
Kenangan manis yang kembali teringat saat orang yang di sayangi sudah tiada membuat hati terasa sesak hingga sulit bernafas. Ketidakhadiran orang yang di sayangi seolah melenyapkan harapan untuk hidup.
Seperti yang aku alami saat ini, keinginanku untuk kembali pulang ke rumahku sendiri sangat besar. Tapi saat aku memasuki rumah ini, bayangan indah ketika kak Erlan masih hidup tidak berhenti berputar di dalam ingatanku. Aku masih bisa merasakan kehadiran kak Erlan di dalam rumah ini.
Aku tidak bisa seperti ini terus, ku hapus air mata dan mencoba untuk berdiri. Kak Erlan juga pasti sedih jika melihatku terus seperti ini. Dengan cepat aku merubah raut wajahku menjadi ceria dan tak lagi menampakkan kesedihan dan keterpurukan.
"Semangat, Ayasya!" ucapku penuh keyakinan sembari menatap rumah tempatku pulang. Mulai sekarang, disinilah tempat tinggalku hingga nyawa meninggalkan ragaku.
***
Petang menjelang, rasanya aku ingin sekali mengintip rumah Daffin dari balik jendela. Aku ingin memastikan keadaan disana. Apakah mereka mencariku atau tidak? Tapi bagaimana jika ada yang menyadarinya? Ah, lebih baik aku tidak mengambil resiko.
Seharian ini aku sibuk membersihkan rumah yang sudah mulai berdebu karena aku tinggalkan. Sebenarnya ini bukan pekerjaan sulit, hanya saja aku melakukannya dengan penuh hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang akan menarik perhatian orang dari luar.
Seluruh rumah sudah bersih kecuali garasi dan kamar tidur utama. Aku sengaja tidak membersihkan kamar utama karena aku belum bisa memantapkan hatiku. Setiap kali aku berada di sana, aku selalu merasa jika kak Erlan masih hidup dan menemaniku. Aku tidak ingin larut dalam imajinasiku yang mana akan menyulitkan hidupku sendiri kedepannya.
Setelah seharian membersihkan rumah, aku turun menuju garasi untuk memastikan jika tidak ada binatang yang bersarang di sana. Perlahan aku memutar kunci pintu dapur yang terhubung ke garasi. Namun, apa yang kulihat saat ini benar-benar membuatku bahagia.
"Aku tidak bermimpi, kan?" gumamku sembari menepuk-nepuk kedua pipiku.
Mobil kak Erlan terparkir dengan rapih di garasi. Aku memutari mobil itu, memastikan jika itu memang mobil kak Erlan.
"Plat kendaraannya benar." Aku mengusap kaleng berwarna hitam yang sedikit berdebu itu. "Tapi kenapa tidak ada goresan disini? Bukankah aku menabrak mobil Daffin hari itu?" Aku mengusap bagian depan mobil yang seharusnya rusak karena kecelakaan beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Aku kembali memutari mobil dan memastikan jika itu memang mobilnya kak Erlan. Tidak ada yang berubah, semuanya masih sama seperti tidak pernah terjadi tabrakan sedikitpun.
"Terima kasih, Tuhan." Aku merentangkan kedua tanganku seolah sedang memeluk mobil peninggalan kak Erlan.
Tiba-tiba aku teringat barang-barang yang aku tinggalkan di dalam mobil. Aku mencoba membuka pintu mobil yang ternyata tidak terkunci. Tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke dalam mobil dan melihat tas serta kotak hadiah yang di tinggalkan kak Erlan masih berada disana.
Air mataku tak kuasa menahan haru, semua benda peninggalan kak Erlan masih berada di tempatnya. Tak ada yang hilang kecuali sepatu yang di buang Daffin di tempat sampah rumah sakit.
Aku membuka kotak hadiah yang di beli kak Erlan di hari naas itu terjadi, boneka itu masih memakai kalung yang sama. Aku mengambil kalung itu dan memakainya di leherku.
"Terima kasih, Kak Erlan. Aca suka kalungnya. " ucapku penuh cinta seraya mengusap kalung yang telah terpasang di leherku.
***
Tanpa ku sadari hari sudah beranjak malam dan aku masih menangisi hadiah yang di berikan kak Erlan di dalam mobil. Hingga suara ponsel yang kehabisan baterai mengalihkan perhatianku.
Segera aku menghapus air mataku dan keluar dari mobil. Tak lupa membawa semua barang-barang berharga masuk ke dalam rumah. Aku langsung mengisi daya ponselku dan memeriksa isi ponselku. Ternyata ada banyak panggilan dari tante Ratih dan juga om Rama. Mereka pasti sangat mengkhawatirkan keadaanku.
"Nomor siapa ini?" gumamku saat menemukan sebuah nomor ponsel yang menghubungiku berkali-kali setiap harinya.
"Ini juga. Nomor ponsel si-" Aku mencoba mengingat pemilik nomor ponsel itu saat aku melihat fotonya terpasang disana. "Oh, dia polisi yang menangani kasus kak Erlan." ingatku.
Aku terus memainkan ponselku dan memeriksa beberapa panggilan dan juga pesan yang sempat terabaikan. Tidak banyak pesan yang tertinggal, hanya pesan dari tante Ratih yang mempertanyakan keberadaanku. Aku pun memutuskan untuk menghubunginya agar tante Ratih tak lagi khawatir.
__ADS_1
Tut... tut... tut...
Deringan keempat tante Ratih baru menjawab panggilan videoku. "Astaga, Aca! Darimana saja kamu, Sayang?" Wajah khawatir tante Ratih memenuhi layar ponselku.
Aku tak bisa mengatakan apapun, aku hanya menangis dan menatap tante Ratih yang tak bisa aku peluk. Sepertinya tante Ratih memahami perasaanku, dia hanya terdiam dan membiarkan aku menangis. Cukup lama kami saling menatap melalui layar ponsel masing-masing, isakan dan air mata yang mengisi percakapan kami malam itu. Mungkin operator seluler juga mulai bosan melihat drama kami, karena tiba-tiba saja panggilan terputus.
"Jahat sekali!!! Aku hanya butuh seseorang, kenapa kalian jahat padaku!!!" teriakku, memarahi ponselku yang kini menampakkan fotoku bersama kak Erlan.
Tak lama ponselku bergetar karena mendapat pesan dari tante Ratih.
Kembalilah ke kampung halaman, Sayang.
Om dan Tante yang akan menjaga Aca dan calon anaknya Erlan.
Senyum merekah di bibirku, memang itu yang aku inginkan sejak awal. Aku tidak ingin sendirian di sini dan hidup dalam imajinasi yang selalu membuatku berpikir jika kak Erlan masih hidup. Dan yang lebih penting, aku bisa menjauh dari Daffin dan semua tipu muslihatnya.
Aku mengetik sesuatu di layar ponselku dengan cepat dan di iringi senyum bahagia yang terus menghiasi wajahku. Hari-hari suramku akan berakhir. Aku akan memulai hidupku yang baru, kembali ke titik awal. Aku meletakkan ponselku yang masih menyala dan pergi menuju kamar tidurku untuk merapihkan sesuatu.
Baik, Tan. Aca akan kembali ke kampung halaman besok pagi-pagi sekali. Aca akan kembali untuk selamanya.
Hallo semuanya 🤗
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan juga tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇 sertakan juga votenya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😍😍
__ADS_1
Jangan lupa juga share... share... share... 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh