
Kasih sayang seorang ibu harusnya tak pernah terbatas dan tidak akan pernah ada habisnya untuk anak yang dia cintai, tapi kenapa ada seorang ibu yang tega membuang putrinya sendiri sedangkan dia memperlakukan anak orang lain seperti anaknya sendiri.
"Apa ini artinya kau sudah menemukan keluarga kandungmu?" tanya tante Ratih, raut wajahnya tak terbaca olehku.
"Tidak, Tan," jawabku seraya menggelengkan kepala.
"Tapi bukankah kau sudah menemukan ini." Tante Ratih menunjukkan potret Maya yang kini berada di tangannya. "Seharusnya ini menjadi petunjuk untuk menemukan keluarga kandungmu." ucap tante Ratih kemudian.
Tante Ratih benar! Aku memang bisa menemukan keluarga kandungku melalui potret itu, tapi sayangnya bersamaan dengan itu aku juga menemukan fakta bahwa mereka sama sekali tidak menginginkan diriku.
"Tidak, Tan, Aca tidak sengaja menemukan potret itu di sebuah pusat perbelanjaan dan Aca jadi teringat ucapan Tante." Aku menyunggingkan senyuman yang sangat di paksakan. "Lagi pula, belum bisa di pastikan bahwa wanita ini adalah keluargaku. Bisa saja dia hanya menculikku, kemudian menyerahkan aku kepada nenek agar dia tidak tertangkap polisi." sanggahku dengan memberikan alibi seperti yang biasa aku lihat di film.
Aku bisa mendengar tante Ratih menghela nafas sebelum membuka mulutnya. "Menurut Tante, akan lebih baik jika kau mencoba mencari keberadaan keluargamu menggunakan potret ini."
"Entahlah, Tan! Aca hanya merasa, Aca tidak membutuhkan orang yang telah membuang Aca. Lagi pula, jika memang wanita ini adalah ibu yang baik. Dia tidak akan meninggalkan Aca disini." tegasku meski air mata menyusul ucapanku.
"Baiklah, lakukan apa yang menurutmu baik dan benar." ucap tante Ratih memberikan nasihat.
Aku menatap wajah tante Ratih yang kembali hangat seperti dulu. "Tan, bolehkah Aca tinggal disini seperti dulu?"
"Tentu saja! Kau bagian dari keluarga ini. Apalagi setelah Aca menikah dengan Ersya, dengan begitu Aca akan tetap menjadi nyonya Kencana." tutur tante Ratih dengan mata berbinar.
"ITU TIDAK AKAN TERJADI!"
Tiba-tiba, suara seseorang mengalihkan perhatianku dan tante Ratih. Kami berdua menoleh secara bersamaan dan melihat sosok Daffin memenuhi ambang pintu. Matanya di penuhi amarah yang membuat dia semakin terlihat menakutkan.
Suara derap langkah kaki Daffin seakan menggema di dalam ruangan, yang mana membuatku ingin sekali melarikan diri sebelum Daffin berada tepat di hadapanku seperti saat ini.
"Kenapa kau kesini!!!" bentakku pada Daffin yang sedang menatapku dengan kemarahan.
"Karena kau disini." jawabnya dingin.
"Aku tidak ingin melihatmu!" ketusku.
"Tapi aku ingin melihatmu," hardik Daffin. Dia langsung menarik tanganku. "Ayo, pulang!" ajaknya.
"Tidak!!!" teriakku sembari menghempaskan tangan Daffin. "Aku tidak akan kembali kesana! Aku sudah memutuskan akan menetap disini." tegasku kemudian.
__ADS_1
"Tidak bisa! Kau harus kembali bersamaku karena aku adalah suamimu," bantah Daffin.
Aku mendengar suara pekikan yang keluar dari mulut tante Ratih. Aku yakin, tante Ratih pasti sangat terkejut melihat Daffin berdiri disini dan mengaku sebagai suamiku.
"Tan, ini -" Aku mencoba untuk menjelaskan pada tante Ratih, tapi dia langsung memotong ucapanku.
"Jadi kau yang telah membuat Aca kami tersiksa! Hah!!!" bentak tante Ratih dengan wajah tak kalah menyeramkan daripada Daffin.
"Maafkan aku, Tante!" ungkap Daffin, dia bahkan menundukkan kepalanya di hadapan tante Ratih. "Semua yang sudah terjadi memang salah, tapi aku janji akan memperbaiki semuanya. Aku tidak bisa membiarkan istriku berada jauh dari sisiku." bujuk Daffin. Aku hanya berharap tante Ratih tidak akan mempercayai ucapan Daffin.
"Istri? Aku bukan istrimu lagi, Tuan Stevano!" sanggahku, tak terima dengan status yang menempel pada diriku seperti permen karet.
"Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi istriku, Nyonya Stevano," ucap Daffin dengan seringai licik di wajahnya. "Benarkan, Tuan Chandra?" Bola mata Daffin bergerak ke arah halaman belakang.
"Ternyata kau, Tuan Stevano," Suara Ersya membuatku menoleh dan melihatnya sedang berjalan untuk mendekatiku.
"Tentu saja aku! Memangnya siapa yang kau harapkan?" ejek Daffin, membuatku semakin kesal dan ingin sekali menenggelamkannya ke dasar laut.
"Pergilah, Daffin! Aku tidak akan ikut denganmu." pintaku, tak ingin ada pertengkaran.
"Kalau begitu, aku yang akan menetap disini untuk menemanimu." Daffin menjatuhkan dirinya di atas sofa yang tadi ku duduki.
"Yes, i am, My Starfish." jawab Daffin santai.
"Jangan membuatku marah!" ancamku dengan mata yang terbuka lebar.
Senyuman tipis tertarik di sudut bibir Daffin. "Marahlah! Itu tandanya kau sayang padaku,"
Aku rasa, otak Daffin benar-benar sudah di tukar dengan otak udang karena biasanya dia tidak akan terima jika aku bersikap agresif.
"Daffin pergilah! Kau bukan bagian dari keluarga ini." Kedua tanganku terlipat di dada ketika aku mencoba mengusir Daffin.
Daffin menegakkan tubuhnya dan menatap Ersya. "Apakah dia bagian dari keluarga ini?"
Tatapanku dan Ersya bertemu ketika aku tidak sengaja menatapnya karena mengikuti tatapan Daffin. "Iya, dia adalah kembarannya kak Erlan!"
"Oh," Hanya itu yang keluar dari mulut Daffin.
__ADS_1
"Daffin, pulanglah! Temui istrimu!" sungutku, tak mau menatap Daffin.
"Sedang ku lakukan," sergah Daffin.
Aku berbalik dan melihat wajah menyebalkan Daffin sedang mengejekku. "Apa maksudmu?"
Daffin mendengus kemudian tersenyum. "Aku sedang menemui istriku, yaitu dirimu."
"Bukan aku, tapi istrimu yang lain!" sergahku dengan emosi yang mulai tidak terkendali.
"Istri yang mana? Aku hanya punya satu istri dan dia sedang marah padaku tanpa sebab." jawab Daffin, raut wajahnya begitu menyakinkan. "Apakah yang aku katakan benar, Tuan Chandra?" tanya Daffin tiba-tiba.
Ersya menundukkan kepalanya ketika aku menoleh padanya untuk meminta penjelasan. "Ada apa, Kak? Apa yang tidak aku ketahui."
"Pernikahanmu dengan tuan Stevano ...," Ersya terlihat kesulitan ketika mengatakan hal itu. "Maafkan aku, Ayasya, tapi pernikahan kalian sah secara hukum di negara ini." ungkap Ersya.
"Bagaimana mungkin?" tanyaku tak percaya.
"Tentu saja mungkin! Karena kau adalah satu-satunya istriku yang sah." lontar Daffin.
"Satu-satunya?" gumamku, sedangkan tatapan mataku tertuju pada sosok Daffin yang tengah tersenyum penuh kemenangan. "Lalu, kak Reena?"
"Aku sudah menceraikannya," sergah Daffin, tak ada sedikitpun penyesalan di matanya.
"Apa!!!" Aku mengeluarkan suara yang membuat siapapun yang mendengarnya akan sakit telinga. "Kau jahat, Daffin! Tapi aku menyukainya." lanjutku.
Reena sudah di ceraikan? Tapi kapan itu? Apakah saat Daffin menghilang selama satu bulan? Aku ingat saat itu Reena mengancamku bahwa dia akan kembali merebut posisi nyonya Stevano.
"Hahahaha ...," Aku tidak bisa menghentikan tawaku mengingat bahwa Reena sudah di hempaskan jauh-jauh oleh Daffin.
"Kenapa kau begitu bahagia mendengarku menceraikan Reena?" tanya Daffin heran.
"Karena keangkuhan telah memakan tuannya."
Hallo semuanya ๐ค
Jangan lupa di tap jempolnya ๐dan tinggalkan jejak ๐ฃ๐ฃ kalian di kolom komentar ๐sertakan votenya juga 'ya ๐ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini ๐
__ADS_1
I โค U readers kesayangan kuhh