Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
SWEET CHAPTER 3


__ADS_3

Dua tahun kemudian ...


Kelahiran putra keduaku, Maichel, telah banyak merubah suasana di rumah kami. Daffin menjadi lebih banyak di rumah. Terkadang aku kasihan melihat sekretarisnya yang harus bolak-balik hanya untuk meminta tanda tangannya.


"Daffin, pergilah ke Kantor!" pintaku, mencoba mencari celah saat Daffin tengah bersantai.


Wajah Daffin mengulas senyum tipis sebelum menyeruput teh di hadapannya. "Apa kau takut aku akan bangkrut, Nyonya Stevano?"


Bibirku mencebik. "Anggaplah seperti itu! Kita punya dua orang anak yang masih perlu banyak biaya. Dan bukankah kau ingin punya delapan anak? Jika kau tidak bekerja, bagaimana kita akan memberi kehidupan yang layak kepada mereka?"


Kening Daffin mengernyit. "Kau benar! Tapi maaf, aku sedang tidak ingin kemanapun. Aku ingin terus menatap wajah Gil."


Gil, panggilan sayang kami untuk Maichel Gilbert Kafeel. Entah aku yang terbawa perasaan atau bukan, tapi aku merasa Daffin lebih menyayangi Gil daripada Shaka. Setiap kali aku mencoba bertanya pada Daffin, dia akan selalu menjawab ...


"Wajah Gil mengingatkanku akan dirimu. Setiap melihat matanya, aku melihat dirimu. Aku merasa cintaku ada padanya."


Gil putraku, wajahnya memang mirip denganku. Namun, kulitnya seperti Daffin. Hidung dan bentuk rahangnya juga persis sama dengan Daffin, hanya saja Gil tidak memiliki bola mata biru seperti yang di miliki Daffin dan juga Shaka. Warna mata Gil sama denganku. Postur tubuhnya juga mungil dan sangat menggemaskan. Aku pikir awalnya mungkin karena Gil dilahirkan secara prematur, tapi lambat laun aku baru menyadari jika Gil memiliki postur tubuh seperti diriku.


"Gil? Jangan menggunakan Gil sebagai alasan, Daffin! Aku tidak ingin kedua putraku meniru sikap malasmu ini!" hardikku kesal.


Daffin meletakkan gelas di tangannya ke atas meja. "Mereka berdua tahu jika aku sedang bekerja. Kedua putraku anak yang pintar."


Aku melihat tangan Daffin mencoba menyentuh bahuku, tapi urung dia lakukan karena teriakan Gil yang menggema di seluruh rumah.


AAAARRRRGGGHHH ...


Tanpa aba-aba, aku dan Daffin segera berlari menuju ke kamar Gil. Dan saat kami sampai disana, aku melihat Shaka sedang berebut mainan dengan Gil.


"Shaka?" panggilku seraya berjongkok di hadapan Shaka.


Wajah Shaka menunduk. Dia bahkan tak berani mengangkat kepalanya walaupun hanya sekedar untuk melirik ke arahku. Dengan perlahan aku mencoba menyentuh tangan Shaka dan mengusapnya dengan lembut.


"Apa yang terjadi, Anak Mommy? Kenapa bertengkar dengan adikmu?" tanyaku lembut.


Shaka menaikkan pandangannya. "Gil tidak mau berbagi mainan denganku."


"Kalau begitu, seharusnya kau mengalah pada adikmu!" bentak Daffin, yang langsung membuat Shaka ketakutan.


Aku bisa merasakan tangan Shaka gemetar meskipun dia masih berdiri dengan tegak. "Sayang Mommy, pergilah ke kamarmu! Nanti Mommy akan menyusul dan menemanimu tidur."


Shaka menatapku sekilas sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Tatapan Shaka sempat melihat ke arah Daffin yang sedang menenangkan Gil. Ada kekecewaan yang teramat mendalam di mata Shaka dan itu begitu sangat menyakiti hatiku.


Langkah kecil Shaka terseok-seok ketika dia melangkah keluar dari kamar Gil. Kepalanya terus tertunduk hingga bayangannya menghilang dari pandanganku.


"Ayo, Gil, tidur dengan Mommy!" ajakku pada Gil yang berada dalam gendongan Daffin.


Tangan kecil Gil semakin erat melingkar di leher Daffin, terlihat jelas bahwa dia tidak ingin melepaskan diri dari Daffin.

__ADS_1


"Tidak, Mommy! Gil akan tidur dengan Daddy malam ini. Benar begitu, Gil?" tutur Daffin, langkahnya mulai menjauhiku.


"Maaf, Daddy! Tapi malam ini Daddy harus tidur dengan kakak Shaka dan Gil akan tidur dengan Mommy." Aku mendekati Daffin untuk mengambil Gil. "Tidak ada bantahan! Ini perintah, bukan permintaan!" tegasku.


Daffin yang awalnya akan membuka mulut pun, mengurungkan niatnya dan hanya menatapku tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Ok, Mommy." jawab keduanya kompak pada akhirnya.


Sebenarnya, aku tahu Gil tidak ingin tidur denganku. Dan aku juga tahu bahwa Daffin lebih senang tidur bersama Gil. Namun, apa yang bisa aku lakukan untuk mendamaikan Daffin dan Shaka? Aku tidak ingin hubungan Daffin dengan Shaka akan sama seperti hubungannya dengan daddy David.


"Mommy ...."


Suara kecil yang terdengar gemetar menarik kesadaranku. Aku melihat putra bungsuku tengah menatapku dengan tatapan sendu.


"Ada apa, Gil?" tanyaku seraya menggendong Gil menuju tempat tidur.


Wajah Gil menunjukkan jika dia ingin mengatakan banyak hal, tapi bibirnya tetap bungkam. Usianya yang baru dua tahun membuat Gil terkadang sulit memahami situasi yang sedang terjadi di hadapannya.


"Gil, Mommy tahu kau dan kakakmu saling menyayangi. Mommy juga sangat menyayangi kalian. Bisakah Mommy meminta satu hal darimu, Sayang?" tanyaku lembut, di barengi usapan lembut di puncak kepala Gil.


Tidak ada jawaban dari Gil, melainkan hanya anggukkan kepala. Aku tahu jika putraku mengerti apa yang aku katakan padanya. Tanpa ragu aku mencoba mengajak Gil berbicara layaknya dua orang dewasa.


"Apa kau tahu, Gil, Mommy dan daddy sangat mencintaimu dan juga kakakmu?" Tanganku memainkan jemari mungil milik Gil. "Wajahmu begitu mirip dengan Mommy, dan wajah kakak sangat mirip dengan daddy. Bukankah itu adil?"


Melihat Gil yang fokus memperhatikan aku bicara, maka aku putuskan untuk tetap bicara padanya.


"Kakak sangat menyayangimu, Gil. Mommy tahu itu karena Mommy yang telah melahirkan kalian. Mommy juga tahu jika Gil menyayangi kakak, tapi Mommy kecewa setiap kali Gil tidak mau bermain dengan kakak. Bagaimana jika kakak mencari teman di luar sana? Bukankah Gil akan kesepian?" tanyaku, dengan nada yang di buat sesedih mungkin.


"Gil ... tidak apa-apa, Sayang! Mommy tidak marah, hanya saja Mommy tidak ingin jika Gil terus membuat kakak Shaka dalam masalah. Kakak sudah berusaha agar terlihat baik di hadapan daddy. Maka bantulah kakak dan jangan mempersulit dirinya! Apa kau paham?" ucapku, meski sedikit ragu.


Wajah menggemaskan Gil langsung membuatku tak tega untuk terus memarahinya. Aku lantas mengangkat tubuh Gil begitu dia menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, sekarang kita pergi ke kamar kakak. Mommy ingin kalian berbaikan."


***


Di dalam kamar Shaka, aku melihat Daffin sudah berbaring sambil memeluk tubuh Shaka. Aku pikir keduanya sudah tidur, tapi ternyata mereka berdua langsung membuka matanya ketika aku memasuki kamar.


"Mommy ...," lirih Shaka, seraya beringsut turun dan langsung memeluk kakiku.


Aku berjongkok agar menyamai tinggi Shaka. "Ada apa, Sayang? Kenapa belum tidur?"


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Shaka, tapi tatapannya tak lepas dari Gil yang sedang aku gendong.


"Maaf, Gil!" ucap Shaka dengan tangan terulur.


Aku cukup terkejut dengan sikap Shaka, tapi aku mencoba untuk menyembunyikannya. Dengan wajah pura-pura polos, aku menurunkan Gil agar berhadapan dengan Shaka.

__ADS_1


Kepolosan Gil membuatnya tidak mengerti apa yang sedang di lakukan kakaknya. Dia hanya menatap bingung pada Shaka, hingga akhirnya Shaka meraih tangan Gil dan menautkan jari kelingking mereka berdua.


"Teman?" tanya Shaka dengan memiringkan kepalanya.


Tiba-tiba Gil bertingkah konyol dengan menggigit jari Shaka dan juga jarinya hingga Shaka hampir menangis. Namun, sesaat kemudian Gil melepaskannya dan mengayun-ngayunkan jari mereka berdua.


Hal seperti ini sering sekali terjadi pada kakak beradik, tapi aku tidak pernah mengalami hal seperti ini dalam hidupku. Aku tidak punya saudara kandung dan saat aku kecil dulu, kak Erlan tidak pernah marah padaku hingga aku tidak tahu harus berbuat apa setiap kali kedua putraku bertengkar. Aku hanya mengikuti naluriku sebagai seorang ibu dan semoga saja aku tidak salah.


Tawa riang kedua putraku cukup membuatku tersentak. Lamunan ini membuatku melupakan jika aku sedang bersama ketiga Plankton kesayanganku.


"Good job! Ini baru anak-anakku!" seru Daffin, yang langsung menggendong kedua putra kami bersamaan. "Jangan pernah bertengkar untuk hal kecil! Jika ingin sesuatu katakan pada Daddy! Jangan memperebutkan hal yang tidak penting!" pintanya.


Aku hanya menatap ketiganya dengan bahagia sebelum aku terkejut karena Daffin memanggilku. "Iya, Daddy?"


"Kemari, Mommy! Para tuan muda ingin tidur bersama Mommy." Daffin melambaikan tangannya.


Segera aku menyusul mereka ke tempat tidur hingga keduanya tertidur dengan lelap dalam sekejap. Melihat wajah damai dan tenang kedua putraku, membuat tawaku keluar begitu saja.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Daffin bingung.


"Bukankah ini lucu, Daffin? Beberapa saat sebelumnya mereka bertengkar, kemudian berbaikan dan tertawa lalu tertidur bersama." Aku tak bisa melepaskan pandanganku dari keduanya.


Daffin terkekeh. "Apanya yang lucu? Bukankah yang mereka lakukan itu sama dengan apa yang sering kita lakukan? Kita bertengkar kemudian berbaikan dan tidur bersama."


Astaga!!! Wajahku langsung terbakar saat Daffin mengatakan hal itu. Bukan karena ucapannya, tapi karena tangan Daffin yang mulai menyasar ke tempat kesukaannya.


PLAK ...


Suara pukulan tanganku yang mendarat di tangan nakal Daffin begitu nyaring terdengar.


"Kau kejam, Nyonya Stevano!" sungut Daffin, tapi tetap tak mau menghentikan aktivitasnya.


Mataku terbelalak karena kesal. "Kau mesum!"


"Biarlah mesum! Yang terpenting aku bisa membuat wasit untuk Shaka dan Gil." Daffin mengerlingkan sebelah matanya.


"Aku tidak mengerti maksudmu!" sahutku marah.


Tangan Daffin berpindah dan menangkup kedua pipiku. "Shaka dan Gil selalu bertengkar setiap saat karena keduanya sama-sama pria. Aku pikir, mereka butuh satu wasit yang akan menengahi pertengkaran mereka. Dan itu adalah nona Stevano."


"Nona Stevano?" tanyaku ragu.


"Betul! Ayo, buat wasit untuk kedua tuan muda!"


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2