Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
HANTU PLANKTON VS BINTANG LAUT


__ADS_3

"Uweekk... uweekk ...."


Lagi-lagi perutku terasa mual, nasi goreng yang sebelumnya aku makan dengan lahap pun harus rela keluar kembali. Rania dengan sabar dan telaten terus saja memijat-mijat tengkukku dengan lembut. Merasa sudah tidak ada lagi yang bisa aku keluarkan, aku pun membasuh mulutku dan berbalik menghadap Rania yang masih berdiri di belakangku.


"Rania... nasi gorengnya," rengekku sembari menunjuk wastafel yang sudah bersih kembali.


Rania tersenyum kaku. "Anda ingin makan nasi goreng lagi, Nyonya muda?"


Aku menggeleng lemah. "Tidak. Aku tidak ingin muntah lagi. Ini sudah yang ketiga kali dan semua nasi goreng itu hanya membuat perutku semakin mual."


Ada apa ini sebenarnya? Kenapa setiap kali aku selesai memakan semua nasi goreng itu, perutku selalu mual dan memuntahkan kembali apa yang masuk ke perutku.


'Baby, kamu ingin makan apa sebenarnya? Mommy sudah makan nasi goreng, tapi kenapa kamu selalu menolaknya?' batinku dengan usapan lembut yang mendarat di perutku yang masih rata.


Rania terus menatapku yang sudah mulai lemah tak berdaya. Jangankan dirinya, aku saja kasihan pada diriku sendiri. Andai saja kak Erlan masih hidup, aku tidak akan sengsara seperti ini.


"Rania, aku ingin istirahat." ucapku lirih, disusul selimut yang mulai menutupi separuh tubuhku.


"Anda tidak ingin makan malam, Nyonya muda?"


"Tidak, jika aku harus mengeluarkannya lagi."


***


Kruuuyuuukkk... kruuuyuuukkk...


Tidur nyenyakku terganggu ketika aku mendengar suara sumbang dari perutku yang kelaparan. Dengan malas aku membuka mata dan melirik jam di dinding. Waktu menunjukkan jam yang sama di setiap malam saat aku bangun dan kelaparan.


"Astaga, kenapa harus di jam ini, Sayang? Mommy sangat mengantuk." keluhku, tapi tetap menurunkan kakiku dari tempat tidur dan melangkah diam-diam untuk mencari makanan, seperti biasa.


Tidak seperti malam kemarin, kali ini tidak ada pelayan. Hanya ada sosok yang membelakangi tangga. Dilihat dari sikapnya, tidak mungkin dia seorang pelayan. Karena seorang pelayan tidak akan berani menonton televisi, apalagi tengah malam seperti ini.

__ADS_1


Aku meneruskan langkahku menuruni tangga dan mendekati sosok itu. Tiba-tiba saja pria itu berbalik dan menatapku dengan tajam. "ASTAGA!!! HANTU PLANKTON."


Sungguh, aku berteriak karena terkejut melihat Daffin yang tiba-tiba saja berbalik dan langsung memelototiku. Ya, walaupun sebenarnya itu juga salah satu kesukaanku, rasanya menyenangkan memanggilnya seperti itu.


"Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" tanya Daffin, dia kembali memutar kepalanya untuk menonton televisi.


'Kau bertanya padaku atau pada televisi?' batinku. "Apa aku juga tidak boleh berkeliaran di dalam embermu?" ketusku.


"Ember?" Daffin mengerutkan dahinya dan kembali menatapku dengan aneh, seolah aku ini binatang langka saja.


"Iya, tempat ini." Aku melemparkan pandanganku keseluruh rumah untuk menjelaskan bahwa inilah "ember" yang ku maksud.


"Terserah kau sajalah, mungkin kau terbiasa tinggal di bawah bebatuan." sinis Daffin di iringi senyuman yang membuatku ingin sekali memasukkannya ke dalam toples dan melemparkannya ke laut agar di makan ikan hiu.


Aku mendengus kesal, tidak ada gunanya melawan pria angkuh sepertinya. Sudah pasti dia tidak akan mengalah dan terus saja menemukan alasan untuk menghinaku. Lebih baik aku menghindarinya dan sebisa mungkin mencoba agar tidak memiliki masalah dengannya lagi.


Perutku kembali berbunyi, mengingatkan tujuanku turun ke lantai bawah di jam begini. Aku berjalan menuju dapur dan membuka lemari es yang cukup besar. Disana semua makanan tertata rapih, tapi sayangnya semua itu makanan mentah yang harus di masak terlebih dulu.


"Apakah aku harus menunggu besok pagi untuk makan?" gumamku, kembali menutup lemari es.


Aku menyeret kakiku untuk kembali ke kamar, tidak ada yang bisa aku makan dan aku lakukan. Aku juga tidak ingin mengganggu para pelayan yang sudah beristirahat hanya karena aku lapar.


"Kau mau kemana?" tanya Daffin, kali ini dia sudah mematikan televisinya dan berniat menghampiriku.


"Tidur."


Sepertinya jawabanku sangat singkat, sedikit dan mudah dimengerti. Yang lebih penting lagi, jawabanku itu seharusnya tidak bisa di jadikan alasan untuk menahanku disini.


"Tidur?" Senyuman mengejek kembali menghiasi wajah Daffin. "Kau itu benar-benar seperti bintang laut. Hanya tertelungkup di bawah bebatuan tanpa bergerak sedikitpun kecuali makan."


'Tuhan, bolehkah aku menoyor kepala Daffin agar otaknya itu kembali ke tempatnya dan tidak miring lagi? Jika itu termasuk dosa, aku janji aku akan bertobat dan memohon ampun.Tapi biarkan aku melakukannya sekali ini saja.'

__ADS_1


"Kenapa matamu membesar seperti itu?" Daffin melangkah dan mengikis jarak di antara kami berdua. "Kau ingin aku menukar matamu itu dengan mata udang?"


Pertahananku cukup kuat, aku tetap menatapnya tanpa berkedip meski jarak kami begitu dekat. Begitu juga dengan Daffin, dia tidak mau kalah dan membalas tatapanku dengan mata birunya yang semakin mengagumkan di bawah cahaya lampu. Andai saja dia bukan Daffin, andai saja pria yang berdiri di hadapanku kini adalah suami yang mencintaiku seperti kak Erlan. Ah, khalayanku terlalu tinggi hingga membuatku kesakitan saat terjatuh.


Kruuuyuuukkk...


Suara perutku memecah keheningan di antara kami berdua. Aku melihat bahu Daffin yang bergerak naik turun karena menahan tawa. Astaga, kali ini perutku benar-benar sudah membuat kesalahan besar.


"Hahahaha ...."


Gelak tawa keluar dari mulut Daffin, untuk pertama kalinya aku melihat pria tirani sepertinya tertawa hingga terpingkal-pingkal seperti itu. Daffin bahkan memegangi perutnya dengan sebelah tangan dan sebelah tangannya lagi memegangi ujung sofa.


"Tertawalah! Sebelum tawa itu membunuhmu." ketusku untuk menahan malu. Wajahku bahkan sudah semerah tomat saat ini.


Bukannya makanan justru rasa malu yang kudapat, tapi hal itu juga sudah membuatku kenyang dan kehilangan nafsu makanku. Seharusnya aku membangunkan Rania daripada harga diriku jatuh di hadapan Daffin.


"Tunggu dulu!" Aku merasakan tangan Daffin menahan lenganku, tepat saat aku akan menaiki anak tangga.


Aku menoleh dan melihat wajah Daffin yang sudah berganti serius. 'Dia pasti pemenang the best Actor. Cepat sekali raut wajahnya berganti seperti itu, secepat Plankton mencuri resep tuan Crab.'


"Ada apa?" Suaraku kubuat sebiasa mungkin agar dia tak menyadari betapa malunya aku dengan suara perutku.


"Kau lapar, kan? Ayo, makan!" Antara perintah dan pertanyaan, tapi yang jelas Daffin langsung menarik tanganku menuju dapur.


Untuk kali ini, aku membiarkannya melakukan apapun yang dia suka. Karena sungguh, tubuhku masih sangat lemah karena perutku yang benar-benar kosong saat ini.


Aku memperhatikan Daffin yang sedang melihat-lihat isi lemari es. "Kau tidak akan menyuruhku memakan dedauan itu, kan?"


"Lalu, kau mau makan rumput?"


Hallo semuanya 🤗

__ADS_1


Jangan lupa jempol 👍 dan juga jejaknya di kolom komentar 👇 di tambah vote juga boleh 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😍


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2