
Hati yang terluka memang tidak akan terobati hanya dengan melihat hati yang lain terluka, tapi setidaknya aku sudah cukup melihat orang yang pernah mencoba menyakitiku mendapatkan balasan dari Tuhan.
Sebesar apa cinta Reena pada Daffin? Aku bisa melihatnya selama ini. Dan aku yakin, perceraiannya dengan Daffin akan membuatnya hancur hingga berkeping-keping.
Tapi tunggu dulu! Jika pernikahanku dengan Daffin sah di mata hukum. Itu artinya, Daffin sudah menceraikan Reena bahkan sebelum dia menjebakku dalam pernikahan ini.
Bola mataku tidak bisa bergerak sedikitpun dari sosok Daffin yang kini menatapku dengan penuh arti.
"I really love you, My Starfish." ungkap Daffin tiba-tiba, dan itu pun di hadapan semua orang.
Ya, memang tidak semua orang di dunia ini. Tapi di tengah-tengah kami kini ada tante Ratih, om Rama, Ersya dan juga si pria kanebo yang sejak tadi hanya diam seperti patung. Dan apa yang di ucapkan Daffin langsung membuat suasana menjadi aneh menurutku.
"Apa maksudmu?" tanyaku dengan nada yang cukup tinggi.
Seringai tipis kembali menghiasi wajah tampan Daffin. "Aku sangat mencintaimu, Nyonya Stevano."
"Ayasya?" panggil Ersya lirih, tepat setelah Daffin mengucapkan kalimat terlarang itu.
Aku merasakan tangan Ersya di bahuku yang membuatku langsung menoleh dan menatapnya. "Kak Ersya ...."
"Jangan percaya padanya! Dia mengatakan itu hanya sebagai penebusan dosanya kepadamu." ucap Ersya, wajahnya memerah karena amarah.
"Aku tidak mengerti, Kak," Aku menatap Ersya yang kini melemparkan tatapan membunuhnya kepada Daffin.
"Tuan Stevano ... dia sedang mencoba membayar hutang nyawa padamu, Ayasya," ucap Ersya penuh penekanan.
"Hutang nyawa apa, Kak? Tolong bicara lebih jelas!" Aku semakin tidak mengerti arah pembicaraan Ersya.
__ADS_1
Jika yang dikatakan Ersya adalah tentang kedua putra kembarku, sejujurnya aku sudah memaafkan Daffin untuk hal itu karena aku tahu itu bukanlah murni kesalahannya. Hal itu hanya karena kecerobohanku. Dan jujur saja, aku lebih senang kedua putraku menemani ayahnya di surga daripada mereka harus hidup dan di ambil oleh wanita licik seperti Reena.
"Hutang nyawa Erlangga!" lontar Ersya, ucapannya terdengar seperti petir yang langsung menyambar di telingaku.
Baik aku, tante Ratih, dan om Rama, kami semua cukup terkejut dengan pernyataan Ersya dan tidak tahu harus bersikap seperti apa. Sedangkan Daffin, dia hanya diam di tempatnya tanpa bereaksi sedikitpun.
"Apa kau yakin, Kak? Daffin tidak mungkin membunuh kak Erlan." Aku menatap Daffin yang terlihat tetap tenang.
Ersya berbalik dan menatapku. "Tapi itulah kenyataannya! Begitu aku tahu bahwa Erlangga adalah saudara kembarku, aku tidak membuang waktu dan mencari kebenaran tentang kematiannya." Ersya kembali menatap Daffin. "Dan Tuan Stevano adalah orang terakhir yang terlihat bersamanya." ucapnya kemudian.
Pandangan kami semua bertumpu pada sosok Daffin yang tidak terlihat terusik sedikitpun dengan tuduhan Ersya. Dia bahkan menyunggingkan senyumannya kepadaku. Apa arti semua ini? Benarkah Daffin yang menghabisi nyawa kak Erlan? Tapi kenapa dia tetap bersikap tenang seperti itu? Apakah dia itu pembunuh berdarah dingin? Ah, kepalaku rasanya mau pecah memikirkan semua kemungkinan yang ada.
"Tapi, Kak, kak Erlan meninggal karena terjatuh ketika sedang menyelamatkan seorang anak yang hampir terjatuh." Aku mencoba untuk menyanggah ucapan Ersya, walaupun aku sendiri tidak mengerti kenapa aku mencoba untuk membela Daffin.
"Itu benar, Ayasya! Tapi hal itu tidak akan terjadi jika DS Corp melakukan perawatan yang baik di gedung itu." hardik Ersya, aku bisa melihat jika Ersya begitu ingin membuktikan kesalahan Daffin. "Lagi pula, kita tidak tahu apa yang di katakan tuan Stevano kepada Erlangga ketika mereka bertemu tepat sebelum kecelakaan itu terjadi." sambungnya.
Dalam situasi seperti ini, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku masih terkejut dengan kenyataan bahwa Maya adalah ibu kandungku, di tambah lagi kebenaran tentang masa lalu kak Erlan dan juga Ersya. Lalu sekarang, kenyataan bahwa Daffin adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian kak Erlan membuat jantungku lelah dan ingin berhenti berolahraga. Entahlah, permainan apa lagi yang sedang Tuhan mainkan denganku saat ini?
Tiba-tiba Daffin berdiri dan menghampiriku kemudian dia mengulurkan tangannya ke arah leherku.
"Hei, kau ingin mencekikku!!!" teriakku seraya melangkah mundur dan menutupi leherku dengan tangan.
Terdengar kekehan dari bibir Daffin sebelum dia berbisik padaku. "Aku tidak mungkin menghabisimu karena Jhonny masih ingin mengenalmu lebih jauh."
Wajahku memerah karena malu mendengar ucapan Daffin yang tidak pantas di ucapkan dalam situasi seperti ini. "Kalau begitu, aku yang akan menghabisi Jhonny!"
"Aku menantikan itu." Daffin kembali mengulurkan tangannya dan ternyata dia bermaksud untuk meraih kalungku. "Erlangga menunjukkan ini padaku ketika kami bertemu sebelum kecelakaan itu terjadi. Dia mengatakan bahwa dia sangat mencintai istrinya. Aku bahagia melihat ketulusan hatinya, jadi aku meminta pelayan di tokoku untuk memberikan kalung ini secara percuma kepada Erlangga karena aku berharap aku juga bisa merasakan kebahagiaan seperti yang dia rasakan. Dan siapa yang tahu, aku memberikan kalung ini kepada Erlangga, tapi Erlangga memberikan istrinya padaku." ungkap Daffin.
__ADS_1
Sorot mata Daffin di penuhi ketulusan dan kehangatan. Haruskah aku percaya dengan apa yang dia katakan?
"Jangan percaya padanya, Ayasya! Dia hanya mencoba mencari alasan agar kau tidak menyalahkan dirinya." sergah Ersya, dia menarik paksa tubuhku agar menjauh dari Daffin.
"Jika kau seorang polisi, kau tidak akan mencoba untuk mengubah kebenarannya, Tuan Chandra." Daffin menatap Ersya dengan tajam.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Tuan Stevano," sanggah Ersya, dia membalas tatapan tajam mata Daffin.
"Tidak! Kau hanya sedang mencoba membangun keraguan di hati istriku yang akan menciptakan celah di antara kami!" ucap Daffin, ada gurat kesedihan di matanya.
"Aku tidak perlu melakukan itu karena kalian memang tidak sedekat itu!" hardik Ersya, mereka berdua semakin terlibat dalam pembicaraan yang melibatkan diriku.
"Kau salah! Kami sudah -"
Aku langsung menyela ucapan Daffin sebelum dia mengatakan hal yang akan membuatku malu. "DIAM KALIAN SEMUA!!! Jangan pernah meributkan hal seperti ini lagi! Kepergian kak Erlan sudah sangat menyiksaku dan aku tidak ingin lebih tersiksa lagi dengan kehadiran kalian berdua disini!"
"Ayasya, aku hanya ...," Ersya mencoba membujukku, tapi aku langsung memalingkan wajahku.
Pandangan mataku bertemu dengan Daffin ketika aku mencoba menghindari tatapan Ersya. Mata biru itu seperti mengikatku hingga aku tidak berdaya untuk melepaskan kontak itu, dan membiarkan Daffin semakin mempertegas kepemilikannya terhadapku.
"Aku akan pergi untuk kali ini, tapi ingatlah! Tidak akan ada yang bisa menjauhkan dirimu dari sisiku."
Hallo semuanya 🤗
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1