Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
OBAT


__ADS_3

Terlalu lama dalam air membuat suhu tubuhku naik sehingga terpaksa aku dan Daffin harus menghabiskan malam di resort, sementara aku sudah berjanji untuk menemui om Rei meskipun aku menolak saham yang ingin di alihkan olehnya.


"Menyerap hawa panas tubuhmu, karena aku tidak bisa melihatmu menderita." Daffin merapatkan tubuhnya padaku.


Awalnya aku sedikit tersentak oleh sikap Daffin, tapi apa daya aku terlalu lemah untuk melawan Daffin dan kepalaku sudah seperti di kelilingi bintang.


Dan malam itu, akhirnya aku terlelap dalam dekapan Daffin yang sangat hangat.


***


"Morning, My Starfish,"


Suara pertama yang aku dengar ketika mataku terbuka di pagi hari yang di barengi oleh suara deburan ombak.


Aku mengucek kedua mataku dan mengerjap ketika menyadari bahwa aku masih berada dalam pelukan Daffin. Di tambah tubuh kami berdua yang nampak polos walaupun hanya bagian atasnya saja.


"K- Kau!!! Apa kita? Semalam?" ucapku terbata karena begitu terkejut dengan keadaan kami berdua.


Daffin terkekeh seraya merapihkan surai rambutku. "Sebenarnya aku ingin menjawab iya untuk mengerjaimu, tapi mengingat kau sedang sakit hatiku pun menolak untuk bekerja sama."


Ya Tuhan, manis sekali mulut suamiku ini? Haruskah aku membalasnya dengan sesuatu yang manis juga? Apakah dia tidak akan salah paham?


"Ah, Daffin! Kenapa mencubitku?" jeritku, ketika tangan besar Daffin mencubit pipiku.


"Kau menggemaskan, Nyonya Stevano! Apa yang kau pikirkan? Kenapa bola matamu itu bergerak kesana kemari?" tanya Daffin, mata birunya menirukan apa yang aku lakukan sebelumnya.


"Tidak ada! Aku hanya berpikir bagaimana menjelaskan pada om Rei tentang ketidakhadiranku semalam," jawabku beralasan.


Sebenarnya aku sedang memikirkan cara untuk berterima kasih pada Daffin tanpa membuatnya berpikir jika aku sudah luluh kepadanya. Bukannya aku munafik atau egois, atau apapun itu, tapi aku hanya tidak ingin Daffin merasa di atas angin lantas dia akan dengan mudah mencampakkan aku. Terlepas dari hubunganku dengan Daffin, ada ibu yang secara tidak langsung menjadi alasan bagi Daffin untuk bersikap baik padaku. Dia begitu menghormati ibuku seperti ibunya sendiri. Aku takut Daffin akan memperlakukan aku seperti dia memperlakukan Reena.


"Jangan mencemaskan hal itu, Nyonya Stevano! Aku sudah menghubungi dokter Reinhard dan juga Maya. Aku mengatakan kepada mereka bahwa kita akan menginap selama beberapa hari disini, sampai kondisimu benar-benar pulih." tutur Daffin, sebelah matanya mengerling padaku. "Hitung-hitung kita sedang honeymoon." godanya.


Bibirku mencebik sebal. "Bahkan sebelum honeymoon saja kau sudah menebar benih, bagaimana jika honeymoon?"


"Lebih banyak benih tersebar!" sahut Daffin, di susul tawanya yang menggema di seluruh ruangan.


***


Tak terasa sudah beberapa hari aku dan Daffin menetap di resort miliknya. Jujur saja aku sangat nyaman tinggal di sini, karena suasana resort ini mengingatkan aku pada kampung halaman kak Erlan. Tempat dimana aku di besarkan oleh nenek.

__ADS_1


"Kau sudah siap?" tanya Daffin, tangannya sibuk mengaitkan kancing lengan kemejanya.


Aku tersenyum seraya menghampiri Daffin. "Aku sudah siap, bahkan sampai bosan menunggumu."


Semburat merah tiba-tiba menghiasi wajah Daffin. Entah mengapa beberapa hari terakhir berada di resort ini Daffin nampak lain, dia sering salah tingkah dan terlihat malu ketika berhadapan denganku. Mungkin karena kejadian malam itu ...


Flashback on ...


Suasana malam ini begitu romantis karena cahaya bulan yang menerangi malam. Di tambah keheningan dan bintang yang bertaburan begitu sayang untuk di lewatkan.


Kondisiku sudah semakin membaik karena Daffin begitu telaten mengurusku. Dia bahkan tidak mengindahkan keinginanku untuk memanggil Rania atau salah seorang pelayan di resort ini untuk memandikan aku.


"Aku bisa melakukannya!" sergah Daffin ketika aku menolaknya untuk memandikan aku.


"Tidak! Kau akan membuatku semakin sakit karena terlalu lama berendam." tolakku dengan sedikit sindiran, mengingat Daffin selalu mengambil keuntungan dariku.


"Hanya memandikanmu! Aku janji! Tidak ada aktivitas lain." tegasnya, kemudian mengangkat tubuhku.


Kira-kira seperti itulah yang terjadi selama dua hari, tapi tidak di hari ketiga karena Daffin tiba-tiba demam dan wajahnya sampai memerah. Aku sempat panik, bahkan ingin menghubungi ibu, tapi Daffin memintaku untuk tidak memberitahukan tentang kondisinya kepada siapapun.


"Jangan katakan kepada siapapun!" pintanya, dengan bibir gemetar karena suhu tubuhnya yang begitu tinggi.


Sebenarnya, aku tidak pernah mengurus orang sakit karena lagi-lagi kak Erlan selalu memanjakan aku. Dia tidak pernah membiarkan aku tumbuh dewasa, meskipun aku terus memaksanya untuk membiarkan aku melakukan hal-hal yang seharusnya bisa aku lakukan.


"Bagaimana cara melakukannya?" gumamku, bingung harus melakukan apa untuk menurunkan suhu tubuh Daffin.


Aku ingat Daffin mengompres keningku dengan handuk hangat. Aku pun melakukan hal yang sama dan berniat untuk memberikan obat padanya.


"Daffin, ayo, buka mulutmu!" titahku, mulai kesal dengan sikap Daffin yang menolak untuk meminum obatnya.


Mulut Daffin terkunci rapat, dia hanya menggelengkan kepalanya sebagai sebuah penolakan.


"Kenapa? Kau ingin sakit terus seperti ini?" ucapku, geram dengan kelakuan Daffin. Akhirnya aku meletakkan kembali obat itu di atas nakas dan berniat meninggalkan Daffin. "Baiklah, kau sakit saja selamanya! Tidak perlu sembuh agar aku bisa bebas pergi kemanapun, termasuk menemui kak Ersya." ancamku.


Baru saja aku akan melangkah, tangan hangat Daffin menahan pergelangan tanganku. "Jangan pernah berpikir untuk melakukannya!"


Aku berbalik dan melihat Daffin sudah duduk di tepi ranjang dengan wajah pucatnya. "Kalau begitu, minum obatmu!"


Mata biru itu mengalihkan pandangannya. "Aku- Aku takut meminum obat."

__ADS_1


"Apa? Jangan membual, Daffin!" hardikku, tak percaya begitu saja dengan leluconnya.


Daffin menaikkan pandangannya. "Aku sungguh-sungguh! Obat itu rasanya begitu pahit dan aku tidak menyukainya."


Astaga!!! Hampir saja tawa menyembul dari mulutku, jika aku tidak bisa menahannya.


"Tubuhmu saja besar, tapi kau takut pada obat yang bahkan lebih kecil dari kukumu." selorohku, seraya kembali mendekati Daffin dan duduk di sampingnya.


Tanganku meraih obat di atas nakas bersama segelas air. "Minum ini dan lihat wajahku! Maka rasa pahitnya akan hilang."


Bola mata Daffin menatap bergantian ke wajahku dan juga obat yang ada di tanganku, lalu kepalanya menggeleng lemah.


Hah! Aku menghembuskan nafasku dengan kasar dan terpaksa melakukan hal yang tidak pernah aku lakukan dalam hidupku.


Dengan cepat aku memasukkan obat di tanganku ke dalam mulutku dan mendaratkan bibirku di atas bibir Daffin, aku bahkan memainkan lidahku hingga memaksa Daffin untuk membuka mulutnya. Berhasil! Obat di mulutku sudah berpindah ke mulut Daffin.


"Kau!!!" Mata Daffin terbelalak. Namun, aku hanya tersenyum dan memberikan segelas air padanya.


"Maaf, Daffin! Hanya itu cara yang terpikir olehku karena aku tidak tahu bahwa CEO DS Corp takut untuk meminum obat." candaku, dan langsung mengundang rona merah di wajah Daffin.


Flashback off ...


"Baiklah, ayo, kita pergi!" ajak Daffin, seraya memakai jasnya.


"Kau yakin sudah sehat?" tanyaku, bermaksud menggoda Daffin.


Daffin mendekatkan wajahnya padaku. "Katakan saja jika kau sebenarnya senang bisa menciumku, bukan?"


Apa? Kenapa jadi aku yang terpojok seperti ini?


"Tidak!" elakku, mengalihkan pandangan. "Cepatlah! Mereka pasti sudah menungguku."


Benar! Mereka pasti sudah menungguku karena hari ini adalah hari yang di nantikan olehku dan para dewan direksi. Hari yang sudah di tetapkan oleh om Rei untuk melanjutkan rapat dewan direksi yang sempat tertunda. Dan bagiku, hari ini adalah hari dimana aku akan melihat kehancuran Reena dan juga ibunya.


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI😍


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2