Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
MATAHARI


__ADS_3

Kedatangan Shaka yang tepat menurutku, tapi tidak tepat menurut Daffin menjadi hal konyol baru yang menjadi perdebatan bagi kami.


"Mengganggu apa? Yang benar adalah Shaka menyelamatkanku dari seranganmu." hardikku, dengan mengulas sedikit senyum tipis.


Aku rasa, Daffin benar-benar jengkel dengan sikap Shaka kali ini. Dia bahkan hendak menyusul Shaka jika aku tidak menahannya.


"Kau mau kemana?" tanyaku seraya menangkap pergelangan tangan Daffin.


Daffin menoleh dan menatapku dengan tatapan aneh. "Aku ingin membuat perhitungan dengan orang yang telah menyelamatkanmu."


"Hei, dia hanya melakukan sedikit kesalahan kecil. Kenapa kau memperbesar masalahnya?" ucapku santai, tapi tetap memegangi tangan Daffin.


"Itulah masalahnya, Shaka terlalu sering melakukan kesalahan akhir-akhir ini. Dan hal itu selalu berhubungan dengan dirimu." sergah Daffin, matanya melihat ke arah tanganku yang masih menahannya.


Menyadari kemarahan Daffin yang sudah melampaui level teraman, aku pun segera melepaskan tanganku dari tangan sucinya.


"Ya ... mungkin Shaka cemburu melihatmu terlalu dekat denganku." selorohku seraya menggerak-gerakkan bola mataku.


Kedua alis Daffin menukik tajam. "Maksudmu? Dia cemburu karena dia menyukaiku?"


"Mungkin saja," jawabku ambigu.


Jujur saja, sekuat tenaga aku menahan tawaku ketika melihat reaksi bergidik Daffin karena ucapanku.


"Tidak mungkin!" sanggah Daffin. Kentara sekali dia menahan kengerian yang memenuhi otaknya.


Aku mengangkat kedua bahuku. "Kalau begitu, mungkin dia cemburu karena dia menyukaiku."


Bola mata biru itu hampir saja melompat keluar ketika aku mengatakan sesuatu yang tiba-tiba melintas di pikiranku. Tangan Daffin seketika mengepal dan memperlihatkan urat-urat yang menegang.


"Tidurlah!" titah Daffin, kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu.


"Kau tidak tidur?" tanyaku, tepat ketika Daffin mencapai ambang pintu.


Tanpa menoleh Daffin menjawab, "aku akan tidur saat tidak ada lagi pria yang memikirkanmu selain aku."


***


Pagi hari menyapa, sinar mentari pun menyelusup melalui celah tirai dan menimpa wajahku. Dengan malas aku membuka mata dan menyingkirkan selimut yang menghangatkan tubuhku semalam.


Aku mendudukkan tubuhku dan sedikit menggeliat malas, sebelum melihat tempat kosong di sebelahku.


"Dia tidak kembali? Apakah dia melakukan sesuatu yang buruk kepada Shaka?" gumamku, menyadari lelucon konyolku semalam.


Dengan terburu-buru aku keluar dari kamar. Aku bahkan mengikat rambutku sambil berjalan menuju ruang makan. Tempat dimana Daffin biasa berada sebelum pergi ke kantor.


Benar saja. Ketika aku sampai, Daffin sedang menikmati sarapan paginya bersama Maya. Tak lupa si pria kanebo yang berdiri di belakang Daffin seperti patung.


"Selamat pagi, Semuanya," sapaku seraya menarik kursi.


"Pagi, Sayang," sahut Maya dengan senyuman lembut seperti biasanya.

__ADS_1


Sudut mataku melirik Daffin yang tidak merespon sedikit pun kehadiranku. Dia bahkan tetap mengunyah rotinya dengan santai tanpa berniat membalas sapaanku.


"Selamat pagi, Shaka, apa kau sudah sarapan? Ayo, duduklah! Makan bersama kami." ucapku ceria.


Berhasil! Mata biru itu menatapku dengan tajam sebelum berdeham tepat saat Shaka akan membuka mulutnya sehingga Shaka kembali terdiam dan tidak jadi menjawab pertanyaanku.


"Kenapa Shaka? Duduklah! Kau bukan orang lain. Kau juga bagian dari keluarga ini." pintaku lembut, bahkan dengan senyuman yang tak lupa ku buat semanis mungkin.


"Tidak, Nyonya, terima kasih. Saya sudah sarapan di apartemen." tolak Shaka sopan.


Aku mendengus kesal karena merasa rencanaku untuk membuat Daffin kesal telah gagal, tapi aku justru melihat Daffin tersenyum walaupun sangat tipis sekali.


"Ah, iya, Shaka, bisakah kau mengantarku ke pusat perbelanjaan siang ini? Aku ingin -"


"Aku akan mengantarmu!" sergah Daffin, dia bahkan tak membiarkan aku menyelesaikan ucapanku.


"Tapi kau sibuk, Daffin, biar Shaka yang mengantarku." ucapku, di barengi sesuap roti yang masuk ke dalam mulutku.


"Aku tidak sibuk, tapi Shaka sibuk. Dia tidak akan bisa mengantarmu." Aku melihat Daffin membersihkan mulutnya dan melirik jam di tangannya. "Bersihkan dirimu! Aku akan kembali saat makan siang nanti. Ingat! Aku yang akan mengantarmu, bukan Shaka!" tegas Daffin.


"Baiklah," jawabku seraya memutar bola mataku dengan malas.


Setelah mendapatkan jawaban yang memuaskan dariku. Daffin langsung berdiri dan merapihkan jasnya. Aku pikir dia akan langsung pergi, tapi dia melakukan hal yang benar-benar tidak ku duga sebelumnya.


"Jaga dirimu!" ucap Daffin lembut seraya mengecup puncak kepalaku.


Ya Tuhan, aku seketika membeku mendapatkan perlakuan seperti itu darinya. Sebelumnya, aku hanya terbiasa melihat Daffin melakukan hal itu pada Reena.


"Dia sedang menunjukkan kesungguhan cintanya padamu, Sayang." ucap Maya, menyadarkan aku dari lamunanku yang tak tentu arah.


***


Siang harinya, Daffin benar-benar kembali dan mengemudikan mobilnya sendiri. Dia bahkan menjemputku sendiri ke dalam kamar dimana aku masih meringkuk malas.


"Tidak jadi pergi?" tanya Daffin, tubuh besarnya sudah berdiri di sisi tempat tidur.


Aku melihat sekilas ke arahnya, tapi kemudian kembali membenamkan kepalaku di bawah bantal dengan sebelah tanganku yang menunjuk ke arah jendela yang tertutup rapat oleh tirai.


"Kenapa? Ingin tirainya dibuka?" tanya Daffin, aku bisa mendengar suara ketukan sepatunya yang melangkah memutari sisi tempat tidur.


"Jangan!!!" teriakku, saat tangan Daffin akan menyingkap tirai.


"Kenapa?" tanya Daffin dengan alis terangkat.


"Mataharinya tidak bersahabat denganku." Aku menyipitkan mataku seperti orang yang tersorot cahaya.


Daffin tiba-tiba tertawa dan membuatku bingung sendiri. "Jika matahari bersahabat denganmu, maka kulitmu akan sehitam sepatuku ini."


Aku melihat ke bawah kakinya, lalu memberengut kesal. Merasa keseriusanku hanya di anggap lelucon oleh Daffin.


"Kau tidak mengerti, Daffin! Cahaya matahari membuatku tidak bisa membuka mata." sungutku kesal, kemudian menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku.

__ADS_1


"Mataharinya cerah hari ini, Nyonya Stevano, tidak sepanas yang kau pikirkan." seru Daffin, tangannya menarik selimut yang ku tahan sekuat mungkin.


Dan, terjadilah drama tarik menarik selimut yang tentu saja berujung dengan kekalahanku. Itulah yang terkadang membuatku begitu kesal kepada Daffin, karena dia tidak pernah mau mengalah padaku.


"Bangun dan mandilah! Aku sudah membereskan beberapa masalah di kantor dan kau masih saja memakai piyamamu." Daffin menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa masalahmu!" ketusku ketika melewati Daffin.


"Tentu saja bermasalah, Nyonya Stevano, kau seharusnya menyambutku ketika aku kembali ke rumah dengan wajah yang segar." jawab Daffin, dia mengikuti langkahku menuju kamar mandi.


Tepat sebelum aku membuka pintu, aku berbalik dan menatap Daffin dengan memicingkan mataku. "Kalau begitu, kau rasakan sendiri bagaimana sulitnya menghadapi kehamilan!"


BRAK ...


Aku membanting pintu tepat di depan wajah Daffin. Aku tidak tahu dia marah atau tidak, tapi yang jelas aku benar-benar kesal karena ucapannya. Entahlah, hormon kehamilan ini membuatku jadi lebih tidak terkendali. Terlebih ketika aku melihat wajah Daffin yang tidak tahu kenapa sangat menjengkelkan bagiku. Bersyukur aku sudah tidak mual ketika melihat wajahnya itu.


***


Ketika aku menuruni tangga, aku melihat Daffin tengah berbincang dengan Maya. Dan kali ini untuk pertama kalinya, aku melihat Daffin berbicara dengan begitu serius kepada Maya.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanyaku, ketika aku menapaki anak tangga terakhir.


"Tidak ada!" sergah Daffin cepat, kemudian berdiri dan menghampiriku. "Sudah siap?" tanyanya.


"Seperti yang kau lihat." Aku membentangkan setengah tanganku bermaksud menunjukkan pakaianku pada Daffin.


Wajah Daffin mengulas senyum tipis. "Ayo!"


Tangan Daffin tiba-tiba menggandeng tanganku dan sedikit menariknya agar aku mengikuti langkahnya. Namun, ketika kami sampai di halaman depan hal yang aku khawatirkan terjadi.


"Aaahhh!!!" jeritku ketika cahaya matahari langsung menimpa tubuhku.


Secepat kilat aku kembali masuk ke dalam rumah untuk bersembunyi di balik pintu, memastikan bahwa tubuhku tidak terkena cahaya matahari.


"Ada apa, Nyonya Stevano?" tanya Daffin, wajah bingungnya kontras dengan nafasnya yang terengah-engah karena menyusulku.


"Mataharinya ... aku sudah mengatakan padamu bahwa matahari tidak bersahabat denganku." jawabku lirih.


Sebenarnya aku juga tidak mengerti apa yang terjadi pada diriku, tapi sejak pagi tadi ketika aku berniat untuk menghirup udara pagi hari di taman, mataku tiba-tiba tidak bisa terbuka dan aku merasa sedikit pusing serta mual.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Nyonya Stevano?" tanya Daffin lagi.


"Mungkin karena mengidam!" lontar Maya, dia membawakan jaket dan juga kacamata hitam serta topi untukku. "Pakai ini agar kau bisa pergi keluar." Maya menyodorkan benda-benda itu padaku.


Aku sempat menatap semua benda itu di tangan Maya sebelum mengambilnya. "Terima kasih, tapi darimana kau tahu semua ini?"


"Karena aku juga pernah mengalami hal yang sama saat aku mengandungmu dulu."


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2