Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
MENCARI SEKUTU


__ADS_3

"Plankton? Amoeba?" Pria bernama Davin itu mengerutkan dahinya.


"Hahahaha ...," Tawa menyembul dari bibirku yang sudah ku tahan sejak tadi.


"Maaf, Nyonya, apakah Anda sedang mentertawakan saya?" tanyanya heran.


"Tidak, aku sedang menertawakan bayanganmu!" elakku, kemudian menatapnya dari atas ke bawah. "Apa keperluanmu datang ke rumahku, Tuan Davin?" tanyaku.


Lagi, menyebut namanya membuatku ingin terus tertawa. Persamaan nama yang ada antara Plankton dan pria itu membuatku geli sendiri.


"Saya ingin bertemu Shaka, Nyonya, beberapa waktu yang lalu kami tidak sengaja bertemu dan Shaka memberikan saya alamat rumah ini." jelas Davin, sikap tenangnya membuatku memahami jika dia sudah biasa berhadapan dengan orang-orang menyebalkan seperti diriku dan mungkin juga seperti Daffin si Plankton menyebalkan.


"Ah, aku mengerti, tapi Shaka tidak tinggal disini. Ya, tapi memang dia suka menetap dimana pun Plankton singgah!" sergahku seraya mencebik, mengingat betapa menyebalkan jika berhadapan dengan pria kaku seperti Shaka.


Davin kembali mengerutkan dahinya, hingga kedua alisnya menukik tajam. "Plankton? Maksud anda, Shaka tinggal di laut?"


"Hahahaha ... sudahlah! Ayo, masuk! Sebelum kau membuatku berguling-guling di tanah." Aku berjalan ke dalam rumah dengan di ikuti tatapan aneh dari Davin.


***


Di dalam rumah, Davin terlihat tidak nyaman karena hanya ada kami berdua. Dia terlihat gelisah dan terus melirik jam yang ada di tangannya.


"Ehem ...."


Aku berdehem untuk mengalihkan perhatiannya dan di saat yang bersamaan Maya muncul dari arah dapur.


"Kau sedang berbicara dengan siapa, Ayasya?" tanya Maya, langkahnya semakin dekat padaku.


Aku memutar bola mataku dengan malas. "Davin!"


"Daffin? Bukankah dia baru akan kembali lusa?" Maya terlihat cukup terkejut dan segera melihat wajah pria yang ada di hadapanku. "Dia bukan Daffin, Ayasya!" tukasnya.


"Dia Davin! Namanya Davin, maksudku." tegasku.


"Oh ...," Maya mengangguk paham.


"Siapa nama lengkapmu? Rasanya lidahku sedikit tergelincir setiap menyebut namamu," tanyaku konyol, sebenarnya lebih karena setiap kali menyebut namanya aku selalu teringat pada si Plankton.


"Davino Roveis, Nyonya," jawabnya dengan segera.


"Baiklah, Tuan Davino! Seperti yang kau lihat, Shaka tidak ada disini. Dia sedang ke luar kota bersama suamiku, tapi jika ada hal yang ingin kau sampaikan padanya bisa kau katakan padaku!" ucapku dengan mengulas sedikit senyum tipis.


Davino tersenyum sopan. "Tidak ada, Nyonya, saya hanya ingin bertemu dan sedikit berbincang dengan Shaka karena kami sudah lama tidak bertemu."

__ADS_1


"Begitu? Bukan karena kau ingin mencari pekerjaan?" tanyaku sok tahu.


"Tidak, Nyonya! Saya sudah bekerja," sanggahnya sopan.


"Dimana kau bekerja?" tanyaku sedikit kecewa.


Awalnya aku berpikir untuk merekrut dirinya untuk menjadi pengawalku. Selain karena wajah tampan dan juga terawat, sepertinya dia memiliki keterampilan dan kemampuan yang setara dengan Shaka. Aku hanya sedang berkhayal, andai aku bisa melawan sepasang Plankton dan kanebo itu.


"Saya bekerja dengan tuan Rayyan G. Michael, Nyonya," jawabnya penuh keyakinan.


"CV Group?" sela Maya, dia yang sedari tadi hanya diam pun akhirnya membuka suara.


"Benar, Nyonya, sepertinya anda cukup mengenal perusahaan kami." Davino beralih menatap Maya yang duduk berseberangan dengannya.


"Tidak juga, aku hanya pernah mendengarnya dari orang-orang di perusahaan. Aku cukup terkesan dengan kepemimpinan tuan Rayyan yang cukup terampil walaupun usianya masih sangat muda," puji Maya pada pria bernama Rayyan itu.


"Itu benar, Nyonya, saya pun selalu terkesan padanya." Davino menyetujui ucapan Maya.


Dan begitulah akhirnya, Davino cukup lama berbincang denganku dan juga Maya hingga seseorang menghubunginya.


"Maaf, Nyonya dan Nyonya besar, saya harus kembali karena ada sedikit hal yang harus saya kerjakan." Davino berdiri untuk berpamitan.


"Sepertinya kau harus bertemu dengan seseorang yang sangat penting, Tuan Davino?" tanyaku sarkasme.


***


Dua hari telah berlalu. Seharusnya Daffin kembali hari ini, tapi dia bahkan tak memberikan kabar padaku.


Ponsel baru yang di berikan olehnya bahkan tak pernah berdering sekalipun. Dan kehamilanku juga tidak merepotkan diriku karena aku sama sekali tidak merasakan mual atau gejala kehamilan lainnya.


"Ayasya, di luar hujan. Masuklah! Atau kau bisa masuk angin," pinta Maya, suara lembutnya hampir terbawa angin.


Tetesan air hujan menimpa wajahku dan membantuku untuk menyamarkan air mataku yang entah mengapa mengalir begitu saja ketika mendapat perhatian seperti itu dari Maya.


"Astaga!!!" seru Maya, kemudian membalut tubuhku dengan handuk. "Kau ini seperti anak kecil saja," keluhnya.


Dalam diam, aku memperhatikan Maya yang mencoba mengeringkan wajahku dengan handuk. Dia juga mengusap-usap kedua tanganku agar terasa hangat. Jujur saja, aku cukup tersentuh dengan perhatian Maya selama ini, tapi aku tidak mengerti kenapa hatiku masih saja tidak bisa menerima jika Maya adalah ibu kandungku.


"Apa kau sudah merasa hangat?" tanya Maya lembut.


"Memangnya kapan aku mengatakan jika aku kedinginan?" ketusku, kemudian merebahkan tubuhku di sofa.


"Minumlah teh hangat ini, jangan biarkan tubuhmu kedinginan! Kau harus memperhatikan bayimu juga!" pinta Maya, tapi kali ini aku merasa dia sedikit menaikkan nada bicaranya.

__ADS_1


"Iya, aku mengerti!" hardikku.


Aku sedikit menyesal ketika melihat kesedihan di wajah Maya, yang mana membuatku merasa bersalah. Jadi, aku pun langsung menghabiskan teh hangat buatan Maya.


"Terima kasih, Maya," ucapku seraya meletakkan kembali cangkir tehku.


Mata indah Maya berbinar melihat cangkir tehku yang telah kosong. "Apa kau ingin aku membuatkan teh untukmu lagi?"


"Ti -"


"Tentu! Aku sangat butuh teh jahe hangat buatanmu, Maya." Tiba-tiba Daffin datang dan menyela ucapanku, wajah lelahnya begitu jelas terlihat.


"Daffin?" Sebuah kata yang tiba-tiba saja terlontar dari bibirku.


"Yes, My Starfish, apa kau sangat merindukan aku?" Daffin merentangkan tangannya untuk memelukku.


"Tidak! Lagi pula aku -" Perutku bergolak dan tanpa berpikir lagi aku langsung berlari meninggalkan Daffin yang masih kebingungan dengan sikapku.


SYUUUURRR...


Kucuran air menimpa wastafel yang terkena muntahan isi perutku. Dan cermin memantulkan wajahku yang sedikit pucat, mungkin karena sebelumnya aku bermain air hujan.


Aku menoleh ketika mendengar suara ketukan dari pintu yang di buat oleh Daffin.


"Are you okay, My Starfish? Apa kau butuh sesuatu?" tanya Daffin setengah berteriak.


"Tidak!" jawabku sebelum membasuh wajahku.


Setelah yakin bahwa perutku sudah baik-baik saja, aku pun keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Daffin yang sedang bersandar di dinding tepat di samping pintu.


"Apa yang kau lakukan?" tanyaku dengan sinis.


"Aku hanya ingin memastikan bahwa ibu dari anakku baik-baik saja," jawab Daffin lembut.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya tidak suka melihat wajahmu!"


Hallo semuanya 🤗


Yang penasaran sama Amoeba eh maksudnya Davin bisa tengokin langsung ke rumahnya di sini 👇👇👇



Jangan lupa selalu tap jempol setiap kali membaca setiap bab yang ada 👍 dan jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga 'ya👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2