Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
KEBENARAN


__ADS_3

"Benar! Aku ingin orang yang telah menembak Shaka tertangkap, Maya, dia harus membayar apa yang telah dia lakukan pada temanku." tegas Daffin.


Kilatan amarah bercampur kesedihan terlihat jelas dari sorot mata Daffin. Aku tahu dia berusaha tetap tegar di hadapanku, maka aku pun akan berusaha bersikap dewasa untuk saat ini serta menyingkirkan semua egoku agar bisa mendampingi Daffin dalam masa sulitnya.


"Aku mengerti, Daffin." Ibu tersenyum hangat. "Mereka sudah menunggumu di bawah," ucap ibu dengan telunjuk mengarah keluar kamar.


Aku mengaitkan jemariku pada jemari Daffin. "Kalau begitu, ayo, kita temui mereka!"


Bibir Daffin menyunggingkan senyuman seraya mencium keningku. "Terima kasih sudah menemaniku, Nyonya Stevano."


***


Kaitan tangan Daffin semakin erat pada jemariku ketika kami sampai di ruang tamu. Dia tidak memikirkan tanganku yang rasanya seperti tulangku akan remuk karena ulahnya.


"Kenapa kau disini?" tanya Daffin sinis, matanya menatap tajam sosok Ersya yang kini berhadapan dengan kami.


Ersya tersenyum padaku. "Aku datang karena kau memanggilku, Tuan Stevano."


"Aku tidak pernah memanggilmu!" hardik Daffin, nada suaranya mulai meninggi.


"Kau memanggil detective Penny untuk menyelesaikan kasusmu, sedangkan aku adalah kepala Polisi di kota ini. Jadi, mau tidak mau aku harus terlibat dalam kasusmu, Tuan Stevano." Ersya mengulas senyum sinis di wajahnya.


Pandanganku terfokus pada wanita cantik yang berada di samping Ersya. Dia sangat cantik dan juga terlihat begitu tenang. Aku jadi berpikir, mungkinkah dia wanita yang telah mengisi hati Ersya?


"Siapa wanita cantik ini, Kak? Apa dia kekasihmu?" tanyaku seraya menunjuk wanita itu dengan ekor mataku.


Wanita itu tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku. "Perkenalkan, saya Penny Patterson. Tuan Stevano menghubungi saya untuk membantunya menyelesaikan kasus penyerangan terhadapnya, Nyonya."


Aku menyambut uluran tangan detective wanita itu. "Begitu? Ah, maaf tadinya aku pikir kau kekasihnya kak Ersya. Aku Lily Stevano."


Ersya dan detective Penny saling berpandangan lalu tertawa, membuatku merasa seperti seseorang yang baru saja melakukan kebodohan.


"Penny memang cantik, Ayasya, tapi aku tidak bisa memilikinya." jawab Ersya tegas.


Dahiku mengernyit. "Kenapa?"


"Saya sudah menikah, Nyonya," sahut detective Penny.


"Dan suaminya adalah seorang Jaksa yang hebat dan mereka berdua adalah temanku saat di Universitas dulu." Ersya menaik turunkan alisnya ketika bertatapan dengan detective Penny.


Aku mengangguk paham. "Ah, jadi seperti itu? Sayang sekali, sepertinya kak Ersya masih harus mencari wanita lain."


Di tengah perbincangan kami, tiba-tiba Rania masuk dan menyajikan minuman serta makanan ringan. Dia juga membawakan susu hamil untukku.

__ADS_1


"Aku tidak perlu mencari karena wanita itu sudah ada di hadapanku," lontar Ersya, menarik perhatian semua orang.


"Jangan berpikir kau bisa merebut nyonya Stevanoku!" sergah Daffin, dia semakin mengeratkan kaitan tangannya.


Tawa Ersya langsung menyembur. Dia menggelengkan kepalanya kemudian mengambil minuman yang baru saja di letakkan Rania.


"Saya permisi, Nyonya," ucap Rania gugup lalu kembali ke dapur.


Ada apa dengan Rania? Apakah dia gugup karena ucapan Ersya? Mungkinkah Ersya dan Rania? Tapi Rania mencintai Shaka bukan? Apakah karena Shaka sedang koma? Tidak mungkin! Rania bukan gadis seperti itu.


"Apa yang kau pikirkan?" bisik Daffin, membuatku mengerjap.


Aku tersenyum kaku ketika menyadari bahwa detective Penny dan Ersya juga sedang menatapku. "Tidak ada! Aku hanya sedang memikirkan siapa orang yang telah berani menyerang suamiku? Apa kau sudah tahu siapa pelakunya, Detective Penny?"


Wajah detective Penny terlihat sumringah. Dia mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tasnya dan juga sebuah laptop.


"Masalah ini tidak begitu rumit, Tuan, Nyonya, pelakunya sangat ceroboh atau mungkin juga ini pertama kalinya dia melakukan kejahatan seperti ini." Detective Penny menyalakan laptopnya dan memperlihatkan sebuah rekaman CCTV. "Anda lihat! Wanita inilah pelaku penembakan terhadap tuan Shaka." tunjuknya.


Tatapanku terfokus pada layar laptop yang baru saja di putar menghadap ke arahku. Seketika mataku membulat sempurna dan langsung menoleh pada Daffin yang tidak bereaksi sedikitpun.


"Daffin, bukankah dia ibunya Reena?" tanyaku tak percaya.


"Benar! Aku tidak menyangka dia yang telah merencakan penyerangan terhadapku." Daffin mengeratkan rahangnya hingga menegang.


"Maaf, Tuan, tapi anda salah! Bukan wanita itu yang merencanakan penyerangan terhadap anda." Detective Penny mendorong bukti-bukti di atas meja mendekat pada Daffin. "Wanita dalam potret ini yang telah membayar para penjahat itu untuk menyerang anda. Sayangnya, saya menduga dia tidak tahu jika ada orang lain yang mengikuti para penjahat itu saat insiden terjadi." jelasnya.


Kepalaku mulai terasa pusing, tapi aku begitu penasaran dengan apa yang tersembunyi di balik insiden penyerangan terhadap Daffin dan juga Shaka. Aku melirik Ersya yang terlihat begitu serius memperhatikan penjelasan detective Penny, matanya bahkan sampai tidak berkedip.


"Reena!!!" geram Daffin, tangannya meremas salah satu potret di atas meja.


Aku menatap bergantian pada Daffin, Ersya, dan juga detective Penny. "Tolong jelaskan padaku! Apakah maksud semua ini? Jadi, siapa pelakunya? Reena atau ibunya?"


"Keduanya, Nyonya!" jawab detective Penny.


Mulutku menganga, tapi belum sempat aku mengeluarkan suara, detective Penny sudah menambah keterkejutanku.


"Nyonya Reena memang merencanakan penyerangan terhadap tuan Stevano, tapi hasil penelusuranku dan timku menemukan fakta bahwa uang yang dia gunakan untuk membayar para penjahat itu berasal dari rekening tuan Stevano." Detective Penny menyerahkan selembar kertas padaku. "Sepertinya dia tidak bermaksud melukai tuan Stevano karena setelah saya mengamati TKP dan juga mobil tuan Stevano, semua peluru yang di tembakkan hanya mengarah ke badan mobil. Seperti sebuah gertakan." jelasnya.


Tanganku gemetar membaca nominal yang di keluarkan Reena untuk membayar penjahat yang akan melukai suamiku. Dan emosiku semakin membuncah ketika menyadari ternyata Daffin masih memberikan uang pada gurita betina itu, tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika aku akan bersikap dewasa. Aku tidak bisa mengeluarkan emosiku untuk saat ini, aku akan menyimpannya untuk lain waktu saja.


"Jika dia memang tidak berniat melukai suamiku, lalu kenapa ada peluru yang membidik suamiku hingga akhirnya Shaka harus terbaring tak sadarkan sampai saat ini? Dan kenapa ada penjahat yang mengarahkan tongkatnya kepada suamiku?" tanyaku penasaran.


"Kemungkinannya, Nyonya, mereka sudah terdesak. Jadi, mereka memutuskan untuk melumpuhkan tuan Stevano dengan pukulan menggunakan tongkat. Dan untuk penembakan itu, sepertinya di lakukan oleh nyonya Anna ketika dia menyadari bahwa usaha putrinya telah gagal." jelas detective Penny.

__ADS_1


Aku merasakan sesak di dadaku. Rasanya seperti ada gumpalan awan hitam yang siap menurunkan hujan badai di sana. Perasaanku benar-benar bercampur aduk saat ini. Aku tidak tahan lagi. Aku ingin menangis.


"Mohon maaf, Detective Penny, aku harus beristirahat karena kehamilan ini membuatku cepat lelah." Aku memaksakan senyumku seraya berdiri dan mengulurkan tanganku. "Terima kasih untuk bantuanmu. Senang bertemu denganmu, Detective Penny." ucapku.


Detective Penny tersenyum dan menyambut uluran tanganku. "Sama-sama, Nyonya, saya juga senang bertemu dengan anda."


"Aku akan mengantarmu." Daffin sudah berdiri dan menyentuh bahuku, tapi aku langsung menepisnya.


Bodoh! Aku lupa pada janjiku sendiri. Segera aku meraih tangan Daffin dan tersenyum.


"Tidak perlu, Daffin, kau harus menyelesaikan semua urusanmu disini. Kau juga harus menghukum orang-orang yang telah melukai Shaka. Jika kau memang ingin melakukannya!" sindirku, menegaskan kalimat terakhir lalu bergegas untuk kembali ke kamarku.


Baru saja aku berjalan beberapa langkah, Rania keluar dari dapur bersama ibu dan menghampiriku.


Ketika ibu hendak membuka mulutnya, aku langsung menyelanya, "aku lelah, Bu."


"Baiklah, kau istirahat saja, Sayang! Ibu yang akan menemani Daffin." Ibu membelai rambutku dan berjalan menghampiri Daffin.


Rania segera memegangi bahuku untuk membantuku berjalan. "Mari saya bantu, Nyonya!"


"Aku bisa sendiri, Rania!" sungutku seraya berjalan mendahului Rania.


Rania yang malang! Dia harus menjadi pelampiasan amarahku karena aku tidak bisa meledakkan amarahku pada Daffin untuk saat ini.


Begitu sampai di kamar, aku meminta Rania untuk keluar. Namun, gadis itu bersikeras untuk menemaniku hingga aku pun terpaksa memilih untuk masuk ke kamar mandi.


BRAK ...


Aku membanting pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Tubuhku bersandar pada pintu dan perlahan turun ke lantai hingga aku merasa seperti kehilangan nyawaku.


"Kau jahat, Daffin! Kau mengatakan bahwa kau mencintaiku dan hanya akulah satu-satunya nyonya Stevano, tapi kenyataannya kau masih peduli padanya!!!" jeritku dengan dada yang bergerak naik turun.


Tanpa terasa, butiran air mata berjatuhan untuk mewakili kekecewaanku atas semua hal yang selama ini di sembunyikan Daffin dan sialnya hal itu terjadi saat aku menyadari betapa aku sangat mencintainya.


Hallo semuanya πŸ€—


Yang penasaran sepintar apa Detective Penny, yuk cek rumahnya disini πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡



Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2