Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
TAKTIK BARU


__ADS_3

Jawaban Daffin yang begitu menohok membuatku tak bisa melakukan apapun. Aku hanya terdiam mematung ketika dia meninggalkanku seorang diri di dalam kamar. Aku bahkan tidak bisa melangkahkan kakiku walau hanya sekedar untuk menyusulnya.


Entah apa yang sebenarnya terjadi pada diriku? Aku hanya berniat untuk menjebak Daffin dalam cinta palsuku, bukannya menjebak diriku sendiri seperti ini. Kenapa keadaan jadi terbalik? Aku merasa bersalah karena telah menjaga jarakku darinya.


Aku harus memeras otakku agar mau membantuku untuk memuluskan semua rencana balas dendamku, tapi sepertinya aku juga harus mengunci rapat-rapat hatiku agar tidak mudah terpengaruh dengan bualan-bualan Daffin.


Waktuku tidak banyak, aku tidak ingin terlalu lama disini. Aku harus segera menemukan buku nikah terkutuk itu dan membebaskan diriku dari jeratan aneh ini.


Aku setengah berlari menuruni tangga untuk menyusul Daffin ketika aku mendengar deru mobil yang berasal dari mobil Daffin yang meninggalkan rumahku.


Begitu aku sampai di depan pintu, ternyata Daffin sudah pergi. Mobilnya bahkan sudah tidak terlihat lagi.


Sungguh sial!!! Aku sudah ceroboh dan melepaskan satu kesempatan emasku. Entah kapan aku akan mendapatkan kesempatan seperti ini lagi, karena aku yakin Daffin pasti akan kembali ke rumahnya nanti malam untuk menemui Reena.


***


Cinta itu memang membingungkan. Seperti sebuah labirin tak berujung yang bisa menyesatkan dirimu jika sampai kau salah langkah dan memilih jalan yang salah.


Siang itu, aku terus memikirkan cara agar Daffin mau kembali ke rumahku sehingga aku bisa mendekatinya dan mendapatkan buku nikah itu.


"Nyonya muda, apa yang ingin anda makan siang ini?" tanya Rania, suara lembutnya seperti meniup telingaku dan membuatku tersadar.


"Buatkan aku kepiting saus tiram dengan saus yang banyak dan buat itu sangat pedas, sangat!"


Rania menatapku heran, tapi aku tak berniat untuk menjelaskan apapun padanya. Biarlah dia tenggelam dalam rasa ingin tahunya. Yang terpenting, aku sudah menemukan sebuah cara untuk semakin mendekatkan diriku pada Daffin. Walaupun aku harus sedikit merendahkan diriku.


***


Jalanan ibukota yang sedikit ramai membuatku sedikit terlambat, meskipun supirku sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Kita sudah sampai, Nyonya muda," Pak supir menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung yang berdiri kokoh di tengah kota.

__ADS_1


Aku membuka pintu mobilku sebelum pak supir turun dan membukakannya untukku. "Tidak perlu turun, Pak! Kau boleh kembali, aku akan disini dan pulang bersama suamiku."


Wajah terkejut pak supir membuatku menahan tawa. Bukan hanya dia saja yang terkejut dengan ucapanku, aku pun sendiri cukup terkejut dengan apa yang sedang ku lakukan saat ini.


Namun, nasi sudah menjadi bubur tak mungkin aku kembalikan menjadi beras lagi. Lebih baik aku melangkah dan melanjutkan niat tak mulusku ini.


Ketika aku sampai di lobby, aku melihat Shaka sedang memeriksa sebuah dokumen bersama beberapa staff karyawan yang kelihatannya cukup kompeten.


Tak ingin mengganggu pekerjaannya, aku pun memilih memutar tubuhku ke arah lain agar tak terlihat oleh si pria kanebo itu. Sayangnya aku terlambat, karena ternyata Shaka sudah melihat kedatanganku.


"Nyonya muda!!!" panggil Shaka. "Anda disini?" tanyanya lagi.


Aku berbalik dan melihat Shaka yang berdiri tepat di belakangku, tangannya terulur seolah akan menyentuh bahuku. "Kau pikir siapa? Arwahku yang gentayangan sampai sini?"


Shaka tersenyum sinis. "Arwah gentayangan hanya untuk orang yang sudah tidak bernafas. Apakah anda sudah berhenti bernafas, Nyonya muda?"


"Nafasku sudah di ambil alih oleh bos Planktonmu itu." sungutku sembari berjalan melewati Shaka.


Aku tahu, sikap agresifku ini menarik perhatian banyak orang karena pandangan mereka semua langsung tertuju padaku. Mungkin, aneh bagi mereka melihatku berinteraksi dengan seorang pria kaku seperti Shaka.


"Hei, kenapa wajahmu seperti itu?" Aku menghentikan langkahku dan menanti jawaban Shaka.


Tubuh Shaka mendekat padaku dan semakin mendekat. Tangan panjangnya terulur untuk meraihku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi lebih baik aku menutup mataku saja agar aku tidak terkena serangan jantung.


KLIK...


Suara sebuah tombol di tekan langsung memanduku untuk membuka mata. Aku melihat Shaka sudah berdiri kembali di posisinya dengan wajah kaku dan datarnya.


"Anda butuh sesuatu, Nyonya muda?" tanyanya, seolah tak pernah berbuat salah padaku.


Tidak sadarkah dia, jika dirinya telah membuatku salah paham?

__ADS_1


"Tidak!!! Aku juga tidak butuh dirimu untuk mengikutiku terus! Aku tidak sedang membawa benda berharga. Aku hanya membawa ini." ketusku sembari menunjukkan kotak makan yang sudah di siapkan oleh juru masak yang di pekerjakan oleh Daffin.


Kerutan di dahi Shaka menunjukkan bahwa dia ingin tahu apa yang aku bawakan untuk Daffin, tapi bibirnya itu terkunci rapat hingga tak mampu bertanya untuk memenuhi hasrat keingintahuannya.


"Aku ... membawakan racun untuk menghentikan nafas bosmu itu." Aku menaikkan kedua alisku untuk menggoda Shaka.


Pandangan tajamnya terangkat dan terfokus padaku, tapi percayalah aku sudah terbiasa dengan tatapannya itu.


TRING...


Pintu lift terbuka disaat yang tepat. Aku langsung masuk ke dalam lift dan menutup pintunya dengan cepat. Namun, Shaka berhasil menahannya dengan ujung sepatunya yang seperti sepatu Aladdin.


"Jangan membuat masalah disini, Nyonya muda," ancam Shaka dengan wajah datar layaknya jalan tol yang hanya dimiliki olehnya.


Jika saja, wajahnya itu tidak tampan. Aku yakin tidak akan ada satupun wanita yang sudi untuk melihatnya. Tapi bisa juga karena dia merasa tampan, jadi Shaka bersikap angkuh seperti itu. Ah, entahlah!


Aku mengamati tubuh Shaka yang kini membelakangiku setelah ia berhasil menyusulku masuk ke dalam lift. Jika di lihat lebih teliti, Shaka memang tak kalah tampan dari Daffin. Tubuhnya tinggi dan kekar seperti Daffin. Hanya saja dia memiliki wajah khas pribumi. Tanpa mata biru dan rambut pirang. Bentuk rahangnya juga berbeda dengan Daffin, tapi aura maskulin tetap terpancar dari wajah dan sikapnya.


"Hati-hati dengan pandangan anda, Nyonya muda," ucap Shaka dengan pandangan yang masih terfokus ke depan.


'Darimana dia tahu kalau aku sedang mengamatinya?'


Aku berjinjit untuk melihat ujung kepala bagian belakang Shaka. Mana tahu, di belakang kepalanya dia meletakkan sebuah kamera pengintai yang terus mengawasiku.


Helaan nafas Shaka membuatku terkejut dan sadar bahwa gerak-gerikku berada dalam pantauannya.


"Apa lagi? Aku salah apa lagi?" tanyaku seolah tak pernah melakukan kesalahan apapun.


"Tidak ada yang salah, Nyonya muda, semua kebenaran milik anda."


Hallo semuanya 🤗

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2