Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
MENCUAT KE PERMUKAAN


__ADS_3

Kebencian yang aku rasakan, dalam sekejap merubah rasa sayang yang baru saja memenuhi hatiku ketika aku pertama kali melihat sosok Maya. Wanita yang begitu lembut dan penuh kasih. Tak ku pungkiri, awalnya aku berharap jika saja aku memiliki ibu seperti dirinya. Namun, begitu aku tahu bahwa dia hanya bertopeng malaikat. Hatiku hancur dan rasanya aku lebih memilih untuk tidak pernah mengetahui kebenaran tentang diriku dan juga dirinya.


"Karena aku yakin, Nyonya Stevano selalu memiliki alasan di balik setiap tindakannya." ucap Daffin lembut di telingaku.


Daffin benar! Aku memiliki segudang alasan untuk bersikap dingin pada Maya, tapi sayangnya aku tidak bisa mengatakan satu pun alasannya kepada Daffin karena hubungan kami berdua tidak sedekat itu.


"Kau ingin tahu alasannya?" tanyaku ketus.


"Tentu saja!" jawab Daffin. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya di tengkukku.


"Karena ... dia selalu membelamu!" ketusku.


Aku pikir, jawabanku akan menjadi akhir dari pertanyaan Daffin. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Daffin memutar tubuhku dengan lembut agar mau menghadap dirinya. Walaupun aku enggan, tapi anehnya aku tetap mengikuti keinginan Daffin.


"Buka matamu!" titah Daffin, begitu aku berbalik menghadapnya.


"Tidak! Aku malas melihat wajahmu." Aku bersikukuh untuk tetap memejamkan mataku.


"Baiklah, tutup saja matamu! Tapi tetap dengarkan aku!" pintanya. "Maya tidak bermaksud untuk membelaku. Dia hanya tahu bahwa aku tidak akan mungkin menyakitimu, Nyonya Stevano." jelas Daffin.


Bualan Daffin membuatku mual. Aku tidak tahan hingga akhirnya aku membuka mataku. "Tidak mungkin menyakiti? Kau selalu menyakitiku, Daffin! Kau membuatku kehilangan anak-anakku! Dan kau juga membuatku kehilangan kak Erlan!"


Mungkin kata-kataku melukai Daffin karena dia tiba-tiba terbangun dan beringsut turun dari tempat tidur, dan tanpa sadar aku pun ikut terbangun.


"Sudah tidak ada yang ingin kau tanyakan lagi?" lontarku, tepat ketika Daffin akan membuka pintu.


Tangan besar Daffin berhenti pada pegangan pintu. "Tidak ada yang bisa aku lakukan, jika Erlangga masih memenuhi hatimu."


***


Malam itu, Daffin tidak pernah kembali lagi ke kamar tidurnya. Dia bahkan tidak pernah pulang ke rumah. Aku tidak tahu, apakah aku harus sedih atau senang karena sudah berhari-hari aku tidak melihat wajah menyebalkan si Plankton.


"Shaka?"


Aku cukup terkejut ketika melihat Shaka sedang mengemasi barang-barang Daffin di dalam kamarnya.


"Saya, Nyonya," Shaka menghentikan aktivitasnya untuk membungkuk hormat padaku.


"Dimana Daffin?" tanyaku dengan pandangan berkeliling.

__ADS_1


"Tuan ada di kantor, Nyonya," jawab Shaka, ia masih belum melanjutkan pekerjaannya.


"Kantor?" ulangku.


"Benar, Nyonya," Shaka mengangguk pasti.


"Jadi, selama berhari-hari ini dia tidak pulang karena dia tidur di kantor. Baik! Bawa semua barang-barangnya dan pindahkan ke kantornya! Katakan padanya jangan pernah kembali!" teriakku.


Dengan perasaan yang entah mengapa tiba-tiba kecewa bercampur amarah, aku mengeluarkan semua pakaian dan accessories Daffin dan membiarkannya berserakan di lantai.


"Nyonya ...."


"Katakan pada tuanmu! Jika dia ingin menjauh dariku, maka lakukan dengan sepenuh hati!"


Setelah mengatakan itu, aku keluar dengan membanting pintu dan berjalan menuruni tangga.


Awalnya, aku berniat untuk keluar dan berjalan-jalan. Tapi Maya tiba-tiba menahanku.


"Kau mau kemana, Ayasya?" tanya Maya, tangannya bahkan memegangi tanganku.


"Apakah kini kau juga membatasi gerakku?" sinisku, bahkan sampai memicingkan mataku.


Hatiku memang konyol, aku berharap Maya mengkhawatirkan diriku. "Tidak bisakah kau berpikir, jika sesuatu terjadi padaku apa yang akan terjadi dengan hidupmu? Tidak bisakah kau berpikir sebagai seorang ibu!!!"


"Ayasya ...," lirih Maya, aku bisa melihat bibirnya bergetar ketika menyebut namaku.


"Lily! Kau ingat nama itu? Lily, nama yang sangat ingin kau hapus dari hidupmu!" ucapku penuh emosi.


Aku tidak tahu apa yang sedang merasuki pikiranku hingga aku akhirnya mengungkapkan kebenaranku di hadapan Maya.


"Tidak! Itu tidak benar, Sayang, Ibu tidak pernah bermaksud untuk melupakanmu." sanggah Maya seraya terisak.


Pilu. Itu yang aku rasakan di palung hatiku yang terdalam ketika melihat Maya menangis hingga tersedu-sedu seperti itu di hadapanku.


"Ibu?" tanyaku lirih.


Maya mengangguk lemah. "Benar, Lily! Aku ibumu."


"Tunggu dulu! Itu artinya, kau sudah tahu bahwa aku adalah putri yang pernah kau buang dulu?" Aku mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


"Iya! Ibu mohon, maafkan Ibu, Sayang!" ucap Maya lemah, air mata masih membanjiri matanya.


"Jika kau sudah tahu, kenapa kau tidak mengatakan apapun? Atau setidaknya, kau bisa menanyakan bagaimana kabar putrimu yang telah kau buang ini." sergahku.


"Maafkan ibu, Lily,"


"Ayasya! Namaku Ayasya! Aku bukan Lily. Lily sudah mati bersama kenangan yang kau buang dulu!" hardikku kesal.


Ya Tuhan! Aku tidak pernah menyangka akan mengungkapkan jati diriku dengan cara seperti ini, tapi mungkin ini memang sudah takdir yang harus aku jalani.


"Kau Lily ataupun Ayasya, tapi kau tetaplah putri Ibu satu-satunya, Sayang." Maya mencoba untuk memelukku, tapi aku menolaknya.


"Putrimu sudah mati lebih dari dua puluh tahun yang lalu, Maya." ucapku dingin.


"Tidak!!! Aku menjalani hidup yang menyedihkan selama dua puluh tahun ini hanya agar aku bisa bertemu denganmu lagi, Lily. Aku bertahan untukmu!" sanggah Maya, air mata tak henti-hentinya mengalir di wajah cantiknya.


"Menyedihkan? Kau mengatakan bahwa hidupmu menyedihkan. Apa kau tahu apa itu arti menyedihkan?" tanyaku geram. "Kau tahu Maya, aku selalu menjadi bahan ejekan teman-temanku karena aku tidak memiliki ayah dan ibuku sendiri telah membuangku. Tapi aku cukup beruntung karena keluarga Kencana mau menjadikan aku menantu mereka. Aku hanya menyesali satu hal, bahwa aku terlahir dari wanita menjijikkan seperti dirimu!" sambungku.


"Ayasya!!!" Tiba-tiba seseorang meneriakkan namaku.


Seketika, pandanganku dan juga Maya tertuju pada sosok Daffin yang sedang berjalan untuk menghampiri kami.


"Berhenti menghina Maya, Ayasya!" sergah Daffin, dia bahkan lebih memilih memeluk Maya daripada diriku yang tengah hancur ini.


"Aku? Menghinanya? Dia bahkan sudah hina sebelum aku melakukannya!" sungutku.


"Kau!!!" Daffin mengangkat tangannya dan mengarahkan tangan besar itu ke wajahku.


Karena terkejut, aku lantas memejamkan mataku. Membayangkan bagaimana sakitnya jika tangan besar itu mendarat di pipiku. Namun, ketika aku tak juga merasakan apapun di wajahku. Aku memberanikan diri untuk membuka mataku dan melihat tangan Daffin masih menggantung di udara.


"Kenapa? Ayo, pukul aku! Bukankah kau sudah lama ingin melakukannya?" Aku menarik-narik tangan Daffin, mencoba untuk memprovokasi dirinya.


Entah kurang tenaga atau memang aku yang terlalu lemah. Ketika Daffin kembali menarik tangannya, aku justru terbawa olehnya hingga dengan sangat terpaksa aku masuk ke dalam pelukan Plankton menyebalkan itu.


"Aku tidak mungkin dan tidak akan pernah mungkin melakukan hal seperti itu kepada ibu dari anak-anakku."


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2