
Suasana hatiku yang awalnya ceria menjadi buruk karena ucapan Daffin. Sialnya, dia tidak mau menjelaskan padaku apa maksud ejekannya padaku.
"Nyonya Stevanoku yang polos dan bodoh."
Entah mengapa seperti ada makna dalam ucapan Daffin, tapi aku tidak tahu apa itu.
Belum usai rasa penasaranku, Daffin sudah menambah kebingunganku akan permintaannya. Dia terus memintaku untuk kembali.
"Katakan! Kau ingin aku kembali kemana?" sungutku, mulai kesal dengan teka-teki Daffin.
Belaian hangat tangan Daffin menyapu wajahku. "Kembalilah menjadi bintang lautku!"
Bola mataku menatap manik mata biru Daffin yang memantulkan bayanganku. "Memang sekarang aku menjadi apa? Ikan buntal? Hah!"
"Astaga!!!" geram Daffin, senyumnya begitu kontras dengan rahangnya yang menegang. "Kau istriku! Akan selalu seperti itu, tapi saat ini aku merasa kau telah berubah. Keinginan untuk membalas dendam telah merubah dirimu menjadi orang lain." lirih Daffin.
Benarkah seperti itu? Apakah aku benar-benar telah berubah? Kenapa aku tidak merasakannya?
"Aku tidak pernah berubah!" ketusku, dengan pipi menggembung.
Tangan besar Daffin menangkup kedua pipiku. "Baiklah, kau tidak pernah berubah, tapi coba tanyakan pada hatimu! Apakah ini yang di inginkan hatimu? Bukankah kau terlihat sama saja dengan Reena dan ibunya? Menyingkirkan dan membuat hidup orang lain menderita hanya untuk mendapatkan tempat yang tinggi."
Aku merasakan seperti sesuatu baru saja menghantam hatiku dengan cukup keras hingga rasanya aku kesulitan untuk bernafas. Otakku seketika membeku dan tak bisa berpikir dengan jernih.
Kata-kata Daffin begitu mengena di hatiku. Semua yang dia utarakan langsung menohok hatiku hingga aku hanya bisa diam dan menerima bahwa semua yang di katakan Daffin adalah benar.
***
"Selamat pagi, Sayang," sapa ibu, kini senyumannya selalu menjadi energi untukku.
"Selamat pagi, Bu." Aku mencium kening ibu, kemudian memilih duduk di samping ibu.
Pandangan ibu berkeliling untuk kemudian sorot matanya menatapku tajam. "Dimana Daffin? Kalian bertengkar?"
Aku memutar bola mataku dengan malas seraya mengangkat kedua bahuku, tidak berniat sedikitpun untuk menjawab ucapan ibu. Dengan santainya aku mengoles rotiku dengan selai nanas kesukaanku. Aku bahkan memainkan selai itu seperti anak kecil yang sedang bermain masak-masakan.
"Lily!" Tangan ibu menahan tanganku yang akan mengambil selai. "Jawab Ibu! Kau bertengkar dengan Daffin?" tanyanya.
__ADS_1
Aku berdecak dan meletakkan pisau di tanganku. "Bu, boleh aku tanya sesuatu?" Ibu mengangguk, tapi sorot matanya menampakkan keraguan. "Sebenarnya, aku atau Daffin yang Ibu lahirkan? Kenapa Ibu selalu mengkhawatirkannya? Dia sudah tua, Bu, tidak perlu Ibu mencemaskan dirinya." sungutku.
"Ada apa, Sayang? Kau tidak biasanya bersikap seperti ini? Kau cemburu pada Daffin?" tanya ibu ragu.
"Tidak! Aku hanya sedang kesal padanya, Bu." Aku memotong rotiku dengan acak.
"Malang sekali nasib roti itu!" lontar Daffin, langkah kakinya semakin mengurangi jaraknya denganku.
Entah sejak kapan dia keluar dari kamar. Aku langsung meninggalkannya ketika dia menyinggungku tentang perubahan sikapku.
"Kenapa? Kau ingin menggantikannya?" sinisku, sudut mataku melirik Daffin yang sedang tersenyum penuh arti.
"Kau lihat, Maya! Putrimu itu sangat menakutkan. Aku jadi mencemaskan keselamatanku." seloroh Daffin, sebelah matanya mengerling padaku.
Kesunyian sempat mengisi ruang makan pagi ini sebelum akhirnya om Rei datang. Wajah lembut dan cerianya itu selalu membuatku menyesal tidak terlahir dari benihnya.
"Selamat pagi, Semuanya!" sapa om Rei, matanya menatap bergantian padaku, Daffin, dan juga ibu. "Sepertinya aku datang di waktu yang salah," terkanya.
Aku langsung berdiri dan menghampiri om Rei. "Tidak, Om! Aku senang kau datang."
"Nyonya Stevano!" panggil Daffin dingin, tangannya mengepal kuat hingga ku yakin pisau di tangannya pasti menjerit.
"Aku disini dan aku tidak tuli, Daffin!" jawabku acuh, seraya memeriksa tas yang di bawa oleh om Rei. "Apa yang kau bawa ini, Om?" tanyaku.
"Seperti biasa, coklat untukmu. Kau suka?" Wajah om Rei mengingatkan aku akan kenangan saat aku masih di panti asuhan dulu.
Aku menganggukkan kepalaku dengan cepat dan mengambil sebatang coklat kemudian aku mematahkan coklat itu untuk ku bagi pada om Rei.
"Bagianmu, Om Tampan," ucapku, sama persis seperti yang biasa aku lakukan.
Om Rei menolak coklat yang ku berikan, dia mendorong kembali coklat itu ke arahku. "Tidak, Lily! Bagian ini untuk ayahmu. Kau ingat? Kita melakukan ini karena kau menganggapku sebagai ayahmu, tapi kini kau sudah bertemu dengan ayahmu. Maka, biarkan ayahmu merasakan betapa lezatnya coklat pemberian darimu."
Mataku terasa panas karena untuk pertama kalinya om Rei menolakku. Aku bisa melihat matanya memerah menahan tangis, tapi om Rei berusaha untuk menyembunyikannya. Dia tersenyum dengan bahagia ketika tatapannya bertemu dengan ibu, hingga aku menyadari bahwa tuan Kafeel ada di rumahku juga.
"Lily, Putriku ...," lirih tuan Kafeel seraya berjalan untuk mendekatiku.
Langkah kakiku mundur untuk menjauhinya, tapi sedetik kemudian aku menyadari bahwa aku tidak bisa lari kemanapun karena inilah takdir yang harus aku hadapi.
__ADS_1
Aku menghela nafas panjang sebelum kembali melangkahkan kakiku. "Selamat datang, Tuan Kafeel."
"Sayang, bukankah kau sudah berjanji untuk memberiku kesempatan? Kenapa kau masih bersikap seperti orang asing?" tanya tuan Kafeel, kentara betul jika dia sangat kecewa akan sikapku.
Aku tersenyum sinis. "Bukankah kau juga mengatakan bahwa aku butuh waktu? Ya, aku butuh waktu untuk menghilangkan kekecewaanku padamu. Dan mengenai kesepakatan kita, aku akan tetap memberimu kesempatan, tapi bukan berarti aku akan menerimamu sebagai ayahku."
"Lily!" sergah ibu, dia sudah berdiri dengan kilatan amarah di matanya.
"Aku akan bicara dengannya." Daffin sudah menarik tanganku dan membawaku ke ruang kerjanya.
Sepanjang Daffin menyeretku. Ya, baiklah dia memang tidak menyeretku seperti dulu, tapi dia memaksaku untuk mengikutinya. Sementara bibirnya tetap terkunci rapat sampai kami memasuki ruang kerjanya yang mencekam.
Tangan besar Daffin masih memegang pergelangan tanganku saat tangannya yang satu lagi mengunci pintu ruang kerjanya.
"Daffin, lepaskan!" pintaku, mencoba menarik tanganku agar terlepas dari genggaman Daffin.
Tubuh raksasa Daffin tak bergerak sedikitpun meski aku terus memukulnya. Dia tetap berdiri kokoh dan menatap aku yang semakin kecil karena merasa terintimidasi.
Ketika aku mulai kelelahan dan memilih untuk diam, akhirnya Daffin melepaskan tanganku begitu saja.
Aku memicingkan mataku ketika menatap Daffin. "Kau menyiksaku!"
"Itulah yang sedang kau lakukan pada dirimu sendiri, Nyonya Stevano! Semakin kau menahan rasa sakit dan kecewamu, semakin kau akan terluka. Lepaskan! Lepaskan semua itu agar hatimu lega dan terbebas dari semua itu." Kedua tangan Daffin mencengkram bahuku, mata birunya terfokus ke dalam manik mataku. "Jangan biarkan kemarahan merubah warna dirimu! Kau wanita yang baik, aku yakin itu. Bukalah sedikit hatimu, maka kau akan menemukan kebahagiaan yang sejak lama kau cari." ucapnya.
Air mata meluncur dari sudut mataku. Aku begitu terenyuh dengan kata-kata Daffin dan keyakinan yang ada di matanya. Ya Tuhan, benarkah aku telah menjadi seseorang yang begitu jahat hingga nuraniku pun terabaikan? Salahkah aku jika aku begitu marah kepada ayah yang telah menolak kehadiranku?
Daffin langsung merengkuh tubuhku dan mendekapku dengan erat. "Tidak! Jangan menangis, Nyonya Stevano! Aku tidak sanggup melihatmu terluka."
Sejujurnya aku tidak terluka. Aku bahagia. Aku bahagia menyadari bahwa ada pria baik di sisiku yang siap menuntunku untuk kembali ke jalan yang benar.
Hallo semuanya 🤗
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI😍
Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘
I ❤U readers kesayangan kuhh
__ADS_1