
Suasana hatiku benar-benar berubah sejak aku kembali dari perusahaan Kafeel. Rasanya aku ingin selalu tersenyum setiap kali mengingat apa yang akan di terima oleh Reena tidak lama lagi.
Dalam hatiku, sebenarnya ada pertarungan sengit antara malaikat merah dan malaikat putih. Di satu sisi mengatakan bahwa tidaklah buruk apa yang telah aku lakukan pada tuan Kafeel dan juga Reena, tapi di sisi lain mengutukku karena berbuat tidak adil kepada ayahku serta berusaha untuk membalas dendam pada Reena.
Apakah aku harus memaafkan mereka begitu saja? Mungkin suatu hari nanti aku akan memaafkan tuan Kafeel karena dia adalah ayahku, tapi Reena dan ibunya? Aku tidak memiliki ikatan apapun dengan mereka, jadi boleh saja bukan jika aku ingin membalas rasa sakit hatiku pada mereka. Terlebih Reena, dia telah membohongiku dan membuatku kehilangan kedua putra kembarku.
"Kau sedang berpikir?" tanya Daffin, tangannya tiba-tiba melingkar di pinggangku.
"Menurutmu aku sedang apa?" tanyaku balik dengan menggerak-gerakkan tubuhku untuk memberontak.
Bukannya melepaskan lingkaran tangannya, Daffin justru semakin erat memelukku dan menyelami lekukan leherku. "Sedang memikirkan aku?"
Ya Tuhan, apa yang kau lakukan pada hatiku? Kenapa aku terkekeh dengan wajah yang bisa ku tebak berubah menjadi merah hanya karena ucapan Daffin.
"Otakku kecil. Tidak cukup untuk memikirkanmu yang seperti raksasa." elakku.
Terkadang lidah tajamku ini berguna juga di saat aku ingin menyembunyikan rasa malu dan hasratku yang suka sekali muncul secara tiba-tiba.
Daffin tertawa tepat di telingaku yang mana hal itu membuatku sedikit terusik. "Daffin, hentikan! Kau ...."
"Aku apa?" bisik Daffin, kini tangannya mulai menyasar kemana-mana.
Suasana malam yang sunyi dan di terangi bintang di tambah hembusan angin sepoi-sepoi membuatku terbawa suasana hingga terlupa bahwa kami masih berada di luar, tepatnya di taman belakang.
Sepulang dari pertempuran tadi, aku memilih untuk bersantai di taman. Sebenarnya aku ingin bicara dengan ibu, tapi aku lihat ibu masih menangis dan menyesali apa yang telah terjadi. Maka ku putuskan untuk memberinya waktu seorang diri.
"Daffin, lepaskan!" Aku mencoba melepaskan tangan Daffin yang melingkar kuat di pinggangku.
Terdengar tawa ringan dari bibir Daffin, kemudian lengannya mengendur dan membalikkan tubuhku untuk menatapnya.
"Kau bahagia? Apa ini yang kau inginkan?" tanya Daffin, pandangannya menelisik ke dalam mataku.
"Seperti yang kau lihat! Aku bahagia." jawabku yakin.
Tiba-tiba Daffin menyentuh daguku dan mengangkatnya agar tatapan kami bertemu. "Kau putrinya Maya. Aku yakin kau tidak sekejam itu."
Aku tersenyum sinis. "Kau lupa, aku juga putrinya tuan Kafeel yang kejam dan arogan itu. Tentu saja darahnya mengalir di dalam tubuhku."
Daffin menghela nafas dan dengan cepat merubah wajah masamnya menjadi kembali hangat.
"Baiklah! Kita lupakan masalah itu untuk sesaat. Anggaplah semuanya telah selesai!" seru Daffin, tangannya merapihkan surai rambutku yang tak terikat. "Apa kau tidak penasaran dengan bonus yang akan aku berikan?" tanyanya dengan raut wajah menggoda.
Mataku memicing menatap Daffin. Kedua alisku bahkan menukik tajam dan hampir bertemu karena aku begitu curiga padanya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Daffin di barengi kekehan.
"Bonus apa yang kau maksud?" tanyaku curiga.
Daffin tidak menjawab, dia justru menggandeng tanganku dan memintaku untuk mengikutinya ke dalam rumah.
Sepanjang kakiku melangkah, aku terus memikirkan hal-hal aneh di dalam kepalaku hingga langkah Daffin berhenti di depan kamar tamu.
"Kau ingin memberikan bonusmu disini?" tanyaku ragu seraya menunjuk pintu kamar dengan ekor mataku.
__ADS_1
"Bukalah!" pinta Daffin, tangannya menyilang di depan dada.
Yang benar saja! Dia memintaku untuk membuka sendiri pintunya. Seharusnya dia membukakan pintunya atau mungkin menggendongku seperti yang biasa dia lakukan.
Aku mengerucutkan bibirku dan menatap sinis Daffin yang terlihat antusias. Tanganku sedikit menghentak ketika menurunkan handle pintu hingga pintu terbuka sempurna dan memperlihatkan sosok yang cukup ku kenal.
"Selamat malam, Nyonya," sapa wanita itu dengan membungkuk hormat.
"Rania? Rania!!!" jeritku tak percaya dan langsung menghampirinya. "Astaga! Bagaimana kabarmu? Kemana saja kau selama ini?" tanyaku tak sabaran.
"Saya melakukan tugas lain, Nyonya, bagaimana kabar anda?" tanya Rania.
"Aku? Kabarku untuk saat ini baik, tapi aku punya banyak kabar buruk di masa lalu yang ingin aku ceritakan padamu." ocehku, seraya menggoyangkan tangan Rania yang ku genggam.
"Baiklah, Nyonya, saya siap mendengarkan karena mulai hari ini dan seterusnya saya akan kembali menjadi pelayan pribadi anda." ucap Rania.
Aku menatap Rania tak percaya. "Sungguh?"
Rania mengangguk dan tersenyum. "Iya, Nyonya, semua ini atas perintah tuan."
Aku menoleh dan melihat Daffin tengah bersandar di dinding. Dia tersenyum kemudian menegakkan tubuhnya.
"Kalian bicaralah! Aku akan menunggumu di kamar untuk mengucapkan terima kasih." Daffin melangkah keluar kamar dan menutup pintunya.
"Astaga, Rania! Aku begitu bahagia bisa bertemu denganmu lagi. Sekarang katakan kemana kau selama ini?" desakku, seraya membimbing Rania untuk duduk di tepi tempat tidur.
Rania terlihat menghela nafas. "Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena saya telah mengkhianati kepercayaan Nyonya, saya melaporkan setiap gerak-gerik Nyonya pada tuan hingga akhirnya tuan meminta saya untuk membawa Nyonya ke ruang bacanya hari itu dan -"
Dan selanjutnya aku yang lebih tahu apa yang terjadi, jadi ku putuskan untuk menyela ucapan Rania. "Sudahlah! Lupakan saja! Aku juga ingin meminta maaf padamu karena telah marah padamu dan langsung meninggalkanmu begitu saja, tapi kemana kau pergi setelah aku pergi hari itu?"
Aku mengerti sekarang, jadi orang yang mengikuti Reena dan menemukan fakta tentang kedua orang tuanya adalah Rania. Daffin memang benar-benar hebat! Dia selalu melakukan hal yang tidak pernah bisa sampai di otakku.
"Lalu, kenapa kau baru kembali kesini sekarang? Kau tahu, aku sudah tiga bulan berada di sini." keluhku, dengan wajah yang di buat sesedih mungkin.
"Saya tahu, Nyonya, tapi tuan tidak meminta saya kembali. Tuan mengatakan agar anda dan nyonya besar memiliki waktu lebih banyak." jelas Rania, dia lalu mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya. "Selamat untuk kehamilan anda, Nyonya," ucapnya.
Aku mengambil kotak kecil berwarna nude di tangan Rania dan langsung membukanya. Di dalam kotak itu ada sepasang sepatu yang terbuat dari benang wol dengan biru yang cerah.
"Terima kasih, Rania," ucapku haru dan langsung memeluk Rania.
"Sama-sama, Nyonya." Rania melepaskan pelukanku. "Maaf hanya itu yang bisa saya berikan, Nyonya," lirihnya.
Setelah aku amati, sepatu ini sepertinya hasil buatan tangan sendiri. "Kau membuatnya sendiri?"
"Iya, Nyonya, saya ingin membelikan hadiah yang mahal, tapi saya tidak sanggup membelinya. Jadi, saya berpikir untuk membuatnya sendiri." jawab Rania lemah.
"Aku suka! Aku sangat menyukainya. Aku pasti akan memakaikan sepatu ini untuk putraku nanti." seruku penuh semangat.
"Terima kasih, Nyonya," ucap Rania.
"Iya, kalau begitu kau istirahatlah! Aku akan kembali ke kamarku."
***
__ADS_1
Kotak kecil yang di berikan Rania aku letakkan di atas nakas dengan hati-hati sebelum aku mendekati Daffin yang sedang sibuk mengecek emailnya.
"Daffin ...," panggilku. Namun, Daffin tidak bergeming sedikitpun.
"Daffin ...," Kali ini aku memanggilnya dengan lebih keras.
"Hemm ...."
"Daffin?"
"Hemm, Nyonya Stevano,"
"Daffin, aku ingin bicara!" ucapku, berharap Daffin akan memperhatikan diriku.
"Hemm ...,"
Jawaban Daffin yang seperti itu membuatku bosan dan memilih untuk kali turun dari tempat tidur, tapi saat aku berbalik tangan Daffin menahanku.
"Kau mau kemana, My Starfish?" tanyanya.
"Mencari seseorang yang mau mendengarkan aku," sindirku.
Daffin terkekeh kemudian meletakkan ponsel. dan juga tabnya. "Baiklah, aku siap mendengarkan."
Senyuman mengembang di wajahku. Dengan segera aku meraih kotak yang di berikan Rania dan menunjukkan isinya kepada Daffin. "Lihat, Daffin! Rania membuat ini. Bukankah ini sangat menggemaskan?"
"Kenapa warnanya biru?" tanya Daffin.
"Kenapa? Biru sangat sesuai untuk putraku." jawabku santai.
Mata biru itu tiba-tiba menatapku tajam. "Darimana kau tahu jika anak kita laki-laki?"
"Feeling, tapi laki-laki atau perempuan, keduanya akan tetap aku sayangi." ucapku seraya terus mengusap sepatu pemberian Rania.
Daffin berdecak. "Kau begitu menyukai hadiah darinya, tapi kau tidak mengatakan apapun atas bonus yang aku berikan padamu."
Hampir saja aku lupa!
"Terima kasih, Suamiku, karena telah mengembalikan temanku." ucapku, sedikit manja.
Tubuh Daffin menegak. Dia sampai berdehem seperti sesuatu tersangkut di tenggorokannya. "Kau sebut aku apa?"
"Suamiku?"
"Katakan sekali lagi!" pintanya.
"Suamiku ...." Aku di buat bingung dengan wajah Daffin yang tiba-tiba sumringah.
"Ternyata aku tidak salah dengar."
Hallo semuanya 🤗
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI😘
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh