
Keharuan langsung menyeruak ketika aku memasuki ruangan tuan Kafeel, tempat ibu menunggu bersama Rania. Wajah lembut ibu di penuhi kekhawatiran, tapi Rania dengan setia duduk di samping ibu untuk menenangkannya.
"Ibu ...," Air mata mendahului senyumku begitu ibu menoleh dan menatapku cemas.
Naluri membimbingku untuk memeluk ibu dan merasakan kehangatan yang begitu aku dambakan selama ini. Hangatnya belaian tangan ibu memang tak pernah bisa di samakan oleh siapapun.
"Sayang ...," ucap ibu penuh kasih, lalu menciumi rambutku. "Semuanya akan baik-baik saja." lirihnya.
Aku membiarkan ibu menghujaniku dengan kasih sayangnya, walaupun sebenarnya aku tahu ibu melakukan itu karena dia berpikir aku telah gagal mengalahkan Reena.
"Kau sudah melakukan yang terbaik, Sayang, Ibu bangga padamu!" puji ibu, kekecewaan tersirat di wajahnya begitu aku melepaskan pelukanku. "Harta bukanlah segalanya! Yang terpenting sekarang Ibu bisa hidup bersama dengan putri Ibu yang cantik."
"Ibu ...," Senyum dan tangis menyatu di mata dan bibirku. "Aku menang, Bu! Aku mengalahkan mereka! Mereka yang sudah merebut semuanya dari kita." cicitku, emosi begitu meluap-luap di dadaku sehingga aku merasa kesulitan untuk mengeluarkan suaraku.
Ibu mengerutkan dahinya dan menatapku tak percaya. "Apa yang kau katakan, Sayang? Ini ...."
Aku mengangguk dengan mata berkaca-kaca menahan haru. Bibirku bergetar antara ingin menangis atau tertawa dan begitu banyak cerita yang ingin aku bagikan pada ibu.
Tak satu pun kata yang keluar, baik dari bibirku ataupun dari ibu. Kami hanya saling menatap kemudian tersenyum dan menangis bahagia.
Tangan hangat ibu menggenggam tanganku dan menciuminya. "Terima kasih, Tuhan! Semua ini terlalu indah."
Ibu memang benar! Semua ini terlalu indah. Di saat aku merasa duniaku runtuh ketika kak Erlan meninggalkan aku untuk selamanya. Di saat hidupku rasanya seperti neraka ketika Daffin menjebakku untuk menikahinya serta menjadikan aku sebagai selirnya. Dan di saat aku kehilangan harapan, ternyata takdir membawaku kembali ke kehidupan yang seharusnya menjadi milikku.
"Maya ...," Lirih suara seseorang menyebut nama ibu.
Aku dan ibu menoleh secara bersamaan. Disana, ada sosok tuan Kafeel yang baru saja memasuki ruangannya bersama dengan om Rei. Mereka di liputi kebahagiaan dan juga penyesalan yang tergambar jelas di matanya.
"Reyno ...," Sorot mata ibu seperti meminta tuan Kafeel untuk mendekat.
Tak perlu isyarat apapun lagi, kedua orang tuaku pun saling berpelukan. Mereka melupakan aku, putrinya yang telah lama hilang.
"Bisakah aku tahu dimana tempatku?" celetukku, ketika ibu dan tuan Kafeel masih larut dalam cinta mereka.
Senyuman mengembang di wajah ibu, dia menyeka air matanya dan mengulurkan tangannya padaku. "Kemari, Sayang! Tempatmu bersama ayah dan Ibu."
Sejenak aku berpikir, inikah saatnya aku menerima tuan Kafeel sebagai ayahku? Apakah semudah itu? Tidakkah semestinya dia mendapatkan balasan untuk keraguannya terhadap cinta ibu? Hah! Aku mulai dilema dengan pilihanku sendiri.
Tatapan mataku kini justru bertumpu pada sosok om Rei yang berdiri bagai patung, tak jauh dari tempatku berdiri. Bibirnya memang menyunggingkan senyuman, tapi aku bisa merasakan hatinya yang retak dan hanya tinggal menunggu kehancurannya saja.
__ADS_1
"Bisakah Om Rei saja yang menjadi ayahku, Bu?"
"Apa???"
***
"Hahahaha ...."
Perutku sudah mulai terasa kram karena terus tertawa sepanjang hari. Aku begitu bahagia melihat siaran berita di seluruh negeri yang mengabarkan bahwa Reena dan Anna adalah seorang penipu. Mereka bukanlah bagian dari keluarga Kafeel ataupun keluarga Stevano. Dan yang paling membuatku senang adalah dampak dari berita itu, dimana Reena dan Anna tidak akan berani menampakkan wajahnya dimanapun. Terlebih Reena, karirnya sebagai seorang model dan juga kehidupan sosialnya sudah pasti tidak akan bisa terselamatkan.
Inilah yang aku inginkan! Seluruh dunia mengetahui kebenaran tentang diriku dan juga Reena. Ya, dan sekarang aku mulai harus mencari cara untuk menghindari janji yang telah ku buat pada tuan Kafeel.
Flashback on ...
"Apa???"
Bukan hanya tuan Kafeel, tapi om Rei dan juga ibu terkejut dengan keinginanku yang berharap om Rei untuk menjadi ayahku.
Ibu melangkah mendekatiku dan mengelus pipiku dengan lembut. "Sayang, kau sudah dewasa. Jangan berpikir seperti seorang anak berumur lima tahun!"
Walaupun ibu berbicara dengan lembut, tapi aku tahu ada kemarahan dalam ucapan ibu. Aku bahkan melihat ibu melirik tajam ke arah om Rei yang masih belum tersadar dari rasa terkejutnya.
"Ibu mengerti, Sayang, tapi -"
Tuan Kafeel langsung menyela ucapan ibu. "Lily benar, Maya! Rasa kecewanya tidak akan semudah itu sirna. Kita harus memberikan waktu baginya."
Aku mencebik. "Aku tidak butuh waktu! Yang aku inginkan hanyalah seorang ayah yang bisa memberikan aku semua yang pernah hilang dari hidupku. Masa kecilku, masa remajaku, pernikahanku, cintaku, dan seluruh kebahagiaan yang tak pernah aku dapatkan!" sergahku, di iringi tetesan air mata yang dengan kurang ajarnya memperlihatkan sisi kelemahanku.
"Akan Ayah berikan semua itu padamu!" ucap tuan Kafeel yakin, dia bahkan meraih tanganku dan menatapku penuh harap. "Tolong berikan Ayah kesempatan untuk melakukan itu!" harapnya.
Bola mataku terfokus pada sosok pria tua di hadapanku. Dia ayahku! Dan aku tidak bisa merubah itu sampai kapanpun. Namun, ketika tatapanku beralih pada sosok om Rei hatiku rasanya mencelos mengingat betapa besar cinta om Rei untuk ibu. Astaga!!! Aku harus apa? Rasanya aku ingin menggali tanah dan bersembunyi di dalam lubang.
Aku menghela nafas dalam sebelum memberikan jawabanku. "Baiklah! Aku akan mempertimbangkan ucapanmu, tapi kau harus melakukan satu keinginanku yang belum kau penuhi."
"Apa itu, Sayang?" tanya tuan Kafeel, dahinya mengernyit karena rasa penasaran.
"Aku ingin seluruh dunia mengetahui kebenaran tentang aku dan Reena. Satu lagi, aku ingin mematahkan sayap Reena dan ibunya. Buat mereka mengerti bahwa tidak ada jalan bagi mereka untuk kembali ke keluarga Kafeel ataupun keluarga Stevano karena keduanya hanya milikku!"
"Sesuai keinginanmu, Lily! Tapi kau harus berjanji akan menerima Ayah jika semua yang kau inginkan telah terjadi." pinta tuan Kafeel, dia mengulurkan tangannya padaku sebagai sebuah persetujuan.
__ADS_1
Aku mengangguk pasti. "Baik, kita lihat saja nanti!"
Flashback off ...
"Apa kau tidak bosan melihat berita yang sama setiap harinya?" tanya Daffin, dia baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih meneteskan air.
Untuk sekilas aku menoleh, tapi kembali layar televisi yang sudah beberapa hari ini begitu menarik perhatianku. "Tidak! Aku suka beritanya."
Sofa yang aku duduki sedikit bergerak karena Daffin baru saja menjatuhkan tubuhnya di sampingku. Walaupun sebenarnya aku ingin mengacuhkan Daffin, tapi tatapannya membuat aku seperti seorang pencuri yang sedang di interogasi.
"Kenapa?" tanyaku sebal, seraya mematikan televisi dan beralih menatap Daffin.
"Kembalilah!" ucap Daffin singkat, tapi begitu menohokku.
Dahiku mengernyit. "Maksudmu?"
"Kembalilah menjadi dirimu!" ucap Daffin lagi, kali ini dia menciumi punggung tanganku dengan penuh cinta.
Keraguan dan ketakutan tiba-tiba menyergap hatiku. Segera aku menarik kembali tanganku untuk menjauhi Daffin.
"Katakan dengan jelas! Kau ingin menceraikan aku! Kau ingin aku kembali menjadi diriku yang dulu! Kau jahat, Daffin! Kau ingin membuatku kembali ke titik dimana aku menjadi janda ketika aku sedang hamil!" jeritku, di susul air mata yang terus mengalir di pipiku.
Daffin mengusap wajahnya kasar. "Ya Tuhan, dengarkan aku dulu, Nyonya Stevano! Bukan itu maksudku. Astaga!!! Hormon kehamilanmu semakin tidak terkendali."
Aku bisa mendengar Daffin mendesah kesal sebelum dia merengkuh tubuhku ke dalam dekapannya.
"Dengar! Aku memintamu untuk kembali menjadi dirimu sendiri bukan kembali ke hidup lamamu!" jelas Daffin, aku bisa merasakan jantungnya yang berdegup kencang ketika telingaku menempel di dadanya.
Kepalaku mendongak untuk melihat wajah Daffin. "Aku tidak mengerti."
"Nyonya Stevanoku yang polos dan bodoh!" ucap Daffin seraya mengecup keningku.
Dan aku? Aku hanya bisa terpaku dengan ejekannya yang tak bisa ku pahami.
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian iniπ
__ADS_1
I β€ U readers kesayangan kuhh