Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
DAFFIN POV (INSIDEN)


__ADS_3

Cinta itu memang aneh, seaneh tingkahku pagi ini hanya karena nyonya kecilku melakukan gerakan sederhana atas inisiatifnya sendiri.


Dalam perjalanan ke kantor, aku terus tersenyum sepanjang jalan. Aku juga menyapa para pedagang yang menjajakan dagangan mereka di lampu merah serta membeli apapun yang mereka tawarkan padaku.


"Tuan, akan kita apakan semua benda itu?"


Pertanyaan Shaka membuatku berpikir, akankah nyonya kecilku itu diam saja jika aku membawa pulang semua barang-barang ini? Aku berani bertaruh dia akan mengoceh sepanjang malam dan tidak akan membiarkan aku tidur dengan tenang. Jadi, harus ku apakan semua barang ini?


Ketika tengah sibuk memikirkan jalan keluar atas kekonyolan yang aku buat, aku melihat beberapa anak kecil sedang berteduh di bawah kokohnya jembatan kota.


"Berhenti, Shaka!" titahku, yang langsung di turuti Shaka tanpa bertanya. "Turunlah dan bagikan semua mainan dan makanan ini kepada anak-anak itu!"


Shaka mengikuti arah pandanganku dan mengangguk, lalu dengan cepat menurunkan semua barang-barang itu dari mobil.


Sebenarnya, aku ingin menyerahkan semua barang-barang itu bersama Shaka, tapi daddy menghubungiku dan sepertinya itu penting.


"Hallo, Dad?" ucapku begitu panggilan tersambung.


"Kau dimana, Daff ?" tanya daddy, terdengar kecemasan dari suaranya.


"Aku dalam perjalanan menuju kantor, Dad, ada apa?" jawabku seraya memperhatikan Shaka yang larut dalam kegembiraan bersama anak-anak itu.


"Dimana Lily?" Daddy balik bertanya yang membuatku sedikit kesal.


"Di rumah bersama Maya," jawabku santai.


"Pastikan dia tetap di rumah! Orang yang ku minta untuk memata-matai Reena mengatakan bahwa Reena berencana untuk melukai Lily."


KLIK ...


Aku langsung memutuskan panggilan tanpa mengatakan apapun pada Daddy.


"Shaka!!! Cepat kembali!" teriakku melalui jendela.


Dengan sigap Shaka segera kembali ke mobil. "Maaf, Tuan, telah membuat anda menunggu."


"Tidak masalah! Jika keadaannya memungkinkan, aku juga ingin menemui anak-anak itu. Sayangnya, aku tidak bisa. Sekarang kita harus pergi ke perusahaan Kafeel!" desahku, menyesal tak bisa menyapa secara langsung anak-anak itu.


"Baik, Tuan." Shaka segera melajukan mobil menuju perusahaan Kafeel.


***


Suasana perusahaan Kafeel sedikit berubah sejak kepimpinan berpindah kepada dokter Reinhard. Kemampuannya memang cukup mumpuni dan tak perlu di ragukan lagi. Pantas saja nyonya Stevano bersikeras menyerahkan semuanya kepada om Rei kesayangannya itu.


"Apa hebatnya dia? Aku jauh lebih tampan dan juga muda darinya," gerutuku seraya melangkahkan kaki menuju ruangan ayah mertuaku.


Entah ada apa dengan hatiku, tapi aku tidak akan rela pria lain dekat dengan nyonya Stevanoku meskipun dia adalah pamannya sendiri.


"Selamat datang, Menantu Ayah," sambut ayah mertuaku ketika Shaka membuka pintu ruangannya.


Tangan ayah mertuaku yang membentang membuatku langsung menyambutnya. "Terima kasih, Ayah."


"Apa yang membawamu kesini, Daffin? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya ayah mertua begitu dia melepaskan pelukannya.


"Ada yang tidak baik, Ayah, itu sebabnya aku datang untuk menemuimu." Aku mendaratkan bokongku di sofa.


Raut wajah ayah mertua langsung berubah panik. "Katakan ada apa? Apa ini tentang putriku?"


"Mantan putrimu, Ayah! Dia berencana untuk menyakiti istriku, yaitu putri kandungmu. Dan aku disini untuk meminta bantuanmu." Aku menatap tajam pada ayah mertua.


"Katakan!" sergah ayah mertua.


"Aku dengar kau dan Maya akan pergi, dan istriku ingin ikut bersama kalian. Kau tahu bukan bagaimana keras kepalanya putrimu itu? Dia tidak akan mendengarkan aku, jadi aku mohon pada Ayah untuk membatalkan rencanamu dengan Maya. Dengan begitu, istriku yang keras kepala akan tetap berada di rumah." jelasku.


Aku menaruh harapan yang begitu besar pada keputusan ayah mertua walaupun aku tahu dia pasti kecewa karena tidak bisa menghabiskan waktu bersama istri dan juga putrinya.

__ADS_1


"Baiklah," jawab ayah mertua tanpa berpikir lagi. "Jika dengan cara seperti itu bisa membuat Lily tetap aman, aku akan melakukannya." ucapnya.


Aku menarik senyuman di wajahnya. "Terima kasih, Ayah."


Ayah mertua tiba-tiba berdiri dan langsung merangkulku. "Aku yang seharusnya berterima kasih karena kau telah menjaga putriku selama ini."


Aku merasa seperti sebongkah batu baru saja menghantam hatiku ketika ayah mertua mengatakan hal itu. Pikiranku tiba-tiba berputar ke masa lalu, bagaimana jika ayah mertua tahu jika aku menjebak putrinya untuk menikah denganku? Dan aku juga yang bertanggungjawab untuk kepergian kedua putra kembarnya. Akankah dia tetap berterima kasih padaku?


"Daffin?" Sentuhan di bahuku membuatku mengerjap. "Apa yang kau pikirkan?" tanya ayah mertua.


"Tidak ada, Ayah, aku hanya mengkhawatirkan keadaan nyonya Stevano." Aku mencoba mencari alasan yang tepat.


"Tidak perlu cemas! Aku yakin, Maya akan menjaga Lily. Lagi pula, ada banyak pengawal dan juga CCTV di rumahmu. Lily pasti aman berada di sana." Ayah menepuk-nepuk bahuku.


"Kau benar, Ayah! Kalau begitu, aku harus pergi sekarang. Dan satu lagi, tolong jangan katakan pada Lily jika aku datang kesini!" pintaku.


"Tentu!"


***


Hari itu, entah mengapa hatiku begitu gelisah. Padahal aku terus memantau CCTV di rumahku untuk memperhatikan keadaan nyonya Stevano. Dia terlihat bahagia ketika belajar memasak bersama Maya. Bibir nyonya kecilku itu terus tersenyum dan tertawa, membuatku ingin langsung melahapnya.


"Tuan, sebaiknya kita berangkat untuk rapat sekarang," saran Shaka, dia sudah membawa beberapa berkas di tangannya.


Aku mengerutkan dahiku seraya melirik jam di tanganku. "Sekarang? Tapi rapat itu masih dua jam lagi."


Kegelisahan terpancar jelas di wajah Shaka. "Saya khawatir jalanan akan macet hari ini, Tuan."


Alasan macam apa itu? Walaupun dia mengkhawatirkan hal itu, tapi bukankah jarak tempuh dari kantor ke tempat rapat yang telah di sepakati hanya sekitar tiga puluh menit? Di tambah dengan kemampuan mengemudinya, aku yakin Shaka akan membawaku tepat waktu ke tempat rapat.


"Aku sedang malas, Shaka," tolakku.


Wajah Shaka terlihat semakin cemas. "Tapi, Tuan -"


"Baiklah, ayo, berangkat!" ajakku seraya berjalan mendahului Shaka.


***


Hujan peluru memburu mobil yang di kemudikan Shaka di tengah perjalanan kami menuju ke tempat rapat.


"Shaka, ada apa ini? Siapa mereka?"


Pertanyaan yang sama, yang terus ku lontarkan sejak peluru pertama menembus kaca mobilku.


"Maaf, Tuan, semua ini salah saya." Shaka semakin mempercepat laju mobil.


Di persimpangan jalan, Shaka menghentikan mobil dan memintaku untuk keluar.


"Kau juga keluar!" titahku.


"Tidak, Tuan, mereka pasti akan tetap mengejar kita." Shaka mengeratkan pegangannya pada kemudi mobil.


Aku berdecak kesal. "Kalau begitu, ayo, kita hadapi mereka bersama!"


"Jangan, Tuan! Jika sesuatu terjadi pada anda, apa yang harus saya katakan pada nyonya?" sanggah Shaka.


"Tidak akan terjadi apapun padaku! Kau tahu tidak ada yang bisa mengalahkan aku." Aku menegakkan tubuhku untuk menyombongkan diri.


Shaka menghela nafasnya. "Baiklah, saya yang akan keluar. Dan jika sesuatu terjadi pada anda, maka saya akan menikahi nyonya dengan senang hati."


"KAU!!! Beraninya kau berpikir seperti itu." hardikku penuh emosi.


"Itu sebabnya saya meminta anda keluar, Tuan, karena ada banyak orang yang membutuhkan anda. Namun, jika sesuatu terjadi pada saya. Tidak akan ada satu pun orang yang merasa kehilangan." cicit Shaka.


"Hentikan! Baiklah, aku akan keluar. Aku akan menghubungi pengawal dan kau harus berjanji untuk tidak menghadapi para brandal itu seorang diri. Tunggu sampai bantuan datang!" tegasku sebelum keluar dari mobil.

__ADS_1


Sial sungguh sial, ponselku justru mati dalam keadaan genting seperti ini. Namun, Tuhan memang baik. Ternyata daddy menempatkan beberapa pengawal terlatih di sekitarku. Mereka muncul tak lama setelah kepergian Shaka.


Dengan cepat aku menyusul Shaka dan melihat dia sedang bertarung di kelilingi oleh para brandal itu.


"Shaka!!!" teriakku seraya menghantam salah satu brandal yang mencoba menghalangi jalanku. "Bodoh! Kenapa kau melawan mereka sendiri?" umpatku.


"Maaf, Tuan," ucap Shaka datar.


"Sudahlah! Ayo, kita habisi mereka!" seruku, di barengi dengan baku hantam yang tak terelakkan.


Awalnya, aku dan para pengawal daddy beserta Shaka berhasil mengalahkan para brandal itu, tapi salah satu brandal bertindak nekat untuk mendekatiku dengan satu tongkat besar di tangannya.


BUG ...


"SHAKA!!!"


Hantaman itu mengenai tepat kepala Shaka yang dengan sigap melindungiku. Darah segar mengalir di kepalanya, tapi dia justru menyunggingkan senyuman seolah baru saja memenangkan sebuah medali untukku.


Tubuh Shaka terhuyung. Aku menangkap tubuhnya dan menyandarkan dia ke dinding. Dengan penuh emosi aku menghajar brandal yang telah memukul Shaka. Aku tidak melihat bahwa ada tengah yang membidikku.


DOR ...


Suara peluru melesat di barengi dengan ambruknya tubuh Shaka di punggungku.


"Shaka?"


Tidak ada jawaban. Aku menarik tangan Shaka dan melihatnya sudah tidak berdaya. Ada peluru yang menembus kepalanya.


"Tidak, Shaka! Tidak! Buka matamu!" teriakku, tapi Shaka tetap memejamkan matanya.


Tanganku mengepal kuat lalu menatap tajam kepada para brandal di hadapanku. Tinggal dua brandal yang tersisa. Hanya mereka yang masih sadarkan diri.


"KATAKAN!!! SIAPA YANG SUDAH MENEMBAKNYA!!!"


Kedua brandal itu bersimpuh di kakiku. "Maaf, Tuan, tapi bukan kami pelakunya."


"HABISI MEREKA!" titahku pada para pengawal daddy.


Belum sempet perintahku di lakukan, kedua brandal itu sudah melarikan diri dan langsung di kejar oleh pengawal daddy. Sedangkan aku memilih untuk tetap bersama Shaka.


"Shaka, bangunlah! Kau bodoh karena menyelamatkan nyawaku." Aku menampar wajah Shaka, tapi dia tetap tidak bergeming. "SHAKA!!!"


"Tuan ...," lirih Shaka lemah. "Te- Terima kasih ... telah memberikan saya hidup yang baru dan maaf karena saya ... melukai anda dengan mencintai ... nyonya ...."


"Tutup mulutmu! Mintalah ampun padaku setelah kau berhasil melawan kematian!" sergahku.


Sekuat tenaga aku menahan tangisku yang ingin meledak karena para pengawal yang mengejar kedua brandal itu sudah kembali.


"Maaf, Tuan, mereka menceburkan diri ke dalam sungai." Pengawal itu menundukkan kepalanya.


"Shit !!! Menangkap dua brandal saja kalian tidak bisa!" geramku. "Seharusnya mereka membayar apa yang telah mereka lakukan pada Shaka!" sinisku.


"Mereka akan membayarnya, Tuan, saya sudah menembak kaki dan tangan mereka. Saya pastikan mereka tidak akan pernah bisa mencapai daratan." ucap pengawal tadi dengan seringai di wajahnya.


"Good job! Sekarang bantu aku membawa Shaka ke rumah sakit! Dia harus hidup apapun yang terjadi."


Para pengawal itu mengangkat tubuh Shaka untuk membawanya ke mobil, tapi tiba-tiba terjadi kerumunan yang menghalangi jalan kami. Aku tidak bisa menunggu, sementara wajah Shaka semakin memucat. Darah segar terus mengalir dari kepalanya.


Tanpa pikir panjang, aku langsung menggendong Shaka di punggungku dan membawanya ke rumah sakit hingga kemejaku di penuhi oleh darahnya. Aku tidak peduli tatapan semua orang yang terkejut dengan keadaanku. Yang terpenting bagiku saat ini hanyalah keselamatan temanku. Shaka.


"Aku mohon bertahanlah, Shaka ...."


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2