
"Kenapa wajahmu merah, Sayang? Kau demam?" tanya ibu panik begitu aku keluar dari ruang kerja Daffin.
Om Rei yang memang seorang dokter langsung memintaku duduk dan memeriksa keadaanku.
"Lily baik-baik saja. Mungkin kita bisa tanyakan pada tuan Stevano apa yang telah dia lakukan pada Lily," celetuk om Rei, tepat ketika Daffin bergabung.
"Kau mencurigaiku, Dokter Reinhard?" sinis Daffin, dia merangkul bahuku. "Aku tidak mungkin melukai wanita yang aku cintai." ungkap Daffin.
Aaahhh, jantungku! Aku harus menopangnya dengan apa? Jantungku rasanya seperti merosot dan hampir terlepas dari tempatnya.
Saat ini, untuk menatap mata Daffin saja aku tidak mampu. Rasanya aku begitu malu dengan sikapku sebelumnya.
Beberapa saat sebelumnya ...
Air mataku masih mengalir meski Daffin mencoba untuk menenangkan aku. Dia menghujani puncak kepalaku dengan ribuan ciuman yang membuatku merasa sangat istimewa.
"Aku mencintaimu." ungkap Daffin.
Sudah berulang kali kalimat itu meluncur dari mulut manis Daffin. Namun, sayang sekali kalimat itu terlalu sulit untuk aku ucapkan meski hatiku telah menerima Daffin sepenuhnya.
"Daffin ...."
"Hemm ...."
Aku mendongak dan melihat wajah Daffin yang muram. "Apa kau menyesal telah menikahiku?"
"Apa maksudmu?" Tubuh Daffin tersentak hingga dia langsung melepaskan pelukannya.
"Kau tahu, aku bukan wanita yang baik. Aku jauh dari kata sempurna, Daffin. Selama ini, hanya kak Erlan yang bisa menerima semua kekuranganku ...," lirihku seraya memalingkan pandanganku dari Daffin.
Kakiku melangkah menjauhi Daffin yang masih terpaku dengan ucapanku. Sejauh mataku memandang, tidak ada satu pun potret pernikahanku dengan Daffin. Keadaan ini sangat berbeda dengan rumah Stevano sebelumnya yang berada di seberang rumahku. Di semua sudut rumah, bahkan ruang baca Daffin terdapat potret dirinya dan juga Reena. Sungguh miris!
Aku merasakan pergelangan tanganku yang di tahan Daffin. "Saat ini ada aku! Aku yang mencintaimu dengan segala kekurangan dan kelebihanmu."
Aku tetap tidak bergeming dan memilih untuk tetap menyembunyikan air mata yang mulai berselancar bebas dari mataku.
"Aku tahu, pernikahan ini bukanlah keinginanmu. Meski aku memohon padamu, aku yakin tidak akan semudah itu bagimu untuk memaafkan aku." Daffin menarik pergelangan tanganku hingga aku kembali jatuh dalam pelukannya. "Tapi aku percaya jika cinta mampu menghancurkan segala dinding kebencian." ucapnya.
"Aku -" Sial, kenapa lidahku keluh di saat seperti ini.
__ADS_1
"Jangan katakan apapun! Cukup dengarkan aku, My Starfish! Kau sudah banyak menderita selama ini. Aku hanya ingin kau membuka hatimu untukku dan juga kedua orang tuamu. Tak peduli kau Lily atau Ayasya, keduanya tetap sama. Kau! Hanya kau!" tutur Daffin.
Sapuan bibir Daffin menyapu bibirku dengan lembut dan hangat. Kedua tangan besar Daffin menangkup pipiku yang sempat melakukan penolakan atas serangan Daffin. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena Daffin berhasil menguasai permainan ini.
Nafasku tersengal ketika Daffin melepaskan pagutan bibirnya. Dia membungkuk dan menempelkan keningnya dengan keningku, sementara tangannya menahan rambutku.
"Aku tahu kau marah untuk banyak hal, tapi bisakah kau hilangkan itu satu persatu?" tanya Daffin, hembusan nafasnya terasa hangat di wajahku.
Dahiku mengernyit. "Caranya?"
Daffin tersenyum simpul. "Apa kau sedang marah sekarang?"
"Iya!" jawabku cepat.
"Kenapa?" tanya Daffin, dia kembali menegakkan tubuhnya.
Bibirku bergerak ke kiri dan ke kanan, yang di ikuti oleh gerakan bola mataku. "Banyak hal! Karena tuan Kafeel dan juga Reena."
Aku pikir Daffin akan marah, tapi dia justru membimbingku untuk duduk di sofa. "Tuan Kafeel, dia ayahmu. Belajarlah untuk menyebutnya ayah! Dia juga cukup menderita atas apa yang terjadi. Bayangkan, dia hidup selama ini bersama dua penipu yang menggerogoti kebahagiaan dalam hidupnya. Dan satu hal lagi, dia tidak tahu jika kau masih hidup. Kasih sayangnya pada Reena hanya karena dia berpikir bahwa Reena adalah putrinya."
Sejenak aku berpikir, mencoba mencerna ucapan Daffin. "Tapi dia menolakku ketika aku datang ke rapat hari itu. Kau juga melihatnya."
"Memangnya kenapa? Apa om Rei tidak baik untuk ibuku?" tanyaku bingung.
Daffin menghela nafasnya sebelum menjawab, "dokter Reinhard pria yang baik. Itu sebabnya dia tidak berusaha untuk merebut Maya dari ayahmu. Sebaliknya, dia mencintai ibumu dengan caranya. Bertahan di sisi ibumu dan menahan segala rasa sakit ketika melihat ibumu bersama dengan ayahmu. Dan bukankah kau membuatnya semakin terluka dengan terus memintanya menjadi ayahmu?"
Lagi, Daffin berhasil menohok hatiku. Panahnya melesat tepat di bagian yang selama ini tidak pernah tersentuh. Sejauh ini, tidak ada yang pernah menasihatiku dengan cara seperti ini. Menunjukkan kesalahanku secara nyata di hadapanku.
"Jadi, aku wanita yang jahat?" tanyaku dengan bibir bergetar.
"Tidak! Bukan itu maksudku." Kembali Daffin merengkuh tubuhku dan menyandarkan kepalaku di dadanya. "Aku hanya ingin kau mengerti bahwa kebahagiaan sudah menghampiri hidupmu. Kau hanya tinggal membuka pintunya dan biarkan waktu yang menjawab segalanya." jelasnya.
Daffin benar! Aku hanya harus menerima takdir yang tertulis untukku. Selama ini aku selalu mencari keberadaan kedua orang tua kandungku, tapi kenapa sekarang aku justru menolak mereka? Aku hanya mempersulit diriku sendiri. Mungkin itulah maksud Daffin.
Tanpa sadar jariku bermain di dada bidang Daffin yang di penuhi bulu karena tanganku dengan nakalnya membuka dua kancing teratas kemeja Daffin. Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang membuatku kembali kesal dan menarik salah satu rambut di dadanya.
Daffin memekik karena kesakitan. Namun, dia tidak melakukan apapun padaku selain membelai rambutku dan menciumi puncak kepalaku.
"Apakah sekarang kau kesal padaku? Boleh aku tahu alasannya?" tanya Daffin.
__ADS_1
"Apa kau akan menikahi gurita betina itu lagi?" tanyaku, tanpa melihat ekspresi Daffin.
Daffin menangkap tanganku yang sedang sibuk membuat pola lingkaran di dadanya. "Aku tidak menyukai gurita! Aku lebih menyukai bintang laut atau ikan buntal."
"Bohong!!!" hardikku, kemudian melayangkan pukulan ke dada Daffin yang terbuka.
"Aku tidak berbohong, Nyonya Stevano! Tapi kenapa kau bersikap seperti ini? Apa kau cemburu?" goda Daffin, jarinya menusuk-nusuk pipiku yang menggembung.
Kesal dengan ulah Daffin. Aku pun berbalik dan menatapnya. "Iya! Aku cemburu karena aku mencintaimu."
Flashback off ...
"Tidak! Tapi setidaknya kau pasti tahu apa yang terjadi pada Lily." ucap om Rei, dia melemparkan senyuman usil pada Daffin.
"Haruskah aku katakan bahwa kau menyatakan cintamu padaku?" bisik Daffin, membuat wajahku semakin merah.
Aku melirik Daffin dan bergumam, "jangan membuatku malu! Pergilah!"
"Baiklah, aku akan pergi!" Daffin sudah berdiri dan berpamitan setelah mencium keningku. "Sampai jumpa nanti malam, Nyonya Stevano," ucapnya.
Setelah bayangan Daffin menghilang, aku mencoba memecah keheningan dan memulai pembicaraan.
"Bu, aku ingin menjadi anak usia lima tahun." lontarku, langsung membuat ibu terkejut.
"Apa maksudmu, Sayang? Apa ini keinginan bayimu?" tanya ibu, tangannya mengusap perutku yang mulai terlihat membesar.
Aku menggeleng. "Tidak, Bu! Ini keinginan putrimu. Aku ingin merasakan bagaimana bahagianya pergi bersama kedua orang tuaku ke taman bermain dan memakan gula kapas bersama."
Tetesan air mata ibu jatuh menimpa punggung tanganku. Aku tidak tahu apa yang di pikirkan ibu, tapi dia langsung memelukku dan mencium keningku.
"Kalau begitu, aku harus pergi." ucap tuan Kafeel, dia sudah berbalik untuk pergi.
"Jangan pergi! Aku ingin menikmati waktuku yang hilang bersamamu, Ayah."
Hallo semuanya 🤗
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI😍
Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘😘
__ADS_1
I ❤ U readers kesayangan kuhh