Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
LILY


__ADS_3

LILY...


Sebuah nama yang membuatku penasaran dan sedikit merasa terganggu. Sebenarnya aku ingin sekali bertanya pada Daffin siapa Lily itu, tapi aku masih ingat kejadian ketika aku bertanya siapa Jhonny dan berakhir dengan remuknya seluruh tubuhku. Jadi untuk barjaga-jaga, aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku seolah aku mengerti apa yang di ucapkan oleh Daffin.


"Kau tidak ingin tahu siapa Lily?" tanya Daffin, seringai nakal muncul di wajah menyebalkannya itu.


Aku mencebik mendengar pertanyaannya. "Tidak! Jika aku harus menanggung resiko yang besar, tapi ... jika kau memberi tahuku, aku akan mendengarkannya."


Senyuman mengembang di wajah Daffin dan membuatnya semakin tampan. Ah, astaga!!! Apa yang baru saja tersirat di benakku yang labil ini?


Saat aku masih terbuai dengan wajahnya yang tampan, tiba-tiba saja Daffin menggendongku seperti seorang ayah yang menggendong putri kecilnya.


"Daffin, turunkan aku!" teriakku.


Sungguh, aku malu sekali di perlakukan seperti ini oleh Daffin. Dia seenaknya saja mengangkat dan memindahkanku kesana kemari seperti barang saja. Tapi bukannya menurunkanku, Daffin justru mengangkatku lebih tinggi dan menghadapkan tubuhku ke barisan rak buku yang tertata rapih.


Aku menoleh dan menundukkan kepalaku untuk melihat Daffin. "Apa?"


"Kau ingin tahu siapa Lily? Ambillah buku itu!" pinta Daffin, ia menunjukkan ke arah sebuah buku dengan sorot matanya.


Pandangan mataku langsung mengikuti arah yang di tunjukkan Daffin dan melihat sebuah buku yang kemarin sempat membuatku penasaran dan ingin mengambilnya, tapi tak sempat karena Daffin tiba-tiba datang. Belum lagi, aku juga tak sampai untuk meraihnya karena buku itu berada di barisan rak yang lebih tinggi dari tubuhku.


"Kau suka berada di posisi seperti ini?" tanya Daffin, tangannya mulai mencengkram pinggangku dengan lebih erat.


Aku bisa merasakan ada hasrat lain di mata Daffin. "Tidak!" hardikku, dengan cepat aku meraih buku berwarna putih itu.


Begitu aku berhasil meraih buku yang di maksud oleh Daffin, aku langsung meronta agar Daffin mau menurunkanku.


"Hati-hati, Baby!" sergah Daffin, perlahan dia menurunkan aku di atas kakiku sendiri.


"Baby, baby! Aku sudah dewasa bukan baby." Aku merapihkan pakaianku dan berjalan melewati Daffin.


Dengan santai aku duduk di sofa dan hendak membuka buku bersampul cantik yang ada di tanganku, tapi Daffin lebih dulu merebut buku itu sebelum aku sempat membuka lembaran pertama buku itu.


"Daffin! Berikan buku itu!" teriakku dengan mata yang terbelalak.


"Begitukah sikapmu pada suamimu?" tanya Daffin, dengan wajah yang sedikit muram.

__ADS_1


'Aku harus bagaimana menghadapi pria sepertinya, Tuhan?'


Aku ingat Daffin lebih suka jika aku menurutinya, maka kali ini juga pasti begitu. Walau dengan susah payah dan sedikit di paksakan, aku mencoba mengukir senyum di wajahku dan mulai bersandiwara lagi.


"Daffin, Sayang, bolehkah aku melihat apa yang ada di dalam buku itu?" Aku menempelkan tubuhku pada lengan kekar Daffin.


Seperti yang aku duga, Daffin langsung merangkulku dan menciumi puncak kepalaku. Dia bahkan hampir saja menaikkan aku ke atas pangkuannya jika aku tidak menolaknya.


"Kenapa?" tanya Daffin ketika aku menahan tangannya yang akan mengangkat tubuhku.


Aku memutar bola mataku, mencari alasan yang tepat untuk menolak Daffin. "Aku ... aku ingin selalu berada di sampingmu. Bolehkah?"


Wajah sumringah Daffin menjadi jawaban dari pertanyaanku. Dia merangkul tubuhku dan memberikan buku berwarna putih itu padaku.


Sebelum aku membuka buku itu, ada rasa ragu yang memenuhi hatiku. Beberapa kali aku melirik Daffin, berharap dia mau menjelaskan siapa Lily dan apa hubungannya dengan buku ini? Tapi harapanku sia-sia karena Daffin tidak terlihat akan menjelaskan apapun.


"Daffin?" panggilku pada Daffin yang tengah menikmati aroma tubuhku.


"Hemm ...," jawab Daffin seperti biasa.


Manik mata Daffin terfokus pada buku itu, tapi langsung menatapku kembali. "Ada Lily dan semua kenangannya. Bukalah! Kau dan aku sudah bersatu, jadi kau juga berhak tahu siapa Lily."


'Bersatu? Bersatu apa? Kau memaksakan dirimu padaku. Ya, walaupun aku juga menikmatinya.'


Ah, aku malu jika membayangkan betapa aku sangat menikmati permainan Daffin. Jadi, aku lebih baik memfokuskan pikiranku pada hal lain.


Hatiku berdebar ketika aku membuka sampul buku itu. Aku pikir aku akan melihat potret seorang wanita cantik yang berpelukan atau mungkin berciuman dengan Daffin atau mungkin juga aku akan menemukan sebuah catatan harian dari seorang gadis, tapi dugaanku salah besar. Lembaran pertama buku itu menunjukkan sebuah potret dimana seorang anak laki-laki berwajah bule sedang mencium perut seorang ibu hamil. Perhatianku, langsung tertuju pada wanita itu karena wajahnya yang mirip denganku. Hanya saja dalam potret itu, terlihat jelas bahwa wanita itu sedang hamil besar. Pakaian yang dia kenakan juga seperti seorang wanita bangsawan.


"Apa dia Lily?" tanyaku sembari menunjuk potret wanita hamil itu.


Daffin melirik dan menggelengkan kepalanya. "Bukan! Dia ibunya Lily."


Dahiku mengernyit. "Lalu, dimana Lily?"


Jari besar Daffin menunjuk ke arah perut wanita itu, tapi aku ragu dengan apa yang aku lihat.


"Maksudmu, Lily itu laki-laki?" Aku bertanya tanpa melihat Daffin dan hanya fokus pada potret yang ada di hadapanku.

__ADS_1


"Kau ini benar-benar bodoh!" ejek Daffin, tangannya meraih daguku dan mengecup bibirku sekilas. "Apa kau tidak mengenali anak tampan itu?" tanyanya kemudian.


Aku menggelengkan kepalaku seperti orang bodoh. "Siapa dia?"


Daffin menghela nafasnya dan mengulas senyum tipis sebelum mencubit kedua pipiku. "Itu aku, My Starfish!"


"Kau? Daffin?" tanyaku tak percaya. Berkali-kali aku melihat ke arah Daffin dan potret itu secara bergantian. "Ya, sepertinya anak ini memang dirimu karena wajah anak ini sama menyebalkannya dengan dirimu." ejekku.


"Sepertinya kau ingin bertemu dengan Jhonny lagi, My Starfish." seloroh Daffin, tatapan matanya sudah mulai tidak kondusif.


Aku mengamati potret itu kembali dan berpura-pura bahwa aku tidak mendengar ucapannya. "Lalu, dimana Lily itu?"


"Di dalam perut ibunya," jawab Daffin santai.


Karena terkejut, aku langsung menoleh dan membelalakkan mataku. "APA?"


"Astaga! Kenapa suaramu itu sangat menggelegar?" keluh Daffin sembari mengusap telinganya. "Aku tidak bohong, Lily masih di dalam perut ibunya. Itulah sebabnya aku menciumi perut ibunya Lily seolah aku sedang mencium Lily." jelas Daffin.


Aku menatap Daffin tak percaya. "Kau ... sudah mesum sejak kecil?"


Tawa Daffin pecah saat aku mengatakan hal itu. "Mungkin itu bakat alamiku, My Starfish."


'Bakat alami apa? Yang seperti itu kau sebut bakat?'


"Tapi Daffin, siapa wanita ini?" Aku menghentikan tawa Daffin ketika aku menunjuk potret wanita hamil itu.


"Kau tidak mengenalinya juga?" Daffin menatapku seolah menuntut penjelasan.


Aku menggelengkan kepala. "Tidak, memang siapa dia?"


"Maya,"


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2