
Bangunan kokoh nan mewah yang selalu menjadi impianku di pagi hari saat aku terbangun. Namun, bangunan itu juga yang kini membuatku muak dan ingin segera terbebas darinya.
Aku bergegas keluar dari kamarku tepat setelah Rania keluar menuju dapur untuk membuatkan aku es krim. Sebenarnya, perasaan bersalah terus menggelayuti hatiku. Akankah gadis itu baik-baik saja jika aku pergi dari sini? Tapi aku juga tidak bisa mengorbankan hidupku dan juga calon anakku yang masih suci dan belum tahu apapun.
'Semoga Tuhan melindungimu, Rania.'
Sebelum keluar dari kamar, aku melepaskan sandal dan penjepit rambut yang aku kenakan. Beruntung hari ini aku memakai pakaian murah yang aku beli sendiri dan aku gunakan saat pertama kali memasuki rumah ini. Semua itu aku lakukan karena aku tidak ingin membawa apapun yang bukan milikku. Lebih baik aku bertelanjang kaki seperti ini, dari pada aku harus membawa barang yang di beli dengan uang Daffin. Aku tak ingin pria itu menghitungnya sebagai hutang dan membuatku semakin dalam terjebak pada permainannya.
Langkah kakiku hampir tak terdengar karena aku tak menggunakan alas kaki apapun. Dengan mudah aku melewati ruangan demi ruangan yang sepi tanpa seorang pun pelayan yang biasanya selalu sibuk di jam seperti ini. Aku sengaja memilih jalan memutar untuk menghindari dapur agar tak ketahuan oleh Rania.
Jantungku berdegup kencang selama aku berjalan menuju halaman depan. Sepertinya ini memang hari keberuntunganku, tak ada satu pun orang yang melihatku hingga aku sampai di gerbang depan dan melihat seorang penjaga yang sedang mengawasi keadaan sekitar.
'Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya perlu membuatnya pergi dari sana agar aku bisa melewati gerbang itu.'
"Berpikir, Ayasya! Berpikir." gumamku sembari terus mengamati sekitar.
Aku melihat sebuah pot bunga berukuran cukup besar dan mendorongnya dengan sekuat tenagaku agar terjatuh.
PRANGG...
Pot itu pun jatuh dan hancur. Tanahnya berserakan dan menimpa bunga yang indah.
'Maafkan aku, bunga.'
"Nyonya muda? Anda baik-baik saja." Penjaga bertubuh kekar itu berlari dan menghampiriku.
Aku menundukkan kepalaku dan mencoba untuk menangis. "Aku baik-baik saja. Tapi bisakah kau membantuku?" rengekku dengan wajah memelas.
"Tentu, Nyonya muda, apa yang bisa saya bantu?" Penjaga itu membungkuk hormat.
"Tolong ambilkan pot yang baru seperti ini di gudang! Aku harus membersihkannya sebelum Daffin pulang, atau dia akan menghukumku." pintaku, di barengi air mata yang menyanyat hati.
"Anda kembali saja ke dalam. Saya akan meminta pelayan untuk membersihkannya." saran penjaga itu dan hendak memanggil seseorang.
__ADS_1
"Jangan lakukan itu! Jika ada orang lain yang tahu, Daffin juga pasti akan tahu." Aku mencoba untuk memohon.
Penjaga itu terlihat bimbang. "Tapi, Nyonya muda -"
"Tolong aku! Kau tahu 'kan, Daffin sering sekali marah padaku. Apa kau tega melihatku di hukum olehnya?" Buliran air mataku begitu penurut, mengalir di saat yang tepat.
"Baiklah, Nyonya muda, saya akan mengambilkan pot di gudang. Anda tunggu disini sebentar." Akhirnya penjaga itu menyetujui keinginanku walau berat hati.
Berbeda dengan Rania yang langsung melesat ketika aku memintanya membuat es krim, penjaga itu sedikit menaruh curiga padaku. Dia menoleh sebelum masuk ke dalam rumah. Aku melambaikan tanganku padanya. Seolah aku berkata, "aku disini."
Setelah yakin aku masih berdiri di tempatku, penjaga itu pun masuk dan membiarkan aku seorang diri di luar. Aku langsung berlari dan membuka pintu gerbang yang kecil. Pintu itu tidak pernah di kunci karena ada pelayan dan beberapa jasa layanan antar yang datang setiap harinya.
"Yes!!! Aku berhasil." Aku bersorak dan menari-nari di depan pintu gerbang.
Aksiku berhenti begitu aku melihat sebuah bangunan mungil yang sangat aku rindukan. Beberapa hari ini, hanya tempat itu yang menjadi tujuan hidupku. Rumahku.
Aku melangkah, ingin segera masuk ke dalam rumahku yang hanya berjarak beberapa meter saja dari tempatku berdiri. Namun, aku sadar jika rumah Daffin di lengkapi CCTV. Aku tidak boleh membiarkan Daffin mengetahui keberadaanku.
"Aku harus memutar." gumamku, dan melangkahkan kakiku ke arah danau.
Aku harap dengan melakukan hal ini akan membuat Daffin berpikir jika aku pergi dari lingkungan ini. Itupun jika dia mencariku dan menyadari ketidakhadiran diriku.
Sebelum pergi, aku sempat melihat ke arah CCTV dan melambaikan tanganku. "Selamat tinggal, Plankton!" ucapku seraya melambaikan tangan dan memberikan kecupan perpisahan dengan tanganku.
"AKU BEBAS!!!"
***
Sudah beberapa meter aku melangkah, aku yakin CCTV di rumah Daffin tidak akan bisa menangkap gambarku lagi. Aku pun menyeberangi jalan dan berjalan dengan sangat cepat menuju rumahku sembari terus memegangi perutku yang terasa kram.
"Sabar, Baby, ini perjuangan kita agar bisa pulang ke rumah kita sendiri." ucapku berulang kali.
Seperti seorang pencuri, aku melompati pagar rumahku dengan hati-hati. Pagar rumahku ini memang tidak terlalu tinggi. Ini semua tidak akan terjadi jika aku tidak kehilangan kunci dan barang-barang berhargaku yang aku tinggalkan di dalam mobil.
__ADS_1
Aku menuju pintu dan merogoh sebuah pot yang berada di atas meja yang sengaja aku letakkan di teras depan.
"Ini dia." Aku mengangkat sebuah kunci dari dalam pot itu. "Syukurlah, aku pikir kau sudah kabur." ucapku, kemudian menciumi kunci itu.
Aku mengawasi keadaan sekitar, sepertinya Rania dan para pelayan di rumah Daffin belum menyadari kepergianku. Aku harus bergerak cepat sebelum mereka mencariku.
Dengan satu gerakan, aku membuka kunci dan langsung masuk ke dalam rumahku yang nyaman. Tempatku berteduh, tempat yang penuh yang dengan impian dan harapan.
Perasaan haru menyerbu saat aku menatap rumah yang sudah aku tinggalkan beberapa hari ini. Suasananya masih sama seperti saat aku meninggalkannya. Ada aroma kak Erlan di dalam rumah ini. Setiap sudut rumah ini menyimpan kenangan manis kak Erlan. Tak terasa air mata membasahi pipiku saat aku kembali teringat saat pertama kali aku dan kak Erlan memasuki rumah ini.
Flashback on...
"Selamat datang di istana mungil kita, Istri kecilku." ucap kak Erlan sembari membuka penutup mata yang dia ikatkan padaku.
Sebuah rumah yang hangat dan nyaman. Rumah yang selama ini selalu aku impikan dan berhasil di wujudkan oleh suamiku tercinta. Tak ada lagi yang bisa aku katakan. Aku bersyukur memiliki hidup yang sempurna seperti ini.
"Terima kasih, Kak." Air mataku tak terbendung dan aku langsung memeluk kak Erlan yang sedang menatapku penuh cinta.
"Aku mencintaimu, Ayasya Erlangga Kencana. Dan aku akan mencintaimu hingga nafas terakhirku."
Flashback off...
Kak Erlan benar-benar menepati janjinya. Dia mencintaiku hingga nyawa meninggalkan raganya. Hanya saja, itu terlalu cepat dan aku bahkan belum siap. Mengingat hal itu membuatku kembali lemah. Tubuhku bersandar di pintu dan lambat laun terjatuh ke lantai.
"Kak Erlan, Aca pulang ...."
Hallo semuanya π€
Jangan lupa tap jempolnya π dan tinggalkan jejak komentar kalian di kolom komentar πdan sertakan votenya π sebagai mood booster untuk author ambural kesayangan kalian π
Share... share... share... Jangan lupa ya π
I β€ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1