Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
ES KRIM


__ADS_3

Cinta yang di bangun di atas segitiga tidak akan pernah berakhir bahagia. Karena ketiga sisinya yang tajam tidak akan pernah bisa menyatu.


Aku sadar betul hubungan seperti apa yang sedang aku jalani saat ini bersama dengan Daffin dan juga kak Reena. Meskipun kak Reena menyambutku dengan tangan terbuka, tapi aku yakin dalam hatinya tetap ada rasa takut kehilangan pria yang dia cintai selama ini.


Sebenarnya, dalam mimpi sekalipun. Aku tidak pernah ingin dekat ataupun memiliki Daffin seutuhnya hanya untuk diriku. Aku sadar betul siapa aku, tak mungkin bagiku untuk menjadi nyonya di rumah ini. Tanda tanya terbesar di hatiku saat ini hanyalah, untuk apa Daffin menikahiku dan mengurungku disini.


"Nyonya muda, ini es yang anda minta." Rania memasuki kamarku dan membawakan satu mangkuk penuh es yang aku minta sebelumnya.


Aku yang terlena dalam lamunanku pun terpaksa harus kembali kepada kesadaranku dan menghampiri Rania yang baru saja meletakkan mangkuk es di meja samping tempat tidur.


"Terima kasih, Rania." Aku duduk di sisi tempat tidur dan memandang keluar kamar melalui pintu yang terbuka lebar. "Kenapa sepi sekali? Kemana semua orang?" tanyaku kemudian.


Rania menoleh dan memandang ke arah yang sama. "Semua pelayan sedang bersantai di paviliun, Nyonya muda."


"Paviliun?" Dahiku berkerut. "Rumah ini memiliki paviliun? Dimana?" Rasa penasaran memenuhi pikiranku.


"Di belakang rumah ini, Nyonya muda. Disana tempat para pelayan tinggal dan menghabiskan waktu untuk bersantai." terang Rania.


'Santai?' pikirku, belum memahami ucapan Rania. "Apa para pelayan libur hari ini?" Rania mengangguk untuk menyetujui ucapanku.


'Kenapa semua pelayan di liburkan? Apakah Daffin tahu semua ini?'


"Hari ini tuan dan nyonya pergi berlibur untuk beberapa hari. Sehingga para pelayan dibebas tugaskan, Nyonya muda," jelas Rania, seolah mengerti kebingungan yang melanda otakku.


"Liburan? Kemana? Kenapa aku tidak tahu? Ah, salah. Kenapa aku tidak di beri tahu?" Aku mencecar Rania dengan pertanyaan yang terus berputar di dalam kepalaku.


"Iya, Nyonya muda, untuk tempat dan kenapa anda tidak di beri tahu. Mohon maaf, saya tidak punya jawabannya." jawab Rania tegas.

__ADS_1


Sepertinya Rania tidak berbohong. Tentu saja dia tidak akan tahu kemana si Plankton itu pergi, tapi Shaka pasti tahu. "Dimana, Shaka?" tanyaku yang langsung menarik manik mata Rania.


Rania menatapku sesaat kemudian menunduk karena menyadari kesalahannya. "Maaf, Nyonya muda, tuan Shaka pergi bersama tuan dan nyonya."


'Apa? Shaka bahkan ikut berlibur bersama Daffin dan kak Reena.'


"Oh." Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku, karena terlalu banyak yang ingin katakan. Namun, aku takut akan menyinggung perasaan Rania.


'Tunggu dulu! Bukankah ini kesempatan yang baik?'


Benar. Aku tidak akan punya kesempatan seperti ini lagi. Aku harus memanfaatkannya. Hanya saja, aku harus menjauhkan Rania dariku. Pandangan mataku berkeliling mencari ide dan berhenti pada mangkuk berisi es yang mulai mencair.


"Apa kau bisa membuat es krim, Rania?" Aku bertanya pada Rania yang berdiri di hadapanku tanpa mengalihkan pandanganku dari mangkuk es itu.


"Saya tidak bisa, Nyonya muda," jawab Rania ragu.


'Bagus. Itu yang aku harapkan.' batinku. "Aku ingin makan es krim homemade, Rania."


"Tapi aku ingin kamu yang membuatnya."


"Tapi, Nyonya muda ...."


"Kau 'kan bisa belajar."


Rania terlihat berpikir. Dahinya berkerut dan kedua alisnya hampir menyatu. "Baiklah, Nyonya muda," jawab Rania akhirnya.


"Bagus. Aku ingin makan es krim rasa soup buah."

__ADS_1


"Soup buah, Nyonya muda?"


Aku mengangguk. "Iya. Kau tahu 'kan? Ada banyak buah di dalam soup buah dan aku ingin semua rasa itu di dalam satu es krim."


Wajah Rania memucat, sepertinya dia benar-benar tidak bisa membuat es krim. "Nyo- Nyonya muda? Bisakah koki saja yang membuatnya?"


Aku menghela nafas panjang. "Aku akan meminta Daffin untuk menggantimu dengan orang lain."


"Jangan!!!" teriak Rania, dia sampai terkejut dengan suaranya sendiri. "Maaf, Nyonya muda, saya akan membuat es krim rasa soup buah yang anda inginkan."


'Berhasil. Maafkan aku, Rania! Sebenarnya walaupun kau menolak, aku juga tidak akan mengatakan apapun kepada si Plankton.' batinku.


"Kalau begitu, buatlah! Aku akan menunggu disini." Aku berkata dengan penuh penekanan, sikap yang tidak pernah aku tunjukkan sebelumnya.


Rania gadis yang pintar. Dia menyadari perubahan sikapku dan sedikit ragu untuk meninggalkan aku seorang diri di kamar. "Nyonya muda, bisakah saya membuat es krim itu disini?"


Aku bangkit dari posisiku dan menghampiri Rania. "Kau pikir kamarku ini dapur? Kalau kau tidak mau melakukannya, tidak perlu membuat banyak alasan."


'Astaga, tolong berikan aku penghargaan untuk peran yang sedang aku mainkan.'


"Saya akan melakukannya, Nyonya muda." tegas Rania, secepat kilat dia keluar dari kamarku dan menghilang menuju dapur.


'Sekali lagi, maafkan kau, Rania! Aku harus mengorbankan dirimu untuk kebebasanku. Semoga setelah ini kita berdua bisa menjalani kehidupan normal seperti yang kita inginkan.'


Hallo semuanyaπŸ€—


Jangan lupa jempol πŸ‘ dulu dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar πŸ‘‡ sertakan juga votenya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author yang amburadul kesayangan kalian 😍

__ADS_1


Share ceritanya Ayasya ke teman-teman dan kenalan kalian supaya makin banyak yang kenal Ayasya 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2