Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
MENINGGALKAN MASA LALU


__ADS_3

"Jangan menatapku seperti itu!"


Tanganku melayang ke bahu kekar Daffin. Wajah bule Daffin meringis kesakitan seolah tangan kecilku ini telah menyakiti ototnya yang besar.


"Kau sangat membingungkan, My Starfish. Sebelumnya kau memelukku dan menghujaniku dengan kalimat cinta, tapi sekarang kau bersikap seperti aku ini orang asing bagimu!" keluh Daffin, wajahnya nampak menahan amarah.


Aku malu! Sungguh, aku ingin sekali mengatakan hal itu padanya. Namun, harga diriku begitu tinggi sehingga bibirku terkunci rapat.


Aku menghela nafasku dalam dan memandang ke luar jendela mobil. Jalanan setapak mulai kami telusuri begitu papan nama desa tempat aku di besarkan terlihat. Ya, akhirnya Daffin menyerah dan membawaku menemui tante Ratih di kampung halaman kak Erlan. Tak banyak yang aku persiapkan, selain hatiku. Hari ini, aku akan melepaskan segalanya tentang kak Erlan dan juga masa lalu yang kami habiskan bersama.


Kebisuan mengisi perjalanan panjangku dengan Daffin. Dia terus saja mengeluh karena aku mengacuhkannya setelah aku membalas ungkapan cintanya. Entah ini hanya perasaanku saja atau memang Daffin sedikit rewel akhir-akhir ini.


"Nyonya Stevano ...," rengek Daffin.


Ketika aku menoleh, aku melihat Daffin sedikit gelisah. "Ada apa, Daffin? Kau mabuk perjalanan?"


"Kau pikir aku orang desa! Aku sudah terbiasa melakukan perjalanan bisnis kemana-mana." Daffin memberengut.


"Lalu?" Alisku terangkat, menuntut penjelasan Daffin.


Daffin mendengus. "Bicaralah padaku! Kau sudah mengacuhkan aku bahkan sebelum kita sampai ke rumah keluarga Kencana. Apa yang akan kau lakukan padaku jika kita sampai nanti?"


Apa? Ternyata itu yang ada di otak besar Daffin. Sejak kapan dia jadi manja dan sering merengek begitu?


"Kau berlebihan, Daffin, aku hanya ... hanya tidak tahu harus membicarakan apa. Lagi pula, aku terlalu gugup untuk bertemu dengan tante Ratih. Aku takut dia akan marah atau mungkin tidak ingin melihat wajahku lagi." Bibirku bergetar, membayangkan semua hal yang aku katakan.


Tangan besar Daffin merengkuh kepalaku dan menyandarkannya di dada bidangnya. "Itu tidak akan terjadi. Aku janji!"


***


Sepertinya, aku sudah cukup lama terlelap karena ketika aku membuka mata, panti asuhan nenek sudah terlihat di depan mataku.


Aku mengerjapkan mataku berulang kali, dan melihat Daffin yang sedang menatap hampa keluar mobil. Pandangannya lurus ke depan, dimana ada bangunan kuno yang menjadi saksi bisu kehidupan masa kecilku.


"Daffin ...," panggilku seraya menyentuh pipi Daffin.


Mata biru itu beralih menatapku. "Kau sudah bangun?"


"Kenapa tidak membangunkan aku?" tanyaku balik kemudian menegakkan tubuhku.


"Kau terlihat sangat lelah, Nyonya Stevano, aku hanya tidak ingin mengganggu mimpi indahmu." Daffin mengecup puncak kepalaku.


Aku mencebik lalu merapihkan pakaian serta rambutku sebelum turun dari mobil. Tak lupa aku membawa semua dokumen peninggalan kak Erlan yang akan aku serahkan pada tante Ratih.


"Ayo!" ajak Daffin, tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya.


Hatiku tiba-tiba ragu. "Daffin, apakah tante Ratih tidak akan marah? Aku takut."


Bibir sensual Daffin menyunggingkan senyuman. "Tidak ada yang akan berani menyakiti istri Daffin Miyaz Stevano."


Ah, apa ini? Hatiku terasa hangat, tapi wajahku rasanya seperti terbakar. Aku merasa seperti balon udara yang siap terbang.


Demi menyelamatkan diriku sendiri dari rasa malu, aku pun bergegas keluar dari mobil dan meninggalkan Daffin. Tak lama Daffin menyusulku dan mengapit tanganku. Kami melangkah bersama memasuki pekarangan panti asuhan. Seperti biasa, anak-anak panti langsung berhambur untuk memelukku, tapi Daffin menghalangi mereka dengan tangan besarnya.


"Maaf, Anak-anak, tolong jangan memeluknya!" pinta Daffin.


"Kenapa? Kami selalu memeluk kak Aca setiap kali kami bertemu." celetuk salah seorang anak.


Daffin berjongkok dan mengusap rambut anak itu. "Kalian lihat! Kak Aca kalian sedang membawa anakku di dalam perutnya. Aku hanya tidak ingin dia menendang kalian karena merasa sesak."

__ADS_1


Pandangan anak-anak itu kini terfokus pada perutku yang besar. Mereka semua nampak heran dan kebingungan, tapi itu tak berlangsung lama karena tante Ratih sudah keluar dan meminta mereka semua untuk masuk ke dalam.


"Tunggu! Aku bawa hadiah untuk kalian. Ayo, ikut aku!" seru Daffin, lalu membawa anak-anak panti ke mobil.


Melihat Daffin yang cepat akrab dengan anak-anak panti, membuatku yakin jika dia sudah siap menjadi seorang ayah.


"Aca, apa kabar?" tanya tante Ratih kemudian memelukku.


Aku merentangkan tanganku untuk membalas pelukan tante Ratih. "Aca baik, Tan, bagaimana kabar om dan Tante?"


Tante Ratih melepaskan pelukannya dan tersenyum hangat. "Kami semua baik, Aca. Tante rindu sekali. Kenapa Aca tidak pernah menghubungi Tante?"


Bagaimana aku menghubungimu, Tan? Aku terlalu sibuk dengan puzzle masa laluku dan juga kerumitan rumah tanggaku.


"Maaf, Tan," lirihku menahan air mata yang hampir jatuh.


"Sudahlah! Ayo, masuk!" ajak tante Ratih.


Aku memasuki ruang tamu panti asuhan nenek dan duduk di samping tante Ratih. Wajah tante Ratih nampak lelah, mungkin karena sibuk mengurus anak-anak panti seorang diri.


"Om Rama dimana, Tan?" tanyaku dengan pandangan berkeliling.


"Om pergi bekerja, sebentar lagi juga dia kembali," jawab tante Ratih lalu hendak berdiri. "Sebentar, Tante akan buatkan minum untuk Aca dan juga tuan Stevano." ucapnya.


Aku menahan tangan tante Ratih. "Tidak perlu, Tan, Aca mohon duduklah! Ada yang ingin Aca katakan pada Tante."


Meskipun terlihat ragu, tapi tante Ratih tetap mengikuti keinginanku. "Baiklah!"


Oksigen sebanyak mungkin aku hirup untuk menambah keberanian dan juga nafasku yang memburu karena begitu khawatir dengan reaksi tante Ratih.


Aku meletakkan dokumen yang ku bawa di atas meja dan menatap tante Ratih. "Tan, ini semua dokumen penting peninggalan kak Erlan. Aca menyerahkan semuanya pada Tante dan juga Om."


"Tapi Aca sudah menikah lagi, Tan, dan lagi kedua putra kak Erlan telah tiada. Aca tidak punya hak sedikitpun atas hartanya kak Erlan. Aca pikir, akan lebih baik jika semua ini di berikan pada tante untuk membantu kebutuhan anak-anak." Aku mendorong dokumen itu mendekat pada tante Ratih.


"Tapi, Aca -"


Aku menyela ucapan tante Ratih. "Tan, kak Erlan orang yang baik. Aca ingin semua orang mengingat kebaikan yang di tinggalkan olehnya. Biarkan kak Erlan tetap tinggal di hati semua orang, tapi maaf karena Aca tidak bisa menerima semua itu."


Helaan nafas tante Ratih begitu jelas terdengar, di susul air mata yang membanjiri matanya.


"Tan ...," Aku mencoba menyentuh tangan tante Ratih.


Pandangan tante Ratih naik dan menatapku. "Erlan sangat mencintai dan melindungimu, Aca. Dia pasti bahagia melihatmu sudah hidup bahagia sekarang."


"Bahagia?" tanyaku, tak paham maksud tante Ratih.


Senyuman tipis menghiasi wajah tante Ratih yang masih basah oleh air mata. "Iya, tuan Stevano sudah memberitahu semuanya jika Aca sudah bertemu dengan kedua orang tua kandung Aca dan kalian berdua juga akan kembali menikah dalam waktu dekat."


Kapan Daffin mengatakannya? Mungkinkah sebelum kami datang kesini? Itu artinya dia sudah menduga jika aku akan meminta untuk datang ke panti asuhan nenek.


"Entahlah, Tan, Aca masih ragu." Aku melihat ke arah dimana Daffin sedang tertawa bersama anak-anak.


Aku merasakan tangan tante Ratih menyentuh tanganku. "Tuan Stevano pria yang baik. Ya, walaupun awalnya Tante salah menilai dirinya. Percayalah! Dia adalah pria yang Tuhan kirimkan sebagai pengganti Erlan. Jika takdir menginginkan kalian untuk bersama, maka tidak ada yang bisa memisahkan kalian termasuk dirimu sendiri."


Ucapan tante Ratih menyentuh relung hatiku yang paling dalam sehingga aku terus menatap Daffin sampai pria itu menyadarinya dan menghampiriku.


"Kau sudah selesai?" tanya Daffin.


Aku menatap anak perempuan yang di gendong Daffin. "Siapa namamu?"

__ADS_1


"Daffin Miyaz Stevano," jawab Daffin, wajahnya terlihat menggemaskan.


Aku berdecak. "Bukan kau, tapi anak cantik ini."


"Kenapa? Kau ingin menjodohkannya dengan putra kita yang bahkan belum lahir? Heh!" desak Daffin.


"Tidak, Daffin, aku hanya bertanya iseng." elakku, karena niatku sudah terbaca oleh Daffin.


"Dengar, Nyonya Stevano, jangan pernah memaksakan masa depan putra kita. Biarkan dia menentukan sendiri jalannya. Dan kita hanya perlu menuntunnya ke jalan yang benar." Daffin menggeram hingga rahangnya menegang.


"Tidak, Daffin! Aku janji. Putra kita akan memiliki masa depannya sendiri, kecuali dalam keadaan mendesak." Aku tersenyum usil.


Wajah Daffin memberengut sempurna. Sungguh, wajahnya yang seperti itu membuatku gemas dan ingin mencubit pipinya.


"Putra? Anakmu laki-laki, Aca?" tanya tante Ratih memecah keheningan.


"Iya, Tan, tolong doakan Aca dan juga bayi yang ada di dalam kandungan Aca!" pintaku.


Mata tante Ratih berkaca-kaca. "Selalu, Aca! Kau dan Erlan sudah seperti anak Tante sendiri. Aca berhak bahagia dan menikmati apa yang seharusnya menjadi milik Aca. Tante akan mendoakan Aca dari sini. Tetaplah bahagia dan tersenyum dimana pun Aca berada!"


***


Suara deburan ombak yang menghantam karang begitu menyejukkan telinga. Lembutnya pasir putih dan langit yang biru serta hembusan angin yang sejuk menyapu wajahku seolah tahu bahwa hatiku sedang gembira.


Aku memang meninggalkan masa laluku, tapi aku tidak melepaskan ikatan apapun dengan keluarga Kencana. Mereka akan tetap menjadi keluargaku untuk selamanya dan aku beruntung karena Daffin bisa menerima hal itu.


"Mereka yang merawatmu selama ini. Jika tidak ada mereka, maka kita tidak akan pernah bertemu. Tidak masalah, aku bisa menerima semua orang yang telah berjasa untuk hidupmu selama mereka tidak berusaha merebutmu dariku."


Ya, meskipun itu sebuah penegasan atas kepemilikan ataupun sikap posesif Daffin, tapi aku cukup bersyukur karena semua ini berakhir bahagia.


"Daffin, kemarilah!" panggilku pada Daffin yang sedang memainkan ponselnya.


Daffin tersenyum dan menghampiriku. "Aku datang, Nyonya Stevano."


Mataku memicing menatap Daffin yang terlihat sumringah. "Kenapa kau senang sekali? Apa kau baru saja melihat wanita cantik?"


"Benar!" Daffin menganggukkan kepalanya. "Dia sangat cantik, seperti putri duyung dalam dongeng. Kau ingin melihatnya, Nyonya Stevano?" tanyanya.


Daffin benar-benar membuatku kesal ketika dia mengeluarkan ponselnya dan berusaha menunjukkan sesuatu padaku.


"Lihatlah dulu! Wanita ini sangat cantik hingga hatiku bergetar ketika melihatnya. Rasanya seluruh dunia berhenti berputar saat dia tersenyum. Dan tatapan matanya -"


Hatiku terbakar cemburu mendengar Daffin memuji wanita lain di hadapanku. Di tambah dia juga sudah mengambil gambar wanita lain di ponselnya.


Aku merebut ponsel di tangan Daffin dan melihat wanita mana yang telah membuat Daffin berpaling dariku.


"Ini ...," Lidahku keluh ketika melihat ternyata akulah wanita yang di bicarakan Daffin.


Aku tidak sadar saat Daffin mengambil gambarku tadi sehingga aku salah paham terhadapnya.


Daffin mengambil ponsel di tanganku dan menyimpannya lalu dengan sekali gerakan, Daffin mengangkat tubuhku. "Kau! Kau wanita yang mampu menggetarkan hatiku dan juga merubah duniaku, Lily Yovela Stevano."


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2