Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
HADIAH TUHAN


__ADS_3

Kedatangan pasangan Stevano itu cukup membuatku kesal dan ingin rasanya aku langsung mengusir mereka, begitu mereka memasuki rumahku.


"Selamat siang!" Seorang wanita bertubuh tinggi dan langsing bak model, menyapaku sembari membuka kacamata hitam yang menutupi matanya.


Jujur saja, aku cukup terkejut melihatnya karena dia sangat cantik dan menawan. Dilihat dari sudut manapun, dia sangat luar biasa dan sempurna.


Aku segera bangkit untuk membalas sapaannya. "Siang," jawabku, masih dengan wajah sembab dan suara yang masih bindeng karena terus menangis.


"Aku turut berduka cita atas kematian tuan Erlangga," ucapnya sembari membungkukkan sedikit badannya dan memelukku.


Awalnya aku merasa agak sedikit canggung, tapi aku langsung membalas pelukannya karena aku tidak ingin menyinggung perasaannya.


Ketika berada di pelukan wanita cantik itu, pandanganku langsung tertuju pada sosok pria menyebalkan yang berdiri di belakang kami dengan angkuhnya.


Aku melihatnya melangkah maju dan duduk di depan jenazah kak Erlan yang sudah siap untuk di semayamkan.


"Maaf, Nyonya," ucapku ketika melepaskan tubuhku dari pelukan wanita itu.


Wanita itu tersenyum kemudian mengikuti pria menyebalkan itu duduk di hadapan jenazah kak Erlan.


Seingatku, mereka tidak mengenal kak Erlan bahkan tidak pernah bertemu kak Erlan. Kecuali, saat di tepi danau pagi itu. Dan ah, saat makan bubur ayam. Hanya itu, sepertinya.


Namun, aku sangat yakin jika tuan... Tuan siapa namanya, ya? Aku lupa. Ah, tuan Stevano tidak mengenal kak Erlan, tapi kenapa dia bersikap seolah mengenal kak Erlan dengan baik. Dan, apa yang dia katakan? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.


Tidak lama kemudian, mereka berdiri dan kembali menatapku. "Sekali lagi, kami turut berduka cita atas kepergian tuan Erlangga yang sangat mendadak ini. Jangan sungkan meminta bantuan kepada kami jika kamu membutuhkan apapun!" ucap wanita tadi, aku tebak dia adalah wanita malang yang harus menghabiskan sisa hidupnya bersama pria menyebalkan itu.


"Terima kasih, Nyonya," jawabku dengan sedikit senyum yang di paksakan.


Sebelum mereka pergi, aku sempat menyadari satu hal. Jika ada yang terus menatapku sejak tadi.


***


Semua prosesi pemakaman kak Erlan telah selesai dan berjalan dengan lancar. Tentu saja, karena kak Erlan orang baik maka Tuhan pun melancarkan segala hal yang berhubungan dengan kak Erlan.


Aku masih terduduk di meja kerja kak Erlan, sambil terus mengusap-usap foto pernikahan kami berdua yang terbingkai manis di atas meja.


Aku teringat ucapan kak Erlan. "Aku meletakkan fotomu di semua benda yang sering berada di dekatku, karena hal itu akan membuatku selalu merasa bahagia dan bersyukur telah di berikan hidup yang sangat indah di dunia ini oleh Tuhan."

__ADS_1


Lagi-lagi, air mataku berselancar bebas di pipiku ketika aku mengingat hal-hal manis yang aku lalui bersama kak Erlan.


Memang usia pernikahan kami barulah seumur jagung, tapi kebersamaanku dengan kak Erlan sudah berlangsung sejak kami masih kecil. Banyak sekali kenangan manis yang kami lalui bersama, bahkan terlalu banyak hingga tidak sanggup lagi aku tampung di dalam ingatanku.


Tok... tok... tok...


Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dan menyadarkanku dari lamunan tentang kak Erlan dan segala kenangan manis yang dia tinggalkan.


"Aca?" Terdengar suara tante Ratih dari balik pintu.


Aku segera menghapus air mataku dan beranjak ke pintu. "Iya, Tan," jawabku sembari membuka pintu.


"Tante sama Om mau pamit." ucap tante Ratih yang langsung membuatku seperti daun yang terkena hembusan angin.


'Yang benar saja!'


"Tan- Tante mau pergi juga?" tanyaku terbata, tak percaya jika aku benar-benar di tinggalkan seorang diri.


"Maaf, Sayang, tapi kamu 'kan tahu kalo anak-anak di panti tidak ada yang menjaga." tutur tante Ratih, mencoba memberi penjelasan padaku.


"Aca ikut Tante aja, ya?" tanyaku dengan air mata yang mulai mendukung dramaku lagi.


Aku mendengar tante Ratih menghela nafas, kemudian membelai rambutku. "Sayang, kalau kamu ikut Tante nanti siapa yang menjaga rumah ini?" lontar tante, pandangannya berputar memandangi semua sudut.


"Kita jual saja!" celetukku di sela-sela tangisan yang mulai mereda.


"Kalau begitu, kamu tidak menghargai usaha Erlan untuk mendapatkan rumah ini hanya karena ingin membahagiakan kamu." tutur tante Ratih, yang entah mengapa aku rasa terdapat sedikit kekecewaan pada ucapannya.


"Maaf, Tan," ucapku lirih, menyadari kesalahanku.


Tante Ratih tersenyum simpul dan langsung memelukku. "Hiduplah dengan baik, kepergian Erlan bukan akhir dari segalanya. Jaga dirimu dan juga anak kalian yang belum lahir! Erlan kehilangan nyawanya karena menyelamatkan seorang anak, maka jangan biarkan dia kehilangan anaknya."


"Baik, Tan, Aca janji!"


***


Hari demi hari kulewati seorang diri setelah kepergian kak Erlan, terkadang aku merasakan sosok kak Erlan masih berada di dekatku.

__ADS_1


Seperti saat aku bangun tidur, aku merasa seolah kak Erlan sedang menatapku dengan satu tangan menopang kepalanya. Tatapan teduhnya, senyuman manisnya dan sentuhan hangatnya masih bisa kurasakan.


Terkadang aku berpikir, apakah aku berhalusinasi? Apakah aku mengalami gangguan mental? Tidak... Tidak...!!! Aku harus baik-baik saja demi anakku!


Aku menghabiskan sarapanku dan bersiap-siap untuk keluar rumah, karena kemarin aku baru saja di hubungi oleh pihak kepolisian untuk mengambil mobil kak Erlan yang masih terparkir di pusat perbelanjaan tempat dimana kak Erlan terjatuh.


Dengan langkah gontai aku keluar rumah dan menaiki taksi online yang sudah aku pesan sebelumnya. Sekilas aku melihat keributan yang terjadi antara tuan dan nyonya Stevano ketika mobil yang aku tumpangi memutar balik dan melewati rumah mewah mereka.


'Apa yang diributkan oleh orang yang memiliki segalanya seperti mereka?'


***


Aku masih menangis di dalam mobil kak Erlan ketika aku membuka kotak yang di serahkan oleh petugas keamanan, kotak itu di titipkan oleh kak Erlan padanya tepat sebelum insiden itu terjadi.


Di dalam kotak tersebut ada sebuah boneka beruang kecil dengan boneka beruang yang lebih kecil lagi berada di pangkuannya. Di leher beruang tersebut terdapat sebuah kalung dengan inisial A dan E yang terukir dengan sangat indah. Aku mengeluarkan boneka itu dan menemukan sebuah surat di dasar kotak.


Selamat ulang tahun, Acaku sayang ❤


Terima kasih sudah lahir ke dunia ini dan mau melahirkan anakku.


Aku mencintaimu, Istri kecilku❤❤❤


Tulisan tangan kak Erlan bagai garam yang di taburkan di lukaku. Perih, rasanya sangat perih. Hingga aku ingin mati saja daripada harus merasakan kepedihan ini.


Benar. Kak Erlan sudah memberikan kado yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya di dunia ini. Kepergian dirinya untuk selamanya.


Hallo semuanya🤗


Maaf ya author baru bisa up karena kemarin author di culik alien ganteng dan di bawa ke planet mars 😂


Semoga kalian mau memaafkan author yang amburadul ini dan tetap stay di kisahnya Ayasya ya 😘


Jangan lupa jempol 👍 dulu ya readersku sayang dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇


Satu lagi, tolong votenya ya 😍😍


I❤U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2