Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
LAMARAN DAFFIN


__ADS_3

Sebuah rasa yang memang sejak awal telah tercipta, semakin berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Seperti rasaku pada Daffin yang awalnya hanyalah sebuah kebencian, seketika berubah menjadi perasaan sayang tanpa aku sadari dan perasaan ini semakin mendalam ketika aku melihat malaikat kecil kami lahir ke dunia ini.


Kehadiran Shaka kecil di antara kami telah banyak membuat perubahan dalam hidupku, juga Daffin. Tak ada lagi salah paham yang berujung pertengkaran seperti saat kami baru memulai rumah tangga. Meskipun ada pertengkaran, tapi hal itu hanya bertahan sepanjang siang karena malamnya kami akan menyelesaikan pertengkaran itu dengan cara yang aneh. Hahaha ...


Dan inilah hasilnya, belum genap satu tahun usia Shaka, tapi aku sudah mengandung anak kedua. Apalagi kalau bukan karena seringnya kami bertengkar dan berbaikan. Apapun itu, aku sangat bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan padaku untuk merasakan kebahagiaan ini.


***


Hari ini, Daffin memintaku untuk menemaninya ke kantor. Entah ada apa dengannya? Aku pikir sikap manjanya itu karena dia sedang mengidam, sama seperti saat aku mengandung Shaka di trimester ketiga. Saat itu Daffin berubah menjadi sangat manja dan sensitif. Mungkin saja, hari ini juga seperti itu.


Aku bersiap-siap dan mematut diriku di depan cermin. Dengan pakaian yang semi formal, aku berusaha untuk tetap tampil elegan agar tidak mengecewakan Daffin. Namun, satu hal yang pasti aku tetap memakai pakaian tertutup karena itulah yang di inginkan Daffin.


"Sudah siap?" tanya Daffin seraya menyandarkan kepalanya di bahuku.


Tanganku menyentuh kepala Daffin dan membelainya. "Sudah! Jika kau tidak memintaku untuk menggantinya."


Terdengar kekehan dari mulut Daffin, di susul kecupan lembut di leherku. "Aku tidak akan mengganggu bintang laut yang sedang hamil."


"Plankton!!!" sergahku, kesal karena Daffin mulai lagi.


Sudah lama sekali aku tidak memanggilnya seperti itu, terlebih di hadapan ibu. Pernah suatu hari aku memanggil Daffin dengan sebutan Plankton di hadapan ibu, dan ibu langsung marah serta memintaku untuk tidak melakukan hal itu lagi. Dan yang paling menyebalkan adalah Daffin justru tidak membela diriku. Dia mengatakan bahwa aku sering melakukan hal itu. Tentu saja ibu marah besar padaku. Aku sampai harus menangis seperti anak kecil agar ibu memaafkan aku. Dan Daffin, percayalah! Dia tertawa puas sekali melihatku seperti itu.


"Kau berani memanggilku seperti itu? Hemm ...," ucap Daffin, sementara tangannya melingkar di pinggangku.


"Kau yang mulai!" hardikku penuh emosi.


"Baiklah, maafkan aku! Aku hanya bercanda, Nyonya Stevano." Daffin mulai menyusuri lekuk leherku.


Tanganku menahan kepala Daffin. "Hentikan! Kau selalu saja seperti itu, Daffin! Kita bisa terlambat."


Daffin melirik jam di tangannya. "Kita masih punya waktu tiga puluh menit sebelum terlambat. Bagaimana kalau kita bermain dulu?"


Bermain. Aku paham betul maksud Daffin, tapi aku tak akan menghiraukannya untuk kali ini. Dia terlalu sering bermain hingga tingkat kewarasannya menurun.


"Tidak, Daffin!" Aku berbalik dan menatap tajam Daffin.


Satu hentakan membuat tubuhku menempel dengan Daffin hingga hembusan nafasnya pun bisa aku rasakan. Anehnya, meskipun kami sudah lama menikah, tapi jantungku masih terus berdebar setiap kali Daffin melakukan hal seperti ini.


"Kenapa wajahmu memerah, Lovely?" bisik Daffin.


Lovely? Ah, Daffin ini! Dia sangat suka membuatku terbang dan melayang. Hati-hati kau, Daffin! Bagaimana jika aku tidak bisa kembali ke mendarat ke bumi?


"Aku kepanasan!" Sekuat tenaga aku mencoba melepaskan diri dari dekapan Daffin. "Sepertinya aku harus mengganti pakaianku dengan yang sedikit terbuka," sindirku.


Daffin melepaskan kaitan tangannya dan menangkup kedua pipiku. "Baiklah, kita berangkat sekarang! Kau ini suka sekali menggunakan kalimat itu untuk mengancamku."


Itu memang benar! Karena hanya kalimat seperti itulah yang mampu menghentikan Daffin. Jika tidak, aku yakin hari ini kami tidak akan keluar dari kamar selama Shaka tidak menangis.


***


Perjalanan menuju kantor sedikit memakan waktu karena kemacetan yang cukup parah, tapi aku sangat terhibur dengan tingkah lucu Shaka yang terus mengundang tawa.


Sebenarnya, aku tidak berniat untuk membawa Shaka. Namun, Daffin bersikeras untuk membawa serta Shaka ke kantornya. Entahlah apa yang dia rencanakan, aku hanya bisa menuruti keinginannya saja.


"Say daddy!" pinta Daffin, ketika Shaka terus mengoceh tanpa bisa kami mengerti. "Come on, Son, say daddy!" ulangnya.


"Kau pikir Shaka bayi ajaib! Dia belum saatnya bicara, Daffin." Aku mengambil alih Shaka dari pangkuan Daffin.


Wajah Daffin memberengut. "Aku memberinya nama Shaka agar dia sepintar Shaka, tapi sepertinya -"


"Dia sebodoh diriku! Itu maksudmu." sungutku.


"Tidak, Nyonya Stevano, aku hanya berpikir mungkin dia sengaja melakukan hal itu agar aku kesal. Dia sangat konyol!" gerutu Daffin, tangannya mencubit gemas pipi bulat Shaka.


Mendengar kata konyol, aku jadi ingat hubungan antara Daffin dan daddy David. Mereka berdua seperti musuh bebuyutan, tak pernah akur dan sering sekali bergesekan. Mungkinkah putraku menirukan sikap daddynya terhadap grandpanya?


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Daffin, mengejutkan aku.


"Aku ... aku hanya menikmati ketampananmu, Sayang," ucapku manja.


Kali ini, wajah Daffin yang memerah. Dia terlihat malu dan salah tingkah, tapi dia mampu menutupinya dengan menyibukkan diri membaca laporan yang di kirimkan oleh sekretarisnya.


Awalnya, Daffin tidak ingin ada orang yang menggantikan posisi Shaka. Namun, lambat laun dia mulai kewalahan dan akhirnya memutuskan untuk mencari sekretaris. Sayangnya, Daffin tidak bisa sepenuhnya percaya pada sekretarisnya seperti dia mempercayai Shaka. Tidak semua hal dia serahkan pada sekretarisnya itu, hanya masalah pekerjaan saja. Di luar hal itu, Daffin akan membereskannya sendiri.


Merasa kesal karena di acuhkan Daffin, aku pun memilih untuk menidurkan Shaka. Putraku yang tampan, dia sangat penurut meski hanya padaku. Jika dengan Daffin, dia akan melakukan segala hal yang bertolak belakang dengan yang Daffin katakan. Tak jarang hal itu membuat Daffin kesal dan mengeluh padaku. Dia menuduhku mengkonfrontasi putranya agar melawan padanya. Dia pikir ini zaman apa!


"Daffin?"


"Hemm ...."


"Bisakah kita pergi ke tempat lain? Aku sedang tidak ingin ke kantor." Aku memasang wajah penuh harap.


Daffin mematikan tabnya dan menatapku. "Kau ingin kemana, Nyonya Stevano?"


"Shopping!"

__ADS_1


***


Suasana ramai langsung menyerbu ketika aku dan Daffin melangkahkan kaki memasuki sebuah pusat perbelanjaan. Disana sedang ada sebuah event yang berlangsung. Terdengar alunan musik dan juga sorak sorai dari para pengunjung.


"Daffin, ramai sekali disini!" teriakku.


Sebelah tangan Daffin merangkulku, sementara sebelah tangannya mendorong stroller. "Apa kita pindah saja, Nyonya Stevano?"


Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak perlu! Tapi aku ingin kau naik ke sana dan bernyanyi untukku."


Kedua alis Daffin menukik tajam. "Apa? Tidak! Aku tidak bisa bernyanyi."


"Kalau begitu, aku yang akan bernyanyi!" ancamku.


Daffin menghela nafasnya. "Baiklah, tapi jangan menutup telingamu ketika aku bernyanyi!"


Aku tersenyum dan mengangguk lalu mendorong tubuh Daffin. Ketika Daffin menoleh, aku melambaikan tangan dan menatap wajah Shaka serta Daffin bergantian.


"Fighting, Daddy!!!" teriakku, dengan mengepalkan tangan ke udara.


Daffin benar-benar melakukannya. Dia naik ke panggung masih dengan memakai jasnya. Wajah tampannya dan kharismanya berhasil menarik perhatian para penonton. Beruntung aku bisa melihatnya dari tempatku berdiri.


"Selamat siang, Para pengunjung! Aku Daffin Miyaz Stevano. Aku berdiri di sini untuk memenuhi keinginan istriku dan juga anakku yang belum lahir." Daffin tersenyum ke arahku. "Dan dalam kesempatan ini, aku juga ingin melamarnya kembali. Mungkin dia bosan menerima lamaranku karena entah ini lamaran yang keberapa kalinya, tapi aku akan tetap melakukannya. Aku mencintaimu, Nyonya Stevano." ungkapnya.


Sorakan para penonton, menyamarkan keharuanku atas ungkapan cinta Daffin di hadapan banyak orang. Dan ketika alunan musik mulai terdengar dan Daffin mulai bernyanyi, aku merasa hanya ada kami berdua di tempat ini.


I found a love for me


(Aku menemukan cinta untukku)


Oh darling, just dive right in and follow my lead


(Oh, Sayang, langsung saja masuk dan ikuti petunjukku)


Well, I found a girl, beautiful and sweet


(Nah, saya menemukan seorang gadis, cantik dan manis)


Oh, I never knew you were the someone waiting for me


(Oh, aku tidak pernah tahu kau adalah seseorang yang menungguku)


Cause we were just kids when we fell in love


Not knowing what it was


(Tidak tahu apa itu)


I will not give you up this time


(Aku tidak akan menyerah kali ini)


But darling, just kiss me slow, your heart is all I own


(Tapi Sayang, cium saja aku perlahan, hatimu adalah milikku)


And in your eyes, you're holding mine


(Dan di matamu, kau memegang kendaliku)


Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms


(Sayang, aku menari dalam kegelapan denganmu di antara kedua lenganku)


Barefoot on the grass, listening to our favourite song


(Bertelanjang kaki di atas rumput, mendengarkan lagu kesukaan kita)


When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath


(Saat kau bilang kau terlihat berantakan, aku berbisik pelan)


But you heard it, darling, you look perfect tonight


(Tapi kau mendengarnya, Sayang, kau terlihat sempurna malam ini)


Well I found a woman, stronger than anyone I know


(Aku menemukan seorang wanita, lebih kuat dari siapapun yang aku kenal)


She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home


(Dia berbagi impianku, aku berharap suatu hari nanti aku akan berbagi rumahnya)


I found a love, to carry more than just my secrets

__ADS_1


(Aku menemukan cinta, untuk membawa lebih dari sekedar rahasiaku)


To carry love, to carry children of our own


(Membawa cinta, menggendong anak-anak kita sendiri)


We are still kids, but we're so in love


(Kita masih anak-anak, tapi kita saling cinta)


Fighting against all odds


(Berjuang melawan segala rintangan)


I know we'll be alright this time


(Aku tahu kita akan baik-baik saja kali ini)


Darling, just hold my hand


(Sayang, pegang saja tanganku)


Be my girl, I'll be your man


(Jadilah gadisku, aku akan menjadi priamu)


I see my future in your eyes


(Aku melihat masa depanku di matamu)


Baby, I'm dancing in the dark, with you between my arms


(Sayang, aku menari dalam kegelapan, dengan kau di antara kedua lenganku)


Barefoot on the grass, listening to our favorite song


(Bertelanjang kaki di atas rumput, mendengarkan lagu kesukaan kita)


When I saw you in that dress, looking so beautiful


(Saat aku melihatmu dengan gaun itu, terlihat sangat cantik)


I don't deserve this, darling, you look perfect tonight


(Aku tidak pantas menerima ini, Sayang, kau terlihat sempurna malam ini)


Baby, I'm dancing in the dark, with you between my arms


(Sayang, aku menari dalam kegelapan, dengan kau di antara kedua lenganku)


Barefoot on the grass, listening to our favorite song


(Bertelanjang kaki di atas rumput, mendengarkan lagu kesukaan kita)


I have faith in what I see


(Aku memiliki keyakinan pada apa yang aku lihat)


Now, I know, I have met an angel in person


(Sekarang, aku tahu, aku telah bertemu dengan seorang malaikat secara langsung)


And she looks perfect


(Dan dia terlihat sempurna)


I don't deserve this


(Aku tidak pantas menerima ini)


You look perfect tonight


(Kau terlihat sempurna malam ini)


^^^ Perfect by Ed Sheeran^^^


"Aku juga beruntung bertemu denganmu, Daffin ...."


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2