Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
SAAT INI MILIKMU


__ADS_3

"Selamat datang, Suamiku." Sungguh manis terdengar, tapi penuh racun saat terlontar.


Mata Daffin bergerak naik turun mengamati tubuhku. Walaupun aku sebenarnya merasa tidak nyaman menggunakan pakaian seperti ini di hadapannya, tapi aku tetap berusaha bersikap semanis mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan di hati Daffin.


"Keluar!" titah Daffin, entah pada siapa. Namun, Shaka dan beberapa pengawal yang tadi mengikutinya langsung keluar.


Hanya tinggal aku, Daffin, dan juga Rania yang masih ada di ruangan itu karena aku menahan tangan Rania ketika dia hendak pergi menyusul Shaka.


"Diamlah disini! Temani aku," pintaku pada Rania dengan suara setengah berbisik.


Sebenarnya, aku masih takut untuk menjalankan rencana ini. Itulah sebabnya aku meminta Rania untuk menenamiku.


"Pergilah!" Daffin menarik tanganku dan melemparkan tatapan dinginnya pada Rania.


Seorang pelayan seperti Rania pasti akan langsung pergi ketika mendapatkan tatapan seperti itu dari tuannya, tapi tidak denganku. Aku menarik tanganku dan menarik tangan Rania agar dia tidak pergi.


"Rania akan tetap disini!" sungutku, dengan sorot mata menantang.


"Bukankah kau ingin menghabiskan waktu berdua denganku? Untuk itulah kau merias dirimu." sergah Daffin, meski tidak berteriak seperti biasanya.


Astaga!!! Aku hampir saja melupakan rencanaku karena rasa takutku pada Daffin. Dengan cepat aku merubah raut wajah kesalku dan kembali memasang wajah manis nan menggoda yang akan sulit di tolak oleh Daffin.


"Bukan begitu, Suamiku," Aku menghampiri Daffin yang masih berdiri menatapku. "Jika Rania pergi, siapa yang akan melayanimu?"


Senyuman sinis tertarik di sudut bibir Daffin. "Tentu saja kau!"


Daffin itu memang benar-benar pria tak berhati. Aku sudah bersusah payah untuk tampil sebaik mungkin di hadapannya, tapi dia tetap memintaku untuk melayaninya.


"Tapi -"


"Keluarlah! Kau ingin aku pecat?" sela Daffin, dan langsung memerintahkan Rania keluar tanpa menunggu aku menyela ucapannya.


"Kau tidak bisa memecatnya." sanggahku, sebelum Rania benar-benar di tendang dari sini.


"Jika dia patuh, aku tidak akan memecatnya." jawab Daffin datar, tapi tatapan matanya tak lepas dariku.


Aku menghela nafas. Baru mulai, tapi aku sudah kalah darinya. "Keluarlah, Rania! Aku yang akan melayani Daffin."


Rania membungkuk hormat. Sebelum keluar, dia sempat menatapku dan menunjukkan kekhawatirannya. Ah, Rania! Andai saja aku bisa, ingin rasanya aku memasukkan Plankton ini ke dalam kaleng ikan sardin.


"Duduklah!" Suara Daffin mengejutkanku.


Begitu aku menoleh padanya, aku melihat ekor mata Daffin menunjuk kursi yang baru saja dia tarik. Rupanya dia ingin aku duduk disana. Ternyata dia cukup pengertian untuk hal seperti ini.

__ADS_1


"Terima kasih," ucapku canggung. Kata itu amat sangat berat keluar dari bibirku.


Selama beberapa menit, Daffin terus menatapku hingga aku merasa salah tingkah. Aku melihat sekitar dan mencoba mencari sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya.


"Ayo, cicipi makanannya!" Aku menunjuk hidangan yang siap di santap dengan memajukan sedikit bibirku.


Daffin terlihat enggan melepaskan pandangannya dariku, tapi dia cukup tahu sopan santun dengan tetap melihat ke arah aku menunjuk.


"Kelihatannya lezat. Darimana asal semua makanan ini?" tanya Daffin, dengan senyum usil dan sebelah alisnya yang terangkat.


"Tentu saja aku yang memasaknya!" sergahku karena merasa terhina dengan pertanyaan Daffin.


Sialnya lidahku ini. Harusnya aku tidak melakukan kebohongan sebesar itu. Aku pasti telah melakukan hal bodoh karena Daffin langsung tertawa mendengar ucapanku.


"Apa kau bekerja untuk restoran xx?" Lagi-lagi sebelah alis Daffin terangkat dengan senyum menggoda menghiasi wajahnya.


"Maksudmu?" tanyaku, tak mengerti kemana arah pembicaraan Daffin.


Daffin mengambil sesendok cream soup dan memasukkannya ke dalam mulutku. "Lezat, bukan? Ini buatan chef terbaik di restoran xx."


Wajahku memerah, semerah kepiting saus tiram yang berada di barisan makanan lezat yang tersaji di atas meja. Kali ini, merah di wajahku karena rasa malu yang di akibatkan terungkapnya kebohongan yang baru saja akan aku mulai.


"Kau marah?" tanya Daffin, dia berlagak polos di hadapanku dan itu sangat tidak sesuai dengan wajahnya.


"Wajahmu merah. Kalau kau tidak marah, itu artinya ... kau malu!" Daffin menjatuhkan sendoknya di atas piring dengan kencang hingga menimbulkan suara dentingan yang begitu nyaring.


Aku tidak ingin terjebak dalam permainanku sendiri. Aku harus bisa mengambil kesempatan ini. "Kau benar. Aku malu karena kau tahu bahwa semua ini bukan hasil tanganku sendiri."


Terkadang, sifat manjaku ini bagus juga untuk meluluhkan hati seseorang walaupun sebenarnya lebih banyak membuat orang lain kesal.


Daffin menyentuh tanganku. "Tidak masalah kau bisa memasak atau tidak. Kita punya koki yang bisa membuatkan apa saja yang kau inginkan."


Astaga!!! Jantungku berdegup kencang hingga aku merasa pakaian yang aku pakai ikut bergetar seolah jantungku merangsek keluar.


Semua ini begitu aneh bagiku. Aku tidak pernah merasa seperti ini kepada siapapun, bahkan kepada kak Erlan sekalipun. Jantungku selalu berdetak normal ketika aku berada di dekat kak Erlan. Apapun yang kami lakukan, tidak pernah aku merasa jantungku serewel ini.


"Wajahmu semakin memerah. Apa kau demam?" tanya Daffin, di barengi dengan tangannya yang mendarat di keningku.


"Tidak, Daffin! Ayo, makan!" Aku menyanggah ucapan Daffin.


Tak ingin semakin terpojok, aku berniat untuk melayani Daffin seperti keinginannya. Namun, saat aku akan mengambilkan makanan untuknya, Daffin langsung menahan tanganku.


"Kau duduk diam saja! Aku punya tangan," Daffin menunjukkan kedua tangannya padaku.

__ADS_1


Aku memperhatikan setiap gerakan Daffin yang mengambil makanan dan meletakkannya di piringnya dan juga piringku. Dalam hati aku bertanya-tanya, bukankah dia mengatakan aku harus melayaninya? Tapi kini justru dia yang melayaniku.


Meski kecanggungan tercipta, tapi aku dan Daffin tetap menghabiskan makanan di piring kami dalam diam hingga Daffin mulai mengusikku lagi.


"Kau tahu, jika saja aku tidak mendapatkan notif ini." Daffin menunjukkan ponselnya padaku yang memperlihatkan sebuah struk belanja. "Aku akan percaya jika semua ini adalah masakanmu."


Lagi, dia membahas hal yang memalukan bagiku. "Bukankah seharusnya kau berpura-pura tidak tahu? Kau memang tidak tahu cara membuat wanita senang."


Aku bersiap untuk bangun dan meninggalkan Daffin, tapi tangannya langsung menarik tanganku hingga aku terjerembab ke atas pangkuannya.


"Disinilah tempatmu, berada di atas diriku." bisik Daffin tepat di telingaku.


Seluruh tubuhku memanas merasakan sentuhan Daffin di sana. Salahku memang menggunakan dress pendek yang akan memudahkan Daffin untuk melakukannya.


Pikiranku menolak semua ini, tapi separuh hatiku mengatakan bahwa cara seperti ini akan mempermudah diriku. Tapi aku tidak boleh selemah ini. Aku harus membuat Daffin tergila-gila padaku, dan dia akan semakin mendekat padaku. Agar aku lebih mudah untuk menyakitinya.


"Kenapa?" Sorot kekecewaan nampak jelas di matanya.


"Ini." Aku menunjuk luka di perutku yang masih belum sembuh akibat operasi, yang juga di ikuti tatapan mata Daffin.


"Hanya ini," bujuk Daffin sembari menyentuh bibirku dengan ibu jari besarnya.


"Tidak!"


"Sedikit saja,"


"Tidak!"


"Ayasya ...."


"Tidak, Daffin!"


Dan di tengah perdebatan kami, tiba-tiba ponsel Daffin berdering. Aku melirik ponselnya yang menampilkan nama Reena.


"Jawab saja!"


"Tidak! Saat ini milikmu."


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan juga tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2