
"That's right! Karena kau sudah mengambil otakku dan menukarnya dengan otak udang."
Aku di buat terpingkal-pingkal oleh ucapan Daffin. Sepertinya pria tiran itu sudah salah meminum obat karena dia terus saja meracau dan mengatakan hal yang sangat bertolak belakang dengan dirinya.
Nafasku sampai tersengal-sengal karena aku terus tertawa hingga tatapan mataku berhenti tepat di mata Daffin. Ternyata, mata biru itu sudah memandangku sejak tadi.
"Apa yang kau lihat!" Aku memperhatikan ke arah mana Daffin memandang, matanya tertuju pada bagian tubuhku yang menonjol.
PLAK...
Tangan kecilku mendarat di pipi Daffin, tapi anehnya pria itu justru menangkap tanganku dan menciumi telapak tanganku yang memerah.
"Apakah sakit?" tanya Daffin sembari meniupi tanganku.
"Tidak!" Aku segera menarik tanganku. "Ada apa denganmu? Jangan membuatku takut!"
Aku mencoba meraih selimut yang berada cukup jauh dari jangkauanku, tapi tangan Daffin lebih cepat dan langsung menahan tanganku.
"Tetaplah disini! Aku masih ingin bersamamu, My Starfish." pinta Daffin, dia sudah beringsut dan merebahkan tubuhnya.
Posisiku kini seperti bayi baru lahir yang di letakkan di dada ibunya. Wajahku sampai harus mendongak bahkan hanya untuk menatap wajah Daffin.
"Daffin, aku tidak nyaman." ucapku dengan wajah cemberut.
"Ah, maaf!" lirih Daffin, dia segera memindahkan tubuhku. "Baiklah, apakah kau sudah nyaman?" tanya Daffin.
Daffin membuatku berbaring di sampingnya dan menjadikan lengan besarnya sebagai bantal untuk kepalaku. Sebenarnya, posisi seperti ini masih membuatku tidak nyaman karena tubuh kami berdua masih polos dan hanya terbungkus selimut.
"Terserah kau sajalah!" sungutku kesal dan enggan menatap Daffin.
"Kau marah?" tanya Daffin, suaranya terdengar seperti seseorang yang merasa sangat bersalah.
Sepertinya, aku harus merubah rencanaku lagi. "Tentu! Kau sudah hilang selama satu bulan tanpa kabar dan kau datang membawa nafsu yang menggebu-gebu."
Terdengar suara kekehan Daffin yang di barengi dengan sentuhan lembut di wajahku. "Aku pergi menemui Maya,"
"Maya?" Kedua alisku menukik tajam.
"Kau tidak mengingatnya? Maya adalah wanita yang kau temui di -" Penjelasan Daffin terpotong karena aku langsung menyelanya.
"Aku ingat! Tapi sepenting apa dirinya hingga membuatmu melupakan janjimu padaku? Ah, aku tahu! Semua itu pasti karena kak Reena." sindirku.
__ADS_1
"Tidak ada hubungannya dengan Reena. Aku mendapat kabar bahwa Maya jatuh sakit. Maya itu sudah seperti ibu kandungku sendiri, jadi aku tidak bisa mengabaikannya." jelas Daffin, tangannya masih berusaha memelukku.
"Maya penting, itu sebabnya kau datang padanya dan membiarkanku terus menunggumu selama satu bulan. Sedangkan aku, kau bahkan tidak memikirkan aku yang kedinginan semalaman karena menunggumu di rooftop." Tak terasa, air mataku meluncur bebas dan membasahi mataku.
Daffin menatapku sekilas dan langsung mendekap tubuhku yang langsung tenggelam di dalam tubuh besarnya.
"Maaf!" lontar Daffin, suaranya hampir tidak terdengar. "Apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku?"
Ini dia! Kesempatan emas bagiku. Biarlah aku menyerahkan diriku pada Daffin, jika dia memang akan memberikan segalanya untukku.
"Aku ingin rumah baru, Daffin, aku tidak suka rumah yang sudah di penuhi bayangan istri pertamamu." sindirku, sekaligus aku juga ingin tahu seberapa besar keyakinan Daffin untuk memenuhi segala keinginanku.
"Sesuai dengan keinginanmu," jawab Daffin santai.
Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. "Daffin, dimana buku nikah kita?"
Daffin menatapku heran, tapi aku berusaha untuk bersikap setenang mungkin agar dia tidak curiga padaku.
"Daffin?" Aku menusuk-nusuk pipi Daffin dengan jariku.
"Aku menyimpannya dengan baik, My Starfish." jelas Daffin.
"Bukankah kau sudah membuangnya? Apa kau tidak ingat?"
Benar juga! Aku memang langsung melempar buku nikah palsu itu ketika Daffin pertama kali menunjukkannya padaku.
"Ah, iya, tapi bolehkah aku memilikinya sekarang?" tanyaku hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan di hati Daffin.
"Tentu!"
***
Aku tidak menyangka akan semudah ini mendapatkan buku nikah yang sudah susah payah aku cari. Ternyata, aku hanya perlu melakukan tugasku sebagai seorang istri dan Daffin dengan sukarela menyerahkan semua yang aku inginkan.
Mataku berbinar ketika menatap kedua buku kecil itu yang kini berada di tanganku. "Terima kasih, Suamiku,"
"Hanya itu?" seloroh Daffin, tangannya terlipat di dada.
Aku tersenyum dan menampakkan deretan gigiku. Lambat laun aku mulai memahami Daffin. Dia tidak suka jika aku melawannya, maka aku akan menuruti semua keinginannya agar dia juga menuruti semua keinginanku. Setidaknya hingga aku bisa melepaskan diriku dari cengkramannya.
Langkah kakiku mendekat padanya dan tanpa ragu aku duduk di atas pangkuan Daffin yang sedang duduk di sofa.
__ADS_1
Saat ini, Daffin kembali membawaku ke ruang baca miliknya. Rania benar, Daffin memang menyimpan buku nikah kami di ruangan itu. Tapi, dimana gadis itu sekarang? Aku tidak melihatnya sejak kemunculan Daffin.
"Terima kasih, Suamiku," ucapku manja di susul sebuah kecupan yang ku daratkan di kedua pipi Daffin.
Ya Tuhan, aku benar-benar muak dengan sikapku saat ini! Tapi apa dayaku, aku harus melakukan semua ini sebelum aku mengetahui semua kebenarannya.
Sebelum aku sempat turun, Daffin sudah menahan kakiku dan langsung menyergap tubuhku. Dengan cepat Daffin sudah mengambil alih permainanku. Tangan nakalnya mulai menyasar kemana-mana jika aku tidak menahannya.
"Daffin! Aku tidak ingin masuk rumah sakit hanya karena kelelahan melayanimu." tegasku sembari menahan bibir Daffin yang akan menyergap bibirku.
"Kau harus terbiasa," lontar Daffin.
'Berpikir, Ayasya! Jangan sampai dia membuatku mengandung anaknya.'
"Daffin, bolehkah aku bertanya? Jika kau memang tidak keberatan untuk lebih membuka dirimu padaku." tanyaku, mencoba mengalihkan perhatian Daffin.
Mata biru itu menatapku dalam dan akhirnya mengecup sekilas bibirku sebelum kembali ke posisi aman. "Apa yang ingin kau ketahui?"
"Emm ... sebenarnya, saat aku masuk ke ruangan ini kemarin. Aku sempat melihat Rania menekan kode di pintu." Jariku menunjuk ke arah pintu yang tertutup rapat, sementara Daffin merangkulku dengan sebelah tangannya.
"Hemm ...," jawab Daffin, sebelah tangannya sibuk merapihkan rambutku yang berantakan karena ulahnya.
"Apa arti kode pintu itu, Daffin?" Aku tetap bertanya meskipun Daffin mengacuhkanku.
"Berapa angkanya?" Daffin balik bertanya padaku, tapi tangannya tetap sibuk dengan rambutku.
Aku mencoba mengingat angka yang di tekan oleh Rania. "1,3,0,6 ...."
Seketika, Daffin menghentikan kesibukan tidak pentingnya dan beralih menatapku. "Kau sungguh ingin tahu?"
Kepalaku mengangguk pasti.
"Itu adalah hari saat Lily pergi dan tak pernah kembali." lirih Daffin, aku melihat matanya memerah menahan tangis.
'Jadi, kode di pintu itu bukan hari ulang tahunku melainkan hari kematian wanita bernama Lily itu. Sungguh aku terlalu besar kepala.'
Hallo semuanya 🤗
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1