Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
SWEET CHAPTER 8 (ENDING)


__ADS_3

Cinta yang dulu terbawa bersama waktu, kini melekat kuat dalam hati membuat semua masa yang di lewati terasa indah. Kekuatan cinta memang ajaib, laksana gelembung yang menutupi lautan. Hadir secara tiba-tiba, dan menghilang dengan tiba-tiba pula. Namun, tetap memberikan keindahan bagi yang menikmatinya.


Perasaan bahagia memenuhi hatiku dan juga seluruh keluargaku karena hari ini adalah hari pernikahan Ersya dan Rania. Mereka akhirnya menikah dan saling mengikat janji sehidup semati. Rania, gadis malang yang harus merasakan sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan. Beruntung, Ersya hadir dalam hidupnya dan membawakan banyak cinta juga kebahagiaan untuknya.


"Congratulations, Aunty!" seruku, seraya memeluk Rania.


Rania melepaskan pelukanku. "Kenapa memanggil saya seperti itu, Nyonya?"


"Kau yang kenapa masih memanggilku seperti itu?" hardikku, dengan mengedipkan sebelah mataku.


"Ayasya benar, Sayang, harusnya kau tidak lagi memanggilnya nyonya." Ersya merangkul bahu Rania dengan mesra.


Bibirku mencebik. "Pamer kemesraan!"


"Tentu saja! Aku tidak ingin kalah darimu dan juga tuan Stevano." Ersya semakin mengeratkan rangkulannya.


Aku merasakan sebelah tangan Daffin melingkar di bahuku. "Kemesraan kami sudah terbukti, Tuan Chandra! Lihat saja ketiga anakku! Mereka bahkan selalu menjadi pusat perhatian."


Pandangan kami semua langsung mengikuti arah tatapan Daffin yang melihat ke arah Shaka dan Gil yang sedang di kelilingi orang-orang dewasa. Kedua putraku terlihat begitu percaya diri, terlebih Shaka yang sudah mulai masuk ke tahap preschool. Sedangkan Gil, wajah dinginnya justru membuat semua orang semakin gemas padanya. Dan Bi, dalam gendongan Daffin saja putriku ini masih menarik perhatian banyak orang. Banyak yang ingin sekedar berfoto atau pun mencium pipinya, tapi sayangnya Daffin tidak mengizinkan siapapun mendekati putri kami, selain anggota keluarga.


Ersya tersenyum simpul. "Kau benar, Tuan Stevano! Sepertinya aku harus banyak belajar darimu."


Ketika kami sedang larut dalam perbincangan, tiba-tiba saja om Rei naik ke atas panggung dan membuat pengumuman yang mengejutkan semua orang.


"Selamat malam, Semuanya! Perkenalkan, aku Reinhard Kafeel. Aku disini sebagai keluarga dari mempelai pria. Ya, sebenarnya aku berdiri di sini bukan untuk kedua mempelai, melainkan untuk wanita yang telah berhasil mengeluarkan aku dari kegelapan. Wanita yang telah membawa banyak keceriaan dan warna dalam hidupku. Dia adalah istriku yang kini tengah mengandung anak kembar kami. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan sebagai ucapan terima kasihku padanya, tapi aku hanya tahu satu hal bahwa aku harus terus menjaganya sampai akhir hayatku." ungkap om Rei penuh haru.


Sorak sorai langsung menggema ketika om Rei menuruni panggung dan berlutut di hadapan tante Ratih. Mereka berdua mengingatkan aku pada masa dimana Daffin masih sering melakukan hal-hal romantis tanpa gangguan dari para Plankton kecil kami.


"Kenapa kau tertawa, Nyonya Stevano?" tanya Daffin, seraya membelai rambutku.


Aku tidak sadar jika aku tertawa, tapi aku langsung berusaha mengelak. "Aku? Tentu saja karena aku bahagia melihat om Rei dan tante Ratih. Mereka berdua akhirnya bisa menerima satu sama lain."


Daffin memicingkan matanya. "Benarkah hanya karena itu?"


"Kau ini!" Tanganku mendarat di lengan kekar Daffin. "Aku hanya tiba-tiba teringat saat kau membuat kejutan ulang tahun untukku, dan Gil yang memakan semua kuenya. Lalu, saat hari valentine, coklat dan bunga yang kau bawakan untukku hilang karena Shaka menyembunyikannya di bawah bantal. Dan terakhir, saat anniversary kita, Bi terus menangis hingga kau terpaksa membatalkan candle light dinner yang sudah kau siapkan untukku." ocehku, tanpa bisa menghentikan tawaku.


Senyuman menghiasi wajah Daffin. "Itu cara baru kita menikmati kebahagiaan, Nyonya Stevano."


"Kau benar!" Aku merangkul lengan Daffin dan bergelayut manja. "Tapi sejujurnya, aku rindu masa dimana semua perhatianmu hanya untukku."


***


Setelah acara resepsi pernikahan Ersya dan Rania usai, seluruh keluarga berkumpul di rumah ayah. Kami menghabiskan waktu bersama sebelum Ersya dan Rania pergi berbulan madu.


"Aku juga ingin pergi honey moon!" seruku antusias.


"Kau tidak pergi honey moon saja sudah memiliki tiga orang anak, bagaimana jika kau pergi honey moon? Bisa-bisa kau dan Daffin membuat kesebelasan." Om Rei tertawa puas.


Wajahku memberengut dengan bibir yang mengerucut. "Tapi tetap saja kami tidak bisa mengalahkan Om dan tante yang bisa membuat anak kembar!"


Tiba-tiba wajah om Rei dan tante Ratih bersemu merah. Mereka terlihat salah tingkah, bahkan sepertinya mulai tidak nyaman.


Aku meraih tangan tante Ratih. "Maaf, Tan, Aca hanya bercanda."


"Tidak, Aca! Tidak perlu meminta maaf. Lagipula, Aca tidak mengatakan hal yang salah." Tante Ratih menepuk-nepuk punggung tanganku.


"Benar! Kau tidak salah, Nyonya Stevano." Daffin mengusap punggungku dengan lembut. "Aku saja heran, bagaimana bisa dokter Reinhard membuat bayi kembar? Aku saja sudah berusaha tetap tidak bisa." keluhnya.


Om Rei tertawa. "Itu artinya kau tidak lebih hebat dariku, Tuan Stevano!"


"Apa maksudmu, Dokter Reinhard?" sungut Daffin.

__ADS_1


"Rei benar, Daff! Usiamu lebih muda, tapi kau tidak bisa membuat bayi kembar seperti Rei." Daddy David ikut menimpali.


"Daddy!!!" teriak Daffin kesal.


"Sudah! Sudah! Ayo, nikmati cemilannya! Hari ini kita semua belum makan dengan benar." Ibu datang bersama pelayan yang membawakan makanan. "Rei dan Ratih mendapat bayi kembar karena keluarga Kencana memiliki gen kembar, Daffin, sedangkan keluarga Kafeel dan Stevano tidak memiliki gen kembar. Beruntung, kau dan Lily memiliki tiga orang anak, bukan hanya anak tunggal." timpal ibu.


Aku dan Daffin saling berpandangan dan tersenyum karena menyadari bahwa ibu juga berpikiran yang sama dengan kami.


Malam itu, kami semua benar-benar larut dalam kebahagiaan. Bahagia untuk semua hal yang selama ini mengganjal. Bahagia karena akhirnya kami menemukan kebahagiaan kami dengan cara kami masing-masing. Aku dan Daffin bersama ketiga anak kami. Ibu dan ayah yang menghabiskan hari tua mereka bersama. Om Rei dan tante Ratih yang juga bahagia karena bisa keluar dari cinta lama mereka dan akan segera memiliki anak. Dan juga Ersya yang cintanya berlabuh pada Rania. Semuanya telah menemukan takdir mereka sendiri. Takdir yang sebenarnya sudah di tuliskan oleh Tuhan sejak awal.


***


Semburat cahaya mentari menimpa wajahku melalui celah tirai yang sedikit tersibak karena tertiup angin. Dengan malas aku membuka mataku karena merasakan tangan besar Daffin yang menimpa tubuhku.


Wajahku terasa panas ketika menyadari malam yang kami habiskan berdua, tanpa gangguan anak-anak karena Daffin dengan liciknya membuat ayah, ibu, dan daddy David menjaga anak-anak kami.


"Morning, My Starfish!" gumam Daffin, sementara tangannya menarik tubuhku agar kembali mendekat padanya.


"Daffin ...."


"Hemm ...."


"Ayo, bangun! Anak-anak pasti sudah mencari kita." Aku mencoba melepaskan tangan Daffin.


Daffin menggeram. "Mereka tidak akan mencari kita, Nyonya Stevano. Orang tua kita pasti akan melakukan segala cara agar cucu-cucu mereka diam dan tidak meminta untuk pulang. Kapan lagi mereka memiliki waktu bersama anak-anakku yang menggemaskan?"


Daffin ada benarnya juga! Selama ini ketiga anakku selalu sulit untuk berpisah denganku dan juga Daffin, tapi entah apa yang sudah di lakukan Daffin sehingga ketiga anakku itu bahkan tidak menolak saat kami menitipkan mereka pada ayah dan ibu.


"Tapi, Daffin -"


"Sudahlah, Nyonya Stevano! Nikmati saja waktu indah kita sebelum para Plankton kecilmu itu kembali. Bukankah ini yang kau inginkan? Menghabiskan waktu bersamaku." goda Daffin.


Aku berdecak. "Aku memang ingin menghabiskan waktu berdua bersamamu, tapi bukan di tempat tidur!"


"Aku ingin honey moon yang sesungguhnya!" hardikku, berlagak merajuk.


Mata Daffin terbuka lebar. "Sungguh?"


Aku mengangguk yakin. "Jika itu mungkin."


***


Sepertinya aku memang di lahirkan dengan banyak keberuntungan karena Tuhan begitu baik padaku dengan selalu memberikan aku pasangan yang baik, seperti kak Erlan dan kini Daffin. Keduanya selalu berusaha untuk memenuhi semua keinginanku agar aku bahagia.


Seperti saat ini, aku dan Daffin sungguh-sungguh pergi untuk berbulan madu. Sebenarnya, cukup menggelikan karena kami baru berbulan madu setelah enam tahun pernikahan kami. Namun, apa dayaku? Semuanya terjadi begitu cepat dan Tuhan juga menganugerahkan aku dengan anak-anak yang lucu sehingga aku pun tidak memiliki waktu luang. Beruntung, Daffin menemukan celah sehingga kami bisa pergi walaupun tidak lama.


"Apa kau menyukai tempat ini?" tanya Daffin, kedua tangannya sudah melingkari pinggangku.


"Terima kasih, Daffin ...."


Hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari bibirku setelah Daffin terus menghujaniku dengan banyak cinta.


"Apapun untukmu, Nyonya Stevano ...."


Senja sore hari itu, kami habiskan untuk melihat matahari kembali ke peraduannya di balut hangatnya sapuan bibir Daffin yang lembut.


***


Bulan madu singkat yang aku jalani bersama Daffin, membuat kami berdua sangat merindukan anak-anak kami. Mereka juga nampak begitu bahagia begitu melihat aku dan Daffin kembali.


"Mommy!!! Daddy!!!"

__ADS_1


Kedua putraku berlarian, sementara putri kecilku hanya menggerak-gerakkan tangannya seolah ingin menggapaiku.


Daffin langsung menggendong Shaka dan Gil setelah aku mencium keduanya, lalu kami menemui Bi yang sedang di pangku ibu.


"Apa mereka rewel, Bu?" tanyaku khawatir.


"Tidak, Sayang! Cucu-cucuku sangat pintar." Ibu menciumi pipi Bi.


Aku memeluk ibu erat. "Terima kasih, Bu, sudah menjaga mereka."


"Iya, Sayang, Ibu juga berterima kasih karena sudah di beri kesempatan untuk menjaga cucu-cucu Ibu." Tangan lembut ibu membelai rambutku.


Setelah berpamitan, aku dan Daffin memutuskan untuk kembali ke rumah karena kami sudah cukup lelah. Namun, dalam perjalanan pulang Shaka ingin membeli es krim begitu pun dengan Gil.


"Kita akan membelinya saat sampai di rumah!" tolak Daffin.


Aku menoleh dan melihat wajah Shaka dan Gil yang sangat kecewa.


"Daffin, tidak bisakah kita membelinya sekarang?" tanyaku pelan.


Daffin menghela nafasnya, lalu menepikan mobilnya. "Baiklah, kita akan membeli es krim! Tapi hanya Daddy yang akan turun, kalian menunggu disini!"


Shaka dan Gil mengangguk bersamaan.


Dari kaca mobil, aku melihat ke arah Daffin yang berjalan memasuki toko dan keluar dengan sekantung es krim. Wajahnya begitu tampan bagiku. Ya Tuhan, betapa beruntungnya aku!


"Apa yang kau lihat, Nyonya Stevano?"


Aku mengerjap, tak menyadari jika Daffin sudah masuk ke dalam mobil. Aku pun hanya menggeleng lemah dan tersenyum simpul.


***


Sesampainya di rumah, ketiga anakku tertidur pulas. Daffin dengan sigap menggendong Shaka dan Gil, sedangkan aku membawa Bi.


Aku dan Daffin membawa ketiganya ke kamar tidur kami karena sudah berhari-hari kami tidak bersama mereka.


"Sepertinya mereka sangat lelah," ucap Daffin pelan.


Aku hanya mengangguk dan menatap wajah ketiganya. Sungguh, tak ada yang lebih indah daripada melihat wajah polos anak-anakku ya g sedang tertidur.


"Sekarang ...," Tiba-tiba Daffin mengangkat tubuhku. "Waktunya Mommy dan Daddy untuk beristirahat juga!"


Tubuhku mendarat di atas tempat tidur besar yang bersebelahan dengan tempat tidur anak-anak. Dan Daffin, tentu saja dia langsung menyusulku.


"Nyonya Stevano, bagaimana jika kita memberi adik untuk Bi?" bisik Daffin.


Aku menyeringai. "Baik! Tapi kau yang mengidam."


Wajah Daffin memucat. "Ah, iya! Aku ingat! Dokter mengatakan agar kita sebaiknya tidak menambah anak lagi, mengingat jarak usia anak-anak yang terlalu dekat."


Sekuat tenaga aku menahan tawaku. Daffinku yang menggemaskan, dia sudah jera untuk memiliki anak lagi karena sepanjang aku mengandung Bi, dia benar-benar mengalami syndrom cauvade.


"Kau benar, Daffin! Kalau begitu, kita berlima saja sudah cukup. Benar?" tanyaku, seraya menaikkan sebelah alisku.


Daffin tersenyum kaku. "Baiklah! Aku, kau, Shaka, Gil, dan Bi saja sudah cukup."


Kehangatan tangan Daffin mendekap tubuhku dan mengantarku ke dalam mimpi indah yang selama ini hanya menjadi mimpi. Namun, bersama Daffin, semua mimpiku menjadi nyata.


Perjalanan hidup yang pahit dan penuh kerikil, serta gelapnya jalanan yang aku tapaki, sudah berbuah manis dan di terangi oleh cahaya cinta Daffin.


Jebakan pernikahan yang dilakukan Daffin. Konspirasi yang dia rancang bersama Reena, ternyata semua itu hanya cara Tuhan untuk membuat Daffin mencintaiku, dan juga sebaliknya. Sejujurnya, kini aku bersyukur karena Daffin telah menjebakku untuk menikahinya.

__ADS_1


Seumur hidupku, dalam hatiku hanya ada satu nama yang akan mengisi hari-hariku. Tuan Planktonku, Daffin Miyaz Stevano.


...... THE END ......


__ADS_2