Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
KEJUTAN DARI TUHAN


__ADS_3

Dunia ini memang benar-benar rumit. Bukan. Bukan dunia ini yang rumit, tapi Daffin yang rumit. Pria tiran itu telah membuatku kerepotan dan harus menggotong-gotong koperku yang berat ini seperti orang linglung.


"Astaga, ini sangat melelahkan!" keluhku, begitu memasuki rumahku yang nyaman.


Aku langsung merebahkan diriku di sofa yang sebelumnya di duduki Daffin. Aku masih bisa menghirup aroma parfum Daffin yang menempel di sofa. "Apa dia menyiram tubuhnya dengan parfum? Kenapa aroma parfumnya masih tertinggal disini?"


Sebenarnya aroma parfum Daffin sangat enak dan menenangkan, tapi dengan menghirup aroma parfumnya membuatku merasa jika Daffin ada di sini. Daripada aku merasa tidak nyaman, lebih baik aku naik ke atas dan beristirahat di kamar tidurku.


***


Entah sudah berapa lama aku tertidur, tapi aku terbangun ketika mendengar seseorang menekan bel pintu rumahku. Dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya, aku pun menuruni tangga dan membuka pintu untuk melihat siapa yang datang bertamu.


Saat pintu terbuka, aku tidak melihat siapapun kecuali sebuah mobil yang terparkir tepat di depan rumahku. Aku memicingkan mataku untuk meneliti mobil tersebut. "Sepertinya aku tidak pernah melihat mobil itu." gumamku.


Karena penasaran aku pun berjalan dan membuka pagar rumahku. Tiba-tiba seorang pria keluar dari dalam mobil tersebut. Awalnya aku berpikir mungkin aku berada di alam mimpi, tapi jika itu memang hanya mimpi aku sungguh berharap tidak akan pernah bangun lagi.


Pria itu keluar dari mobil dengan seutas senyum tipis yang menghiasi wajahnya. Tatapan matanya penuh cinta dan kehangatan. Dia berjalan mengitari mobilnya untuk menghampiriku yang masih berdiri menatapnya tanpa berkedip sekali pun.


"Kak Erlan ...."


***

__ADS_1


"Nyonya Kencana? Nyonya Kencana?" Suara seseorang seolah menarikku kembali ke alam nyata.


Aku mengerjap dan melihat pria yang sangat mirip dengan kak Erlan itu sedang menatapku dan terlihat jelas jika dia sangat khawatir.


"Maaf jika kehadiran saya telah mengganggu anda." ucap pria berwajah kak Erlan itu.


"Wajahmu ...," Tanpa sadar tanganku menyentuh wajah pria itu. "Ah, maaf."


Pria itu tersenyum. "Tidak masalah, Nyonya, bukan hanya anda yang terkejut melihat wajah saya. Tapi saya juga terkejut saat melihat wajah korban di TKP hari itu."


Aku mengernyit, tak mengerti maksudnya. "TKP? Kau polisi?"


'Benarkah? Aku tidak ingat sama sekali.' batinku. "Oh, maafkan aku! Mungkin aku tidak memperhatikan Anda karena terlalu memikirkan suamiku."


Pria yang belum aku ketahui namanya itu pun mengangguk untuk menyetujui ucapanku. "Apa anda ada waktu? Saya ingin membahas beberapa hal dengan anda, Nyonya."


Aku memandang sekeliling, takut jika ada mata-mata Daffin yang mengawasiku. Begitu aku yakin jika tidak ada yang melihat kami, aku pun meminta pria itu untuk masuk ke dalam rumah.


"Disini saja, Nyonya," pintanya begitu kami sampai di teras. Dia sudah akan duduk di kursi teras jika aku tidak menahannya.


"Di dalam saja, Tuan," tolakku halus. Kemudian dengan sedikit berbisik aku berkata, "terkadang angin pun memiliki mata dan telinga."

__ADS_1


Dengan sedikit keraguan yang terpancar jelas di wajahnya, pria itu mengikutiku masuk ke dalam rumah. Pandangan matanya berkeliling dan berhenti pada potret kak Erlan dan diriku yang sedang berbulan madu beberapa bulan yang lalu.


"Sungguh keajaiban." gumamnya, tapi aku dapat mendengarnya karena aku berdiri tepat di sampingnya.


Di lihat dari sudut manapun, pria itu memang sangat mirip dengan kak Erlan. Bedanya hanya pada sifat dan cara bicaranya. Kak Erlan sangat lembut dan penuh perhatian, tapi pria ini sedikit acuh dan terkesan tegas. Sepertinya dia juga bukan pria yang suka banyak bicara. Namun, tatapan matanya sama seperti kak Erlan yang selalu memancarkan kehangatan bagi siapapun yang menatapnya. Dari postur tubuh pun tidak begitu berbeda. Tubuhnya hanya sedikit lebih berisi dari tubuh kak Erlan, mungkin karena dia seorang polisi. Dan dari segi penampilan, cara berpakaian kak Erlan jauh lebih rapih darinya. Lagi-lagi mungkin karena pekerjaan yang mereka geluti. Kak Erlan yang seorang manajer keuangan di sebuah bank swasta, selalu memperhatikan penampilannya agar selalu terlihat menarik. Sedangkan pria yang mirip dengan kak Erlan ini, dia hanya memakai kaus berbalut sweater yang mencetak tubuh proporsionalnya dengan sangat sempurna dan dia juga memakai celana jeans serta kacamata yang bertengger di hidungnya. Aku perkirakan usianya juga mungkin sama dengan kak Erlan. Tak terasa, air mataku menetes begitu saja ketika aku terus menatap pria itu.


"Anda baik-baik saja, Nyonya?" tanyanya ketika melihatku menangis.


Aku mengangguk dan tersenyum seraya menghapus air mataku. "Iya, aku sangat baik. Aku hanya belum mempersiapkan diri menerima kejutan indah ini dari Tuhan."


Kerutan di dahi pria itu menandakan bahwa dia tidak mengerti apa yang aku ucapkan, tapi biarlah akan lebih baik jika dia tidak mengerti.


"Siapa namamu, Tuan?"


Pria itu mengulurkan tangannya padaku. "Ersya Jaya Chandra."


Hallo semuanya πŸ€—


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘😘😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2