
Masa lalu selalu menjadi benalu dalam sebuah hubungan, baik itu masa lalu yang indah ataupun masa lalu yang menyedihkan.
Seperti saat ini, aku harus merelakan kenanganku bersama kak Erlan. Satu-satunya pria yang ada di dalam hatiku sebelum aku bertemu Daffin. Begitu sulit bagiku untuk melakukan hal itu, tapi demi masa depan yang lebih indah dan tenang, aku akan mencobanya.
"Daffin, tidak bisakah kita mengantarkan sertifikat rumah ini langsung ke rumah tante Ratih?" tanyaku penuh harap.
Setelah aku dan Daffin memutuskan untuk meninggalkan masa lalu kami, Daffin memintaku untuk menyerahkan rumah lamaku kepada tante Ratih selaku keluarga kak Erlan. Namun, aku kecewa saat Daffin mengatakan bahwa salah satu pengawalnya yang akan mengantarkan sertifikat rumahku ke kampung halaman kak Erlan.
Daffin menatapku lekat sebelum menghela nafasnya. "Aku takut kau akan lelah, Nyonya Stevano, terlebih kau baru saja di kalahkan bukan?"
Hah! Daffin justru mengingatkan aku dengan kejadian beberapa saat lalu ketika kami menemui gurita betina itu.
Flashback on ...
"Kita akan pergi kemana, Daffin?" tanyaku bingung.
Daffin membawaku ke sebuah landasan helikopter yang berada tak jauh dari lingkungan rumah lama kami. Di sana sudah ada sebuah helikopter yang siap terbang dan juga beberapa pengawal Daffin.
"Menyelesaikan urusan kita hari ini." Daffin menuntunku untuk menaiki helikopter.
Meskipun masih banyak pertanyaan di kepalaku, tapi aku tetap memilih untuk bungkam karena untuk pertama kalinya aku menaiki ikan terbang seperti ini.
Tidak butuh waktu lama, kami sudah sampai di sebuah pedesaan yang cukup asri. Aku rasa desa ini berada di ketinggian karena udaranya sangat sejuk, sedikit berbeda dengan suasana kampung halaman kak Erlan yang berada di dekat pantai.
"Ayo!" ajak Daffin, tangannya tak lepas dari tanganku.
Aku hanya menyunggingkan senyum tipis dan mengikuti langkah kaki Daffin. Wajah dinginnya membuatku mengurungkan niat untuk menggoda ataupun sekedar untuk mencari tahu tentang perasaannya saat ini.
Begitu kami sampai di depan sebuah rumah, aku melihat sepasang lansia keluar dari rumah itu. Mereka tersenyum dan menyambut kedatangan kami berdua dengan ramah.
"Selamat datang, Tuan," ucap pria tua yang tadi keluar bersama istrinya.
Aku perkirakan usia pria itu sama dengan ayah dan juga daddy David, tapi karena kondisi ekonomi yang membuatnya terlihat jauh lebih tua.
"Terima kasih, Tuan, sepertinya kau sudah tahu jika aku akan datang." Daffin melangkah mendekati pria itu.
Pria tua itu tersenyum. "Tentu, Tuan, pengawal anda sudah memberitahu kami."
Aku masih bertanya-tanya, siapa sebenarnya pasangan lansia ini. Aku merasa seperti pernah melihat mereka, tapi aku tidak ingat dimana. Dan, dimana aku saat ini? Aku tidak mengenali tempat ini karena aku tidak menemukan petunjuk apapun.
"Bagus! Jadi, aku tidak perlu berlama-lama di tempat ini." Daffin mendaratkan bokongnya di kursi santai yang ada di teras rumah kemudian memintaku untuk duduk di sampingnya. "Dimana putrimu? Apa dia masih belum bisa menerima kenyataan?" tanya Daffin.
Putri? Siapa putri pria itu? Kenyataan apa? Ah, aku semakin bingung. Menyebalkan rasanya ketika begitu banyak pertanyaan di otakku, tapi tak bisa aku lontarkan karena aku yakin Daffin tak akan membahasnya untuk saat ini.
"Aku disini!" sahut seseorang yang baru saja keluar dari dalam rumah.
Mataku terbelalak hingga kedua bola mataku rasanya ingin meloncat keluar ketika melihat sosok yang paling aku benci di dunia ini. Reena. Ya, mantan nyonya Stevano dan juga mantan putri keluarga Kafeel. Dia berdiri disana masih dengan kepala terangkat.
__ADS_1
Aku menatap Daffin yang sepertinya terlihat biasa saja saat berhadapan dengan mantan istrinya itu. Dan ketika aku membuka mulut untuk bertanya, Daffin justru menangkap daguku dan mendaratkan bibirnya di atas bibirku. Aku bahkan bisa merasakan kehangatan lidahnya.
"Daffin!!!" pekik Reena, tapi tak di hiraukan oleh Daffin.
Sebenarnya aku senang melihat Daffin bersikap seperti ini di hadapan Reena karena hal itu membuatnya merasakan apa yang aku rasakan saat aku masih berpikir jika aku hanya seorang selir. Namun, di sisi lain aku juga malu kepada sepasang lansia yang kini menundukkan kepalanya.
Jari besar Daffin mengelap bibirku setelah dia melepaskan pagutan bibirnya dan mengecup keningku sekilas sebelum menatap tajam pada Reena yang masih terpaku di tempatnya.
"Kenapa kau berteriak? Kau pikir kau siapa!" bentak Daffin, dia berdiri dan mendekati Reena.
Tubuh Reena mengerjap. "Daff? Kau ... apa yang kau lakukan? Bukankah kau datang untuk menjemputku?"
Tiba-tiba tawa Daffin menyembul dan cukup mengejutkan semua orang. "Kau pikir seperti itu? Heh! Kau terlalu besar kepala Reena. Aku datang kesini untuk menegaskan satu hal."
Dahiku berkerut, begitu juga dengan Reena. Nampak jelas di wajahnya jika dia masih belum bisa memahami ke arah mana pembicaraan Daffin sama persis seperti diriku.
Langkah kaki Daffin lantas berbalik dan menghampiri sepasang lansia tadi yang terdiam di tempatnya.
"Tuan, Nyonya, maafkan aku! Kalian tahu jika rumah tanggaku dengan putri kalian hanyalah sebuah kompromi bukan sebuah pernikahan. Sekarang, aku mengembalikan putri kalian dan melepaskan semua tanggung jawabku terhadapnya." Daffin menyerahkan akta cerai yang sudah di siapkan olehnya. "Aku sudah menceraikan putri kalian secara hukum dan agama. Apapun yang terjadi dengannya, baik dia hidup atau mati, sehat atau sakit, bukan lagi menjadi urusanku. Dan jika di masa depan aku membantunya, itu hanyalah sebatas rasa kemanusiaan." tambahnya.
Aku cukup terkejut dengan perkataan Daffin dan aku juga baru menyadari jika sepasang lansia itu adalah orang tua kandung Reena, tapi bagaimana mungkin Daffin mengetahui keberadaan mereka sementara aku sudah meminta om Rei untuk memindahkan mereka ke rumah yang aku beli. Apakah rumah ini yang di beli om Rei? Sepertinya ada banyak hal yang terjadi selama aku terkurung di rumah ayah.
"Iya, Tuan, saya tidak bisa mengatakan apapun. Saya hanya bisa berterima kasih atas semua kebaikan anda." Ayah kandung Reena mengambil dokumen di tangan Daffin.
"Tidak, Daff!!! Bukan ini yang kita rencanakan." sergah Reena, dia merampas dokumen yang di pegang ayahnya.
Reena mengurungkan niatnya dan menatap Daffin hampa. "Kenapa, Daff? Kenapa seperti ini? Bukankah hidup kita sempurna? Apakah karena wanita ini? Benar! Wanita ini sumber semua masalahku."
Aku sangat terkejut ketika Reena tiba-tiba beralih menatapku dan melayangkan tangannya padaku. Beruntung, Daffin menahan tangan Reena yang akan mendarat di wajahku.
"Jangan pernah mencoba menyentuh istriku!" ancam Daffin seraya menghempaskan tangan Reena.
Bibirku menarik senyuman licik. "Kaulah sumber masalahmu sendiri, Kakak!"
Aku melangkah dan berhadapan langsung dengan Reena lalu mendorong tubuhnya hingga Reena sedikit mundur. "Kau yang membawaku ke dalam hidupmu!"
Aku melangkah dan mendorongnya lagi. "Kau juga yang mengikatku dalam pernikahan dan memberikan suamimu padaku!"
Lagi, aku mendorong Reena dan membuat tubuhnya terbentur dinding. "Kau yang berusaha mendekatkan aku dengan suamimu sendiri dan kau sendiri yang telah melepaskan ikatan kalian berdua. BUKAN AKU!!!"
"Aku tidak pernah melakukan semua itu!" elak Reena, dia mencoba untuk melangkah maju.
Tanganku menahan tubuh Reena agar diam di tempat. Entah mengapa tangan kecilku begitu kuat hari ini.
"Benarkah?" Sebelah alisku terangkat. "Lalu apa yang kau lakukan, Kakakku sayang? Ah, iya. Kau membuatku kehilangan kedua putraku. Kau juga mengambil posisiku sebagai putri dari keluarga Kafeel. Satu lagi, kau juga mengambil semua hakku. Atau ada lagi yang kau lakukan tanpa sepengetahuanku?" sinisku.
Reena mencoba memberontak dengan menghentakkan tubuhnya hingga aku terdorong dan hampir terjatuh. Untung saja, Daffin berhasil menahan tubuhku.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa, Nyonya Stevano?" tanya Daffin khawatir.
Aku menggelengkan kepalaku lemah. Bukan karena aku terluka atau takut, tapi karena aku kesal dan sedikit malu. Aku merasa telah di kalahkan oleh gurita betina itu. Andai aku tidak sedang mengandung, aku pasti akan membuat perhitungan dengannya.
Mata biru Daffin beralih menatap Reena. "Sepertinya kau tidak akan pernah jera selama kau belum merasakan dinginnya jeruji besi. Atau kau sebenarnya rindu pada ibu palsumu?"
Ancaman Daffin cukup membuat tubuh Reena gemetar ketakutan. Bagaimana tidak? Anna, wanita yang dia anggap sebagai ibunya kini berada di balik jeruji besi dan tak ada yang bisa membebaskannya dari jerat hukum.
"Daff, aku hanya -" ucap Reena terbata dan belum sempat menyelesaikan kata-katanya karena Daffin menyelanya.
"Tuan Stevano! Panggil aku seperti itu. Jangan pernah menyebut namaku!" ucap Daffin datar, wajahnya benar-benar tidak bersahabat.
Reena menunduk dan menangis hingga tersedu-sedu. "Aku tidak menyangka jika hidupku akan berakhir seperti ini. Aku harus menghabiskan hidupku di desa terpencil ini dan juga meninggalkan kehidupanku yang mewah. Itu pun tanpa dirimu di sisiku."
"Itu pantas untukmu!" ucapku sinis.
"Tenang saja! Kau tidak akan kekurangan apapun disini. Aku sudah menyiapkan uang dan sebidang tanah untuk kedua orang tuamu. Itu adalah tanggung jawab terakhirku dan juga pembagian harta di antara kita." ucap Daffin datar.
Kedua orang tua Reena menghampiri Daffin. "Tidak, Tuan, itu tidak perlu. Kembalinya putri kami kesini saja sudah membuat kami bahagia. Anda tidak perlu repot mengurus kami."
"Ini tidak repot, Tuan, Nyonya, aku hanya menyelesaikan tugas terakhirku. Aku tidak ingin ada yang mengganggu hidupku lagi." Daffin tersenyum kaku.
"Baiklah, terima kasih, Tuan!" Ayah Reena menyatukan kedua tangannya di hadapan Daffin.
Aku melihat Daffin sedikit salah tingkah sebelum menyentuh tangan ayah Reena. "Jangan seperti ini, Tuan! Nikmati hari tua kalian bersama putri kalian. Dan ingat! Seluruh desa ini berada dalam pengawasanku."
Flashback off ...
"Aku bukan kalah, Daffin! Aku hanya kehabisan tenaga karena putramu terus saja berebut makanan denganku." Tanganku mengelus perutku yang besar.
Langkah kakiku menjauhi Daffin yang berada di belakangku. Untuk saat ini aku sedang tidak ingin berdebat dengannya. Aku hanya ingin dia percaya jika aku baik-baik saja dan ingin menemui tante Ratih.
"I LOVE YOU, MRS. STEVANO!!!"
Tiba-tiba suara Daffin menggema di antara pegunungan yang mengelilingi desa ini. Sontak saja aku menoleh dan melihat Daffin sedang tersenyum. Jas yang membungkus tubuhnya sudah tergeletak di tanah dan hanya menyisakan kaus hitam di tubuh atletisnya.
Astaga!!! Tampannya suamiku ini. Maksudku, calon suamiku. Daffin benar-benar membuatku merasakan di mabuk cinta.
Bibirku menarik senyuman dan memutar langkahku untuk memeluk Daffin yang membentangkan tangannya.
"I LOVE YOU MORE, PLANKTON ...."
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
__ADS_1
I β€ U readers kesayangan kuhh