Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
SUAMI STROKE


__ADS_3

Ayasya Zakiya Azmi, itulah nama yang di berikan mendiang nenek padaku. Aku tidak tahu dan tidak ingat siapa namaku sebelum itu. Nenek juga mengatakan bahwa aku di titipkan seorang wanita cantik ke panti asuhan milik nenek ketika usiaku masih beberapa bulan, dan hari itu di jadikan nenek sebagai hari ulang tahunku. Jika di tanyakan apakah aku terlahir kembar? Maka aku pun tidak tahu jawabannya.


"Saya tidak tahu, Dokter,"


Sorot mata dokter itu langsung berubah saat aku mengatakan hal itu. Ada rasa simpati yang terlihat di matanya untukku.


"Baiklah, Nyonya, yang terpenting jaga bayi-bayimu dengan baik." ucap dokter itu, tangannya sibuk menuliskan resep untukku. "Dimana suamimu, Nyonya?" tanyanya kemudian.


Aku harus menjawab apa pada dokter itu. Siapa yang harus aku ceritakan? Kak Erlan atau Daffin?


"Suamiku?" Aku berpikir keras untuk mengarang cerita. "Dia terbaring di tempat tidur karena stroke, Dokter."


Tepat setelah aku mengatakan hal itu, tiba-tiba saja aku mendengar suara seseorang di ambang pintu. "Itukah yang kau harapkan?"


"Daffin!!!"


Astaga! Apa yang baru saja aku katakan? Apakah aku harus memukul kepala Daffin agar dia melupakan apa yang baru saja aku katakan sehingga dia tidak bisa memperbesar masalah ini.


"Bagaimana kehamilan istriku, Dokter?" Daffin sudah duduk di kursi yang ada di sebelahku dengan angkuhnya.


"Anda siapa, Tuan?" Dahi dokter itu mengernyit ketika menatap Daffin.


Daffin menoleh padaku sebelum menjawab. "Aku suami dari, Nyonya kecil ini."


Aku langsung mencebik mendengar Daffin mengatakan hal itu. Dia selalu seenaknya saja mengakui dirinya sebagai suamiku.


"Nyonya, bukankah anda mengatakan jika suami anda terkena stroke?" tanya dokter itu dengan mata memicing, menatapku curiga.


Tawa ringan terdengar dari mulut Daffin. "Dia mengatakan itu karena aku sudah lama tidak memberinya kenikmatan, Dokter,"


Mulut Daffin seperti mobil yang remnya blong. Dia sama sekali tidak malu mengatakan hal vulgar seperti itu. Wajahku saja langsung panas dan memerah ketika mendengar Daffin mengatakannya.

__ADS_1


Berbeda denganku, dokter itu justru tersenyum mendengar ucapan Daffin. "Kenapa, Tuan? Apakah anda sudah bosan?"


"Tidak. Aku hanya takut akan melukai bayinya."


Tak ada kepalsuan di mata Daffin. Jujur saja, aku langsung tersentuh mendengarnya. Apakah aku sudah salah menilai Daffin selama ini? Ternyata dia masih memiliki sisi baik dalam dirinya.


"Tenang saja, Tuan, selama anda melakukannya dengan hati-hati semuanya akan baik-baik saja." saran dokter itu dengan mengedipkan matanya padaku. "Ini vitamin yang harus di minum oleh istri anda, Tuan," Dokter menyerahkan secarik kertas pada Daffin dan langsung di ambil oleh Shaka yang berdiri di sampingnya.


"Baiklah, terima kasih, Dokter." Aku berdiri dan bersalaman dengan dokter cantik itu. Sementara, Daffin sudah berjalan keluar dengan di ikuti Shaka di belakangnya.


Saat aku keluar, aku melihat Shaka sedang bicara dengan Rania yang menunduk di hadapannya. Rania terlihat begitu gugup ketika berhadapan dengan Shaka. Karena penasaran, aku pun menghampiri mereka.


"Jangan lakukan kesalahan lagi! Atau aku benar-benar akan memecatmu dan tuan sekalipun tidak akan bisa menyelamatkan dirimu." bentak Shaka pada Rania.


Tanganku langsung mengepal karena geram dengan sikap kasar Shaka pada Rania. Padahal selama ini Rania selalu perhatian padanya, tapi pria kanebo itu tak pernah menghargainya sedikitpun.


Baru saja aku akan melangkah dan memarahi Shaka, Daffin langsung menahanku dan memintaku untuk mengikutinya. "Jangan ikut campur!"


"Lepaskan! Rania temanku, Daffin. Aku tidak suka jika ada yang memperlakukan dia dengan kasar seperti itu. Apa kau tahu? Rania menyukai Shaka, tapi pria itu tidak memperdulikan Rania sama sekali."


Kali ini, ada sosok lain dari Daffin yang aku lihat. Dia begitu lembut dan seolah tidak berdaya. Biasanya dia selalu bersikap arogan dan akan melakukan apapun demi mencapai tujuannya, tapi Daffin yang berdiri di hadapanku kini begitu memikirkan perasaan orang lain. Sungguh sebuah keajaiban!


"Kenapa tidak bisa? Kau bosnya. Tidak bisakah kau meminta Shaka untuk bersikap lembut pada Rania."


"Rania bekerja langsung di bawah pengawasan Shaka. Aku tidak bisa mengatur bagaimana Shaka mengurus bawahannya. Aku tidak punya waktu!"


Demi Tuhan! Aku menarik kembali pikiranku yang mengatakan bahwa Daffin masih memiliki sisi baik dalam dirinya. Ternyata dia hanya tidak ingin di repotkan oleh urusan orang-orang yang berada di bawahnya.


"Kau hanya sibuk mencuri, Daffin!" Aku berlalu meninggalkan Daffin yang masih berdiri menatap kepergianku.


***

__ADS_1


Di dalam mobil, aku terus termenung karena sikap Daffin yang sangat aneh bagiku. Dia datang menemaniku dan menyatakan dirinya sebagai suamiku, tapi setelah itu dia pergi dan membiarkanku pulang tanpa bertanya tentang kehamilanku. Menyakitkan sekali mendapat perlakuan seperti itu darinya.


"Nyonya muda, sebentar lagi kita sampai." Rania membuatku mengerjap, aku tidak sadar jika mobil yang aku tumpangi sudah memasuki lingkungan tempat tinggalku.


"Aku ingin pergi ke danau, Rania."


"Tapi, Nyonya muda, anda harus -"


"Aku tahu, Rania, aku hanya ingin menenangkan diriku dan mencari udara segar."


"Baiklah, Nyonya muda," ucap Rania pasrah, dia pun melajukan mobilnya menuju danau.


Sebuah tempat yang biasa menjadi tempat untuk menghabiskan waktuku bersama kak Erlan. Begitu banyak kenangan manis yang ku buat disini.


Angin yang sejuk langsung menerpa wajahku begitu aku turun dari mobil. Tak lama Rania menyusulku dan memberikan aku sebuah jaket.


"Aku ingin sendiri, Rania." Aku mengambil jaket di tangan Rania. "Tenang saja! Aku tidak akan melarikan diri lagi." sergahku, saat melihat keraguan di mata Rania.


Rania mengangguk sebelum membungkuk hormat. "Saya akan menunggu anda di mobil, Nyonya muda,"


"Kau memang tidak bisa membiarkanku seorang diri."


Aku tersenyum dan berjalan menuju bangku taman. Ada perasaan yang tak bisa aku jelaskan ketika aku kembali ke tempat ini. Sudah cukup lama aku tidak ke tempat ini karena Daffin terus mengurungku sepanjang waktu. Berbeda saat kak Erlan masih hidup, hampir setiap hari aku akan menghabiskan waktuku berdua dengan kak Erlan disini.


Suasana di sini agak lengang, mungkin karena cuacanya kurang baik. Awan gelap serta angin yang cukup kencang mewarnai suasana di danau saat ini. Membuatku semakin merasakan kesendirian dan kesepian yang menusuk hatiku.


Aku memilih untuk duduk di bangku taman yang biasa ku duduki bersama kak Erlan, tatapanku nanar ke depan. Menatap air danau yang tenang dan awan gelap yang siap menurunkan hujan, seolah mewakili perasaanku.


Dengan perasaan yang tak karuan, aku mengeluarkan sebuah gambar dari dalam tasku. Hasil foto USG yang di berikan dokter kandungan padaku. Aku tidak mengerti gambar apa itu, tapi dokter mengatakan jika kedua bayi kembarku berjenis kelamin pria.


Tak terasa air mataku menetes di atas foto calon bayi kembarku. "Lihat, Kak! Mereka Baby-baby kita."

__ADS_1


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih masih setia menunggu 😍 Author mohon maaf atas ke amburadul an jadwal up ini 🙏 Author bingung mau alasan apalagi 😅 Pokoknya maaf dan terima kasih, readers kesayangan kuhh 😘 I ❤ U


__ADS_2