Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
TABIR KEHIDUPAN


__ADS_3

"Apa maksudmu, Daffin?" Aku mengernyit heran ketika Daffin mengatakan bahwa wanita hamil yang ada dalam potret itu adalah Maya.


Daffin menggenggam tanganku. "Maya adalah ibunya Lily, dan Lily itu adalah wanita yang di inginkan oleh ibuku untuk menjadi menantunya. Namun, takdir berkata lain. Ibuku meninggal sebelum Lily lahir ke dunia ini."


Tiba-tiba saja, aku merasa ingin sekali menggaruk tengkukku walaupun sebenarnya tidak terasa gatal.


"Aku tidak mengerti, Daffin," ucapku pada Daffin yang sedang menatapku. "Jika ibumu ingin kau menikahi putrinya Maya, tapi kenapa kau menikahi kak Reena? Bukannya menikahi Lily?" tanyaku kemudian.


"Takdir tidak berpihak kepada kami," lirih Daffin, sebelah tangannya mengusap potret dirinya yang sedang mencium perut Maya.


"Takdir ... Hah! Selalu takdir yang di salahkan," keluhku tanpa melihat ke arah Daffin.


Tidak adanya jawaban dari Daffin membuatku membuka halaman selanjutnya dan melihat Maya sedang menggendong putrinya. Dugaanku sementara, bayi itu baru di lahirkan karena potret itu menunjukkan bahwa Maya sedang berada di sebuah rumah sakit.


Aku membuka halaman demi halaman yang memperlihatkan betapa dekatnya Daffin dengan Maya dan juga putrinya. Hingga aku tiba pada sebuah halaman yang menunjukkan potret kebersamaan Daffin dan juga Lily di sebuah pantai. Bayi cantik itu mengenakan sebuah pakaian yang tidak asing di mataku. Entah apa yang salah dengan hatiku, tapi aku merasakan sesuatu yang aneh dalam hatiku.


"Daffin?" panggilku pada Daffin yang juga sedang menatap potret dirinya dan Lily.


"Hemm ...," jawab Daffin, ia sibuk menciumi punggung tanganku.


"Apakah bayi cantik ini adalah Lily?" tanyaku ragu.


Daffin melepaskan tanganku dan mengambil buku yang sebelumnya berada dalam pangkuanku. Matanya nanar menatap potret itu hingga aku melihatnya meneteskan air mata, walaupun Daffin langsung menghapus air matanya.


"Iya! Dia ... Lily." lirih Daffin, aku merasakan betapa sulitnya kalimat itu keluar dari mulutnya. "Ini adalah saat terakhirku bersamanya, karena setelah itu aku tidak pernah lagi melihat Lily. Entah, dia masih hidup atau tidak." lanjutnya.


Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku hingga aku langsung menutupi mulutku dengan kedua tanganku. "Astaga!!!"


Sekarang aku mengerti, Daffin menikahi Reena sebagai ganti karena dia tidak bisa menikahi Lily. Tapi entahlah! Itu hanya kesimpulanku saja karena aku tidak yakin untuk bertanya pada Daffin.


"Aku hanya berharap, suatu hari nanti aku bisa bertemu dengannya dan mengembalikan kebahagiaan ke dalam hidup Maya." harap Daffin, matanya tak lepas dari potret Lily kecil.


"Kau begitu menyayangi Maya." Aku mengusap punggung Daffin, berharap hal itu bisa menenangkannya.


"Maya sudah seperti ibu kandungku. Ketika ibuku meninggal, Maya lah yang menggantikan ibuku dan menyayangiku seperti putranya sendiri." Lagi, Daffin menghapus air matanya. "Aku bahkan pernah meminta Maya untuk menjadi ibuku dan meminta ayahku untuk menikahi Maya."

__ADS_1


Mataku terbelalak mendengar cerita Daffin. "Benarkah?"


"Tentu! Aku berpikir daripada Maya terus tersiksa, akan lebih baik jika dia menikah dengan ayahku dan menjadi ibuku. Tapi Maya bersikeras ingin tetap bersama suaminya walaupun dirinya selalu di asingkan." tutur Daffin.


Sejauh ini, aku masih mendengarkan cerita Daffin dengan baik karena aku juga cukup tertarik dengan kisah Maya.


"Di asingkan? Bukankah Maya adalah nyonya pertama keluarga Kafeel? Kenapa dia di asingkan?" tanyaku, belum memahami sepenuhnya cerita Daffin.


Aku bisa mendengar helaan nafas Daffin sebelum dia menjawab pertanyaanku. "Karena hilangnya Lily, semua orang menyalahkan Maya atas kejadian itu."


"Kapan kejadian itu terjadi, Daffin?" tanyaku asal, karena aku tak tahu apa yang harus aku katakan lagi.


"Tanggalnya adalah kode yang kau tanyakan padaku dan ini sudah lebih dari dua puluh tahu sejak kejadian itu" jelas Daffin, kembali kesedihan menyelimuti matanya.


"Itu artinya kejadian itu terjadi pada tanggal 13 Juni? Lebih dari 20 tahun yang lalu?" tanyaku untuk memperjelas informasi yang kuterima.


"Lebih tepatnya 22 tahun yang lalu," tegas Daffin.


Pikiranku langsung berputar ketika Daffin mengatakan hal itu. Tiba-tiba saja, aku teringat sesuatu yang membuat dadaku terasa sesak.


"Tunggu dulu!" Aku merasakan pergelangan tanganku yang di tahan oleh Daffin, tapi aku langsung menghempaskan tangannya.


Dengan pikiran yang melayang entah kemana, aku berjalan keluar dari rumah besar milik Daffin dan menyeberangi jalan menuju rumahku. Aku bahkan tak memperdulikan Daffin yang terus meneriaki namaku.


"AYASYA!!!"


Rasanya, kakiku enggan berhenti dan ingin segera sampai ke tempat yang aku inginkan.


Langkah kaki yang terburu-buru membawaku cepat sampai ke dalam rumahku dan langsung melesat ke dalam kamar. Dengan perasaan yang tak karuan, aku membuka lemari pakaian dan mengambil sebuah kotak yang di berikan oleh mendiang nenek saat kak Erlan akan menikahiku.


Begitu kotak itu terbuka, mataku terbelalak dan tak bisa berkedip hingga tanpa kusadari air mata membanjiri mataku.


Flashback on...


"Aca? Sayang?" Suara lembut nenek mengalihkan perhatianku yang sedang memainkan cincin yang melingkar di jari manisku.

__ADS_1


"Iya, Nek," jawabku sembari menghampiri nenek yang sudah duduk di tepi tempat tidurku.


"Kemari, Sayang!" Nenek menepuk sisi kosong yang berada di sebelahnya.


Tanpa menunggu lagi, aku pun langsung mengikuti perintah nenek untuk duduk di sampingnya.


Tangan keriput nenek mulai membelai wajahku. "Kau sudah dewasa sekarang. Tak terasa sudah waktunya kau akan membuka lembaran baru dalam hidupmu dan itu pun bersama cucuku."


Aku tersenyum menatap wajah teduh nenek. Ada ketenangan setiap kali aku memandang wajah nenek, hal yang sama terjadi ketika aku memandang wajah kak Erlan. Bibirku mengatup dan tak bisa mengatakan apapun hingga aku lebih memilih untuk memeluk tubuh nenek.


"Terima kasih, Nek," lirihku dalam pelukan nenek.


Nenek membalas pelukanku sembari membelai rambutku. "Tidak perlu berterima kasih. Nenek bahagia kau hadir di dalam hidup kami dan memberikan kehidupan baru untuk Erlangga."


Air mataku menetes mendengar ucapan Nenek. "Tetap saja, kalau tidak ada Nenek entah apa yang akan terjadi pada Aca."


"Nenek jadi ingat sesuatu," sergah nenek lalu melepaskan pelukanku dan mengambil sebuah kotak yang dia letakkan di sampingnya untuk di berikan padaku.


Nenek meletakkan kotak itu di atas pangkuanku. "Karena kau sudah dewasa dan akan segera menikah, Nenek pikir kau membutuhkan ini untuk mencari keberadaan orang tuamu."


Manik mataku terfokus pada kotak yang berada di pangkuanku. Sebelum aku membuka kotak itu, aku sempat menatap nenek yang menganggukkan kepalanya dan mengisyaratkan agar aku segera membuka kotak itu.


Tanganku gemetar ketika membuka kotak yang ternyata berisi potret seorang bayi cantik yang mengenakan kaus dan juga rok mini berwarna senada, serta ada pita kecil di atas kepalanya. Di bawah potret itu, ada pakaian yang sama yang terdapat dalam potret itu.


"Nek, ini?" tanyaku sembari mengangkat pakaian mungil itu ke udara.


"Itu semua adalah milikmu," jawab nenek dengan mata berkaca-kaca.


Flashback off...


Aliran air mata terus mengalir deras dari mataku. "Kau jahat, Maya!"


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2