Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
AROMA CEMBURU


__ADS_3

"Semoga ...."


Harapan yang sama di hatiku dengan apa yang di ucapkan Ersya. Aku berharap dia akan bisa menemukan cintanya yang akan membawa keceriaan ke dalam hidupnya.


"Ayasya?" panggil Ersya, seketika aku menoleh dan menatapnya.


"Iya, Kak,"


Ersya berdeham sekali. "Maaf, bukannya aku ingin ikut campur urusan rumah tanggamu, tapi sebagai seorang kakak aku ingin bertanya ...."


Aku tersenyum geli mendengar ucapan Ersya yang berputar-putar seperti itu hingga membuatnya salah tingkah.


"Tanyakan saja, Kak, tidak perlu ragu!" sambutku, ketika Ersya terlihat ragu untuk mengutarakan apa yang ada di pikirannya.


"Baiklah, tapi tolong jangan marah!" harap Ersya, matanya menatapku lekat.


"Aku tidak bisa menjanjikan itu!" candaku seraya terkikik.


Wajah Ersya berubah muram. Namun, dia tetap melanjutkan ucapannya. "Apa hubunganmu dengan tuan Stevano sedang tidak baik? Kenapa sepertinya dia terlihat mengacuhkanmu?"


Ah, ternyata hal itu bukan hanya perasaanku saja karena Ersya pun merasakan hal yang sama.


"Entahlah, Kak, aku tidak mengerti dengan sikapnya. Terkadang dia lembut, tapi tak jarang juga sikap tirannya itu muncul dan membuatku kesal setengah mati." keluhku, merasa mendapat tempat untuk menumpahkan semua kekesalanku.


"Kau bertengkar dengannya?" tanya Ersya ragu.


Bola mataku bergerak ke kiri dan ke kanan, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi dan ingatanku kembali pada kejadian semalam dan juga hari ini di kamar mandi. Mengingat semua itu, seharusnya suasana hati Daffin sangat baik. Apa yang salah sebenarnya?


Lagi, aku mencoba menyusun serpihan kejadian yang aku lewati. Daffin sibuk dengan ponselnya sejak kami turun untuk makan, tapi dia masih sempat untuk menggodaku. Tiba-tiba dia mulai dingin saat ... saat ...


Benar! Saat Ersya datang! Apakah ini artinya Daffin cemburu pada Ersya? Ya Tuhan, aku jadi teringat ucapan ibu beberapa hari yang lalu.


"Tumbuhkan sedikit rasa perhatian dan kepekaanmu, Sayang! Agar kau menyadari apa yang terjadi di sekitarmu."


Aku mengerti sekarang! Akulah yang bersalah. Seharusnya aku lebih bisa memahami ketidaknyamanan Daffin akan kehadiran Ersya. Aku memang bodoh!


Sudut mataku menilik Ersya yang sepertinya mulai menyadari tingkahku. Dia sudah berdiri untuk berpamitan.


"Kalau begitu, aku pergi dulu, Ayasya! Ada beberapa kasus yang harus aku tangani." Ersya tersenyum kaku dengan tangan terulur padaku.


Aku berdiri dengan sedikit tergopoh karena kakiku yang masih terasa kram. "Baiklah, Kak, hati-hati!"


Langkah Ersya membuatnya melewatiku dan mencapai ambang pintu, tapi sebelum melangkah kembali Ersya mengatakan sesuatu yang menaikkan tekanan darahku.


"Tolong sampaikan pada tuan Stevano, jangan menutup jalanku untuk menemuimu! Dan ya, tolong buka blokir nomorku di ponselmu."


***


"Daffin! Daffin!!!"


Rasanya aku sudah mengeluarkan suara terkerasku ketika memanggil Daffin, tapi mobil Daffin tetap melaju bahkan dengan kecepatan tinggi.


"Hah! Sudahlah! Lebih baik aku menunggunya pulang." gumamku, lalu melangkah kembali ke dalam rumah.


"Kau tidak ikut dengan Daffin, Sayang?" tanya ibu, pandangannya mencari sesuatu di belakangku.


Aku berbalik dan mengikuti arah pandangan ibu. "Tidak, Bu, Daffin tidak mengajakku. Dia bahkan tidak berpamitan padaku."


Ada setitik kesedihan dalam hatiku ketika mengatakan hal itu. Aku merasa seperti gadis malam yang di simpan di sudut ruangan setelah habis di pakai.

__ADS_1


Dahi ibu berkerut cukup dalam. "Benarkah? Tapi tadi ibu melihat Daffin berjalan ke arah taman. Cukup lama dia berada disana."


Daffin ke taman? Cukup lama? Itu artinya dia melihat apa yang aku lakukan dengan Ersya. Astaga!!! Apakah dia salah paham? Tunggu dulu! Aku dan Ersya tidak melakukan apapun di taman, kami hanya duduk dan ...


Seketika tanganku menepuk dahiku tanpa perintah. "Dia pasti salah paham!"


"Ada apa, Sayang? Kau bertengkar dengan Daffin?" tanya ibu khawatir.


"Akan lebih baik jika bertengkar, Bu," gerutuku seraya berjalan melewati ibu.


"Temui dia di kantor! Daffin mengatakan ada urusan mendesak yang mengharuskan dia pergi ke kantornya. Ibu lihat Shaka terus menghubunginya sejak tadi." tutur ibu, menghentikan langkahku.


Ide ibu tidak terlalu buruk! Aku akan menemui Daffin di kantornya. Aku akan meminta maaf, bukan menjelaskan kesalahpahaman karena permintaan maaf hanya untuk orang yang bersalah. Sedangkan aku tidak melakukan kesalahan apapun.


Aku berbalik dan memeluk ibu. "Terima kasih, Bu, ini salah satu hal menyenangkan memiliki Ibu dalam hidupku."


"Apa?" tanya ibu, matanya berbinar karena rasa penasaran.


"Sebagai pemecah masalah," celetukku di akhiri tawa ringan yang memancing senyuman ibu.


Ibu mencium pipiku dengan lembut. "Pergilah! Ah iya, bawakan sesuatu untuk Daffin. Dia belum memakan apapun sejak pagi. Kau juga sama. Kalian bisa makan bersama di sana. Ibu akan menyiapkan makanannya dan sekarang gantilah pakaianmu agar terlihat semakin cantik, Sayang."


Pandanganku turun dan melihat dress yang aku kenakan hari ini. Dress ini pilihan Daffin, dia yang memintaku lebih tepatnya memaksaku untuk memakai ini.


"Tidak, Bu, aku akan tetap memakai dress ini, aku hanya akan sedikit menyempurnakan wajahku." Kakiku melangkah menuju kamar tidurku dengan penuh semangat.


Ya Tuhan, apa ini? Apakah ini tanda jika hatiku sudah benar-benar menerima Daffin seutuhnya sebagai suamiku? Ah, entahlah! Mulai sekarang, aku hanya akan menjalani semuanya dengan gembira. Demi ibu dan juga demi putraku.


***


Debaran jantungku berpacu begitu cepat menyamai deru mesin kendaraan yang saling mendahului di jalanan ibukota.


Aku mengerjap dan melihat ke luar, dimana kini mobil sudah berhenti di depan lobby DS Corp.


"Nyonya, apakah saya harus menghubungi tuan Shaka dan memberitahu kedatangan anda?" tanya pak supir, sedikit ragu untuk bertanya.


Bibirku menyunggingkan senyuman. "Tidak perlu, Pak, aku ingin membuat kejutan untuk Daffin."


"Baik, Nyonya,"


***


"Plankton! Aku dat -" Tiba-tiba lidahku keluh dan tubuhku bagai tersengat listrik ketika aku membuka pintu ruangan Daffin.


Awalnya aku berniat membuat kejutan untuk Daffin, tapi yang terjadi aku justru terkejut ketika melihat Reena ada di dalam ruangan Daffin dan sedang memeluk Daffin dengan begitu agresif.


"Nyonya Stevano ...," Daffin segera menghempaskan tubuh Reena hingga terjerembab. "Kenapa kau kesini? Dan kenapa tidak memberitahuku?" tanyanya seraya berjalan menghampiriku.


Aku melemparkan tatapan tajamku pada Daffin sebelum aku berhambur memeluknya. "Aku merindukanmu, Suamiku."


Daffin tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya hingga dia hanya terdiam mematung.


"Jangan harap kau bisa selamat setelah ini!" bisikku, kemudian melepaskan pelukanku dan berjalan menghampiri Reena. "Hai, Kak! Kau jatuh? Ingin aku bantu?" tanyaku seraya mengulurkan tanganku.


Reena menepiskan tanganku kasar dan mencoba untuk berdiri dengan berpegangan pada kaki meja. "Jangan berlagak suci di hadapanku, Ayasya!"


Sudut bibirku menarik senyum licik. "Aku belajar darimu, Kakakku Sayang!"


"Jangan menyebutku Kakak! Aku bukan Kakakmu!" bantah Reena, dia mengarahkan telunjuknya padaku.

__ADS_1


Telapak tanganku saling beradu dan menimbulkan suara yang memecah keheningan. "Akhirnya kau mengakuinya! Kau memang bukan kakakku karena kau bukan putri dari keluarga Kafeel, Zafreena Evren!"


Mata Reena membulat sempurna, kakinya kembali goyah. Dia seperti kehilangan arah. Tatapannya menatap hampa entah kemana.


"Aku putri ayah!" gumam Reena berkali-kali.


Sungguh malang nasib Reena! Sebenarnya dia hanyalah korban dari keserakahan bibinya yang dia tahu selama ini adalah ibu kandungnya.


"Shaka!" teriak Daffin tiba-tiba, tak ayal membuatku tersentak.


Tak perlu menghitung jari, Shaka sudah berada di dalam ruangan dan membungkuk hormat.


"Bawa wanita ini pergi dan pastikan dia tidak mendekati keluargaku lagi!" titah Daffin, sorot matanya seperti seekor elang yang akan memangsa kelinci.


Sebelum Shaka sempat mendekati Reena, wanita itu sudah lebih dulu berlutut di hadapan Daffin. "Daff, aku mohon! Bantu aku! Kemana lagi aku harus pergi?"


Melihat ketidakberdayaan Reena, tak terasa air mataku menetes begitu saja. Namun, aku sudah bertekad. Reena dan ibu palsunya harus berlutut seperti itu di kaki ibuku di hadapan banyak orang.


Secepat mungkin aku menyeka air mataku sebelum ada yang melihat. "Nyonya Zafreena, pergilah sebelum aku meminta keamanan untuk mengusirmu!"


"Apa hakmu mengusirku, Ayasya? Kau lupa, jika bukan karena aku, Daffin tidak akan menikahimu!" sergah Reena, kilatan amarah begitu jelas di matanya.


Aku berjongkok di hadapan Reena dan merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan. "Aku ucapkan terima kasih untuk jasamu yang begitu besar, Kak, karena kau aku menemukan jodohku yang tertunda dan juga kedua orang tuaku."


Wajah Reena semakin merah padam. Dia bahkan mencoba untuk melukaiku kali ini. Beruntung, Daffin dengan cepat menahan tangannya.


"Jangan lakukan atau kau akan kehilangan tanganmu!" Daffin menghempaskan tangan Reena tanpa perasaan.


"Daff, kau ...," Linangan air mata tak henti-hentinya mengalir di pipi Reena.


"Bawa dia!" titah Daffin, yang tentu saja di tujukan pada Shaka yang sepertinya sedang tidak fokus. "Shaka! Apa kau tuli?" bentak Daffin.


Shaka mengerjap. "Maaf, Tuan,"


"Bawa dia!" ulang Daffin seraya membalikkan tubuhnya membelakangi Reena.


Dengan hati-hati Shaka membantu Reena berdiri. "Ayo, Nyonya!"


BRAK ...


Daffin membanting pintu setelah Shaka dan Reena keluar. Dia masih mengacuhkan aku dengan cara melewatiku dan melanjutkan pekerjaannya.


Aku memutar bola mataku dengan malas dan menghembuskan nafasku dengan kasar. "Lihat! Kau yang tertangkap basah sedang selingkuh, tapi aku yang menjadi terdakwa."


Ball point di tangan Daffin terjatuh, entah di sengaja atau tidak.


"Kau menuduhku atas apa yang telah kau lakukan padaku?" sinis Daffin, dia hanya melihatku dari sudut matanya.


Dahiku mengernyit. "Memangnya apa yang aku lakukan padamu?"


"Kau membiarkan pria lain menyentuhmu, meskipun kau tahu aku tidak menyukainya."


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI😍


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2