
Aku. Daffin Miyaz Stevano. Tidak pernah menyangka jika aku akan berebut cinta istriku dengan sekretaris sekaligus asisten pribadiku.
"Anda benar, Tuan, saya mencintai Nyonya Ayasya."
BUG ...
Kakiku melayang dan mendarat di kaki Shaka, membuatnya terpaksa berlutut dibawah kakiku. Beruntung aku hanya menendangnya, bukan menghabisi nyawanya. Hatiku begitu terbakar mendengarnya mengatakan bahwa dia mencintai istriku. Nyonya Stevano yang amat aku cintai. Lidahnya bahkan dengan berani menyebut nama nyonya Stevano.
"Maaf, Tuan," ucap Shaka, tapi dia masih menegakkan kepalanya.
Itu bukan sebuah kesombongan! Aku tahu itu. Shaka selalu menegakkan kepalanya setiap kali hatinya di penuhi keyakinan. Sebelumnya aku selalu menyukai itu, tapi kini aku membenci keyakinannya itu. Keyakinan akan cintanya yang begitu besar kepada nyonya Stevano.
Aku bukanlah pria yang suka bersaing dan memperebutkan cinta. Namun, aku tidak akan membiarkan siapapun menggoyahkan hati wanita yang aku cintai karena aku tahu cinta nyonya Stevano padaku belum sekuat cintaku padanya.
"Anda boleh menghukum saya, bahkan saya rela menyerahkan hidup saya, tapi saya mohon jangan minta saya untuk pergi dari sisi anda, Tuan." pinta Shaka, sekali lagi aku melihat keteguhan di matanya.
Shit!!! Aku kehilangan kendali atas diriku dan hampir saja melayangkan kepalan tanganku ke wajah Shaka, tapi aku menarik kembali tanganku.
"Kau beruntung! Aku tidak ingin nyonya Stevano tahu jika aku memberi hukuman padamu." Aku menghempaskan tanganku ke atas meja.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatianku untuk mencari tahu sudah sedalam apa perasaan Shaka terhadap nyonya Stevano. Sesaat aku menatap Shaka yang masih berlutut di lantai, lalu beralih menatap pintu menerka siapa gerangan yang berada di balik pintu itu. Aku hanya berharap itu bukanlah nyonya Stevano. Tidak! Pasti bukan dia. Aku melihatnya menaiki tangga menuju kamar tadi sebelum aku masuk kesini.
"Buka pintunya!" titahku pada Shaka yang langsung berdiri dengan susah payah, kali ini aku akan melepaskannya.
"Baik, Tuan." Shaka berusaha berjalan tanpa memperlihatkan kesakitannya.
"Tunggu!" sergahku, ketika Shaka akan membuka pintu. "Katakan aku sedang sibuk dan tidak ingin menemui siapapun!" titahku.
Shaka mengerutkan keningnya. "Bagaimana jika itu nyonya, Tuan?"
"Dia tidak mungkin datang! Aku melihatnya masuk ke kamar tadi. Jangan katakan jika kau berharap bertemu dengannya!" hardikku, kesal melihat cinta di matanya untuk istriku.
Shaka menundukkan kepalanya lalu membuka pintu. Aku melihatnya mengintip terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk keluar.
__ADS_1
"Entahlah siapa yang datang, tapi dia sudah menyelamatkan nyawa Shaka." Aku memilih untuk menjatuhkan diriku di atas sofa.
Bayangan akan tatapan Shaka pada nyonya Stevano membangkitkan api kecemburuan di hatiku. Aku memang bodoh! Seharusnya aku tidak membiarkan Shaka sering berada di sekitar nyonya Stevano. Aku sungguh tidak menduga jika Shaka akan tertarik pada wanita tempramental seperti nyonya kecilku itu.
Flashback on ...
Kepergian nyonya Stevano dari rumah secara tiba-tiba membuatku panik dan tidak tahu harus mencarinya kemana. Di tambah keadaan Maya yang semakin memburuk menjadikan pikiranku terpecah. Aku harus memilih antara Maya dan nyonya Stevano.
"Shaka, pergi dan ikuti nyonya Stevano! Jangan sampai kau kehilangan jejaknya!" titahku, mulai gusar ketika mengetahui nyonya Stevano menemui tuan Chandra.
Setelah perintah itu, aku tidak pernah mendengar kabar tentang nyonya Stevano dari Shaka. Namun, beberapa hari kemudian aku mendapatkan kabar jika Shaka sudah kembali.
"Nyonya pergi ke rumah keluarga Kencana, Tuan," lapor Shaka.
Aku mengamati pakaian Shaka yang sedikit berbeda. "Kau merubah gaya berpakaianmu?"
"Tidak, Tuan, saya memakai ini agar nyonya tidak mengenali saya." jawab Shaka sedikit ragu.
"Kau menemuinya?" tanyaku penasaran.
Shaka mengangguk. "Iya, Tuan, saya menyamar menjadi penjual roti karena saya melihat nyonya kelelahan."
Aku tidak tahu apakah ada gangguan dengan mataku, tapi aku melihat senyum di wajah Shaka. Bertahun-tahun dia bekerja denganku, baru kali ini aku melihatnya tersenyum.
"Kau baik-baik saja, Shaka?" tanyaku seraya menepuk bahu Shaka.
Shaka mengerjap. "Iya, Tuan, sangat baik."
Flashback off ...
Sejak hari kepulangannya setelah mengikuti nyonya Stevano, aku sedikit menaruh curiga jika Shaka mulai merasakan jatuh cinta. Namun, aku tidak menduga bahwa cintanya akan berlabuh pada istriku. Nyonya Stevano yang harusnya dia hormati bukan dia cintai.
Semakin lama aku semakin curiga dengan tingkah Shaka, aku sering menangkap basah dirinya yang sedang menatap nyonya Stevano. Meskipun sudah banyak kesempatan untuk bertanya padanya, tapi aku tetap menepis semua pikiran aneh itu dari kepalaku.
"Tidak mungkin seorang pria berhati dingin dan keras seperti Shaka menaruh hati pada wanita keras kepala, manja, dan sulit di kendalikan seperti nyonya Stevano." pikirku.
__ADS_1
Namun, kecurigaanku mulai muncul kembali ketika Reena bisa keluar masuk DS Corp dengan mudah. Aku mulai mempertanyakan cara kerja Shaka. Biasanya dia bahkan tidak akan membiarkan lalat mendekat padaku, tapi kini dia membiarkan wanita yang jelas-jelas tidak ingin aku temui untuk mendekat padaku. Ini kecerobohan atau kebodohan? Keduanya tidak mungkin bagiku, karena Shaka selalu melakukan semua hal dengan sempurna.
Perlahan tapi pasti, kecurigaanku akan perasaan Shaka semakin bertumpuk ketika lagi-lagi Shaka membiarkan Reena memasuki ruang rapat di perusahaan Kafeel. Dimana sebelumnya aku sudah mengatakan padanya agar tidak membiarkan Reena masuk dan mengganggu nyonya Stevano.
Aku sempat berpikir semua itu di lakukan Shaka karena dia masih menghormati Reena, tapi semua itu terbantahkan ketika Shaka menuruti perintahku dengan cepat untuk menghentikan kontrak modeling Reena dan menghancurkan semua jalannya untuk berkarir. Itu menandakan bahwa Shaka tidak memiliki simpati sedikitpun pada Reena. Pikiranku semakin kacau memikirkan kemungkinan apa yang membuatnya menuruti Reena bahkan dia memberikan jalan bagi Reena untuk masuk ke dalam rumahku. Apa yang membuat Shaka menuruti Reena? Mungkinkah Reena sudah tahu tentang perasaan Shaka terhadap nyonya Stevano?
Saat itu aku semakin yakin, jika Shaka menaruh hati pada nyonya Stevano bukan Reena karena sorot matanya di penuhi kebencian ketika menatap Reena. Aku sengaja memintanya untuk mengusir Reena. Aku ingin orang yang membawa duri itulah yang mengeluarkannya.
"Aku akan memberitahu semuanya kepada Daffin! Dia pasti tidak akan melepaskanmu!"
Samar-samar aku mendengar Reena berteriak, tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena nyonya Stevano terus saja mengoceh dan menolak untuk kembali ke kamar dan tanpa sadar aku kembali melukainya dengan sikapku. Aku terpaksa! Aku tidak ingin dia mendengar apa yang di katakan Reena. Aku juga tidak ingin dia tahu jika ada satu pria lagi yang tergila-gila padanya.
Ya Tuhan, selama ini aku harus bersaing dengan kenangan Erlangga, lalu tuan Chandra yang wajahnya sama dengan Erlangga, kemudian dokter Reinhard yang begitu dekat dengan hatinya! Dan sekarang, tidak mungkin rasanya jika aku bersaing dengan sekretarisku sendiri. Jujur, sebenarnya aku merasa sedikit kurang percaya diri karena Shaka jauh lebih muda dariku dan dia juga tampan. Selama ini banyak wanita yang ingin mendekatinya, tapi Shaka selalu menolak dengan dalih dia hanya akan mendekati wanita yang bisa mencairkan es di hatinya. Dan sialnya, wanita itu adalah istriku!
Aku dilema. Aku harus menyingkirkan Shaka sebagai saingan cintaku, tapi aku juga tidak bisa kehilangan orang terbaik di sisiku seperti Shaka. Tidak ada orang yang bisa bekerja sebaik Shaka.
Aku mengusap wajahku dengan kasar. "Shit!!! Apa yang harus aku lakukan sekarang! Ternyata pengakuannya semakin memperburuk keadaan."
Sudut mataku melirik pintu yang tertutup rapat dan mulai penasaran dengan siapa Shaka bicara, kenapa lama sekali? Dan tiba-tiba aku di kejutkan oleh suara yang selalu berhasil membangkitkan gairah di hatiku.
"Aku akan menemui om Rei! Hemm ... atau mungkin kak Ersya. Meraka pasti setuju untuk menemaniku memakan es krim dan berjalan-jalan."
Telingaku langsung melebar seperti gajah. Bola mataku hampir keluar ketika mendengar ucapannya. Aku melangkah secepat mungkin dan melihatnya sudah berbalik. Hatiku semakin gelisah ketika nyonya Stevano tetap menyembunyikan wajahnya. Aku takut jika dia benar-benar menemui tuan Chandra atau dokter Reinhard.
Sepertinya hanya dengan memaksa aku bisa membuatnya tetap berada di sisiku. Cara itu selalu berhasil menaklukkan nyonya kecilku yang tak terkendali.
Dengan penuh cinta dan gairah yang sedikit ku tekan agar tidak membuncah, aku menciumi setiap jengkal wajah nyonya Stevano kesayanganku. Aku ingin menunjukkan padanya, terlebih pada Shaka jika hanya dirikulah yang berhak memilikinya. Tidak ada pria lain yang bisa memilikinya selain diriku.
Sudah banyak usaha yang aku lakukan untuk membuka hatinya yang tertutup rapat. Aku tidak akan membiarkan pria manapun mengambil keuntungan dari keraguan hati nyonya kecilku.
Sebaik mungkin aku berusaha untuk membuatnya mencintaiku dan selalu menginginkan kehadiranku agar dengan sendirinya dia mengunci hatinya hanya untuk diriku seorang.
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian iniπ
I β€ U readers kesayangan kuhh