Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
BIBIR PEDAS


__ADS_3

Hubungan yang di bangun Daffin di atas kebohongan dan penipuan terhadapku hanya akan membuat kami berdua terbelenggu dalam rasa yang tak jelas arahnya. Aku bisa melihat dengan jelas di mata Daffin, jika dia tak main-main ingin memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami kepadaku yang dia anggap sebagai istri keduanya. Aku sendiri masih tidak bisa percaya jika Daffin memang sudah benar-benar menikahiku dan menjadikanku sebagai istri keduanya.


"Jangan lakukan ini, Daffin! Aku mohon!"


Daffin terus merangsek ke tempat tidur dan membuatku semakin terpojok. Wajahnya sudah menegang karena amarah yang sedang menguasai pikirannya. Sebenarnya, aku tidak ada masalah untuk melakukan kegiatan suami istri seperti ini dengannya. Namun, tidak dengan kondisi seperti sekarang. Dimana Daffin di kuasai amarah dan aku begitu merasa tertekan olehnya. Dan satu lagi, aku pasti akan suka rela menyerahkan diriku padanya walaupun aku sangat membencinya jika Daffin memang benar telah menikahiku.


Daffin tidak terlihat akan menghentikan niatnya, dia terus saja mengikis jarak di antara kami. Dia bahkan tidak memperdulikan teriakanku yang membuat telingaku sendiri sampai berdengung.


"Daffin! Daffin! Plankton, aku mohon!!!" Tanganku sekuat tenaga menahan tubuh Daffin yang akan menimpaku.


"Plankton?" Suara Daffin begitu dingin dan datar. "Kau memanggil nama pria itu dengan mesra, tapi kau memanggil suamimu sendiri Plankton." bisik Daffin di telingaku.


Aku bisa merasakan sentuhan tangan Daffin di setiap helai rambutku, dia memainkan jarinya disana. Andai kak Erlan yang melakukannya, aku pasti akan sangat bahagia.


"Ma- Maafkan, aku!" Setiap kata yang keluar dari mulutmu selalu terbata karena aku begitu ketakutan.


Meskipun aku terus memohon, tapi Daffin tetap saja meneruskan apa yang telah dia mulai. Daffin bahkan tidak menghiraukan permintaan maafku yang tulus meski sedikit terpaksa. Aku berusaha sekuat tenaga menahan air mataku hingga tangan Daffin mulai menyusuri wajahku.


"BERHENTI, DAFFIN!!! Aku mohon!" Air mataku lagi-lagi meluncur bebas untuk mewakili rasa takutku yang luar biasa.


Aku merasakan tangan Daffin menyentuh daguku dan sedikit mengangkatnya ke atas sehingga membuat pandangan kami langsung bertemu. "Kau membiarkan pria lain menyentuhmu, tapi kau menolak suamimu sendiri."


Ada setitik rasa sakit hati yang aku rasakan dari ucapan Daffin. Aku pun mencoba untuk menyanggah ucapannya. "Tidak. Bukan seperti itu, Daffin. Aku- Aku janji! Aku tidak akan menyentuh pria manapun selain dirimu."


'Perjanjian bodoh apa yang telah ku buat ini, Tuhan?'


Penyesalan memang selalu datang di akhir, tapi aku tidak menyangka jika aku sampai berbuat bodoh seperti ini hanya karena rasa takut yang mengintimidasi diriku.


Aku melihat seulas senyum tipis di sudut bibir Daffin sebelum bibir itu kembali bertemu dengan bibirku yang berharga. Cukup lama Daffin mengecup bibirku meskipun aku tidak memberikannya respon sama sekali.

__ADS_1


"Ingat janji yang telah kau buat sendiri!" bisik Daffin saat dia menjauhkan bibirnya dariku.


Nafasku sampai terengah-engah karena jantungku yang berpacu begitu cepat. Akumulasi rasa takut dan serangan mendadak dari Daffin membuat jantungku terpaksa berolahraga cukup lama.


Setelah mengatakan hal itu, Daffin mengenakan pakaiannya yang tadi di bawakan oleh Shaka. Sungguh pemborosan sekali. Kenapa dia tidak memakai saja pakaian yang teronggok di lantai yang sebelumnya dia lemparkan?


Aku masih terpaku di sudut tempat tidur dan memperhatikan Daffin yang sedang berpakaian. Aku akui Daffin sangat sempurna. Dia memiliki tubuh tinggi dan atletis. Ah, mataku sudah ternodai oleh perutnya yang seksi. Garis wajah Daffin juga sangat maskulin dan menawan. Andai dia bukan Daffin Stevano, aku pasti jatuh cinta padanya. Kharisma dan wibawa yang dia tunjukkan membuat siapapun akan langsung menyukainya kecuali aku yang selalu di perlihatkan sisi terburuk dalam dirinya.


"Kau begitu mengagumiku." Aku tersentak menyadari Daffin sedang melihat ke arahku.


Aku rasa saat ini pipiku pasti memerah karena malu tertangkap basah sedang menatapnya. "Dalam mimpimu!"


Saat ini Daffin sudah memakai pakaiannya dengan lengkap, hanya dasinya yang belum terpasang. "Kemarilah dan pakaikan ini!" Daffin mengarahkan dasinya padaku.


"Tidak mau! Aku bukan pelayanmu." tolakku tanpa menatap Daffin yang pastinya sedang memelototi diriku.


"Kemarilah!" ulang Daffin. "Atau kau ingin aku kembali bergabung denganmu?"


Tubuh Daffin begitu tinggi, aku sampai harus mendongak ketika memasangkan dasi untuknya. "Apa kau suka makan tiang listrik? Kenapa tubuhmu begitu tinggi?"


Aku mendengar Daffin terkekeh ketika aku mengeluh. Namun, tanpa di duga Daffin berlutut di hadapanku dan membuat tubuhnya menjadi sama tinggi denganku. Aku begitu terperangah dengan sikapnya hingga aku tak bisa berkata-kata.


"Apa yang kau tunggu?" tanya Daffin, ia melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku akan terlambat jika terus menunggumu." lanjutnya.


"Ah, iya."


Meskipun muncul kecanggungan di antara kami berdua, tapi aku bisa menyelesaikan tugas pertamaku sebagai istri Daffin. Ya, anggaplah seperti itu. Sepertinya aku memang harus membiasakan diriku dengan skenario Tuhan yang baru.


"Sudah." Aku memalingkan wajahku begitu dasi itu melingkar sempurna di leher Daffin dan membuatnya semakin tampan.

__ADS_1


'Astaga!!! Apa yang kau pikirkan, Ayasya?'


Daffin kembali ke posisinya semula. "Lumayan." ucapnya kemudian setelah memeriksa hasil kerjaku.


"Apa?" Aku menatapnya tak percaya dan tak terima hanya mendapat ucapan "lumayan" darinya.


"Biasakan dirimu untuk melakukan hal ini. Belajarlah menjadi istri yang baik, jika kau ingin menjalani hidupmu dengan nyaman."


Itu nasihat atau ancaman? Entahlah, yang pasti itu terdengar sangat tidak nyaman di telingaku. Namun, aku tidak berniat memperpanjang urusanku dengan pria tiran sepertinya.


"Baiklah."


"Ternyata seperti ini cara menjinakkanmu." lontar Daffin sebelum dia berbalik menuju pintu.


"Apa maksudmu? Kau benar-benar menguji kesabaranku!" teriakku, sudah tidak tahan lagi dengan semua penghinaan Daffin.


Ternyata ucapanku kali ini mampu mengusik Daffin, dia menghentikan langkahnya dan menoleh kepadaku. "Aku tidak pernah melihat kesabaranmu. Semoga aku di beri kesempatan untuk merasakan sendiri kesabaranmu."


"Kau!!!"


Langkah kaki Daffin kembali mendekat padaku. "Jangan memancingku untuk kembali menyicipi bibir pedasmu itu."


Sentuhan jari Daffin mengulas bibirku di barengi seringai mengerikan yang menghiasi wajahnya. Aku hanya diam terpaku mendapat perlakuan seperti itu darinya, hingga Daffin keluar dari kamarku dan membiarkan aku terbakar emosi karena ulahnya.


"Dasar Plankton sialan! Menyebalkan!!!"


Hallo semuanya πŸ€—


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2