
YANG MERASA DI BAWAH UMUR LANGSUNG SKIP AJA YA π
Hawa panas menguar di seluruh tubuhku ketika Daffin mendaratkan bibirnya di atas bibirku. Tangan besarnya menahan kedua tanganku di atas kepala hingga aku tak bisa memberontak dan mendorong tubuhnya.
Pagutan bibir Daffin begitu dalam dan lembut. Aku tidak tahu apakah aku hanya besar kepala atau memang aku benar-benar merasakan cinta Daffin yang menggebu-gebu kepadaku.
Sebelah tangan Daffin menahan pinggulku dan mengangkatnya agar tubuhku menyamai tinggi tubuhnya.
"Hah... hah... hah ...," Nafasku tersengal-sengal ketika Daffin melepaskan pagutan bibirnya.
"Kau menggemaskan," seloroh Daffin sembari mengelap bibirku yang basah dengan jari besarnya. "Jangan berbohong atau kau akan segera berjumpa dengan jhonny!"
"Jhonny? Siapa dia?" Aku mengerutkan dahiku hingga kedua alisku hampir menyatu.
Deretan gigi Daffin nampak jelas dari tempatku memandang. Dia tertawa hingga terbahak-bahak mendengar pertanyaanku.
"Kau ingin tahu?" tanya Daffin sembari mendekatkan bibirnya di telingaku. "Ayo, aku pertemukan kau dengannya!"
***
Semburat cahaya mentari menelusup melalui celah tirai dan menimpa wajahku. Dengan malas aku membuka mataku dan merasakan sesuatu menimpa perutku.
Aku mengucek mataku agar mau terbuka lebih lebar dan melihat sebuah tangan besar sedang memeluk tubuhku, hingga aku menoleh dan melihat dada bidang Daffin tepat berada di belakang kepalaku sedangkan bibir Daffin menempel di puncak kepalaku.
Astaga!!! Posisi macam apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku sangat panik dan lebih panik lagi ketika aku melihat tubuh kami berdua hanya berbalut selimut, tanpa sehelai benang apapun yang membatasi tubuhku dengan tubuh Daffin.
"Aaaarrrggghhh!!!" teriakku, setengah tercekat karena entah kenapa kerongkonganku terasa kering seolah habis berorasi semalaman.
Perlahan, mata biru itu terbuka dan menatapku bingung. Namun, tiba-tiba senyumnya mengembang ketika menatap sesuatu yang menyembul dari balik selimut yang menutupi tubuh kami berdua.
"Kau sedang menggodaku lagi, My Starfish?" Sorot mata Daffin di penuhi hasrat yang membuatku merinding tak karuan.
"APA MAKSUDMU!!!" teriakku sembari merubah posisiku menjadi duduk bersandar.
"Tidak perlu berteriak! Apa kau tidak lelah sudah berteriak semalaman?" tanya Daffin, kini sebelah tangannya sudah menopang kepalanya.
Flashback on...
"Daffin! Hentikan! Aku mohon ... aku sudah tidak sanggup."
__ADS_1
Entah sudah berapa kali aku memohon pada Daffin agar menghentikan aktivitasnya, tapi pria itu justru semakin terpacu untuk memperkenalkan Jhonny padaku.
"Bu- kankah kau ingin menge- nal ... Jhonny?" tanya Daffin, nafasnya terengah-engah.
Sungguh ini adalah hari paling naas dalam hidupku. Bukannya aku mendapatkan buku nikah palsu itu, tapi aku malah berkenalan dengan si Jhonny terkutuk itu.
Meskipun kami sudah berkenalan hingga berjam-jam, tapi si Jhonny enggan tidur dan terus terbangun hingga aku tak sanggup lagi untuk meladeninya.
Hentakan demi hentakan di lakukan Daffin untuk mengalahkanku. Meskipun ini bukan pengalaman pertama bagiku karena aku sudah pernah melakukannya dengan kak Erlan, tapi aku tidak pernah selemah ini. Atau mungkin sebenarnya Daffin lah yang terlalu kuat dan sulit di taklukkan.
"Daffin!!!" teriakku lagi, aku merasakan sesuatu keluar dari bawah sana untuk yang kesekian kali.
"Lagi?" bisik Daffin, mata birunya sudah di penuhi kabut nafsu.
Aku memejamkan mataku dan menggelengkan kepalaku sebagai jawaban dari pertanyaan Daffin.
Bagaimana mungkin? Ini sudah hampir tiga jam sejak Daffin membawaku ke kamar tidurnya. Apakah dia baru saja mengkonsumsi formalin? Entahlah, yang jelas aku sudah tidak bisa merasakan tubuhku lagi.
"Ahh ...," Satu hentakan lebih dalam di lakukan Daffin bersama dengan jatuhnya tubuh besar itu menimpa tubuh mungilku. "Aku mencintaimu, Ayasya Daffin Stevano." bisiknya dengan nafas terengah-engah.
Flashback off...
Aku yakin sekali, jika wajahku saat ini sudah seperti udang rebus. Di tambah Daffin yang terus saja menatapku tanpa berkedip sedikitpun.
"Aku ingin sekali mencungkil matamu itu," ketusku pada Daffin yang masih menatapku.
"Lakukan!" jawabnya singkat.
"Aku juga ingin mencabuti bulu di dadamu itu,"
"Aku siap." Daffin membusungkan dadanya.
Aku mulai khawatir dengan tingkah anehnya. "Sepertinya kau butuh obat penenang,"
Tiba-tiba, Daffin meraih tubuhku dan mendudukkan tubuhku di atasnya. Aku sempat meronta, tapi Daffin menahan pinggulku dan mengunci tubuhku disana.
Ada rasa tidak nyaman saat aku merasakan sesuatu mengganjal di bawahku. Namun, hal itu justru menarik senyum nakal di bibir Daffin.
"Sepertinya Jhonny menyukaimu, lihat! Dia bangun dan ingin bertemu denganmu lagi, My Starfish." rayu Daffin, dengan wajah yang sama yang ia tunjukkan semalam.
__ADS_1
"Tidak!!!" tolakku.
"Ayolah!"
"Tidak!!! Aku sudah lelah!" Aku sudah menyingkirkan tangan Daffin dan bersiap untuk turun dari atas tubuhnya.
"Baby, one more time! I will give you everything you want." rengek Daffin, dan itu membuatku langsung menatapnya.
"Kau tidak sedang membodohiku, kan?" tanyaku memastikan.
Di luar dugaanku, Daffin justru beringsut ke atas dan mendudukkan tubuhnya tanpa menurunkanku.
Aku merasa sedikit risih dengan posisi kami yang seperti ini, tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun karena Daffin terus menahan pinggulku.
Mata biru Daffin menatap mataku. "Aku memang sudah menjebakmu untuk menikah denganku, tapi aku tegaskan padamu bahwa aku tidak pernah menyesal."
"Kau -"
CUP...
Satu kecupan sekilas menghentikan perlawanan yang bahkan belum aku mulai. Ah, wajahku rasanya terbakar!
"Dengarkan aku dulu, My Starfish!" Daffin menangkup wajahku dengan kedua tangannya, kemudian kembali menahan pinggulku. "Kau harus tahu, mulai saat ini semua hal yang menjadi milikku dan ada pada diriku, semuanya milikmu. Hanya milikmu." tutur Daffin kemudian.
Benarkah yang dia ucapkan? Apakah karena aku sudah melayaninya, maka dia rela menyerahkan segalanya padaku?
"Berbuallah yang masuk akal, Daffin! Aku hanya istri keduamu. Tidak mungkin aku mendapatkan segalanya karena kak Reena lah yang berhak atas semua hal yang kau miliki. Dan ingat satu hal ini! Aku tidak menukar diriku dengan harta yang kau miliki." tegasku.
"No, My Starfish! Aku tidak sedang menukar dirimu dengan harta. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa mulai saat ini aku milikmu dan kau milikku. Tidak ada orang lain di antara kita, termasuk Reena." jelas Daffin, sorot matanya penuh keyakinan.
"Kau sudah kehilangan akal!" Aku berusaha untuk turun, tapi Daffin semakin kuat menahanku.
"That's right! Karena kau sudah mengambil otakku dan menukarnya dengan otak udang."
Hallo semuanya π€
Hareudang 'ya chapter kali ini π Author aja sampe kipasan π
Jangan lupa di tap jempolnya πdan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
__ADS_1
I β€ U readers kesayangan kuhh