Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
CINTA UNTUK SHAKA


__ADS_3

Deraian air mata terus mengalir membasahi buku harian bersampul hijau yang ada di pangkuanku. Tak banyak yang tertulis di sana, hanya ada beberapa puisi dan juga curahan hati sang pemilik buku.


Hidup ...


Apa itu hidup? Aku tak tahu!


Dan cinta ...


Aku berharap semoga aku tak pernah mengenalnya!


Hidup untuk cinta atau cinta untuk hidup, tak pernah menjadi landasan hidupku!


Untukku hidup hanyalah nafas yang tuanku hirup ...


Dan bagiku cinta adalah Ayasya ...


^^^Shaka, Si Anak Jalanan^^^


Semakin aku membacanya, semakin deras air mataku mengalir. Begitu besar rasa hormat Shaka untuk Daffin, dan begitu dalamnya cinta Shaka untukku. Rasanya aku dan Daffin seperti menjadi dua manusia yang paling egois dalam hidup ini. Kami tidak pernah mempertimbangkan kebahagiaan Shaka sekalipun. Dalam diamnya, Shaka memendam banyak penderitaan yang hanya bisa dia telan sendiri.


Flashback on ...


Setelah prosesi pemakaman Shaka usai, Rania mendekatiku dan memberikan sebuah buku yang cukup asing bagiku.


"Buku apa ini, Rania?" tanyaku bingung.


Wajah Rania yang bengkak karena terlalu banyak menangis pun mengulas senyum tipis. "Nyonya, tuan Shaka meminta saya memberikan ini pada anda sebagai hadiah ulang tahun anda."


"Maksudmu? Kapan Shaka memberikannya? Bukankah Shaka koma selama lebih dari satu bulan? Dia hanya sadar sebentar sebelum kepergiannya, bukan?" Aku menyerbu Rania dengan banyak pertanyaan.


"Benar, Nyonya! Tuan Shaka memberikannya saat dia sadar dari komanya. Tuan Shaka mengatakan untuk mengambil buku ini dan memberikannya pada anda sesaat setelah dia sadar." Mata Rania kembali berkaca-kaca. "Tuan Shaka sempat menulis sesuatu di halaman terakhir buku itu dengan bantuan seorang perawat. Dia menolak ketika saya menawarkan diri untuk membantunya." cicitnya.


Tatapanku terpaku pada buku yang ada di tanganku. Seperti sebuah badai, rasa ingin tahuku tiba-tiba muncul dan menyerang pikiranku. Apa yang tertulis di buku ini? Kenapa Shaka menyebutnya sebagai hadiah ulang tahun untukku? Aku ingin tahu apa istimewanya buku ini bagi Shaka.


Sebelum aku berlari ke kamar tidur, aku melihat sekilas ke arah ruang kerja Daffin. Pintunya masih tertutup rapat, masih sama seperti saat kami kembali. Untuk hari ini, ayah membiarkan aku untuk kembali ke rumah Daffin yang pernah aku tempati. Mengingat betapa hancurnya Daffin saat di pemakaman tadi. Daffin masih mengurung dirinya di sana seorang diri, dia bahkan tidak mengizinkan aku untuk menemaninya. Meskipun aku kecewa, tapi aku berusaha untuk memahami perasaan Daffin. Pasti berat baginya untuk kehilangan Shaka. Jangankan dirinya, aku sendiri cukup terpukul dengan kepergian pria kanebo yang selalu menjadi bulan-bulanan keisenganku.


Aku menatap Rania. "Jika Daffin mencariku, segera panggil aku! Aku akan pergi ke kamar sebentar."


"Baik, Nyonya," jawab Rania seraya mengangguk.


Langkah kakiku begitu cepat dan membawaku ke dalam kamar. Tanpa ragu aku membuka buku yang di berikan Rania. Lembar demi lembar aku baca, dan di setiap lembarnya aku begitu terhanyut dengan kata-kata yang di tumpahkan Shaka di atas pena.

__ADS_1


Flashback off ...


Tanganku membalik halaman terakhir buku harian Shaka. Kali ini, bukan puisi yang tertulis disana, melainkan sebuah pengakuan atau mungkin juga sebuah penjelasan.


"Buku ini bukan hanya untukku, tapi juga untuk Daffin!" seruku kemudian berjalan keluar dari kamar.


Ketika aku sampai di depan ruang kerja Daffin, pintunya sudah sedikit terbuka. Ternyata, daddy David sudah ada di dalam bersama Daffin yang masih meraung menangisi kepergian Shaka.


"Dia pengecut, Dad! Dia tidak berani menghadapi aku! Itu sebabnya dia pergi menemui Tuhan untuk memohon perlindungan." Daffin menyandarkan kepalanya di sofa, sementara tangan besarnya menutupi wajahnya.


Aku melangkah ragu ketika daddy David melambaikan tangannya untuk memintaku masuk. Awalnya aku berniat untuk pergi saja karena tak ingin mengganggu Daffin. Namun, sepertinya daddy David menginginkan hal yang sebaliknya.


"Masuk, Lily! Bayi beruangmu membutuhkan dirimu." Daddy David menunjuk Daffin yang baru saja membuka matanya untuk menatapku.


"Nyonya Stevano?" Daffin menegakkan tubuhnya dan menghapus air matanya. "Kemarilah!" pintanya.


Aku menurut dan duduk di samping Daffin yang terlihat enggan menatapku berlama-lama. Mungkin dia malu dengan wajah sembapnya yang menggemaskan itu.


"Maaf, Nyonya Stevano, aku tidak bermaksud untuk melupakanmu!" ucap Daffin lirih.


Aku menyeringai. "Tapi kau sudah melakukannya, Daffin!"


Mata Daffin terbelalak ketika menoleh padaku. "Tidak, Nyonya Stevano! Aku tidak mungkin melupakanmu."


Daffin berdesah putus asa lalu meraih tanganku. "Maafkan aku, My Starfish! Kau dan putra kita pasti kecewa memiliki suami dan ayah sepertiku."


"Calon suami!" tegas daddy David, membuat aku dan Daffin langsung terhenyak.


"Dad, please ...," Daffin memohon dengan wajah yang begitu memelas. "Aku hanya butuh nyonya Stevano, bukan Tuan tua Stevano!" sindirnya.


Walaupun terlihat sedikit kesal, tapi daddy David tetap mengikuti keinginan Daffin untuk membiarkan kami berdua saja.


Begitu daddy David pergi, Daffin langsung merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Kali ini dia tidak menangis, melainkan hanya memelukku erat dan menciumi puncak kepalaku.


"Jangan pernah pergi meninggalkan aku, Nyonya Stevano! Aku tidak akan sanggup jika harus kehilangan lagi."


Hanya kalimat itu yang terus terlontar dari mulut Daffin selama dia memelukku dan aku hanya diam mendengarkannya. Aku berharap setelah ini perasaan Daffin akan menjadi lebih baik.


Cukup lama aku membiarkan Daffin bergumam tak jelas hingga akhirnya dia tertidur di pangkuanku setelah lelah mengobrol dengan putranya.


Aku membelai rambut Daffin. "Kau begitu rapuh, Daffin. Dan kenapa akhir-akhir ini kau bersikap begitu manja padaku? Kau ingin menghukumku atau ingin menggantikan aku menjadi manja? Ya, apapun itu ... aku akan tetap mencintaimu sampai ajal memisahkan kita."

__ADS_1


"Sungguh?" Tiba-tiba mata biru itu menatapku tajam.


Daffin menatapku penuh harap, layaknya seorang anak yang menunggu jawaban dari ibunya. Dia terus melihat ke arahku tanpa berkedip.


"Aku pikir kau tertidur," elakku, mencoba mengalihkan pembicaraan.


Daffin berdecak kesal. "Itu bukan jawaban! Kau tahu, aku tidak bisa tertidur karena aku takut akan bermimpi buruk."


Aku mengerti Daffin belum bisa merelakan kepergian Shaka, tapi aku tidak bisa membiarkan dirinya terus seperti ini.


"Daffin, aku mencintaimu dan sangat sangat sangat mencintaimu." Aku menatap Daffin dan mengusap perutku. "Putra kita juga sangat mencintaimu. Bangkitlah! Aku yakin Shaka juga pasti sedih melihat tuannya yang Agung lemah seperti ini."


Meski awalnya ragu, tapi Daffin tetap bangun dan menyandarkan tubuhnya di sofa. Dia merentangkan tangannya untuk memelukku. Tanpa menunggu perintah lagi, aku langsung masuk ke dalam pelukan Daffin.


Aku memperlihatkan buku harian Shaka pada Daffin. "Rania memberikan buku ini padaku, Daffin, dia mengatakan bahwa Shaka yang memberikan ini padanya agar di sampaikan padaku."


Daffin mengambil buku itu dan membalik setiap halamannya. "Ternyata dia masih suka membuat puisi."


"Dia berbakat, Daffin," ucapku seraya membalik halaman terakhir buku harian itu.


Aku tidak menyadari ketika tangan Daffin menahanku dan membalikkan buku ke halaman sebelumnya, halaman dimana Shaka menyebut namaku.


"Dia sungguh-sungguh mencintaimu, Nyonya Stevano," lirih Daffin.


Jika sebelumnya Daffin selalu marah, tapi kini dia di liputi perasaan bersalah yang teramat dalam.


"Daffin, sudahlah!" Aku menangkup kedua pipi Daffin. "Lupakan itu dan pikirkan masa depan kita saja! Shaka sudah membawa terbang jauh perasaannya untukku."


Daffin menatapku sesaat kemudian mengangguk. "Kau benar, Nyonya Stevano!"


Tanganku kembali membalik halaman terakhir yang di tulis Shaka, dan membacakannya untuk Daffin.


"Nyonya, tolong jaga tuan untuk saya! Saya tahu, saya telah melakukan kesalahan dengan mencintai anda dan melukai perasaan tuan. Tapi Nyonya, saya berani bersumpah bahwa tidak pernah sekali pun saya berniat merebut anda dari tuan. Dan tentang nyonya Reena, itu memang kesalahan saya. Seharusnya saya bisa mencegahnya mengganggu hidup anda dan tuan. Bukan hanya karena itu adalah tanggung jawab saya, tapi karena saya juga seharusnya menjaga perasaan wanita yang saya cintai. Kini saya menyadari bahwa saya tidak akan pernah bisa menjadi seperti tuan dan hanya tuanlah yang pantas berada di sisi Anda."


Butiran cairan bening kembali jatuh menimpa buku harian Shaka dan meninggalkan bulatan-bulatan kecil di atas kertas itu.


"Shaka ...."


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2