuk dan memeriksa Shaka. Salah seorang perawat mendorong tubuh Daffin yang mematung agar memberi ruang pada mereka untuk memeriksa kondisi Shaka. Aku hanya bisa terus menangis dan memeluk Daffin yang masih terpaku. Dokter dan para perawat terlihat panik, mereka melakukan banyak upaya untuk membuat denyut jantung Shaka kembali.
"Maaf, Tuan, kami tidak bisa menyelamatkan nyawa pasien." ucap dokter itu akhirnya.
BRUK ...
Tubuh Daffin jatuh bersimpuh di lantai. Air matanya terus mengalir mengiringi kepergian sahabat sekaligus orang yang paling dia percaya.
"Daffin, tenangkan dirimu!" Aku memeluk tubuh Daffin di lantai.
Tangisan Daffin semakin keras dan menyayat hatiku. Aku meminta dokter dan para perawat untuk keluar dari ruangan dan membiarkan kami menenangkan diri.
"Dia sudah pergi, Nyonya Stevano," ucap Daffin di sela tangisnya. "Dia hanya menunggu kita berbaikan. Dia pengecut! Dia tidak mau membuka matanya saat dia menciptakan masalah." gumamnya.
"Iya, Daffin, iya ...," Tanganku mengusap rambut Daffin dengan lembut.
Perasaan sayang telah mengakar di hati Daffin untuk Shaka hingga secara tidak langsung memberi tempat khusus bagi Shaka di hatinya. Meskipun dia melakukan kesalahan, Daffin akan tetap memaafkannya. Namun, kini sahabat yang bak bayangannya telah pergi meninggalkan Daffin setelah merasa telah memberikan apa yang ia janjikan.
"Selamat jalan, Shaka ...."
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
__ADS_1
I β€ U readers kesayangan kuhh