Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
POSESIF


__ADS_3

Sebuah kata penuh makna yang teramat sakral untuk di ucapkan, rasanya begitu sulit meluncur dari bibirku. Namun, kini aku yakin bahwa hatiku memang sudah menerima Daffin sepenuhnya sebagai suamiku, pengganti kak Erlan.


Setiap tawanya selalu mendamaikan hatiku. Kesedihan dan kegelisahannya selalu mengganggu pikiranku. Tak jarang kemarahannya membuatku takut jika dia akan meninggalkan aku, tapi tak jarang pula kemarahan itu membuat aku merasa di cintai dengan cara yang berbeda.


Seperti hari ini, Daffin terus saja menunjukkan kecemburuannya. Dia bertingkah konyol dan berakhir kesal dengan ulahnya sendiri.


"****!!! Aku termakan oleh permainanku sendiri." umpat Daffin, ketika dia tak bisa menyentuh lekuk leherku karena pakaian yang aku kenakan.


Aku berbalik dan menatap Daffin yang masih mengenakan handuk dengan rambut yang sudah tersisir rapih. Astaga! Aku hampir tersihir oleh ketampanan dan garis wajahnya yang seperti pangeran tampan dalam negeri dongeng.


"Tenang saja! Aku milikmu seutuhnya." Daffin mengecup bibirku sekilas.


Bibirku mengerucut sebagai tanda protes atas sikap Daffin. Sekarang dia jadi suka sekali mempertemukan bibirnya dengan bibirku. Ah, bibirku yang malang!


Daffin kembali mendaratkan bibirnya di atas bibirku lagi. Kali ini dengan durasi yang lebih lama bahkan hampir saja mengarah kepada sesuatu yang panas, jika ponselku tidak berdering.


Aku mendorong dada bidang Daffin agar dia melepaskan pagutan bibirnya dan segera meraih ponselku di tas untuk melihat siapa yang telah menghubungi aku.


Dahiku mengernyit ketika melihat nama yang tertera di ponselku. "Om Rei?"


Tanpa ku sadari, tiba-tiba tangan Daffin merebut ponselku dengan cepat dan menjawab panggilan om Rei.


"Ada apa, Dokter Reinhard? Bukankah sudah ku katakan padamu, hubungi aku jika ada sesuatu yang harus kau sampaikan!" ucap Daffin dingin, sebelah tangannya bertolak pinggang.


Dari sorot matanya, aku bisa melihat kilatan amarah yang begitu besar di mata Daffin. Namun, yang tak habis aku pikir adalah kecemburuan Daffin yang benar-benar buta karena dia jelas tahu bahwa om Rei itu adik dari ayahku. Yang artinya om Rei masih memiliki hubungan darah denganku, dan sangat tidak mungkin om Rei menyukai aku lebih dari itu.


Hah! Mungkin aku rasa, Daffin harus memeriksakan otaknya ke dokter syaraf agar dia bisa memahami segala sesuatu dari sudut yang paling mudah, bukan yang paling rumit.


"Tidak! Dia sedang menikmati waktunya bersamaku. Kau bisa menemui ayah jika ada hal yang begitu mendesak." Daffin menekankan kalimat terakhirnya, kemudian memutuskan panggilannya begitu saja.


"Kau tidak sopan!" sinisku, seraya mengambil ponselku di tangan Daffin. "Apa yang om Rei katakan?" tanyaku penasaran.


Sementara menunggu jawaban Daffin, aku memeriksa beberapa bagian ponselku dan menemukan fakta jika nomor Ersya memang terblokir di ponselku.


"Dokter Reinhard memintamu untuk segera menemuinya," jawab Daffin malas, dia menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan tangan terlipat.


"Untuk apa?" tanyaku bingung.


"Dia ingin membicarakan tentang pengalihan sahamnya padamu. Kehadiranmu sangat di harapkan. Apa kau ingin datang?" Daffin menatapku lekat, menunggu jawaban.


Helaan nafasku terasa begitu berat. "Aku tidak akan datang, Daffin! Aku tidak ingin saham milik om Rei. Aku hanya ingin saham yang di miliki Reena."

__ADS_1


Seringai licik menghiasi wajah Daffin. "Kenapa? Apa karena kau ingin membalas dendam padanya?"


"Tentu saja! Aku tidak akan membiarkan dia hidup bahagia. Sekarang waktunya aku memutar roda kehidupannya." ucapku seraya membayangkan wajah angkuh Reena.


Tangan besar Daffin menepuk-nepuk puncak kepalaku. "Aku mendukungmu, Nyonya Stevano, tapi ingat! jangan sampai karena dendammu, kau sampai menjadi orang lain."


"Tentu! Aku akan tetap menjadi Ayasya!" jawabku yakin, kemudian menatap tajam ke arah Daffin.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Daffin, dahinya berkerut cukup dalam.


Aku memperlihatkan layar ponselku pada Daffin. "Kau yang memblokir nomor ponsel kak Ersya, bukan? Kau benar-benar tidak sopan!"


Mata biru itu menatapku tajam, tapi bibirnya menyunggingkan senyuman sinis. "Aku tidak akan membiarkan pria manapun memiliki kesempatan untuk merebutmu dariku."


"Posesif!!!"


***


Waktu sudah hampir petang, akhirnya Daffin mengizinkan aku untuk keluar dari kamar dan melihat matahari terbenam di bibir pantai.


"Dimana Shaka dan yang lainnya?" tanyaku dengan pandangan kesana kemari.


"Mereka sudah pulang," jawab Daffin, dia baru saja bergabung denganku. "Kini waktunya kau dan aku menghabiskan waktu bersama." ucapnya.


"Daffin?" Aku menghentikan langkah kakiku dan memanggil Daffin.


"Hemm ...."


"Apa kau yakin tubuhmu sudah bersih dari jejak gurita betina itu?" tanyaku ragu.


Sebelah alis Daffin terangkat ketika menatapku. "Kau ragu? Ingin aku melakukannya lagi?"


Aku mengangguk pasti, tanpa berpikir lagi. Entah mengapa aku menyukai ketika Daffin menuruti semua keinginan anehku.


Tanpa pikir panjang, Daffin sudah kembali membuka kaus dan celananya lalu langsung menceburkan diri ke laut.


Suasana pantai yang sedikit sepi karena hari semakin petang membuatku merasa semakin nyaman. Aku memilih untuk duduk di tepi pantai dan melihat Daffin yang sedang berenang dari kejauhan.


Ketika aku tengah menikmati pemandangan yang terhampar jauh di hadapanku, ternyata Daffin sudah kembali untuk menghampiriku dengan tubuh basahnya.


"Kenapa kau keluar dari air? Tubuhmu belum bersih!" tanyaku setengah berteriak.

__ADS_1


Daffin memalingkan wajahnya. "Aku tidak ingin berenang seorang diri."


Dalam sekejap Daffin sudah berdiri di hadapanku dan mengulurkan tangannya hingga membuatku mendongak. Cahaya matahari yang mulai berkurang membuat wajah Daffin sedikit tersamarkan ketika membelakangi cahaya.


"Ayo!" ajak Daffin, jemarinya bergerak meminta untuk aku sambut.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku menyambut tangan Daffin dan mengikuti saja ketika dia menuntunku ke dalam air.


"Daffin, pakaianku ...," pekikku, ketika air laut mulai menyapu tubuhku.


"Tidak masalah, Nyonya Stevano! Kita akan membeli pakaian baru." jawab Daffin, kedua tangannya sudah memegangi tanganku.


Hangatnya senyuman di wajah Daffin membuatku perlahan melepaskan segala keraguan yang ada di dalam hatiku dan memasrahkan segalanya kepada takdir yang selalu berpacu dengan waktu.


Dalam dekapan Daffin, hari itu terlewati dengan sangat indah bersama dengan menghilangnya mentari di telan hari.


***


Malam harinya, selimut tebal sudah membungkus tubuhku karena aku terus menggigil kedinginan akibat terlalu lama bermain air.


Sebenarnya aku dan Daffin tidak berniat untuk menginap di resort, tapi karena kondisiku yang tiba-tiba menurun akhirnya Daffin memutuskan untuk tetap tinggal di resort sampai keadaanku membaik.


"Bagaimana ini? Seharusnya aku kembali dan menemui om Rei." gumamku, dengan pandangan menerawang.


"Jangan pikirkan itu! Pikirkan saja kesehatanmu!" bentak Daffin, entah kenapa dia selalu saja marah ketika aku menyebut nama pria lain. Walaupun itu adalah pamanku sendiri.


Genangan air sudah memenuhi pelupuk mataku, kecewa dengan sikap Daffin yang posesif dan tidak pada tempatnya. Aku memiringkan tubuhku untuk membelakangi Daffin, meskipun dia sedang mencoba mengompres keningku.


"Nyonya Stevano ...," Daffin menyentuh bahuku agar aku mau berbalik.


Aku menghardik tangan Daffin di bahuku. "Jangan pedulikan aku!"


Tiba-tiba suasana menjadi hening, aku pikir Daffin pergi karena kesal dengan sikapku. Namun, aku terkejut ketika Daffin menyelusup masuk ke dalam selimut dan memelukku dengan erat.


"Apa yang kau lakukan?" tanyaku, bingung melihat Daffin yang bertelanjang dada.


"Menyerap hawa panas tubuhmu, karena aku tidak bisa melihatmu menderita."


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2