Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
GURITA TANPA TINTA


__ADS_3

Kehancuran dari lawan memang sangat di inginkan dalam sebuah pertarungan dan peperangan. Tak jarang semua itu dapat menyisihkan rasa kemanusiaan yang di miliki.


Suasana perusahaan Kafeel cukup lengang saat aku menginjakkan kakiku disana. Daffin memutuskan untuk langsung ke perusahaan Kafeel setelah kami kembali dari resort. Sepanjang perjalanan tangannya terus menggenggam tanganku dan memberikan dukungan padaku.


"Aku mengerti, Daffin," keluhku, ketika Daffin masih terus membisikkan dukungannya padaku meskipun kami sudah hampir sampai di depan pintu ruang rapat.


Wajah Daffin mengulas senyum tipis sebelum mencium keningku. "Jangan lupakan, aku selalu berada di sisimu!"


Aku mengangguk pasti bersamaan dengan terbukanya pintu besar yang menjadi satu-satunya penghalang bagiku saat ini.


Kaitan tangan Daffin terlepas ketika kami melangkah ke arah yang berbeda karena aku harus menghampiri tuan Kafeel dan om Rei yang menjadi pemimpin rapat kali ini, sedangkan Daffin memilih untuk duduk bersama daddy David sebagai salah satu pemegang saham. Inilah janji Daffin dan daddy David. Mereka tidak akan ikut campur ke dalam masalah keluarga Kafeel, kecuali kami memintanya.


"Kemarilah, Lily!" panggil tuan Kafeel, tangannya terbentang untuk menyambutku.


Sejujurnya aku tak ingin memperdulikannya, tapi aku juga tidak ingin mencoreng nama baik keluarga yang akan selalu menjadi latar belakangku di masa depan dan untuk selamanya.


Senyuman tipis ku tarik dengan paksa di sudut bibirku ketika aku masuk ke dalam pelukan tuan Kafeel. Tangannya mendekap tubuhku erat. Namun, aku enggan membalasnya dan secepat mungkin melepaskan kontak itu.


"Bagaimana kabarmu, Sayang? Ibumu mengatakan bahwa kau sedang tidak sehat." tanya tuan Kafeel seraya membelai rambutku yang terurai.


"Aku cukup baik dan sehat untuk menyaksikan kau memenuhi semua keinginanku. Ingat! Kau sendiri yang menyanggupinya, tapi jika kau berubah pikiran aku bisa -" Ucapanku menggantung karena tuan Kafeel tiba-tiba menyelaku.


"Tidak, Sayang, Ayah sudah yakin dan tidak ada yang perlu di pikirkan lagi." tegas tuan Kafeel, sorot matanya begitu meyakinkan.


Kedua bahuku terangkat sebagai isyarat bahwa aku tidak peduli dengan apa yang baru saja tuan Kafeel katakan.


Aku melirik om Rei yang berada di samping tuan Kafeel, dan langsung berhambur memeluknya walaupun hanya sekilas.


"Kau sudah lebih baik? Aku khawatir sekali dengan keadaanmu." Om Rei mencubit hidungku. "Jika ku tahu kalian sedang honeymoon, aku tidak akan secemas itu." godanya.


Honeymoon? Ah, aku tahu. Ini pasti ulah Daffin. Dia pasti mengatakan hal yang tidak-tidak pada om Rei.


Dengusan kesal lolos begitu saja tanpa aku sadari hingga membuat om Rei dan tuan Kafeel menatapku keheranan.


"Ada apa, Lily?" tanya om Rei dan tuan Kafeel secara bersamaan.


Aku tersenyum kikuk. "Tidak ada! Aku hanya merindukan ibu."


Entah itu sebuah kebenaran atau kebohongan, tapi yang jelas aku memang menginginkan ibu hadir di ruangan ini dan menyaksikan putrinya mendapatkan kembali semua haknya.


"Ibumu ada di ruanganku bersama Rania." Tuan Kafeel menepuk bahuku lembut, kemudian menuntunku untuk duduk di sampingnya.


Setelah aku duduk, om Rei langsung berdiri untuk memulai rapatnya. Pribadi om Rei yang lembut dan penuh kasih sayang tiba-tiba lenyap ketika dia menjadi sosok Reinhard Kafeel. Aku benar-benar di buat takjub oleh kepribadian om Rei.


"Lily! Lily!"


Aku mengerjap ketika merasakan sentuhan di bahuku dan menyadari jika om Rei sudah memanggilku sejak tadi.

__ADS_1


"Iya, Om," ucapku canggung, karena semua mata tertuju padaku.


Tangan om Rei terulur padaku. "Ayo, perkenalkan dirimu!"


Tanpa ragu aku menyambut tangan om Rei untuk memperkenalkan diriku sebagai putri dari keluarga Kafeel.


"Selamat siang, Semuanya. Perkenalkan, saya Lily Yovela Kafeel. Semoga dewan direksi sudah tidak keberatan dengan kehadiran saya disini." ucapku ragu, tak tahu harus bicara apa. Namun, senyuman Daffin membuatku berani untuk mengangkat kepalaku.


"Tidak akan ada keberatan, Sayang, karena mulai hari ini kau juga salah satu pemegang saham disini." Tuan Kafeel memberikan sebuah berkas padaku. "Dua puluh persen saham milikku dan sepuluh persen milik kakekmu, semuanya aku serahkan padamu sebagai putriku satu-satunya." ucapnya.


BRAK ...


Tiba-tiba pintu ruang rapat terbuka dan memperlihatkan sosok Reena yang datang bersama ibunya. Di belakang mereka ada Shaka yang hanya menunduk lesu.


"Jangan lakukan itu, Ayah! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!!!" teriak Reena.


Suasana berubah menjadi menegangkan ketika Reena berniat untuk melukaiku. Namun, om Rei berhasil menghalanginya dan menyembunyikan tubuhku di belakangnya. Tangan om Rei mencengkram kuat tangan Reena yang menggantung di udara.


"Rei! Apa yang kau lakukan pada putriku?" pekik Anna, ibunya Reena.


Om Rei menyeringai. "Kau pikir kami bodoh! Kami sudah tahu bahwa Reena bukanlah putri dari keluarga Kafeel. Dia bahkan bukan putrimu, Anna!"


Wajah kedua wanita itu seketika pucat pasi layaknya mayat hidup. Kaki mereka lemas, tapi aku cukup salut ketika keduanya tetap menegakkan kepalanya.


"Lalu kenapa? Aku sudah menemani Reyno selama lebih dari dua puluh tahun. Setidaknya aku bisa memiliki sedikit saja dari hartanya." sergah Anna, dia benar-benar tidak tahu malu.


"Reyno, aku yakin kau tidak akan membiarkan Reena kita menderita, bukan?" ucap Anna memelas, walaupun aku tidak bisa membaca sorot matanya, tapi aku yakin dia hanya berpura-pura.


Aku tidak tahan melihat sandiwara kedua gurita betina itu sehingga aku menggeser tubuh om Rei kesamping, dan membuatku berhadapan langsung dengan Reena dan juga ibunya.


"Kau sebut apa tadi? Reena kita?Hah?" Aku menyelipkan rambutku ke telinga seolah aku tidak bisa mendengar dengan jelas. "Aku rasa kau hilang ingatan atau mungkin khayalanmu terlalu tinggi, Nyonya Anna!" sindirku.


Aku membalikkan tubuhku dan menatap para dewan direksi yang hanya diam menyaksikan drama ini. Mereka semua memiliki raut wajah yang berbeda-beda sehingga membuatku sedikit ragu. Namun, aku melihat daddy David mengacungkan ibu jarinya padaku.


"Dewan direksi yang terhormat, seperti yang kalian tahu. Aku adalah putri sah dari tuan dan nyonya Kafeel, sementara dia!" Telunjukku mengarah pada Reena yang sedang memohon pada tuan Kafeel. "Dia bukanlah putri ayahku! Dan ibunya, dia bahkan tidak pernah di nikahi oleh ayahku. Apakah pantas mereka mendapatkan bagian dari perusahaan ini?" tuturku, mencoba menyudutkan Reena dan Anna.


Terdengar bisikan-bisikan dari para dewan direksi. Dan hal itu tentu di manfaatkan oleh om Rei dengan sangat baik.


"Sebagai pemilik dan juga pemegang saham terbesar di sini, aku menggunakan suaraku untuk mendukung Lily. Silahkan para dewan direksi memberikan keputusan." Om Rei kembali duduk dengan tenang, meski wajahnya menyiratkan hal lain.


Ucapan om Rei begitu berpengaruh di dalam rapat kali ini, mungkin karena akhirnya om Rei mau mengambil bagian di dalam perusahaan sehingga secara otomatis tonggak kepemimpinan berpindah ke tangannya.


Tiba-tiba salah satu dewan direksi berdiri, raut wajahnya sulit di tebak. Membuatku menahan nafas hingga dia mengatakan, "kami sudah memutuskan untuk mendukung Nona Lily Kafeel sepenuhnya. Selamat bergabung, Nona! Kami menantikan inovasi anda."


Tepukan tangan bergemuruh dan menyamarkan kekecewaan yang meliputi Reena dan Anna. Meraka berdua seperti seonggok daging yang sama sekali sudah tidak menggugah selera.


"Tidak!!! Tidak!!! Aku tidak terima!!!" jerit Anna, dia memukul-mukul dada tuan Kafeel. "Kau jahat, Reyno! Seharusnya aku melenyapkanmu sejak dulu!" umpatnya.

__ADS_1


Tak tahu apa yang membimbingku, tapi aku antara sadar dan tidak langsung menghampiri Anna dan mendaratkan tanganku di pipinya hingga meninggalkan bekas merah disana.


PLAK ...


Keheningan seketika tercipta karena ulahku. Aku yakin semua orang yang ada di ruangan ini pasti sangat terkejut dengan apa yang baru saja aku lakukan.


"Kau!!!" Anna menatap tajam ke arahku seraya memegangi pipinya. "Berani sekali kau menamparku!"


Seringai jahat sengaja aku perlihatkan. "Kau pikir aku takut!"


PLAK ...


Satu tamparan lagi membuat merah pipi Anna yang satunya. Anna semakin terlihat geram. Sorot matanya semakin tajam menatapku. Namun, tangannya sudah tidak lagi memegangi pipinya melainkan mengepal kuat.


Ketika tangan Anna terangkat ke atas untuk membalasku, dengan cepat aku menahan tangannya dan menghempaskannya dengan kasar.


"Kedua tamparan itu tidak ada artinya jika di bandingkan dengan rasa sakit yang kau berikan pada ibuku!" ucapku geram, menatap Anna yang masih tercengang dengan sikapku.


"Kau berandal!!!" umpat Anna, dia menarik tangan Reena agar berhadapan denganku. "Lihat! Dialah yang pantas menjadi pewaris keluarga Kafeel." ucapnya bangga.


"Ibu ...," lirih Reena, matanya tak terus menatap sosok Anna yang sudah dia anggap sebagai ibunya.


Aku menatap sinis Reena dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya. "Kepalsuan! Semuanya hanya kepalsuan! Dia di besarkan hanya untuk memenuhi ambisimu! Ck ... ck ... ck ... sungguh malang nasibnya!"


"Cukup, Ayasya!" hardik Reena, dia menyeka air matanya dan menatapku. "Apa salahku padamu? Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanyanya dengan wajah memelas.


Pandanganku berkeliling, menyapu seisi ruangan dan memperhatikan satu persatu wajah yang kini menantikan adegan berikutnya dari drama keluarga ini.


"Kau yakin ingin mendengar jawabanku?" tanyaku sinis.


"Iya! Karena aku yakin, aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun padamu." jawab Reena, keangkuhan masih terlihat jelas di wajahnya.


"Kesalahan terbesarmu adalah menggantikan tempatku selama ini! Dan kesalahanmu yang tidak termaafkan adalah ketamakanmu yang membuatku kehilangan kedua putraku!" ucapku penuh emosi.


Sekali lagi terdengar bisikan-bisikan dari para dewan direksi yang membuatku menyadari, tidak seharusnya aku mengatakan hal itu di sini.


"Pergilah, Reena! Kau bukan putriku!" usir tuan Kafeel, setelah cukup lama aku terdiam. "Jangan pernah memperlihatkan wajah kalian di hadapanku dan juga keluargaku lagi!" tegasnya.


Reena dan Anna langsung bersimpuh di hadapan tuan Kafeel. "Maafkan, Kami!"


Pemandangan yang sebenarnya cukup miris, tapi sedikit melegakan karena pada akhirnya kedua gurita betina itu kehilangan tinta hitamnya.


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘

__ADS_1


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2