Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
TERPAKSA KEMBALI


__ADS_3

"Ayasya!!!"


Tiba-tiba aku mendengar seseorang yang memanggil namaku dan membuat tubuhku seketika terduduk.


"Aca?" panggil tante Ratih lembut.


Aku menoleh dan melihat kekhawatiran menyelimuti wajah tante Ratih. "Tan, Aca dimana?"


"Tadi Aca pingsan, jadi om bawa Aca ke kamar Tante karena kamar Aca terkunci." jawab tante Ratih, tangannya membelai rambutku dengan lembut.


Tante benar! Aku lupa bahwa aku mengunci kamarku sebelum aku pergi ke tepi pantai dan sebelum aku sempat membuka pintu kamarku ... entah mengapa aku melupakan apa yang terjadi setelahnya.


"Bukankah ada Daffin dan juga kak Ersya? Apa mereka tidak kuat mengangkat tubuh Aca?" tanyaku kesal, bukan hanya karena mereka berdua bertubuh besar, tapi aku juga ingat bahwa om Rama memiliki riwayat saraf terjepit di panggulnya.


Aku mendengar tante Ratih menghela nafas. "Mereka hanya bisa bertengkar. Om kesal melihat tingkah kekanakan mereka, jadi tanpa pikir panjang om membawa Aca ke kamar kami dan membiarkan mereka terlihat tak berguna."


Tawa hampir saja menyembur dari mulutku jika aku tidak menyadari betapa kesalnya tante Ratih saat ini, maka aku pun hanya bisa tersenyum hambar.


"Dimana semua orang, Tan?" tanyaku sembari mengedarkan pandangan ke seluruh kamar tante Ratih.


"I am here, Babe." Tiba-tiba sosok Daffin sudah bergabung dengan kami, di susul Shaka dan juga Ersya bersama om Rama.


Jika ada, ingin rasanya aku menyumpal mulut si Plankton itu dengan sandal jepit. Dia seenaknya saja membuat panggilan seperti itu padaku.


"Kenapa kau masih disini?" sungutku kesal pada Daffin, tanpa melihat wajahnya.


"Karena aku menunggumu sadar," jawabnya lembut.


Astaga! Aku semakin yakin jika pria yang ada di dekatku kini bukanlah Daffin Miyaz Stevano yang aku kenal. Ah, mungkinkah Daffin juga memiliki kembaran seperti kak Erlan?


"Aku sudah sadar. Kau bisa pergi sekarang!" tegasku, mencoba mengusir Daffin yang terus menempel padaku seperti permen karet.


"Sesuai keinginanmu, Nyonya Stevano," jawab Daffin, kemudian beralih menatap Shaka. "Siapkan kepulangan kami, dan buat perjalanan ini senyaman mungkin untuk nyonya Stevano!" ucap Daffin memberi perintah.


"Apa katamu? Kau! Kau yang akan pergi bukan aku!" sergahku dengan mata yang terbuka lebar.


"Kita!" tegas Daffin.


"Tidak! Aku tidak akan pernah kembali bersamamu! Lagipula, kau dan aku akan segera bercerai!" Aku masih saja bersikap agresif di hadapan Daffin meskipun tante Ratih dan om Rama ada di ruangan yang sama.


"Itu tidak akan pernah terjadi!" sanggah Daffin, ia mengatakannya dengan lembut, tapi penuh penekanan.

__ADS_1


"Akan segera terjadi!" hardikku, sebelum menatap Ersya yang hanya terdiam sejak tadi. "Benar begitu, Kak?" tanyaku.


Ersya menunduk, seolah tak ingin menatapku. "Maaf, Ayasya, kau dan tuan Stevano tidak akan mungkin bercerai untuk saat ini."


"Ap- Apa maksudmu, Kak?" Kerongkonganku sampai tercekat mendengar jawaban Ersya. "Bukankah kau mengatakan bahwa surat perceraianku sudah selesai?" desakku.


"Itu benar, tapi tuan Stevano belum menandatangani surat perceraian kalian." jawab Ersya lirih.


Mataku menatap tajam ke arah Daffin. Anehnya, wajah menyebalkan kini di penuhi senyuman dan aura kebahagiaan yang membuatku semakin mual ketika melihatnya.


"Jangan mencoba untuk mempersulitku, Plankton! Cepat tanda tangani surat perceraian kita sebelum aku -"


"Sebelum apa?" Daffin menangkap telunjukku yang mengarah padanya.


"Aku ...."


"Melahirkan anakku?"


Sesuatu bergolak di perutku, merangsek ingin keluar ketika Daffin semakin mendekat padaku. Dengan sebelah tanganku, aku mendorong tubuh Daffin agar menjauh dariku dan segera berlari ke dalam kamar mandi.


Hoeekk... Hoeekk...


Semua makanan yang ada di perutku sepertinya sudah keluar dan berpindah tempat saat ini.


"Tidak, Aca, itu bukan mabuk laut!" sanggah tante Ratih yang sudah berdiri di belakangku.


Aku merasakan tangan tante Ratih memijat tengkukku dengan lembut dan membawakan aku minyak angin.


"Terima kasih, Tan," ucapku setelah merasa lebih baik.


"Tante ada obat untuk menghilangkan mabuk laut? Sepertinya Aca mabuk laut karena tadi sempat bermain di pantai bersama kak Ersya." Aku tersenyum menampakkan deretan gigiku.


Kedua tangan tante Ratih menggenggam tanganku. "Itu bukan mabuk laut, Aca, tapi kau sedang mengandung."


"Tante, jangan terpengaruh oleh ucapan Daffin! Dia pria gila yang akan mengatakan apapun sesuka hatinya." ucapku mencoba menyakinkan tante Ratih.


"Tidak, Aca, yang di katakan oleh suamimu itu benar adanya." sanggah tante Ratih. Dia bahkan menyebut Daffin sebagai suamiku.


"Dia bukan suamiku, Tante!"


"Baiklah, dia ayah dari anak yang ada di perutmu."

__ADS_1


"Tante!!!"


"Aca ... tidak ada yang bisa merubah keadaan. Kau sudah menikah dengannya dan saat ini kau sedang mengandung anaknya. Atau apakah itu anak dari pria lain?"


Pertanyaan tante Ratih begitu melukai harga diriku, hingga air mataku jatuh begitu saja. "Aca tidak serendah itu, Tan,"


"Kalau begitu, kembalilah kepada suamimu! Dia berhak atas dirimu dan juga anakmu." pinta tante Ratih.


"Tapi, Tan, dia bukan pria yang baik!" Aku masih mencoba mencari alasan agar aku tidak harus kembali bersama Daffin.


"Jika dia bukan pria yang baik, dia tidak akan susah payah untuk membujukmu. Dan satu lagi, dia juga terlihat begitu bahagia ketika mengetahui kehamilanmu." jelas tante Ratih.


Aku jadi penasaran apa yang membuat tante Ratih tiba-tiba berpihak pada Daffin, walaupun aku sudah mengatakan semua kebenaran tentang apa yang sudah di lakukan Daffin dan juga Reena.


"Tan, dia yang sudah membuat Aca kehilangan kak Erlan dan juga anak-anak Aca!" elakku, mengingatkan tante Ratih dengan apa yang di katakan Ersya.


"Ersya bisa saja salah karena dia di butakan oleh kecemburuan dan amarahnya, tapi kepergian Erlan dan juga anak-anak kalian sudah di takdirkan oleh Tuhan. Jadi, mulai sekarang hiduplah dengan baik dan lupakan masa lalu," lirih tante Ratih, ada kesedihan dan kebahagiaan yang tercampur aduk di matanya.


"Tante ingin Aca melupakan kak Erlan?" tanyaku di iringi air mata yang terus saja terjun bebas dari mataku.


"Tidak! Tapi Tante yakin, Erlan tidak ingin Aca hidup terus hidup dalam bayangan dirinya." bujuk tante Ratih.


Inilah tante Ratih, dia begitu lembut dan bijaksana. Walau kemarahan sempat memenuhi pikirannya, tapi hatinya akan selalu menuntunnya kembali. Dan hal itu selalu membuatku nyaman ketika berada di dekatnya, begitu juga dengan kak Erlan.


"Aca sayang Tante," lirihku seraya menghambur ke pelukan tante Ratih.


"Ingat! Rumah ini akan selalu menjadi rumahmu, tapi jangan pernah kembali jika suamimu masih memberimu kebahagiaan dan alasan untuk berbahagia." Usapan lembut tante Ratih bisa ku rasakan di punggungku.


"Iya, Tan," jawabku di barengi anggukkan kepala.


Begitu aku dan tante Ratih keluar dari kamar mandi, aku melihat Daffin begitu cemas dan langsung menghampiriku.


"Kau baik-baik saja? Apa kau butuh sesuatu?" tanyanya khawatir.


Manik mataku terfokus pada mata biru itu. "Aku butuh kau menjauh dariku!"


"Tapi ...."


"Ayo, kita pulang!" ajakku seraya melangkah keluar dari kamar tante Ratih.


Hallo semuanya ๐Ÿค—

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya ๐Ÿ‘dan tinggalkan jejak ๐Ÿ‘ฃ๐Ÿ‘ฃ kalian di kolom komentar ๐Ÿ‘‡sertakan votenya juga 'ya ๐Ÿ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini ๐Ÿ˜˜


I โค U readers kesayangan kuhh


__ADS_2