
Uang dan kekayaan memang penting untuk menunjang kehidupan, tapi bukan yang terpenting. Terlebih uang tidak pernah bisa membeli kebahagiaan.
Mataku nanar menatap sosok om Rei yang kini berdiri di hadapanku sebagai salah satu pemegang saham di keluarga Kafeel, sementara selama ini dia bersembunyi dan lebih memilih untuk menjadi seorang dokter pribadi di keluarganya sendiri. Yang artinya dia selalu berada di bawah perintah ayahku.
Satu hal yang mengganggu pikiranku, apakah ayahku tahu jika om Rei adalah salah satu pemegang saham di perusahaan miliknya?
"Om?" Aku menatap lekat wajah om Rei yang kini tersenyum padaku.
"Iya, Ayasya?" jawab om Rei.
"Aku masih tidak mengerti, jika Om juga pemegang saham di perusahaan Kafeel, kenapa Om tidak menjadi CEO disana? Dan kenapa justru Om menjadi dokter pribadi keluarga Kafeel?" tanyaku, seraya memutar bola mataku.
"Om tidak menyukai bisnis, Ayasya, tapi kakekmu ingin sekali kedua putranya menjalankan bisnisnya itu. Sehingga dia membagi dua perusahaan secara adil kepadaku dan juga Reyno. Selama ini, Om tidak pernah mengurus perusahaan. Om serahkan semuanya kepada Reyno sampai dia menikah dengan ibumu. Namun, saat Om kembali. Setengah saham milik Reyno telah berpindah tangan. Begitu juga dengan milikku. Perusahaan yang awalnya milik keluarga itu pun, akhirnya menjadi terpecah. Sekarang, Reyno hanya memiliki dua puluh persen saham. Di tambah sepuluh persen milik orang tua Maya. Sedangkan aku memiliki tiga puluh lima persen saham, karena aku berhasil membeli kembali saham dari temannya ayahku sebesar sepuluh persen." tutur om Rei, aku bisa merasakan kekecewaan yang mendalam dari ucapannya.
"Jujur, Om, aku sama sekali tidak mengerti dan tidak tertarik sedikitpun tentang dunia bisnis. Aku lebih suka hidup bebas tanpa batas." ungkapku seraya tersenyum dan menampakkan deretan gigiku.
Telapak tangan om Rei menepuk puncak kepalaku. "Ternyata kau mewarisi sifatku."
TING ...
Pandanganku dan om Rei langsung terfokus pada Daffin yang baru saja menjatuhkan sendoknya di atas piring.
"Aku sudah selesai." Daffin sudah berdiri dan langsung meninggalkan meja makan, bahkan tanpa menungguku.
Aneh. Ada apa dengannya? Ah, entahlah. Lebih baik aku makan dan menikmati hidupku daripada harus memikirkan Daffin yang lebih sering marah tanpa alasan akhir-akhir ini.
"Sayang, apa kau sudah selesai makan?" tanya ibu, tepat ketika aku meletakkan sendok makanku.
Aku mengangguk. Mulutku masih di penuhi makanan dari suapan terakhirku. "Iya, Bu," jawabku, setelah menelan makanan yang tersisa dan menghabiskan satu gelas air putih di hadapanku.
"Pergilah temui Daffin! Sepertinya dia butuh dirimu." titah ibu lembut, sudut matanya mengarah ke tangga.
"Tapi aku ingin mengobrol sebentar dengan om Rei, Bu," tolakku dengan sedikit merengek.
Tiba-tiba ibu menatapku dengan tajam. "Bukankah sejak tadi kau sudah mengobrol dengan Rei? Masih belum habis topik pembicaraan kalian?"
Aku benar-benar terkejut dengan sikap ibu yang seperti ini karena selama aku bersamanya, ibu tidak pernah memelototiku. Ibu bahkan berbicara dengan nada yang cukup tinggi kali ini.
"Kau tidak mengerti, Bu! Om Rei adalah salah satu temanku dan tempatku bersandar saat kau membuangku dan membuatku menjadi anak sebatang kara!" sergahku, kemudian berdiri dan hendak meninggalkan meja makan. Namun, suara ibu menahanku.
"Tumbuhkan sedikit rasa perhatian dan kepekaanmu, Sayang! Agar kau menyadari apa yang terjadi di sekitarmu."
__ADS_1
***
Langkah kakiku terasa berat ketika akan menaiki tangga menuju kamar tidurku. Sejujurnya, aku malas bertemu Daffin yang kelihatannya sedang dalam mode menyebalkan.
Dengan malas aku membuka pintu kamar tidurku dan melihat Daffin sedang bersandar di tempat tidur dan memainkan ponsel.
Aku mencoba mendekatinya dan berusaha mencairkan suasana karena Daffin bersikap seolah kami baru saja bertengkar padahal aku pun tidak tahu apa salahku.
"Daffin?" Aku melangkah dan semakin dekat dengannya, tapi Daffin tetap tidak bergeming. "Kau sedang apa?" tanyaku seraya memperhatikan ponsel di tangan Daffin.
"Mencari cara agar kau selalu mengingatku." jawab Daffin datar, pandangannya bahkan tidak beralih sedikitpun dari layar ponsel.
Setelah aku perhatikan lebih teliti, ponsel yang ada di tangan Daffin adalah ponselku. Menyadari hal itu, tanganku secepat kilat merebut ponselku dan memicingkan mataku kepada Daffin.
"Apa yang kau lakukan dengan ponselku?" tanyaku ketus, sementara tanganku sibuk memeriksa ponselku dan menemukan sesuatu yang membuatku hampir saja tersedak salivaku sendiri. "Kenapa wallpaper ponselku menjadi wajahmu seperti ini?" sungutku.
"Memang sudah seharusnya." Daffin beringsut turun dari tempat tidur dan berjalan melewatiku menuju walk in closet.
"Iisshh ... benar-benar! Dia selalu saja menguras kesabaranku!" gerutuku, kesal ketika melihat wajah Daffin memenuhi layar ponselku.
Baru saja aku akan mengganti kembali wallpaper di ponselku, tiba-tiba ponselku berdering dan menampilkan gambar Daffin yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk di pinggangnya.
Dengan tangan gemetar karena amarah yang menggebu-gebu, aku menjawab panggilan Daffin dan langsung menyerangnya.
"APA MAKSUDMU, DAFFIN!!!"
"Ya Tuhan! Kau merusak gendang telingaku, Nyonya Stevano." ucap Daffin, di susul tawa ringannya yang semakin menambah bara api di hatiku.
"Kau! Keluar kau!" titahku, masih dengan sedikit berteriak.
Aku bisa mendengar Daffin tertawa penuh arti sebelum berkata, "kau yakin ingin aku keluar sekarang?"
"Tentu saja! Kau harus di beri pelajaran karena telah berani mencemari ponselku.
KLIK ...
Panggilan terputus begitu saja tanpa jawaban dan terdengar pintu walk in closet terbuka dan memperlihatkan Daffin yang hanya mengenakan boxernya.
"Daffin! Kau ini benar-benar mesum!" umpatku kesal, sebelum berbalik dan memunggungi Daffin.
Aku sedikit merasakan keanehan ketika Daffin tidak menjawab atau tertawa seperti sebelumnya. Tepat ketika aku hendak berbalik, aku merasakan tangan besar Daffin melingkar di pinggangku dengan kepalanya yang bersandar di bahuku.
__ADS_1
"Aku suka aroma tubuhmu. Begitu memabukkan." bisik Daffin, bibirnya menyusuri ceruk leherku dan memicu hawa panas di tubuhku.
Tidak! Aku tidak boleh menurutinya!
Segera aku menepis tangan Daffin dan berbalik menghadapnya. Mata biru itu menatapku penuh cinta dan hampir saja membuatku terlena jika aku tidak ingat ulahnya pada ponselku.
"Apa maksudmu melakukan ini?" sungutku, sorot mataku menatapnya dengan tajam.
"Melakukan apa?" Tangan Daffin sudah kembali melingkar di pinggangku.
Aku berdecak kesal kemudian memukuli tangan Daffin. "Tanganmu minta di ikat!"
Bukannya melepaskan tangannya, Daffin justru semakin mengeratkan lingkaran tangannya. "Kau yang mengikatku."
Aku menyerah. "Apa maksudmu menamai kontakmu di ponselku dengan "Mr.P"? Hah!"
Kedua alis Daffin menukik tajam. "Menurutmu?"
Sudah cukup! Daffin ini benar-benar berpikir aku bodoh atau apa?
"Kau memang Plankton mesum! Otakmu sudah di penuhi pasir!" umpatku penuh emosi.
"Apa maksudmu?" tanya Daffin, dia membuatku semakin kesal dan kesal saja.
"Kau pikir aku bodoh! Mr.P itu artinya Jhonny, bukan?" tanyaku yakin.
Tak ku sangka Daffin tergelak dengan wajah memerah. "Ternyata kau lebih mesum daripada aku!"
"Aku tidak mengerti!" sergahku, belum memahami maksud Daffin.
"Mr.P is Mister Plankton, My Starfish."
Hallo semuanya π€
SELAMAT TAHUN BARU πππ
Terima kasih untuk dukungan dan mood boosternya π
Jangan lupa di tap jempolnya πdan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya πsebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1