Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
TIGA DUA


__ADS_3

"Shaka!!! Tega sekali kau meninggalkan aku!" teriak seseorang di belakang Shaka.


Setelah jaraknya semakin dekat, aku baru mengenali sosok itu ketika wajah glowingnya terkena pantulan cahaya matahari.


"Bukankah dia ... Amoeba!!!" jeritku, merasa bahagia bisa bertemu dengannya lagi. Namun, dahiku langsung mengernyit ketika melihat sosok wanita di sisinya. "Bukankah itu kak Airin? Bagaimana dia bisa bersama Amoeba?" gumamku.


Ketika pikiranku tengah sibuk menerka-nerka ,tiba-tiba Daffin merangkul bahuku dengan erat dan sampai membuatku terkejut karena bersentuhan dengan tubuhnya yang basah.


"Daffin, apa yang kau -"


Telunjuk Daffin mendarat di atas bibirku untuk membungkam mulutku. "Aku hanya menerakan kepemilikanku atas dirimu. Jangan sampai pria lain merasa memiliki kesempatan!"


Aura dingin menyebar di sekitarku, tapi bukan hawa dingin pantai melainkan hawa dingin yang di hasilkan dari sorot mata Daffin. Mata biru itu terfokus menatap sosok Davino Roveis yang sedang berlari kecil ke arahku, mungkin lebih tepatnya ke arah Shaka.


Ah, dia sedang cemburu! Sekarang nilainya Tiga dua!!!


Aku terkikik dalam hati menyadari perubahan sikap Daffin karena kedatangan tuan Amoeba yang tampan.


"Hai, Tuan Davin! Hai, Kak Airin!" sapaku riang, begitu Amoeba itu berada di hadapan kami.


Aku merasakan cengkraman tangan Daffin semakin kuat di bahuku sehingga aku menoleh dan melihat dia sedang melirikku seraya berbisik, "jangan memanggilnya seperti itu, Nyonya Stevano!"


Hah? Lalu aku harus memanggilnya seperti apa? Itu adalah namanya dan tidak mungkin jika aku memanggilnya Amoeba, bukan?


"Halo, Ayasya!" jawab Davino dan Airin bersamaan.


"Apa yang kau lakukan, Roveis?" tanya Shaka dingin, dia hanya menilik dari sudut matanya.


Tuan Davino Roveis tersenyum dan menampakkan deretan giginya. "Aku tidak ingin terjebak dengan wanita-wanita berbikini itu seorang diri!"


"Kalau begitu, pergilah! Aku juga akan segera pergi." sergah Shaka, aku merasa perasaannya sedang tidak baik saat ini.


Tuan Davino berdecak kesal. "Aku datang kesini untuk bersenang-senang dan melupakan kesedihanku, tapi kau justru mengusirku."


Wajah memelas Amoeba itu sangat menggemaskan dan membuatku ingin mencubit kedua pipinya yang lembut, tapi sayangnya Daffin terus saja menahan tubuhku seolah dia bisa membaca pikiranku.


"Apa yang membuatmu sedih, Tuan Davin, maksudku, Tuan Davino?" tanyaku iseng.


Terdengar helaan nafas dari Airin yang sejak tadi hanya terdiam di samping tuan Davino. "Ini karena kami berdua di tinggalkan oleh Zuy dan Tuan Rayyan."


Mataku membulat sempurna karena begitu terkejut. "Apa? Memangnya kemana mereka pergi?"

__ADS_1


"Swedia!" jawab keduanya kompak.


Bola mataku bergerak ke atas. "Swedia? Untuk apa?"


"Honeymoon!" celetuk tuan Davino, tapi sesaat kemudian dia langsung menutup mulutnya. "Maksudku, jalan-jalan. Iya, betul! Jalan-jalan." tegasnya.


Aku mengangguk paham. "Ah, aku mengerti. Kalau begitu, kalian bisa bergabung denganku dan juga Daffin."


"Tidak! Kalian silahkan menikmati waktu kalian. Shaka yang akan mengurus segalanya. Aku dan nyonya Stevano harus mengurus urusan kami yang sangat penting." hardik Daffin, dia sudah membalikkan tubuhku secara paksa.


"Daffin, tunggu sebentar!" teriakku, lalu menolehkan sedikit kepalaku. "Bersenang-senanglah, Tuan Davino, Kak Airin! Aku akan segera kembali setelah mengirim Plankton ini kembali ke laut."


***


"Kenapa kita kesini?" tanyaku heran, karena Daffin membawaku ke sebuah resort yang tak jauh dari bibir pantai.


"Bukankah kau ingin mengganti pakaianmu?" tanya Daffin kembali, tubuhnya kini sudah berbalut handuk.


Aku memutar bola mataku dengan malas. "Iya, tapi bukan berarti kita harus menyewa resort seperti ini! Aku bisa mengganti pakaianku di ruang ganti."


"Aku tidak mengizinkan istri dan anakku berbagi udara dengan banyak orang! Dan satu hal lagi, resort ini milikku. Aku tidak perlu menyewanya!" ucap Daffin, wajah angkuhnya membuatku kesal.


Seketika tawa Daffin menggema dan memenuhi ruangan kamar. "Kesombonganku beralasan, Nyonya Stevano! Lagipula, aku tidak akan menyombongkan sesuatu yang bukan milikku."


Benar juga! Daffin sombong karena memang dia memiliki segala hal yang patut untuk di banggakan. Ah, terserahlah! Setidaknya sekarang aku akan bersenang-senang.


Dengan cepat aku melangkah menuju kamar mandi untuk mengganti pakaianku. Namun, baru saja aku akan menutup pintunya, Daffin sudah merangsek masuk dan tentu saja aku kalah tenaga dengannya.


"Daffin!!! Keluar!!! Aku harus mengganti pakaianku." Tanganku menunjuk ke arah pintu agar Daffin segera keluar.


Tiba-tiba bibir sensual Daffin di penuhi senyuman yang menakutkan bagiku. Dia tidak mengatakan sepatah katapun, tapi matanya mengatakan banyak hal hingga membuatku nyaris menciut.


"Kenapa diam? Ayo, ganti pakaianmu! Aku hanya memastikan bahwa kau bisa mengenakannya." seloroh Daffin, dia mencondongkan tubuhnya padaku.


Mataku menatap tajam ke arah Daffin. Aku tahu maksudnya, dia pasti berniat mengerjai aku lagi.


"Aku tidak jadi berenang!" hardikku, seraya melemparkan tas yang tadi di bawa oleh Shaka.


"Kenapa?" Kedua alis Daffin menukik tajam dan hampir bertemu.


"Sudah tidak ingin! Seseorang membuatku malas membuka pakaianku." sindirku seraya berlalu meninggalkan Daffin.

__ADS_1


"Aku bisa membantumu, Nyonya Stevano," ucap Daffin, tangannya menahan pergelangan tanganku.


Aku berdecak seraya menarik tanganku. "Tidak perlu! Sekarang kau bisa menghabiskan waktu sebanyak yang kau inginkan di dalam sini."


BRAK ...


Aku membanting pintu kamar mandi dengan cukup keras hingga aku sendiri pun terkejut.


"Astaga!!!" gumamku, kemudian mengelus dadaku sendiri dan terkekeh geli.


"Kau harus mengganti rugi untuk kerusakan pintunya, Nyonya Stevano!" teriak Daffin dari dalam kamar mandi.


"Dasar pria tua kikir!" sungutku, lantas berjalan menjauhi pintu kamar mandi.


Sebenarnya aku berniat untuk keluar dan berjalan-jalan di tepi pantai, tapi sialnya Daffin mengunci pintunya dan entah dimana dia menyembunyikan kuncinya.


"Plankton menyebalkan! Dia membuatku terjebak disini, sementara Shaka bersenang-senang dengan tuan Davino dan juga kak Airin." umpatku kesal ketika melihat ke arah pantai. "Eh, kenapa tuan Davino dan Shaka berlari ketakutan begitu? Dan kak Airin, dia kelihatannya senang sekali sampai tertawa seperti itu. Aaarrrgghh ... aku jadi ingin kembali ke pantai!" gerutuku.


Resort ini ternyata berhadapan dengan bibir pantai sehingga aku bisa melihat aktivitas para pengunjung dari balkon kamar tempatku terkurung saat ini.


"Siapa yang menyebalkan? Apakah itu aku?" Lingkaran tangan Daffin terasa hangat di perutku.


Aku menghela nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar. "Sudah tahu, kenapa masih bertanya!"


Daffin terkekeh. "Bukankah lebih menyenangkan menghabiskan waktu berdua di dalam kamar seperti ini? Daripada harus berada di pantai dan menjadi pusat perhatian."


"Kau mesum! Pikiranmu selalu di penuhi hal-hal seperti itu." ketusku seraya melipat kedua tanganku di dada.


"Itu salah satu keahlian alamiku yang tiba-tiba muncul setiap kali berada di dekatmu, Nyonya Stevano." jawab Daffin lembut, bibirnya mulai menyelami lekuk leherku yang tertutup. "Aku tidak suka kau memakai ini! Ganti!" titahnya kemudian.


Sudut bibirku menarik senyuman. "Bukankah kau yang menginginkan aku untuk memakainya, Tuan Stevano?"


Daffin mendengus kemudian tertawa. "****!!! Aku termakan oleh permainanku sendiri."


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI😍


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2