
"Jika bisa, aku hanya berharap bahwa kau bukanlah ayah kandungku."
Kata-kata yang keluar begitu saja dari mulutku terasa seperti gaung yang menyakiti telingaku sendiri. Aku sebenarnya menyesal karena telah mengatakan itu, karena sejujurnya aku begitu merindukan sosok ayah yang selama ini tak pernah aku tahu bagaimana wajahnya.
Tatapan mata tuan Kafeel tak sedikitpun berpindah dariku. Dia seolah terkunci dan menatapku semakin lekat.
"Ayah!!!" teriak Reena, dia menarik tangan tuan Kafeel agar menjauh dariku. "Dia hanya wanita murahan penggoda suami orang, Ayah. Jangan percaya padanya! Dia di besarkan di panti asuhan. Dia pasti haus harta sehingga memanfaatkan keadaan keluarga kita." tuduh Reena.
Tuduhan yang sangat kejam dan tidak beralasan itu membuatku ingin merobek mulut Reena saat ini juga, tapi aku teringat ucapan om Rei bahwa aku harus bersikap tenang dan elegan untuk menarik simpati para dewan direksi. Dan kini, semua mata tertuju pada kami karena teriakan Reena. Mereka semua semakin membicarakan masalah yang seharusnya tidak di ketahui oleh siapapun.
Sudut mataku melihat Daffin sudah berdiri untuk menghampiriku. Namun, urung dia lakukan karena ayahnya menahan tangannya.
"Tuan Kafeel, kami harap anda bisa menjelaskan semua ini." seru seorang dewan direksi.
Om Rei yang berada di sampingku pun langsung berdiri dan membungkuk untuk memberi penghormatan.
"Sebelumnya perkenalkan, saya adalah Reinhard Kafeel. Putra bungsu keluarga Kafeel. Selama ini saya tidak pernah turut campur dalam urusan perusahaan, tapi hari ini saya telah memutuskan untuk terjun langsung dan menggunakan kekuasaan yang saya miliki. Seperti yang Anda semua tahu, bahwa pemilik saham terbesar di perusahaan ini adalah saya. Dan saya memutuskan untuk menyerahkan semua saham yang saya miliki kepada Lily Yovela Kafeel. Saya berharap anda semua bisa memberikan dukungan kepadanya." tutur om Rei, penuh keyakinan.
Jujur aku begitu terkejut atas keputusan om Rei menyerahkan semua sahamnya padaku, tapi aku tidak bisa mencari tahu untuk saat ini.
"Kenapa anda menyerahkan saham anda begitu saja kepada nona ini, Tuan Kafeel?" tanya salah seorang dewan direksi.
Om Rei menoleh kepadaku dan tersenyum. "Karena dia adalah putrinya Maya. Jika kakakku tidak mau membagi sahamnya kepada kedua putrinya, maka aku bersedia memberikan seluruh sahamku kepada keponakanku satu-satunya."
Aku benar-benar tidak bisa mengalihkan perhatianku dari sosok om Rei yang saat ini berdiri sebagai seorang pebisnis, bukan seorang paman yang selalu membawakan aku coklat.
"Maaf, Tuan Kafeel, saham itu memang milik anda, tapi kami tidak bisa membiarkan seorang wanita yang belum jelas asal-usulnya menjadi pemegang saham terbesar disini." sanggah dewan direksi yang lain.
Dari kejauhan aku melihat Daffin semakin gelisah. Dia sudah terlihat salah tingkah dan tidak bisa diam seperti seekor cacing yang kepanasan.
"Dia benar, Rei! Apa yang kau lakukan ini? Hanya karena kau mencintai Maya, bukan berarti kau bersikap bodoh dan langsung mempercayai apa yang dia katakan." sergah tuan Kafeel, dia terus mengamatiku dari sudut matanya.
"Ini bukan karena Maya, Kak, tapi karena Ayasya ini adalah Lily. Putri yang sudah lebih dari dua puluh tahun Kakak cari." Om Rei memegang kedua bahu tuan Kafeel, kemudian kembali menghadap dewan direksi. "Aku tidak akan melakukan hal ini jika aku tidak punya bukti, Tuan-Tuan."
Tiba-tiba, Shaka yang sedari tadi hanya diam seperti patung pun berjalan dan membagikan sebuah berkas kepada masing-masing dewan direksi.
__ADS_1
"Silahkan anda semua lihat! Itu adalah hasil dari tes DNA antara Reyno Kafeel dan juga wanita yang kalian sebut tidak jelas asal-usulnya." ucap om Rei, ada sedikit kemarahan dalam ucapannya.
"Ternyata benar! Wanita itu putrinya tuan Reyno."
"Astaga! Apa yang harus kita lakukan?"
"Bagaimana ini? Aku sudah menghinanya tadi."
Gumaman dari para dewan direksi membuatku sedikit tergelitik. Betapa harta dan kekuasaan bisa merubah sikap orang lain.
Reena menatapku dengan tajam, lalu merebut berkas yang ada di tangan salah seorang dewan direksi. Aku bisa melihat dia begitu terkejut ketika kedua matanya membulat sempurna.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Ini semua palsu." jerit Reena, dia begitu terkejut dengan apa yang dia lihat. "Kau! Kau pasti memanipulasi semuanya!" tuduhnya padaku.
"Jaga bicaramu, Reena! Aku sendiri yang melakukan tes DNA itu. Kau meragukan aku sebagai seorang dokter?" sinis om Rei.
Tatapan Reena terfokus pada om Rei. "Aku tidak pernah meragukanmu selama ini, Om, tapi kenapa kau lebih memihak dia daripada aku?"
"Karena hanya dialah putri kakakku." Om Rei berjalan melewati Reena dan mengambil tasnya lalu mengeluarkan sebuah berkas dari dalam sana.
Rasa penasaranku tiba-tiba muncul. Apa yang sebenarnya tertulis di berkas itu hingga membuat Reena sangat ketakutan? Aku bahkan sempat melihat Daffin tersenyum penuh arti ketika om Rei mengeluarkan berkas itu.
"Ini, Kak, hadiah untuk kebodohanmu." Om Rei memberikan berkas itu kepada tuan Kafeel.
BRUG ...
Suara yang cukup keras terdengar bersamaan dengan terkaparnya tuan Kafeel di lantai. Suasana sempat hening untuk beberapa detik hingga ibuku tiba-tiba sudah ada di dalam dan berteriak.
"Reyno!!!"
Ibu berhambur untuk mendekati tuan Kafeel dan langsung mengangkat kepalanya ke atas pangkuannya.
"Rei! Lakukan sesuatu!" pinta ibu, dia terlihat begitu ketakutan.
"Tenanglah, Maya, dia akan baik-baik saja!" ucap om Rei, kemudian memeriksa denyut nadi tuan Kafeel. "Dia hanya terlalu terkejut dengan semua ini. Bawa dia ke ruang istirahat!" titah om Rei.
__ADS_1
Beberapa orang karyawan membopong tubuh tuan Kafeel dan di ikuti oleh ibu yang terus menangis tanpa henti, membuatku sedikit menyesal telah melakukan semua ini.
"Sepertinya rapat ini harus di tunda, mengingat kesehatan CEO yang memburuk." ucap om Rei, dia akhirnya mengambil alih rapat itu.
"Apa maksudmu, Om? Aku ... aku sudah menggantikan ayah menjadi CEO di perusahaan ini. Aku akan memimpin perusahaan mulai saat ini." sergah Reena, dia benar-benar membuatku kesal dengan tingkahnya.
"Kak, apa kau sungguh-sungguh ingin menyingkirkan ayah?" sindirku, sengaja aku berbicara dengan cukup keras.
"Bukan itu maksudku, tapi aku hanya menjalankan tugasku. Ayah sudah memberikan tanggung jawabnya padaku." sanggah Reena, kepanikan terlihat jelas di wajahnya.
"Kepemimpinan perusahaan untuk sementara ini aku ambil alih sebagai pemegang saham terbesar. Kita akan kembali menentukan siapa CEO berikutnya di rapat minggu depan. Rapat hari ini saya bubarkan!" Om Rei berjalan keluar setelah mengatakan hal itu, tanpa menunggu jawaban dari siapapun.
Satu persatu para dewan direksi keluar dari ruang rapat dan menyisakan Daffin serta ayahnya yang masih terdiam seribu bahasa.
"Daddy ...," lirih Reena seraya menghambur memeluk ayahnya Daffin.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Jika posisinya seperti ini, sudah jelas bahwa aku yang bersalah.
"Aku tidak menyangka kau akan melakukan hal sehina ini, Reena!" sinis ayah Daffin, dia menghempaskan tubuh Reena agar menjauh darinya.
"Daddy?" Mata Reena sudah berkaca-kaca ketika menatap ayahnya Daffin.
Sungguh aku tidak menyangka ketika ayahnya Daffin justru menghampiriku dan langsung memelukku. "Kau memang cantik seperti Maya."
Aku terdiam membisu, bahkan tanpa membalas pelukan ayahnya Daffin. Aku hanya melihat Daffin tersenyum padaku.
"Aku -" Kerongkonganku benar-benar tercekat di saat yang tidak tepat.
"Tidak perlu mengatakan apapun, karena aku percaya buah yang jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya."
Hallo semuanya ๐ค
Terima kasih untuk dukungan dan mood boosternya ๐
Jangan lupa di tap jempolnya ๐dan tinggalkan jejak ๐ฃ๐ฃ kalian di kolom komentar ๐sertakan votenya juga 'ya ๐ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini๐
__ADS_1
I โค U readers kesayangan kuhh