
Rasa sakit dan kebencian yang membuncah di dalam hatiku, sedikitnya memberiku keberanian untuk membuka mulutku.
"Aku! Akulah yang lebih pantas untuk memiliki semua ini." Aku menatap tajam ke arah tuan Kafeel dan juga Reena.
Perasaan hangat yang pernah aku rasakan ketika pertama kali aku melihat tuan Kafeel sudah tak aku rasakan lagi. Terlebih ketika dia lebih memilih berada di sisi Reena daripada diriku.
"Kau? Siapa kau berani membandingkan dirimu dengan putriku yang sempurna?" lontar tuan Kafeel, begitu menohok hatiku.
Aku merasakan tangan om Rei melingkar di bahuku. "Perhatikan dia dengan lebih teliti, Kak, maka kau akan menemukan jawabannya."
Bola mata tuan Kafeel menatapku lekat, kemudian dia mengerjap dan memundurkan langkahnya hingga menjauh dariku.
"Jangan main-main, Rei! Siapa yang kau bawa ini?" Tuan Kafeel terbata ketika mengatakan hal itu.
Tanpa aku sadari, tiba-tiba ibu sudah berdiri di belakangku dan menggenggam tanganku. "Dia adalah Lily. Putri kita, Reyno."
"Tidak, Ayah! Mereka pasti sedang berbohong! Mereka hanya ingin menghancurkan hidupku!" bantah Reena, dia berjalan menghampiri Daffin yang masih menunggu di dekat pintu. "Daff, apa lagi ini? Apa kau tidak puas hanya menghancurkan karir modelingku? Dan sekarang kau ingin menghancurkan satu-satunya harapan yang aku miliki." lirihnya.
Daffin tidak bergeming. Dia hanya melirik sekilas ke arah Reena kemudian menghampiriku dan meninggalkan Reena begitu saja.
"Aku menghancurkan karirmu sebagai balasan dari air mata yang di keluarkan oleh istriku. Dan untuk masalah ini, kau yang lebih tahu." ucap Daffin dingin, dia meraih tanganku dan menciuminya seperti biasa.
"Tapi, Daff -" Reena sudah akan mendekati Daffin, tapi Daffin segera mengangkat tangannya agar Reena tidak melangkah.
"Tuan Stevano. Panggil aku seperti itu!" titah Daffin.
Jangankan Reena yang sudah mencintainya sejak lama, aku saja rasanya begitu terluka ketika mendengar Daffin mengatakan hal itu. Pikiran buruk sempat terlintas di kepalaku, bagaimana jika Daffin sudah tidak mencintaiku? Apakah dia juga akan memperlakukan aku seperti itu?
"Daffin! Apa maksud semua ini!!!" teriak tuan Kafeel, matanya memerah karena amarah. "Kau menceraikan Reena. Merusak karirnya. Dan sekarang kau datang bersama Maya dan wanita tidak jelas ini untuk menghancurkan reputasi kami." tambahnya.
"Aku? Menghancurkan reputasi kalian? Heh!" Daffin tersenyum sinis kemudian berjalan dan menduduki kursi yang sebelumnya di tempati oleh tuan Kafeel. "Semua yang kau miliki ini, tidak ada artinya bagiku. Tapi jika keluargamu berani mengusik orang-orang yang aku cintai, maka aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan dengan kalian." ancamnya.
Aku begitu terpesona dengan ucapan Daffin hingga rasanya aku ingin memeluknya. Namun, aku hanya tersenyum kepadanya sebagai ucapan terima kasih atas ucapannya.
"Kemari, Nyonya Stevano!" panggil Daffin, dia menepuk-nepuk pahanya.
Seperti seorang anak yang di panggil ayahnya, aku pun menurut untuk mendekati Daffin. Dengan sekali tarikan di tanganku, sudah membuat aku berada di atas pangkuan Daffin.
"Daff!!!" teriak Reena, dia sudah hampir mendekatiku jika Shaka tidak menahannya.
"Hadirin sekalian, aku perkenalkan wanita cantik ini adalah Lily Yovela Stevano. Dia adalah putri sah dari nyonya Maya Kafeel dan juga tuan Reyno Kafeel." ucap Daffin, sebelah matanya mengerling padaku. "Pasti kalian sangat terkejut, tapi inilah kenyataannya. Bahwa putri kandung mereka masih hidup." tambahnya.
"Darimana kau yakin jika wanita itu adalah Nona Lily? Bisa saja dia hanya mengaku-ngaku karena wajahnya sangat mirip dengan nyonya Maya." lontar salah seorang pria yang hadir di sana.
Pandanganku berkeliling ketika menyadari ada yang terus menatapku. Aku sungguh terkejut ketika melihat sosok ayahnya Daffin yang hanya terdiam dan memperhatikan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
__ADS_1
Daffin menjentikkan jarinya. "Shaka, catat perusahaan pria itu!"
Wajah pria yang bertanya tadi seketika menjadi pucat pasi seperti seseorang yang kehilangan darah.
"Daffin ...," Aku mulai merasa tidak nyaman dengan semua ini.
"Tenanglah, Nyonya Stevano, aku ada di sini." bisik Daffin.
"Ayahmu di sini, Daffin, dia pasti berpikir yang tidak-tidak tentang aku." gerutuku, kesal sendiri dengan sikap Daffin.
Daffin mengikuti arah pandanganku. "Aku tahu daddy di sini, tapi dia tidak akan mengatakan apapun atau melakukan apapun."
"Kenapa?" tanyaku penasaran, tapi tak terjawab oleh Daffin karena tuan Kafeel sudah mendahuluiku.
"Hentikan ini, Daffin! Kau sudah cukup mempermalukan kami." ucap tuan Kafeel, dia menatapku dan Daffin secara bergantian.
"Dia tidak mempermalukan siapapun, Kak! Tuan Stevano hanya mengatakan kebenaran yang selalu kau tolak." sanggah om Rei, dia masih setia berdiri di samping ibuku.
"Kebenaran apa?" tanya tuan Kafeel, dia benar-benar terlihat kebingungan.
"Tentang putrimu, Kak," jawab om Rei, pandangannya tertuju padaku.
"Tapi, Rei, Lily sudah hilang bertahun-tahun. Dan kita tidak pernah bisa menemukannya. Kau sendiri yang mengatakan jika kecil kemungkinan Lily masih hidup." ucap tuan Kafeel.
"Itu karena aku menyembunyikannya tepat di hadapanmu, Reyno." Ibu sudah mulai menangis.
Hatiku cukup tersentak dengan ucapan Reena dan lebih khawatir lagi ketika melihat orang-orang disana mulai membicarakan tentang aku.
"Apa yang kau katakan, Reena?" tanya tuan Kafeel bingung.
"Dia, Ayah! Dia wanita yang membuat Daffin menceraikan aku!" tuduh Reena, dia sengaja mengarahkan telunjuknya padaku.
Rasanya aku ingin sekali menarik rambutnya itu, jika tidak mengingat dimana aku berada sekarang.
"Kau mengatakan apa, Kak? Aku merebut suami orang? Bukankah kau yang meminta Daffin untuk menikahiku? Kau bahkan rela di ceraikan olehnya." sinisku, di tambah seringai tipis di sudut bibirku.
"Tapi aku tidak pernah berniat memberikan suamiku pada orang lain." Reena menatap tajam ke arahku dan menghempaskan tangan Shaka yang menjaganya.
Aku segera berdiri dan berhadapan dengan Reena. Tubuhnya yang tinggi membuatku harus sedikit mendongak ketika menatapnya.
"Aku hanya mengambil kembali apa yang telah kau ambil dariku, Kakakku Sayang," ucapku selembut mungkin.
"Aku tidak pernah mengambil apapun darimu, Ayasya!" sanggah Reena, matanya begitu besar terbuka.
"Mungkin kau lupa. Kau sudah mengambil semua hal yang harusnya aku miliki. Kedua orang tuaku, Daffin, dan juga perusahaan ini. Harusnya kau malu karena kau hanyalah anak dari seorang wanita yang tidak pernah di nikahi oleh ayahmu." ucapku kesal, semua kata itu meluncur begitu saja.
__ADS_1
"Hei, Kau!!!" Tuan Kafeel sudah berada di sisi Reena dan hampir saja menamparku jika Daffin tidak menghalangi tubuhku.
"Hati-hati dengan tanganmu, Tuan Kafeel! Atau kau akan menyesal seumur hidupmu." ucap Daffin datar, tapi benar-benar menakutkan.
"Kak, lihat dia baik-baik!" pinta om Rei, dia bahkan meminta tuan Kafeel untuk duduk agar lebih tenang. "Lihat dia, Kak! Apakah dia putrimu atau bukan?"
Wajah tampan dengan garis penuaan itu kini menatapku lekat. "Aku rasa bukan! Putriku hanya Reena."
Ya Tuhan, kenapa kau membuatku terlahir dengan ayah yang seperti ini? Dia bahkan tidak mencoba untuk lebih mengenalku.
"Reyno! Dia putri kita." ucap ibu, mencoba meyakinkan tuan Kafeel. "Maafkan aku karena telah menyembunyikan dia darimu, tapi aku melakukan semua ini karena aku terpaksa." ucapnya seraya meraih tangan tuan Kafeel.
"Jangan membuat drama hanya agar kau bisa kembali ke rumah, Maya!" sergah tuan Kafeel, dia menghempaskan tangan ibu dengan kasar.
Hatiku sudah tak sanggup lagi. Aku benar-benar geram dengan penolakan ini. Inilah yang aku takutkan, bahwa pria itu tidak pernah ingin menerimaku karena baginya putrinya hanya satu, yaitu Reena.
"Kau pikir ibuku begitu menyedihkan? Dia hanya ingin bersamamu karena dia mencintaimu, tapi jika kau memang sudah tidak mencintainya, maka lepaskan saja dia." Aku menatap ibu yang masih menangis. "Aku datang ke sini sebagai putrimu. Aku tidak menyangka jika sosok ayah yang aku rindukan tidak pernah menginginkan kehadiranku. Andai saja aku tahu lebih awal, aku tidak akan pernah datang ke hadapanmu. Silahkan kau lanjutkan hidupmu yang menyedihkan bersama putri tidak sahmu yang amat kau cintai. Anggaplah aku dan ibuku tidak pernah ada dalam hidupmu, Tuan Kafeel!" tegasku.
Aku merangkul bahu ibu yang bergetar karena tangis dan menuntunnya untuk keluar. Namun, sebelum keluar aku memutuskan untuk berbicara dengan beberapa dewan direksi.
Kepalaku menunduk hormat. "Aku mohon maaf atas kekacauan yang aku lakukan, tapi aku yakin kalian pasti bisa melihat siapa yang benar dan siapa yang salah. Aku dan ibuku hanya menuntut hak kami, bukan ingin menghancurkan siapapun."
Terdengar para dewan direksi saling beradu argumen, tapi aku tidak begitu perduli. Aku hanya menuntun ibu untuk keluar meninggalkan ruangan yang sangat sesak itu.
"Kau mau kemana, Sayang?" tanya ibu, ketika aku berniat kembali masuk ke ruang rapat.
"Aku ingin menyelesaikannya, Bu," jawabku, kemudian masuk kembali ke dalam.
"Tapi, Sayang, kau lihat ayahmu. Dia masih sulit untuk menerima kehadiranmu." lirih ibu.
Aku tersenyum getir. "Jika dia tidak mau menerimaku, maka aku pun tidak akan masuk ke dalam hidupnya."
***
Perdebatan masih terjadi di antara dewan direksi dan menimbulkan sedikit gesekan ketika aku kembali masuk ke dalam ruang rapat. Aku melihat sosok Daffin berada di samping ayahnya, sedangkan om Rei hanya memperhatikan perdebatan itu dalam diam. Sementara, tuan Kafeel dan Reena terlihat begitu cemas.
"Kau lihat! Kau mengacaukan segalanya. Entah kau di bayar berapa oleh Maya untuk melakukan sandiwara ini." sinis tuan Kafeel ketika aku menghampiri om Rei yang berada tidak jauh darinya.
Aku menatap hampa sosok yang berada di hadapanku. "Jika bisa, aku hanya berharap bahwa kau bukanlah ayah kandungku."
Hallo semuanya 🤗
Terima kasih untuk dukungan dan mood boosternya 😍
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
__ADS_1
I ❤ U readers kesayangan kuhh