Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
DAFFIN POV part 3


__ADS_3

Wanita yang selalu penuh semangat itu kini terbaring lemah dan tak berdaya. Tatapan matanya yang selalu menantang kini terpejam erat seolah enggan terbuka.


Aku tidak yakin jika yang aku lakukan ini benar atau salah. Aku mencoba mengambil keuntungan dari ketidaksadarannya. Tanpa iba, aku telah menjebaknya ke dalam pernikahan seperti yang di inginkan oleh Reena. Aku mengatakan kepada penghulu jika wanita ini adalah wanita yang sangat aku cintai, dia mengalami kecelakaan di hari pernikahan kami dan aku ingin membuatnya membuka mata dengan cara menikahinya.


Dan seolah telah mendapat dukungan dari alam, semua berjalan lancar tanpa hambatan apapun. Dengan sekali gerakan tanganku, aku dan nyonya kecil Erlangga sudah resmi menjadi pasangan suami istri yang sah di mata hukum. Namun, aku tahu dengan pasti jika pernikahan kami ini tidak akan di akui oleh Tuhan. Aku bisa apa? Aku hanya mencoba untuk membahagiakan Reena, meskipun aku harus menyakiti orang lain.


"Tuan, apa yang akan anda lakukan selanjutnya?" tanya Shaka, dia masih setia menemaniku di rumah sakit.


Aku menghela nafas panjang. "Aku tidak tahu, Shaka. Biarkan saja waktu yang mengurus segalanya. Aku hanya berharap dia tidak akan melakukan hal-hal yang aneh."


***


Sudah dua hari wanita itu tertidur. Aku mulai curiga jika dia tidak akan membuka matanya kembali. Aku pun mengunjunginya lagi dengan membawa buku nikah kami berdua, tapi aku langsung di kejutkan dengan pemandangan dimana wanita itu sedang duduk dan bercermin.


'Apakah dia begitu mengagumi dirinya sendiri?'


Tadinya aku ingin terus memperhatikannya, tapi aku cukup terganggu dengan penolakannya ketika dokter dan perawat menyebutnya nyonya Stevano.


"Mereka tidak salah mengenalimu." tegas ku, sembari melangkah memasuki ruangan di iringi tatapan dari tiga orang wanita yang berada di sana.


***


"Ini buku nikah kita!"


Aku melemparkan buku nikah kami ke pangkuannya. Hal itu langsung membuatnya memelototiku. Aku tahu akan seperti ini jadinya, tapi kenapa aku merasa kecewa dengan penolakan keras yang dia lakukan ketika aku mengatakan bahwa aku adalah suaminya.

__ADS_1


"Suami apa? Suamiku hanya kak Erlan dan dia sudah tiada." jawabnya lantang.


Aku sebenarnya kesal dengan sikapnya, tapi aku berusaha tenang karena ini semua memang salahku. Aku bahkan harus mendengar teriakan dan makiannya. Dan cara terbaik menangani sikap berlebihannya itu hanyalah dengan menyatakan betapa kuat dan berkuasanya aku.


Sebelum berhadapan dengannya, aku sudah tahu kelemahan dari wanita itu. Dia begitu menyayangi semua pemberian dari mendiang Erlangga. Dan yang paling berharga adalah rumah yang belum lama mereka tempati. Aku mencoba menjerat dirinya dengan hutang-hutang yang sebenarnya tidak pernah ada. Semua itu aku lakukan hanya untuk membuatnya bersedia berada di sampingku.


Naluriku sebagai seorang pebisnis tidak pernah salah. Negosiasiku berhasil dan membuatnya bungkam serta mau menerima pernikahan aneh ini, tapi aku tidak berniat membuatnya berada di atas angin. Aku mengatakan kepadanya jika dia hanya nyonya kedua karena aku belum menceraikan Reena.


"Maka, batalkan pernikahan konyol ini sekarang juga!" Tatapan menantang itu sudah kembali dan menatapku tak gentar sedikitpun.


Entah mengapa, aku menyukai sikapnya yang seperti ini. Seperti menjadi hiburan untuk diriku sendiri.


Aku menawarkan dia untuk menjual rumahnya padaku jika ingin terbebas dari pernikahan ini, tapi tanpa di jawab olehnya pun aku sudah tahu dia tidak akan melakukannya. Merasa aku telah memenangkan pertengkaran sengit itu, aku pun pergi dan membiarkannya tenggelam dalam rasa kesalnya.


Ketika aku sampai di depan pintu, aku sudah tidak sanggup lagi menahan tawaku mendengar ocehan wanita itu yang aku artikan sebagai rasa laparnya.


***


Lidahnya yang tajam dan sangat lugas itu ternyata tidak berjalan beriringan dengan tangannya. Dia begitu lamban dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku harus menunggu orang lain seperti ini.


Aku memperhatikannya yang sedang memakai sepatu. Yang membuatku terganggu sebenarnya bukan sepatu itu, tapi sobekan-sobekan dan warna sepatu yang sudah mulai kusam itu yang membuatku sangat kesal.


Tanpa ragu aku mengambil paksa sepatu jelek itu dan membuangnya ke tempat sampah walaupun aku harus mendapat julukan Plankton dan juga udang rebus darinya.


Mungkin, apa yang aku lakukan memang sudah melewati batas karena dia langsung menangis dengan keras dan membuat telingaku sakit. Aku tidak ingin luluh padanya. Meskipun aku akan terlihat seperti seorang pecundang, tapi aku tetap keluar dari ruangan itu dan meminta Shaka untuk memeriksa keadaannya sebelum kami pulang dan menemui Reena.

__ADS_1


Ketika Shaka dan wanita itu memasuki mobil, aku cukup kesal dan sempat memarahi Shaka. Tapi lidah tajam wanita itu selalu berfungsi dengan cepat.


"Kami berjalan, bukan terbang. Tentu saja membutuhkan waktu." sungutnya padaku.


Cukup menakjubkan seorang wanita mungil sepertinya berani melawanku, tapi itulah daya tarik dari istri baruku ini.


***


Setelah aku resmi menikahi wanita itu, namanya kini telah berubah menjadi Ayasya Zakiya Stevano. Namun, aku belum bisa menyebut namanya karena aku belum memberikan tempat di hatiku untuknya.


Berbeda denganku, Reena justru terlihat sangat bahagia menyambut kedatangannya, dia bahkan sudah menyiapkan pelayan khusus untuk istri baruku. Pelayan itu bukan hanya melayaninya, tapi juga menjaga serta mengawasinya. Dia adalah pelayan pilihan Shaka, karena itu aku mempercayainya.


Pada dasarnya aku menikahinya karena desakan Reena, jadi aku pun tidak berniat untuk tinggal satu kamar dengannya. Aku juga menyerahkan semua hal yang menyangkut Ayasya kepada Reena. Mulai dari kamar tidur dan semua kebutuhannya.


Aku pikir setelah aku menuruti semua keinginannya, Reena akan berubah dan kembali menjadi dirinya yang lembut. Namun, harapanku ternyata sia-sia. Reena tetap mabuk-mabukkan setiap malam.


Malam ini, aku menunggu Reena kembali. Aku juga sudah meminta pelayan senior serta Shaka untuk beristirahat dan membiarkan aku seorang diri. Aku hampir memejamkan mataku jika aku tidak mendengar suara seseorang di ujung tangga. Aku mendongak dan melihat istri baruku dengan pelayannya sedang berbicara. Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan, tapi aku cukup merasa bersalah karena meninggalkannya pada malam pertama pernikahan kami. Walaupun pernikahan ini hanya sebuah tameng, tapi aku tidak setega itu membiarkannya merasa seorang diri di rumah ini. Jika Reena tidak mabuk-mabukkan seperti ini, aku pasti sudah menemani wanita itu.


Aku menatap ke arah pintu, berharap Reena segera pulang dan menghilangkan perasaan bersalahku.


"Maaf atas permainan kotor ini, Nyonya Stevano."


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2