Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
LAMARAN KEMATIAN


__ADS_3

"KAU!!!" Teriakan tante Ratih mendahului bibirku yang akan berucap.


Aku masih tak percaya melihat sosok Ersya yang sedang berdiri menatapku dengan wajah teduhnya, tapi sebelum aku sempat mengatakan apapun tiba-tiba tubuh tante Ratih sudah terbaring di tanah.


"Tante!!!" Aku segera menghampiri tante Ratih dan menepuk-nepuk pipinya. "Om!!! Om Rama!!!" teriakku, tanpa memalingkan pandanganku.


Langkah terburu-buru terdengar dari dalam rumah. "Iya, Aca kamu -" Om Rama tidak menyelesaikan kalimatnya.


Aku menoleh dan melihat om Rama mematung dan melihat Ersya seperti seseorang yang melihat hantu.


"Om!!! Tante." panggilku pada om Rama seraya mengangkat kepala tante Ratih untuk di naikkan ke pangkuanku.


Wajah pucat pasi om Rama semakin jelas ketika dia melihat kondisi tante Ratih. "Astaga!!! Ratih?"


Dengan sigap om Rama mengangkat tubuh tante Ratih dan memboyongnya ke dalam rumah.


"Kak Aca, ada apa? Kenapa ibu pingsan?" Anak-anak panti berebut bertanya padaku.


Melihat wajah-wajah menggemaskan itu di penuhi kekhawatiran membuatku merasa bersalah. Aku mengusap kepala mereka dan berkata, "ibu akan baik-baik saja."


Mereka semua mengangguk dan tersenyum meski aku tahu apa yang ada di dalam hati mereka.


***


Waktu terasa berjalan sangat lambat, kami semua masih menunggu tante Ratih sadarkan diri. Sementara, om Rama dan anak-anak panti terus saja memandangi wajah Ersya layaknya makhluk asing yang baru saja terjatuh dari langit. Dan Ersya, dia tetap diam tak bergeming seolah tak ada yang salah dengan dirinya.


"Aca?" panggil om Rama sembari melambaikan tangannya padaku.


Aku melangkah dan mendekati om Rama yang dengan setia menunggu tante Ratih tersadar di sampingnya. "Iya, Om,"


"Siapa pria itu?" bisik om Rama, matanya tertuju pada Ersya. "Jangan katakan kalau dia hantunya Erlan!" bisik om Rama lagi.


Ingin sekali aku tertawa jika tidak ingat bahwa om Rama adalah orang tuaku juga. Jadi, aku hanya tersenyum ketika pandanganku mengikuti tatapan mata om Rama.


"Dia polisi yang menangani kasus kecelakaan kak Erlan, Om, namanya Ersya." jelasku pada om Rama yang hanya manggut-manggut paham.


"Tapi wajahnya ...."

__ADS_1


"Sangat mirip dengan kak Erlan?" Aku meneruskan kalimat om Rama.


"Benar!" sergah om Rama. Matanya sampai tak berkedip ketika menatap Ersya.


Di tengah suasana aneh yang terjadi, tiba-tiba tante Ratih menggumamkan sesuatu yang tidak bisa kami dengar dengan jelas.


"Tan? Tante? Bangun, Tan!" Aku mencoba menyadarkan tante Ratih dengan mengoleskan aromaterapi di hidungnya.


Beberapa saat kemudian, tante Ratih membuka matanya dan mengedarkan pandangannya hingga matanya terbuka semakin lebar ketika dia melihat sosok Ersya yang sedang berdiri di ambang pintu.


"Ka- Kau!" teriak tante Ratih, dia sampai kesulitan mengucapkan itu.


Kami semua menatap Ersya dan berganti menatap tante Ratih yang terlihat semakin ketakutan.


"Tan, ada apa? Tolong jangan buat kami takut!" tanyaku sembari mengusap punggung tante Ratih. Namun, nampaknya rasa takut membuat bibirnya terkunci.


Ersya yang sedari tadi menunggu di ambang pintu pun akhirnya memilih untuk mendekat. Dia meraih tanganku dan memintaku untuk ikut bersamanya.


"Ada apa, Kak? Aku harus menemani tante Ratih," tolakku ketika Ersya mulai menarik tanganku.


"Hah!" Ersya menghembuskan nafas kasar. "Baiklah, aku akan bicara disini." ucapnya kemudian.


"Katakan, Kak!" pintaku pada Ersya begitu pintu tertutup.


"Apa kabar, Tante?" tanya Ersya, matanya menatap tajam ke arah tante Ratih. "Melihat reaksi Tante yang seperti ini, aku yakin Tante menyadari apa yang sedang terjadi." lanjut Ersya.


Aku dan om Rama saling bertatapan. Kami berdua masih belum memahami maksud ucapan Ersya.


"Aku- Aku tidak bersalah!" teriak tante Ratih yang membuatku dan om Rama tersentak.


"Ratih?" Om Rama mencoba menenangkan tante Ratih dengan memeluknya.


"Kak Ersya? Ada apa ini?" tanyaku tak sabaran .


Ersya tiba-tiba menoleh dan menatapku. "Seharusnya kau menjadi milikku, bukan milik Erlangga!"


Jantungku rasanya langsung merosot ketika mendengar ucapan Ersya. Sosok pria lembut dengan wajah teduh dan senyum yang mencerahkan hari, kini berganti menjadi sosok yang sangat menakutkan bagiku.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" hardikku, tak terima begitu saja dengan pernyataan Ersya.


"Tanyakan itu pada orang yang telah membuangku!" Ersya mengarahkan telunjuknya kepada tante Ratih.


Walau aku masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi, aku tetap mencoba untuk membela tante Ratih. "Hati-hati dengan ucapanmu, Tuan Jaya Chandra!"


"Kau salah, Ayasya! Aku adalah Ersya Jaya Kencana. Aku adalah kembaran Erlangga yang telah di buang oleh tanteku sendiri." sanggah Ersya, matanya memerah karena amarah.


"Kembaran Erlan?" celetuk om Rama. "Bukankah kembaran Erlan sudah meninggal dunia, Ratih?" tanyanya lagi.


Tante Ratih membeku, dia tak nampak akan menjelaskan apapun. Baik kepadaku ataupun kepada om Rama. Sementara Ersya terlihat semakin tidak sabaran.


"Biar ku beritahu, Om, istri tercintamu ini telah membuangku ketika kecelakaan itu terjadi. Dia -"


"BOHONG!!!" hardik tante Ratih, membuat Ersya tak bisa melanjutkan kalimatnya. "Aku tidak pernah membuangmu! Aku- Aku hanya terlambat menyelamatkanmu." jelasnya.


"Terlambat? Kau tidak terlambat, Tante! Yang sebenarnya adalah kau hanya menyayangi Erlangga dan menginginkan semua harta orang tua kami menjadi milik Erlangga karena Erlangga adalah anak yang penurut, tidak sepertiku yang selalu membantah semua ucapanmu! Apa aku benar, Tanteku sayang?" tegas Ersya dengan seringai licik di bibirnya.


"Tidak, Ersya! Itu tidak benar! Aku ingin menyelamatkanmu, tapi aku terlambat karena mobil itu sudah terbakar ketika aku kembali untuk membawamu." jelas tante Ratih, air mata sudah membanjiri pipinya.


Aku mengenal tante Ratih sejak aku kecil. Tante Ratih adalah wanita yang sangat baik walaupun sedikit tegas, tapi aku yakin jika tante Ratih tidak akan melakukan hal sekejam itu kepada siapapun.


"Itu hanya alibimu saja! Kalau benar seperti itu, kenapa kalian membuat Erlangga melupakanku? Kenapa kalian tidak mencariku? Dan kenapa bukan aku yang di selamatkan!!!" Serbuan pertanyaan Ersya hanya membuat tante Ratih semakin beruraian air mata.


"Kak Ersya?" Aku meraih tangan Ersya dan membuatnya menatapku. "Semua itu sudah menjadi takdir yang di tuliskan oleh Tuhan. Baik kau, aku, maupun tante Ratih, tidak ada yang bisa merubahnya."


Manik mata Ersya menatapku dengan tajam. "Kau bisa merubah takdirku."


"Bagaimana caranya?" tanyaku dengan mengangkat kedua bahuku.


"Menikahlah denganku."


Nah lhooo 😱 Ersya cari penyakit aja nih 🤭 kira-kira Ayasya mau gak 'ya🤔


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2