
Setelah menghabiskan waktu ribuan detik bersama pria kaku seperti Shaka, akhirnya aku sampai di depan ruangan Daffin.
Tadinya aku ingin langsung menerobos ke dalam ruangan terlarang itu, tapi Shaka menahanku.
"Kita harus mengetuk pintunya dulu, Nyonya muda," terang Shaka, tangannya terangkat dan siap mendarat di pintu.
Tok... tok... tok...
Tak ada jawaban dari dalam. Shaka mulai terlihat gelisah, tapi tak begitu denganku. Tak sabar menunggu, aku pun langsung merangsek masuk dan melihat Reena sedang bercumbu dengan Daffin.
Aku merasakan sesuatu membakar hatiku, tapi aku tetap berusaha untuk bersikap tenang. "Waktumu sudah habis, Nyonya Reena Stevano,"
Kotak makan yang aku bawa sengaja aku letakkan diatas meja dengan kasar agar menimbulkan suara nyaring yang menarik perhatian.
Mata biru Daffin segera terfokus padaku yang berjalan untuk menghampirinya. "Kenapa kau tidak mengatakan jika kau akan datang?"
"Bagaimana aku memberi tahumu? Kau bahkan menahan ponselku." Aku mendengus kesal. Kesal karena ponselku dan juga kesal dengan apa yang ada di hadapanku.
Posisi Daffin kini bersandar di kaca yang menunjukkan pemandangan kota. Reena yang awalnya sedang bergelayut manja di tubuhnya pun sudah ia singkirkan.
"Daff?" Suara manja Reena menghentikan langkahku. Tubuh tinggi dan langsingnya itu menghalangi jalanku yang akan menghampiri Daffin.
"Pergilah, Ree! Waktumu sudah habis." sergah Daffin, sebelah tangannya mendorong pinggang Reena dengan lembut. "Come to me, My Starfish!" seru Daffin ketika pandangan kami bertemu.
Reena yang terkejut dengan ucapan Daffin pun seketika menoleh kepadaku. Sorot matanya sudah berubah, tak ada lagi kelembutan yang pernah ia tunjukkan padaku sebelumnya.
"Tidak, Daffin! Aku tidak ingin mengganggu waktu kalian. Silahkan lanjutkan aktivitas kalian berdua yang sempat terjeda olehku." sinisku sembari membalikkan tubuhku.
Aku, Ayasya Zakiya Azmi. Baik dulu ataupun sekarang, tidak pernah merendahkan diriku sampai titik serendah ini. Bagiku mendatangi Daffin seperti ini, ketika dia sedang bersama istrinya adalah hal yang sangat memalukan. Terlebih aku hanyalah seorang selir yang tak pernah di harapkan.
Langkah kakiku terdengar nyaring di sepanjang koridor menuju lift. Aku sempat menoleh, tapi aku tidak melihat siapapun ada di belakangku.
"Daffin sialan!!! Dia benar-benar membiarkan aku pergi." Aku terus mengumpat di sepanjang langkahku hingga mencapai lift.
Tiba-tiba, seseorang menekan tombol dan menghentikan pintu lift yang akan tertutup. "Tolong kembali, Nyonya muda!"
***
Sebuah rasa yang terbawa angin akan mudah berubah-ubah mengikuti ke arah mana angin itu berhembus. Seperti yang aku rasakan dengan Daffin saat ini. Kami tidak memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi aku dan Daffin tetap diam di tempat untuk menanti keajaiban yang akan di berikan oleh Tuhan.
__ADS_1
Pandangan mataku langsung terfokus pada Daffin yang masih berdiri dengan tubuhnya yang bersandar pada kaca di belakangnya ketika aku kembali memasuki ruangannya. Bedanya, kali ini Daffin sedang meminum sesuatu yang kelihatan asing bagiku.
"Dimana kak Reena?" tanyaku, setelah aku tak menemukan sosok Reena dimanapun.
Daffin menatapku sesaat, kemudian kembali menenggak minumannya. Dia terlihat enggan menjawab pertanyaanku.
Aku harus melakukan sesuatu agar mendapatkan perhatian darinya. Lalu, pandanganku terfokus pada botol minuman yang di genggam oleh Daffin.
Dengan cepat aku melangkah dan meraih botol itu dari tangan Daffin meskipun aku harus di bentak olehnya.
"Hei!!! Apa yang kau lakukan?" teriak Daffin, tangannya kembali merebut botol yang hampir saja menyentuh bibirku.
Melihat reaksi Daffin yang seperti itu. Aku yakin itu bukanlah minuman biasa. "Air apa itu, Daffin?" Aku memicingkan mataku.
Daffin menunjukkan gelasnya kepadaku dan menggoyang-goyangkan air di dalamnya. "Ini bukan sesuatu yang pantas di minum olehmu."
Apa maksud ucapannya? Dia pikir aku serendah itu hingga tak pantas meminum air yang sama dengannya.
"Habiskan! Habiskan sampai kau kembung!" Aku melemparkan tasku ke atas meja dan menjatuhkan diriku di sofa yang berada tak jauh dari tempat Daffin berdiri.
Aku teringat kotak makan yang tadi ku bawa dan berniat untuk mengambilnya ketika aku melihat kotak itu berada di atas meja kerja Daffin, tapi Shaka dengan cepat meraihnya dan melemparkan tatapan curiga padaku.
"Oh, benarkah?" tanya Daffin sembari meletakkan gelas dan juga botol minumannya.
"Ya, tentu! Tapi sayangnya aku harus menyaksikan adegan romantismu dengan kak Reena." Wajah cemberutku terpasang sempurna tanpa kuminta.
Tiba-tiba saja, Daffin menghampiriku dan meraih tengkukku. Dalam sekali gerakan, Daffin menyergap bibirku dengan sempurna. Bahkan saking terkejutnya aku, kotak makan yang aku pegang sampai terjatuh dan makanan yang sudah aku siapkan berserakan di lantai.
"Astaga!!!" Aku mendorong tubuh Daffin agar melepaskan pagutan bibirnya, kemudian aku berjongkok dan memunguti kepiting yang sudah jatuh itu.
"Ayasya, tinggalkan itu!" Daffin menarik tanganku agar berdiri.
"Makanannya, Daffin." Aku menunjuk kepiting saus tiram yang kini teronggok di lantai. Sebenarnya aku sedih bukan karena makanannya, tapi karena rencanaku yang gagal.
"Biarkan saja!" bentak Daffin.
"Tapi kita tidak boleh membuang makanan!"
"Aku tahu, Ayasya, tapi itu sudah kotor."
__ADS_1
"Itu semua karena ulahmu!"
"Kenapa aku?"
"Karena kau mengejutkanku, Plankton!"
Daffin terdiam dan menatapku. Sial! Lagi-lagi aku melupakan peringatan Daffin, jika dirinya tidak suka mendengarku menyebutnya Plankton. Bodohnya lidahku ini!
"Memangnya apa yang sudah aku lakukan, My Starfish?" tanya Daffin, raut wajah serta mata birunya membuatku merasa mengecil beberapa inchi.
"Kau ... kau tiba-tiba menciumku!"
Gelak tawa terdengar dari mulut Daffin. Entah apa yang dia tertawakan, tapi aku yakin dia pasti sedang mentertawakan diriku.
"Aku tidak menciummu! Aku membiarkanmu merasakan apa yang aku minum tadi." elaknya setelah berhenti tertawa.
"Tapi tadi kau ...."
"Seperti ini? Cup." Daffin kembali menciumku, tapi kali ini hanya sesaat.
"Daffin!!!" Mataku membesar dan menunjukkan betapa marahnya aku.
"Apa lagi, My Starfish? Aku hanya mencontohkan apa yang tidak bisa kau katakan."
Aku menatap manik mata Daffin. Ada kebahagiaan yang terpancar disana. Kali ini aku melihat sisi lain dari seorang Daffin Stevano yang tak pernah aku lihat sejak aku pertama kali bertemu dengannya. Aku tidak yakin akan hal ini, tapi aku menduga jika Daffin senang menggodaku.
"Kau sudah menyia-nyiakan usahaku, Daffin!" Tak terasa air mataku mengalir ketika mengatakan hal itu. Mungkin karena aku merasa aku telah kalah sebelum berperang.
Dalam sekejap, aku sudah berada dalam dekapan tubuh Daffin. Tangan besarnya hampir menutupi separuh tubuhku. "Maafkan aku, Ayasya! Katakan! Apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku?"
Aku mendongak dan menatap manik mata Daffin. "Temani aku malam ini."
Hallo semuanya ๐ค
Author amburadul kembali ๐ Terima kasih yang masih setia menanti ๐
Jangan lupa di tap jempolnya ๐dan tinggalkan jejak ๐ฃ๐ฃ kalian di kolom komentar ๐sertakan votenya juga ya ๐sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini ๐
I โค U readers kesayangan kuhh
__ADS_1