Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
AKULAH YANG PANTAS


__ADS_3

"Maafkan aku, tapi sekarang waktunya kau kembali ... Lily."


Daffin terlihat begitu menyesal ketika mengatakan hal itu. Matanya menatapku seolah dia baru saja melakukan kesalahan yang begitu besar.


"Ini akan terjadi cepat atau lambat, Daffin, tapi bukankah lebih cepat lebih baik. Lagi pula aku ingin menyelesaikan semua ini sebelum Reena mengetahui tentang keberadaannya." Aku mengusap perutku seraya tersenyum semanis mungkin.


Entah naluri keibuanku telah tumbuh, atau karena aku memulai membuka hatiku untuk Daffin, tapi yang pasti aku mulai merasakan kegelisahan setiap kali melihatnya merasa bersalah. Seolah dia yang terluka dan aku yang merasakan sakitnya. Atau mungkinkah semua ini karena mimpiku semalam?


Flashback on ...


"Aca ... Aca ...."


Aku mendengar seseorang memanggilku dari kejauhan. Cahaya yang begitu terang membuat mataku kesulitan untuk melihat siapakah yang telah memanggilku.


Derap langkah sosok itu tertangkap oleh telingaku ketika dia berjalan untuk menghampiriku dan langsung memeluk tubuhku dengan erat.


Seperti sebuah bongkahan es baru saja menimpaku, tubuhku terasa membeku. Aku begitu terkejut dengan sosok yang tengah memelukku ini.


"Ne- Nenek?" Kata itu begitu sulit keluar dari bibirku.


Selama ini, aku begitu merindukan sosok nenek. Namun, nenek tak pernah sekalipun hadir dalam mimpiku.


"Kau hidup dengan sangat baik, Aca," ucap nenek setelah dia melepaskan kaitan tangannya.


Aku masih tidak percaya ketika melihat sosok nenek yang tidak berubah sedikitpun, kini berdiri di hadapanku dengan senyumnya yang selalu menenangkan hatiku.


"Nenek ...," Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku, selain air mata.


Tangan keriput nenek menghapus air mataku. "Jangan menangis, Aca! Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu. Belajarlah menjadi dewasa dan mulailah menerima apa yang Tuhan berikan padamu. Bukankah selama ini kau terus mencarinya?"


Dahiku berkerut, belum memahami ucapan nenek. "Apa yang Aca cari, Nek?"


"Ibumu." Nenek tersenyum, dengan mata yang berkaca-kaca.


Aku menunduk, tak berani menatap mata nenek. "Tapi Aca sudah menerimanya, Nek,"


"Sepenuhnya! Terima dia dengan sepenuh hatimu. Aku hanya tahu jika dia sangat menyayangimu. Mungkin keadaan yang membuatnya terpaksa melakukan hal itu di masa lalu." jelas nenek seraya membelai rambutku. "Dan suamimu, buka hatimu untuknya. Bangunlah rumah tangga yang bahagia bersamanya dan juga putra kalian. Jangan pernah mengingat masa lalu yang hanya akan mengorek lukamu yang telah sembuh!" tambahnya.


Setelah mengatakan hal itu, nenek mencium keningku kemudian berbalik dan meninggalkan aku.


"Nenek? Nenek!!!"


Flashback off ...


"Kau benar, Nyonya Stevano. Kita harus melindunginya." sahut Daffin, kemudian memajukan bibirnya untuk mencium perutku.

__ADS_1


Aku menahan kepala Daffin. "Putraku tidak ingin kau cium."


Kedua alis Daffin menukik tajam. Dia mendengus kemudian tersenyum kesal. "Kau selalu menjadikannya alasan agar aku tidak menyentuhmu."


"Ini bukan salahku. Salahkan putramu yang tidak ingin berada di dekatmu." ketusku, kemudian kembali mengeringkan rambutku.


Daffin berdiri dan menyandarkan tubuhnya ke meja rias kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada. "Darimana kau tahu dia seorang putra? Ataukah bisa ku artikan bahwa kau menginginkan seorang putra daripada seorang putri?"


Aku melirik Daffin sekilas, lalu kembali menatap pantulan wajahku di cermin. "Jika bisa aku menginginkan keduanya sekaligus."


"Kalau begitu, ayo, kita buat!"


***


"Darimana saja kalian?" tanya om Rei kesal ketika aku dan Daffin sampai di basement perusahaan Kafeel.


"Apakah aku harus melaporkan padamu apa yang aku lakukan bersama istriku?" sinis Daffin, dia berjalan melewati om Rei yang masih memasang wajah kesalnya.


"Seharusnya seperti itu." Om Rei menahan pergelangan tanganku ketika Daffin menarikku untuk mengikutinya.


Aku menoleh dan melihat wajah om Rei yang begitu khawatir. "Om?"


Belum sempat om Rei menjawab, Daffin sudah berbalik dan menghempaskan tangan om Rei.


"Apa perlu kau menyentuhnya seperti itu, Dokter Reinhard?" tanya Daffin dengan tatapan tajamnya.


"Lily ... maaf, bisakah aku memanggilmu seperti itu?" tanya om Rei ragu.


Ibu dan Daffin menatapku khawatir, mereka begitu mengerti jika aku tidak ingin mendengar nama itu lagi.


"Tidak masalah, Om. Sudah waktunya aku kembali kepada identitas asliku."


***


Derap langkah kakiku, Daffin, ibu, dan om Rei bahkan Shaka, semuanya dapat di kalahkan oleh dentuman suara jantungku yang berpacu begitu cepat.


"Kau takut?" tanya Daffin, tangannya terus menggenggam tanganku yang dingin.


Aku menggeleng perlahan. "Tidak! Bukan aku yang seharusnya takut, tapi mereka yang telah merampas segalanya dariku."


Daffin tersenyum, lalu mendaratkan bibirnya di atas keningku kemudian berbisik, "aku akan memberikan bonus untuk keberanianmu ini."


Bonus apa? Pikiranku berputar mencari jawaban atas ucapan Daffin, tapi ketika aku melihat seringai di wajahnya aku pun mengerti apa maksud ucapannya.


Tanganku mencubit pinggang Daffin dengan keras hingga pria raksasa yang dingin itu menjerit.

__ADS_1


Ibu menoleh kemudian menatapku dan Daffin dengan tatapan keheranan. "Ada apa, Daffin?"


"Tidak apa, Bu! Dia hanya -" Lagi-lagi Daffin menyelaku hingga aku tak bisa melanjutkan ucapanku.


"Hanya terlalu senang mengingat kejadian tadi sebelum menuju kesini." seloroh Daffin, jari telunjuknya menggelitik telapak tanganku dan dengan terpaksa aku pun tersenyum.


"Pantas saja kalian terlambat." Om Rei menatap kesal ke arah Daffin.


"Bukan urusanmu, Dokter Reinhard! Pergi dan carilah pasangan agar kau tidak terus menempel dengan kedua wanitaku." ketus Daffin, tanpa perasaan bersalah sedikitpun.


Sungguh malang nasib om Rei! Ketika dia baru saja hendak membuka mulut untuk membalas Daffin, tiba-tiba Shaka membuka pintu sebuah ruangan yang telah di tempati oleh beberapa orang yang kelihatannya cukup penting. Di antara semua orang itu, aku melihat sosok tuan besar Kafeel, Reyno Kafeel. Pria yang telah membuatku hadir di dunia ini, ayahku.


Hatiku begitu terluka ketika melihatnya memeluk Reena dengan penuh cinta dan menciumi kening serta kedua pipi Reena.


"Sepertinya sudah selesai," gumam om Rei tatapannya berkeliling menyapu ruangan. "Ini semua karena kau tidak bisa menahan kenakalanmu itu!" tuduh om Rei pada Daffin.


Daffin mendengus kesal. "Lalu? Aku rasa kaulah yang bersalah karena tidak bisa menggunakan sahammu untuk membela "keponakanmu"."


Kata keponakan begitu di tekankan oleh Daffin sehingga membuat raut wajah om Rei berubah seketika.


"Selamat untuk Nona Zafreena Evren Kafeel untuk tugas barunya sebagai seorang CEO di perusahaan ini!"


Kalimat yang baru saja di katakan oleh salah seorang yang hadir di ruangan itu, membuat kami sangat terkejut.


"Dokter Reinhard, buktikan jika kau memang berguna untuk istriku!" tukas Daffin, tatapan matanya begitu menakutkan.


Om Rei menghela nafasnya kemudian berbicara dengan cukup keras. "Kenapa kalian memutuskan semua ini tanpa kehadiranku?"


Semua mata menatap ke arah om Rei dan berbisik yang menimbulkan suara seperti segerombolan ubur-ubur.


"Rei!" teriak tuan Kafeel seraya berdiri dan mengepalkan tangannya ketika om Rei berjalan ke arahnya. "Bukankah kau sudah menyerahkan semuanya padaku?" tanyanya.


"Aku memang memberikan wewenang padamu untuk mengurus perusahaan ini, tapi bukan menyerahkannya, Kak! Terlebih sekarang sudah ada orang yang lebih tepat untuk memimpin perusahaan keluarga kita daripada Reena." tutur om Rei, hingga akhirnya dia berhadapan dengan tuan Kafeel.


Tuan Kafeel tersenyum sinis. "Maksudmu Maya? Heh! Ternyata cintamu padanya begitu besar."


Seketika aku menoleh pada ibu yang baru saja menutupi mulutnya, menahan tangis.


"Bu?" Aku menyentuh bahu ibu, kemudian berjalan menyusul om Rei. "Aku! Akulah yang lebih pantas untuk memiliki semua ini."


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih untuk dukungan dan mood boosternya 😍


Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2