Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
TERBUKA


__ADS_3

"Kau bukan ayahku! Aku sudah memilih, dan aku akan meminta pada Tuhan agar menjadikan om Rei sebagai ayahku."


Aku cukup terkejut ketika om Rei menyentakkan tangannya dan menjauh beberapa langkah dariku.


"Apa yang kau katakan, Lily?" tanya om Rei, dia tidak terlihat senang ketika aku mengatakan hal itu.


"Aku mengatakan apa yang aku inginkan, Om. Selama ini, aku selalu bermimpi memiliki ayah yang tampan dan baik seperti dirimu. Lagipula, kau mencintai ibuku. Apa salahnya jika kalian menikah dan menjadi orang tua yang lengkap untukku?" ocehku, besar harapanku agar om Rei mengabulkan keinginanku.


"Tidak mungkin, Lily!" jawab om Rei, seperti sebuah petir menyambar telinga dan hatiku.


"Kenapa, Om?" tanyaku lemas, susah payah aku bertanya karena hatiku sudah mulai kehilangan harapan.


Aku merasakan sebuah tangan memegang bahuku dan memaksaku untuk menoleh.


"Karena Ayah masih sangat mencintai ibumu. Tidak akan ada laki-laki lain dalam hidup ibumu selain Ayah." ucap tuan Kafeel, aku bisa melihat sikap keras kepala dan kesombongan dari caranya berbicara.


Bibirku mencebik. "Kau sungguh serakah, Tuan Kafeel! Kau menginginkan ibuku, tapi kau menyakitinya dengan menyimpan wanita lain di dalam rumahmu. Kau juga memiliki seorang putri yang kau berikan seluruh hartamu padanya. Kau bahkan tidak menyisakan sedikitpun untukku!"


Terdengar kekehan dari tempat Daffin berdiri. Benar saja! Plankton menyebalkan itu sedang menertawakan aku, entah apa yang begitu lucu menurutnya.


"Diam kau, Plankton! Membuatku kesal saja." bentakku seraya melipat kedua tanganku di dada.


Langkah besar Daffin membuatnya hanya berjarak beberapa centi saja dariku. "Aku rasa sikap eleganmu hanya bertahan beberapa saat saja. Jika tahu akan seperti ini, aku tidak akan membawamu keluar dari ruang rapat itu."


"Aku tahu kapan aku harus bersikap elegan dan kapan harus melawan, Tuan Stevano!" sinisku.


"That's good! Kau memang terlahir sebagai nyonya Stevano." celetuk Daffin, kemudian mendaratkan bibirnya sekilas di bibirku. "Silahkan lanjutkan perdebatan antara ayah dan anak kalian! Aku janji hanya akan menjadi penonton setia." ocehnya seraya mengambil tempat di sofa.


Aku memberengut sempurna dan melemparkan tatapan tajam pada Daffin seraya terus melontarkan kalimat tanpa suara. "Awas kau nanti! Aku akan membalasmu, Plankton!"


Sialnya, Daffin justru terpingkal-pingkal sehingga suasana yang awalnya tegang menjadi sedikit canggung karena ulahnya.


"Maaf ... maaf! Tuan Kafeel, maksudku Ayah, putrimu benar-benar selalu membuatku bahagia." ungkap Daffin, setelah dia berhasil meredakan tawanya dan kembali duduk di sofa dengan kaki menyilang.


Tuan Kafeel tersenyum tipis dengan mata yang berkaca-kaca. "Kau benar, Daffin! Putriku selalu membawa kebahagiaan untuk siapapun."

__ADS_1


Aku mendengus kesal. "Putri yang mana maksudmu?"


"Tentu saja kau, Lily! Karena hanya ada satu putri di keluarga Kafeel, yaitu putrinya Maya." sergah om Rei, dia akhirnya bicara setelah hanya terdiam menyaksikan semua yang terjadi.


Kedua alisku menukik tajam. "Reena?"


Om Rei mengambil sebuah berkas yang tergeletak di meja dan menyerahkannya padaku. "Di situ tertulis bahwa Reena bukanlah putri kandung dari ayahmu. Dia bahkan bukan putrinya Anna karena wanita itu di nyatakan mengalami infertilitas."


Aku membolak-balikkan kertas yang ada di tanganku dan semakin tidak mengerti ketika aku melihat sebuah laporan keuangan yang menyatakan bahwa ibunya Reena terlibat penggelapan dana perusahaan.


"Aku tidak mengerti!" Aku melemparkan berkas itu ke atas meja, tempat sebelumnya berkas itu berada.


Seringai tipis tertarik di sudut bibir Daffin ketika dia mengambil berkas yang aku lemparkan tadi dan memintaku untuk duduk di sampingnya.


"Kapan otakmu ini membesar? Hah!" Daffin menyentil dahiku dengan cukup keras ketika aku sudah berada di sisinya.


Aku mengusap dahiku karena terasa panas. "Otakku sudah seperti ini sejak lahir, sesuai dengan ukuran tubuhku."


Mata biru itu mengamati tubuhku dari sudut matanya. "Ukuran tubuhmu sudah membesar, kalau begitu seharusnya otakmu juga membesar, Nyonya Stevano!"


"Tenanglah! Aku tetap mencintaimu walaupun kau berubah menjadi ikan paus." seloroh Daffin, matanya tetap terfokus pada berkas yang ada di tangannya.


Ketika aku baru saja membuka mulut untuk membalas ejekan Daffin, pria itu sudah mengangkat tangannya dan menunjukkan sebuah catatan padaku.


"Lihat! Disini tertulis sejumlah dana yang begitu besar hilang begitu saja dari laporan keuangan sejak ibunya Reena bergabung ke dalam perusahaan. Dia juga tertangkap basah bekerja sama dengan rival ayahmu untuk membocorkan rahasia perusahaan." jelas Daffin, dia mengatakan banyak hal setelah itu yang benar-benar tidak aku mengerti.


"Intinya Reena dan ibunya pengkhianat!" lontarku, begitu Daffin selesai menjelaskan.


Daffin terkekeh. "Kau selalu saja menggemaskan! Bisakah kau menyaring dulu ucapanmu? Aku sudah memperhalus semuanya dan kau membasahinya lagi hingga menjadi sebuah gumpalan kembali."


"Jika aku menyaringnya, maka tidak akan ada kata yang keluar dari mulutku." hardikku, dengan bibir mengerucut.


"Baiklah, Nyonya Stevano selalu benar!" ucap Daffin menyerah.


Senyuman kemenangan mengembang di bibirku sebelum aku beralih menatap om Rei. "Om, jika ibunya Reena tidak bisa memiliki keturunan, lalu siapa orang tua Reena? Dan bagaimana dia bisa menjadikan Reena sebagai putri dari keluarga Kafeel?"

__ADS_1


Sebelum menjawab pertanyaanku, pandangan om Rei dan Daffin beradu seolah sedang berkomunikasi.


"Anna begitu terobsesi untuk menjadi nyonya di keluarga kaya. Dia melihat hidup ibumu yang sempurna dan hanya memiliki satu kekurangan, yaitu belum di karunia seorang anak meskipun sudah bertahun-tahun menikah dengan ayahmu. Mungkin ibumu terlalu baik, hingga dia membiarkan Anna tinggal bersama dengannya dan menjebak ayahmu untuk menghabiskan malam dengannya. Tak perlu waktu lama, Anna mengelabui seluruh keluarga Kafeel dengan mengatakan bahwa dia mengandung anak dari ayahmu. Dia benar-benar wanita yang licik. Dia bahkan berhasil membodohi ayahmu ketika dia mengatakan akan melahirkan di kampung halamannya karena tak ingin mempermalukan Maya. Nyatanya dia kembali dengan membawa seorang putri dan mengatakan jika anak itu adalah hasil dari hubungannya dengan ayahmu. Anna sudah menyiapkan semuanya dengan matang. Dia juga berhasil lolos saat ayahmu ingin melakukan tes DNA menggunakan kelembutan hati ibumu." jelas om Rei, sesekali matanya melirik pada ibu yang tubuhnya mulai bergetar menahan tangis.


"Cih! Kau memang bodoh, Tuan Kafeel!" umpatku kesal. "Lalu, siapa orang tua kandung Reena, Om?"


Om Rei mengeluarkan beberapa lembar potret yang menunjukkan Reena sedang bersama sepasang lansia yang tengah berkebun di ladang.


"Mereka adalah orang tua kandung Reena, yang tidak lain adalah kakak dari Anna." jelas om Rei, tangannya menunjuk ke wajah sepasang lansia itu.


"Jadi, Reena sudah tahu jika dia bukan putri dari keluarga Kafeel?" tanyaku, semakin penasaran dengan kisah wanita yang pernah membuatku hidup dalam nestapa.


"Benar! Dan hal itu pertama kali di sadari oleh Daffin." jawab om Rei seraya melemparkan senyuman penuh arti pada Daffin.


Tatapan om Rei membimbingku untuk menatap Daffin, begitu juga dengan kedua orang tuaku. Mereka sepertinya juga sama seperti diriku yang tidak tahu apapun.


"Sebenarnya, aku mulai curiga dengan sikap Reena yang tiba-tiba menjadi pemabuk. Dia selalu mengatakan hal yang sama bahwa tidak ada yang mengerti dirinya dan posisinya. Aku pikir mungkin itu karena masalah keturunan, maka aku pun tidak mencari tahu lebih lanjut. Namun, aku baru menemukan titik terang ketika aku menemukan hasil check up Reena yang menyatakan bahwa golongan darahnya berbeda dengan ayah dan juga ibunya. Aku meminta seseorang untuk mengawasi gerak-geriknya dan menemukan fakta jika Reena sudah beberapa kali pergi ke kampung halaman ibunya. Sebenarnya saat itu aku ingin langsung mengungkapkan kebenaran tentang Reena, tapi sayangnya aku harus mengurus istriku yang nakal karena dia suka sekali pergi dari rumah." Daffin mengerlingkan matanya padaku. "Dan saat aku sudah mengumpulkan bukti yang cukup kuat, tiba-tiba aku mendapat kabar bahwa Maya telah di usir dari keluarga Kafeel karena masalah perceraianku dengan Reena. Sebenarnya, saat itu aku sudah yakin jika Ayasya adalah Lily. Aku hanya butuh satu lagi bukti yaitu hasil tes DNA. Namun, aku harus menunda niatku karena kehamilan nyonya Stevano. Aku pikir, setelah bayi kami lahir aku akan mengungkapkan kebenaran ini, tapi Reena dan ibunya bergerak sangat cepat begitu mereka tahu jika Lily masih hidup." tambahnya.


Ibu menunduk lesu. "Maaf, itu kesalahanku."


"Tidak, Maya! Kau hanya ingin memberi kabar bahagia pada kakakku. Sayangnya, dia terlalu di butakan cinta seorang ayah kepada putrinya." ucap om Rei, mencoba menenangkan ibu.


"Dokter Reinhard benar, Maya! Mungkin inilah jalan takdir. Lily harus kembali lebih cepat sebelum keluarga Kafeel benar-benar hancur." sergah Daffin, tangannya melingkar di bahuku.


Sebenarnya, aku masih belum memahami semua ini. Aku masih terlalu bingung untuk bisa mengerti apa yang sedang takdir mainkan dalam hidupku. Aku bahkan hanya diam saja ketika Daffin memaksa kepalaku untuk bersandar di bahunya.


"Semua ini salahku! Jika aku lebih mengerti Maya, hal buruk ini tidak akan menimpa keluarga kita. Ayah dan ibu pasti sangat kecewa padaku." sesal tuan Kafeel, satu persatu bulir air mata jatuh di matanya.


"Bukan hanya mereka, aku pun kecewa padamu!"


Hallo semuanya ๐Ÿค—


Terima kasih untuk dukungan dan mood boosternya ๐Ÿ˜˜


Jangan lupa di tap jempolnya ๐Ÿ‘dan tinggalkan jejak ๐Ÿ‘ฃ๐Ÿ‘ฃ kalian di kolom komentar ๐Ÿ‘‡sertakan votenya juga 'ya ๐Ÿ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini๐Ÿ˜˜

__ADS_1


I โค U readers kesayangan kuhh


__ADS_2