
"Aca?" Tante Ratih baru saja muncul dari dalam rumah dengan membawakan segelas teh untukku.
"Iya, Tan," jawabku seraya mengambil nampan dari tangan tante Ratih.
"Pria itu tidak datang lagi?" tanya tante Ratih, sebelum dia meminum tehnya.
Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak, Tan, mungkin dia sudah lelah dan juga bosan membujuk Aca."
Flashback on...
Aku bisa mendengar teriakan Daffin dari dalam kamarku. Inilah kebiasaan barunya, dia selalu datang setiap hari. Entah itu, pagi, siang, ataupun malam dengan berbagai macam bunga di tangannya.
"Pulanglah, My Starfish!" lirihnya untuk yang kesekian kali, tapi aku tetap memberikan jawaban yang sama.
"Tidak, Daffin! Kau dan aku tidak akan mungkin bersama. Aku tidak bisa hidup bersama orang yang bertanggungjawab atas kematian suami dan juga anak-anakku." jawabku penuh kemarahan.
Entah mengapa, meski bibirku selalu mengucapkan kalimat tuduhan serta kemarahan. Namun, Daffin seolah tak gentar untuk membujukku dan memintaku agar mau kembali padanya.
"Baiklah, anggaplah aku salah! Dan aku mohon maafkan aku dengan segala ketulusan hatimu, tapi aku juga memohon kepadamu untuk kembali bersamaku." ucap Daffin, aku bisa melihat keputusasaan di matanya.
Aku bisa apa? Ersya mengatakan bahwa Daffin lah yang bertanggungjawab atas kematian kak Erlan. Jika memang yang di katakan Ersya itu tidak benar, kenapa Daffin tidak pernah mengatakan hal itu padaku sebelumnya. Itu juga yang membuatku berpikir bahwa Daffin memang bersalah. Dan untuk kedua putra kembarku Daffin memang tidak sepenuhnya salah, tapi jika dia tidak menjebakku dalam pernikahan ini maka aku pasti akan hidup bahagia bersama kedua putraku yang tampan.
"Tidak!!!" Aku menghardik permintaan maaf Daffin. "Pergilah, Daffin! Banyak orang yang membutuhkanmu, kecuali aku!" tegasku.
Meski bibirku memintanya untuk pergi, tapi anehnya hatiku selalu berharap bahwa Daffin akan kembali lagi dan lagi untuk membujukku.
Flashback off...
"Sudah lebih dari satu minggu pria itu tidak membawakan bunga untukmu," ucap tante Ratih, matanya melirik ke arah tumpukan bunga-bunga yang mulai layu.
Setiap harinya, Daffin selalu membawakan aku bunga yang berbeda jenis dan warna. Dan aku akan selalu meletakkan bunga-bunga itu di salah satu sudut rumah ini.
"Ya, begitulah, Tan. Cintanya pada Aca hanya seperti bunga-bunga itu, yang akan layu hanya dalam waktu sekejap saja." lirihku, menyadari bahwa Daffin tidak pernah mencintaiku dengan sungguh-sungguh.
"Itu karena kau tidak merawatnya, tapi jika kau merawatnya, bunga-bunga itu akan hidup dan tumbuh dengan cantik yang akan membuatmu bahagia setiap kali melihatnya." tutur tante Ratih penuh kelembutan.
__ADS_1
Aku mengamati sikap tante Ratih yang sedikit berubah saat ini, tapi aku tak memiliki cukup keberanian untuk memastikannya.
"Apa kau mencintainya, Aca?" tanya tante Ratih tiba-tiba, membuat pupil mataku langsung membesar.
"Aca tidak mengerti apa yang Tante katakan," elakku, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Helaan nafas terlontar dari mulut tante Ratih. "Maafkan Tante, Aca! Sebelumnya Tante memintamu untuk menikahi Ersya sebagai ganti anak-anak Erlan yang telah tiada, tapi Tante terlalu egois karena tidak memikirkan perasaanmu."
"Jangan mengatakan hal itu, Tan! Aca tidak keberatan menikahi kak Ersya." Aku tersenyum setulus mungkin. "Lagi pula, kak Erlan atau kak Ersya, keduanya sama saja." candaku.
Tante Ratih menatapku nanar. "Tapi Ersya bukanlah Erlan! Keduanya sangat berbeda. Dan Tante juga tahu bahwa selama ini kau tidak pernah mencintai Erlan."
Hatiku mencelos mendengar pernyataan tante Ratih. "Tante ...."
"Jangan menyangkalnya! Kami semua sudah tahu, kau hanya terbiasa hidup bersama Erlan dan hatimu tidak pernah menerimanya sebagai seorang pasangan." Tante Ratih menggenggam tanganku.
Tak terasa air mata menetes di pipiku, mendahului bibirku yang tak mampu mengucapkan apapun.
"Kak Erlan ... apa dia juga?" tanyaku terbata, tak kuasa mengatakan apa yang aku bayangkan.
Hatiku semakin sesak mendengar ucapan tante Ratih. Kak Erlanku tersayang, selama ini dia tahu bahwa aku hanya membutuhkannya bukan mencintainya. Sejujurnya, aku juga baru menyadari hal itu setelah kepergian kak Erlan.
"Maafkan Aca, Tante!" lirihku di tengah-tengah tangis yang mengiringi kata-kataku.
Tangan tante Ratih mendekap tubuhku. "Tidak masalah, jangan pikirkan itu lagi! Tante yakin, Erlan juga pasti ingin yang terbaik untuk dirimu."
Tangisku pecah dan semakin menjadi-jadi hingga aku tidak menyadari sejak kapan aku mulai berpindah dimensi.
***
"Ayasya ... Ayasya ...."
Aku mendengar seseorang memanggil-manggil namaku dari kejauhan. Setelah aku mendengarkan dengan lebih cermat, aku baru mengenali suara siapa itu.
"Kakak! Kak Erlan?" teriakku seraya terus berlari mencari sosok yang sangat aku rindukan.
__ADS_1
"Kami disini, Ayasya." Kak Erlan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Aku melihatnya sedang menggendong kedua putra kami di sisi kanan dan kiri lengannya. Mereka terlihat begitu bahagia. Senyuman mereka bertiga bahkan mengalahkan hangatnya sinar mentari yang menyinari taman yang indah ini.
Langkah kakiku semakin mendekat kepada mereka, hingga aku kini berhadapan dengan wajah kak Erlan yang semakin tampan.
"Kakak? Aca rindu," lirihku di barengi air mata yang tiada henti.
Kak Erlan tersenyum dan menurunkan kedua anak kami sebelum dia memelukku. "Aku juga merindukanmu, tapi percayalah aku selalu berada disisimu."
Tubuhku bergetar hebat karena tangis yang memang sengaja tidak aku tahan. Inilah diriku, selalu menangis dalam pelukan kak Erlan yang hangat dan selalu bersandar di bahu kak Erlan yang kekar.
"Dengarkan aku, Ayasya!" Kak Erlan melepaskan pelukannya dan menatap manik mataku. "Jangan pernah menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi dalam hidupmu! Kepergianku dan juga baby sudah di takdirkan oleh Tuhan, bukan karena kesalahan orang lain." ucap kak Erlan.
"Tapi, Kak -"
"Jalani hidupmu dengan baik dan raih kebahagiaanmu sendiri. Jangan pernah mengingat hal-hal yang hanya akan menyakiti dirimu!" sergah kak Erlan sebelum aku sempat menyelesaikan ucapanku.
Aku mengangguk perlahan. "Tapi Aca tidak memiliki alasan untuk bahagia lagi, Kak,"
Kak Erlan tidak sempat menjawabku karena tiba-tiba salah seorang dari putraku menarik tangannya. Dan kak Erlan pun mengangkat tubuh mungil itu untuk di gendong.
"Hiduplah dengan baik, Ayasya, Tuhan akan memberikanmu alasan untuk tetap bahagia dan melanjutkan hidupmu." Kak Erlan tersenyum dan berjalan menjauh dengan seorang anak dalam gendongannya.
"Kak Erlan!!!" teriakku dengan penglihatan yang kabur akibat genangan air mata.
"Ibu ...," Suara seorang anak mengalihkan perhatianku.
Aku menoleh dan melihat salah satu anakku masih ada bersamaku. "Kau? Kenapa kau masih disini?"
Anak tampan itu tersenyum, persis seperti ayahnya. "Karena aku ingin tetap menjadi putramu, Ibu."
Hallo semuanya 🤗
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga 'ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
__ADS_1
I ❤ U readers kesayangan kuhh