Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
DAFFIN POV (Last)


__ADS_3

Rasa takut kehilangan orang yang di cintai selalu membuat gegabah bahkan salah melangkah. Cinta memang buta dan tidak memiliki akal, tapi bukankah manusia memiliki pikiran dan naluri yang akan menuntunnya menuju jalan yang benar.


Perasaan cintaku yang begitu besar kepada Ayasya terkadang membuatku terlihat bodoh dan merasa jika semua yang aku lakukan adalah kesalahan.


Hari itu ketika melihatnya memeluk pria yang sangat mirip dengan Erlangga untuk yang kedua kalinya, hatiku langsung terbakar hebat. Amarah langsung memenuhi pikiran dan hatiku. Jika saja Ayasya sebuah barang, maka aku pasti sudah menerakan segel kepemilikanku di tubuhnya.


Apa yang aku lakukan saat itu sungguh diluar kendali diriku. Aku tidak terbiasa memberi hukuman kepada musuhku dengan tanganku sendiri, tapi kali ini aku menggunakan tanganku sendiri untuk memukul pria itu.


Aku sungguh kecewa pada sikap Ayasya yang masih membela pria itu. Dia memegangi tanganku agar aku tidak bisa memukulnya lagi. Tidakkah dia melihat betapa besarnya kecemburuanku terhadap pria sialan itu?


Emosiku sudah mencapai puncaknya hingga aku pun sudah tak mampu untuk mengendalikan diriku sendiri. Dengan keyakinan penuh, aku memberanikan diriku untuk lebih dekat dengan Ayasya.


Tubuh yang kedinginan akibat kehujanan membuatku semakin menginginkan kehangatan tubuh Ayasya. Tanpa pikir panjang, aku bahkan ingin segera melakukannya meski kami kini terbaring di sofa. Aku tidak memperhitungkan bahwa siapa saja bisa masuk kapan saja.


Aku begitu terpesona dan terlena dengan kecantikan Ayasya. Selama ini, aku hanya terfokus pada lidah tajamnya. Aku baru menyadari jika wajahnya sangat cantik dan juga menggemaskan. Perlahan aku menyentuhnya, dan setiap sentuhanku selalu mendapatkan respon darinya. Semakin dalam kami terbuai dalam surga dunia yang hampir saja kami raih.


Namun, takdir belum berpihak padaku. Tiba-tiba saja seseorang masuk dan merusak momen bahagiaku bersama Ayasya. Aku begitu marah dan ingin sekali rasanya menghabisi orang itu, tapi aku sangat terkejut ketika melihat Reena sedang berdiri menatap kami berdua.


Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranku sendiri, tapi aku langsung mengejar Reena ketika dia berlari keluar. Yang aku pikirkan saat itu, apa yang akan terjadi pada Maya jika Reena mengadukan hal itu kepada ayahnya? Kebahagiaan Maya lebih penting daripada pada cintaku.


Langkah kaki Reena begitu cepat, dia memasuki rumah dalam kemarahan. Aku meminta semua pelayan untuk berkumpul di paviliun dan mengosongkan rumah, karena aku tahu betul bagaimana sifat Reena. Dia akan mengamuk dan mengatakan semua hal yang selama ini dia sembunyikan dan aku tidak ingin para pelayan itu mendengarnya.


Ketika aku memasuki kamar tidurku, aku melihat Reena sedang berdiri menatap foto pernikahan kami. Tubuhnya bergetar menahan amarah. Aku sempat berpikir untuk membiarkan Reena seorang diri, tapi aku tidak ingin masalah ini berlarut-larut yang justru akan menimbulkan masalah baru.


"Aku sudah menduganya, Daff! Kau pasti memiliki perasaan terhadapnya. Aku sudah memperingatkanmu, aku tidak suka jika kau menyentuh wanita lain." teriak Reena, tepat setelah aku menepuk bahunya.


Di situasi seperti ini, jawaban apapun yang aku berikan pasti akan membuat Reena semakin marah padaku. Aku pun mencoba menenangkannya dengan memeluknya, tapi Reena langsung mendorong tubuhku kembali.

__ADS_1


"Kita hanya membutuhkan bayinya, bukan ibunya." sungut Reena, matanya di penuhi amarah dan juga keserakahan.


Belum sempat aku mengatasi keterkejutanku karena sikap Reena, tiba-tiba saja Ayasya masuk sambil bertepuk tangan. Tubuhnya basah kuyup dengan rambut yang masih meneteskan air hujan.


Aku memang pria bodoh, aku membiarkan pertengkaran di antara kedua wanita itu berlangsung di hadapanku. Kepalaku seperti ingin pecah melihat keributan di antara mereka berdua. Bukannya aku tidak berusaha memisahkan mereka ataupun aku pengecut. Aku hanya terlalu bingung untuk mendukung siapa. Jika aku mendukung Ayasya, Reena pasti akan marah dan membuat masalah untuk Maya. Tapi jika aku mendukung Reena, maka Ayasya akan kecewa dan dia akan semakin jauh dariku.


Aku tidak menyangka jika buntut dari pertengkaran itu akan sangat aku sesali. Dengan mataku sendiri, aku melihat Ayasya jatuh dan berguling-guling di anak tangga.


"AYASYA!!!"


Sebuah nama yang selalu tertahan di bibirku akhirnya melontar begitu saja ketika aku melihatnya bersimbah darah dan tak sadarkan diri. Dengan cepat dan hati-hati aku mengangkat tubuh mungilnya ke dalam mobil. Aku bahkan tidak memperdulikan pakaianku yang terkena darah yang mengalir di antara kedua kakinya.


Kecemasan dan kekhawatiran begitu menguasai pikiranku. Di tambah dengan wajah Ayasya yang pucat dan juga seluruh tubuhnya yang mulai mendingin.


"Cepat sedikit, Shaka! Atau kau yang akan menggantikan Ayasya menghadap Tuhan."


Para perawat dan tim dokter membawa Ayasya ke ruang operasi mengingat darah yang keluar sudah terlalu banyak.


Aku tidak bisa tenang, operasi itu berjalan sangat lambat. Jika Shaka tidak menahanku, aku pasti sudah mendobrak pintu kaca itu dan melihat sendiri bagaimana keadaan Ayasya. Dan, aku bisa bernafas lega ketika melihat lampu di atas ruangan operasi itu padam. Namun, kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik saja sebelum dokter keluar.


"Maaf, Tuan, kami sudah berusaha." lirih dokter itu sembari membuka masker yang menutupi wajahnya.


Mataku langsung membesar ketika melihat raut wajah serta ucapan dokter itu. "APA MAKSUDMU? AKU MEMBANGUN RUMAH SAKIT INI UNTUK MENYELAMATKAN NYAWA SESEORANG. JIKA KALIAN TIDAK MAMPU MENYELAMATKAN NYAWA ISTRIKU, MAKA AKU AKAN MERATAKAN RUMAH SAKIT INI BERSAMA KALIAN JUGA!!!"


"Tenanglah, Tuan! Silahkan lanjutkan, Dokter!" Shaka menuntunku untuk duduk dan membiarkan dokter itu menjelaskan keadaan Ayasya.


"Nyonya Stevano mengalami pendarahan yang hebat. Dia kehabisan banyak darah, dan hal itu membuat bayi kembarnya kekurangan oksigen dan tidak bisa di selamatkan." Suara dokter itu bergetar, mungkin dia masih ketakutan karena amarahku.

__ADS_1


Kakiku lemas seketika, bukan karena aku kehilangan harapan menjadi ayah dari anak-anak itu. Namun, aku membayangkan akan sebesar apa kebencian Ayasya kepadaku.


"Lalu, bagaimana dengan istriku?"


"Nyonya Stevano baru saja melewati masa kritisnya. Anda sebagai suaminya harus memberikan dukungan moril terhadapnya. Kehilangan anak bukanlah sesuatu yang bisa di lalui begitu saja."


Apa yang di ucapkan oleh dokter memang benar, tapi aku tidak yakin Ayasya akan menerima dukungan dariku.


***


Selama beberapa hari, aku terus terjaga di samping Ayasya. Dia seolah tertidur dengan nyenyaknya tanpa berniat untuk kembali. Sebelumnya dia sudah tersadar, tapi keadaannya kembali memburuk akibat ulah Reena. Untuk kali ini, aku tidak bisa menahan amarahku lagi. Aku sudah menentukan pilihanku. Maka, aku akan memperjuangkannya sampai aku berhasil meraihnya.


Tubuhku mulai lelah, mataku pun mulai terasa mengantuk. Namun, aku tetap menjaga Ayasya. Wajahnya begitu tenang. Sesekali air mata mengalir dari matanya yang tertutup rapat.


"Kau begitu hancur, hingga dalam mimpimu pun kau tetap menangis." gumamku, sembari menghapus air matanya.


Tak sanggup lagi melihat kondisi Ayasya yang seperti ini, aku pun memilih menatap ke arah lain. Namun, saat aku berbalik aku melihat Ayasya sudah membuka matanya. Aku begitu bahagia hingga aku melupakan kondisi kesehatannya dan langsung memeluknya erat. "Thank's, God!"


Tatapan mata Ayasya sedikit berubah. Meski tubuhnya lemah, tapi aku melihat sesuatu yang aneh di matanya. Seperti seseorang yang ingin menghabisi musuhnya. Mungkin aku salah. Ya, pasti aku salah.


Tanpa ragu lagi, aku berniat untuk menunjukkan cintaku padanya. Dan, aku pun memulainya dengan mencium keningnya.


"Terima kasih sudah kembali."


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih yang sudah like, comment and vote yes 😍 Dan yang belum 😁 Author masih menunggu kalian memberi mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘 Seperti kalian yang selalu menunggu author untuk up 🤭

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2